Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
51|Satu Syarat


__ADS_3

~Amarilis~


Satu bulan lebih berhasil menghindari Theo, aku terpaksa datang ke rumahnya untuk mengajar adiknya. Matt masuk sekolah lebih cepat daripada kami para mahasiswa kampus. Tante Ruth yang menyambut kedatanganku seperti biasanya, sedangkan Matt sudah menunggu di ruang belajar.


Dia mengobrol panjang lebar mengenai aktivitasnya selama liburan, tetapi aku memotongnya. Kami tidak punya waktu untuk berleha-leha, karena kelas tiga SMU artinya Ujian Nasional sudah di depan mata. Aku senang melihat dia berubah gugup.


Kami menggunakan dua jam itu untuk mengulang beberapa pelajaran inti selama dia kelas satu. Topik yang menurut buku-buku persiapan ujian akan keluar secara acak nanti. Aku bertemu Theo pada saat makan malam, tetapi kami bersikap seperti biasanya.


Semuanya berjalan dengan normal, kecuali satu hal. Tante Ruth sudah memesan ojek daring untuk mengantar aku pulang. Dia tidak meminta putranya atau sopir mereka untuk mengantar aku, maka aku mengerti segalanya. Dia tahu tentang hubungan kami.


Entah bagaimana kami bisa ketahuan, aku tidak bisa menebaknya. Yang pasti, Theo tidak mungkin jujur memberi tahu hubungan kami kepada mamanya. Saat kami masih bersama saja dia memilih untuk tutup mulut, apalagi setelah kami sudah tidak punya hubungan apa pun lagi.


“Ada apa?” tanyaku, melihat Matt mengamati aku dengan saksama. Kami baru saja selesai belajar pada malam itu.


“Apa Kakak ada masalah dengan Theo?” Keningnya berkerut. “Mengapa Kakak pulang dengan ojek selama beberapa hari ini, bukan diantar kakakku?”


“Kami baik-baik saja.” Aku mengangkat kedua bahuku.


Pertanyaannya salah. Seharusnya dia bertanya mengapa mamanya memesan ojek daring dan tidak menyuruh kakaknya untuk mengantar aku pulang. Karena sikap Tante Ruth yang berubah, bukan aku atau Theo. Kami masih memperlakukan satu sama lain seperti biasanya. Namun aku memilih untuk tidak membahas hal itu dengannya. Lebih baik dia menyimpulkannya sendiri.


Hari pertama kuliah menjadi waktu yang paling mendebarkan. Aku tiba beberapa menit sebelum kuliah dimulai agar tidak berpapasan dengan Theo. Benar saja. Aku bisa melenggang santai dari gerbang sampai ruangan tanpa halangan.


Hanya bertemu dengan beberapa mahasiswa usil yang tidak bisa melewati hari tanpa bergosip atau menatap sinis ke arahku. Pemandangan biasa yang aku terima sebagai balasan atas perbuatan jahatku di masa lalu. Aku juga seperti mereka ketika menatap para korbanku dahulu.


“Apa kabar, Amarilis!?” sapa Sonata yang langsung memeluk tubuhku. “Wow! Berat kamu turun! Sebentar lagi kita satu ukuran baju!”


“Tidak mungkin. Saat berat idealku tercapai nanti, kamu pasti dua nomor lebih besar dariku.” Aku tahu dia memakai baju berukuran delapan, sedangkan aku empat belas. Masih jauh dari berat incaranku agar bisa memakai baju berukuran sepuluh.


“Mending delapan daripada enam. Tetapi kamu tidak mungkin masih empat belas. Baju ukuran itu pasti sudah longgar untukmu.” Dia melepaskan pelukannya dan memperhatikan tubuhku.


“Ukuran dua belas masih sempit,” akuku.


Dia mengangguk mengerti sebelum duduk di kursi favoritnya. Matanya tajam juga. Dia bisa tahu perbedaan badan berukuran empat belas dengan dua belas. Mungkin dia hobi berbelanja pakaian seperti aku dahulu. Jadi, menebak ukuran baju seseorang adalah hal yang biasa baginya.


“Bagaimana liburanmu? Apa kamu bertemu dengan keluarga di Medan?” tanyanya antusias.


