
Aku menoleh ke arah televisi dan melihat tayangan tentang Rahma yang dilarikan ke rumah sakit karena menelan terlalu banyak obat tidur. Temannya curiga dia tidak keluar dari kamar untuk makan malam, maka mereka memeriksa keadaannya. Ternyata dia sudah tidak sadarkan diri di ranjang.
Untung saja nyawanya tertolong dan dia sedang dirawat di rumah sakit untuk mengetahui andai ada gejala lanjutan. Orang tuanya sudah terbang dari Medan ke Jakarta untuk menemaninya. Dia tidak lompat dari gedung pasti karena ketakutan, jadi dia menggunakan cara ini. Dasar bodoh.
Kak Jericho tidak pernah menyukainya, untuk apa dia terus memaksa? Apa yang terjadi sehingga dia jatuh cinta kepada Kakak sedalam ini? Aku ingat dia menatap Kakak penuh kekaguman pada saat kami bertemu di kampus. Apa mungkin dia baru merasakannya ketika jadi mahasiswa?
Sepertinya tidak ada momen khusus yang bisa membuat dia menyukai Kakak. Beberapa kali datang ke rumah bersama Chika dan Nisa, dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda suka kepada kakakku itu. Lalu apa yang mengubah perasaannya kepada Kakak?
“Sepertinya aku tahu mengapa mantan temanmu itu mencelakai kamu,” kata mama Theo pelan, menarik perhatianku dan mamaku dari layar televisi. “Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