“Tidak. Aku bekerja mengumpulkan uang untuk membayar uang kuliah. Tidak seperti kamu yang semuanya dibiayai orang tua,” candaku.

__ADS_1


“Ah, maaf. Aku lupa. Kalau begitu, aku membawakan ini untuk mengusir semua rasa penatmu.” Dia memberikan sebuah kantong plastik besar. “Oleh-oleh dari Semarang!”


“Sonata, ini banyak sekali,” ucapku tidak enak.


“Kamu sahabatku satu-satunya, jadi aku beli saja semua makanan kota khas kami yang sering dipilih wisatawan sebagai buah tangan. Ikannya enak, lo. Kamu hanya perlu menggorengnya sebentar, lalu bisa kamu makan selagi hangat sebagai teman nasi. Lalu ini-”


Dia menjelaskan satu per satu makanan yang menggugah selera yang ada dalam kantong itu. Aku sudah tidak sabar untuk bisa menikmati semuanya. Tentu saja sedikit demi sedikit. Aku tidak mau berat badanku naik dengan drastis.


Perkuliahan berjalan dengan cepat karena topiknya masih segar. Theo sudah menunggu di dekat pintu pada jam makan siang, maka aku tidak bisa kabur lagi. Sonata menyikut lenganku sebelum dia berjalan keluar dari ruang kuliah. Aku bingung bagaimana membawa kantong itu.


“Gue antar ke kamar lo?” Theo mengambil alih kantong besar itu dari tanganku. Solusi yang bagus.


“Boleh,” jawabku dengan enggan. Ingin menolak, tetapi dia pasti akan memaksa.


Dia menggandeng tanganku, maka aku menariknya darinya. Dia mengangkat kedua alisnya saat dia meraih tanganku dan menggandeng aku lagi. Aku mendesah keras, terpaksa menurutinya. Apa dia tidak bisa melihat pandangan yang diarahkan orang kepada kami?


Dia bertunangan dengan Chika, tetapi masih saja berpegangan tangan dengan perempuan lain. Dia tidak peduli dengan anggapan orang, maka aku peduli. Aku tidak mau terlibat skandal sekecil apa pun, karena akan berpengaruh pada reputasiku saat bekerja nanti.


Lawanku kelak ada tiga anak orang kaya yang menjengkelkan itu. Belum lagi ada Mama yang masih menyimpan dendam kepadaku. Jadi, aku perlu menjaga diri agar tidak ada celah yang bisa mereka gunakan untuk menghancurkan aku nanti.


Namun satu rencanaku masih berjalan dengan baik. Chika boleh berpikir dia sedang menang karena berhasil mengikat Theo dalam ikatan pertunangan di depan semua orang. Namun sebelum mereka resmi menikah, maka aku masih punya kesempatan.


“Lo mau makan apa?” tanyanya setelah aku menyimpan kantong pemberian Sonata di kamar.


“Kamu saja yang pilih menu,” jawabku, tidak mau repot.


Dia memilih rumah makan yang dekat dari kampus. Jadi, aku tidak heran melihat tatapan mahasiswa yang ada di warung itu kepada kami. Mereka saling berbisik yang aku yakin membahas Chika dan hubungannya dengan Theo. Mereka kini tahu, aku dan Theo bukan teman biasa.


“Lo enggak percaya sama gue,” ucap Theo, terlihat tersinggung.


“Memangnya mulut laki-laki yang sudah punya tunangan bisa dipegang?” balasku, tidak mau kalah. “Kamu memberi aku cincin tanpa saksi. Kamu mengatakan memilih aku menjadi istrimu juga tanpa saksi. Lalu kamu menuntut aku untuk percaya begitu saja? Theo, aku tidak bodoh.”


“Apa yang harus gue lakukan agar lo percaya?” tanyanya, siap melakukan apa saja yang aku katakan.


“Kamu pikirkan saja sendiri. Mengapa kamu tanya aku?” Aku mendengus pelan.


“Apa Matt cukup sebagai saksi?” tanyanya, memberi usul.

__ADS_1


Yang benar saja. Dia memilih orang yang paling aman. Adiknya sering menggoda dia punya perasaan khusus kepadaku sejak awal aku menjadi guru privatnya. Namun dia memang tidak punya teman baik, entah apa alasannya.


“Bagaimana kalau ditambah teman lo dan Richo?” tanyanya lagi, belum menyerah.


Hanya ada satu cara yang akan aku terima sebagai bukti keseriusannya. Yang pasti, backstreet bukan jawaban. Sudah saatnya aku memberi dia ujian yang berat. Jika aku beruntung, dia akan menjauh dan aku pun bisa fokus dengan studiku. Bila dia menerimanya, maka aku harus siap mengerahkan waktu dan tenaga dua kali dari biasanya.


"Umumkan hubungan kita kepada orang tuamu," kataku, memberi solusi.


Dia menatap aku tidak percaya. Kesempatan itu aku gunakan untuk menghabiskan makanan yang diantar oleh pelayan ke meja kami. Dia makan dengan lambat, kelihatan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ternyata dia sangat hormat kepada orang tuanya sampai tidak mau membantah mereka.


“Itu mustahil,” katanya beberapa saat kemudian.


“Maka kita putus sampai di sini.”


Dia tidak bicara lagi sehingga aku bisa makan dengan tenang. Masakan enak itu seketika hambar di lidahku. Aku merasa bersalah melihat dia resah sendiri, tetapi itu satu-satunya jalan. Aku tidak mau menjalani hubungan backstreet dengan risiko yang besar. Sudah cukup orang-orang menghina aku.


Matt mulai serius dengan persiapannya menghadapi ujian nasional. Hal itu mempermudah aku dalam mengajarnya, karena dia tidak iseng lagi. Meski begitu, aku tidak menurunkan sikap waspadaku. Bisa saja dia akan mengerjai aku lagi.


Tidak nyaman dengan sikap Tante Ruth, maka aku membeli sepeda yang sudah lama aku tunda. Jadi, aku bisa datang dengan alat transportasi itu, bukan dengan ojek daring pesanannya. Dia tersenyum senang melihat aku datang pertama kalinya dengan sepeda ke rumah mereka.


Mengapa dia tidak jujur saja kepadaku? Aku tidak pernah meminta diantar usai mengajar sejak hari pertama menjadi guru Matt. Dia sendiri yang memaksa putranya atau menyuruh sopirnya untuk mengantar aku pulang. Kalau dia bicara terus terang, aku tidak keberatan pulang sendiri.


“Kakak ada masalah apa dengan Mama?” tanya Matt curiga.


“Kami tidak ada masalah,” kataku sambil merapikan tasku.


“Lalu mengapa Kakak membeli sepeda? Biasanya Kakak tidak keberatan diantar pulang Theo atau sopir kami atau dengan ojek daring.”


“Aku sudah punya cukup uang, jadi aku membeli sepeda, Matt,” jawabku, berharap itu cukup untuk meyakinkan dia agar tidak terus bertanya. “Aku tidak enak menerima kebaikan kalian terus-menerus. Jadi, aku putuskan untuk tidak merepotkan Theo atau mamamu dengan membeli sepeda.”


Dia memperhatikan wajahku sambil mengusap-usap dagunya. “Semua orang bersikap aneh. Apa hanya aku yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi?”


Matt hanya bertanya pada malam itu dan tidak membahasnya lagi pada malam-malam selanjutnya. Kami belajar dengan tenang serta fokus mengulang materi penting dari kelas satu dan dua. Dia mulai memahami banyak hal sehingga mempermudah sesi tanya jawab kami.


Dosen mulai memberi banyak tugas, baik perorangan maupun kelompok. Aku dan Sonata semakin sering bertemu di luar jam kuliah untuk diskusi. Kadang-kadang, kami bergabung dengan kelompok lain jika dosen meminta lebih banyak anggota dalam mengerjakan tugas tersebut.


“Amarilis, bisa kita bicara sebentar?” tanya Tante Ruth ketika aku datang pada petang itu.

__ADS_1


“Iya, Tante,” jawabku dengan sopan.


Dia berjalan menuju ruang tamu, maka aku mengikutinya. Tidak biasanya dia mengajak aku bicara berdua saja. Jika ini ada hubungannya dengan Matt, kami pasti langsung bicara. Apa mungkin dia mau membahas hubunganku dengan Theo?


__ADS_2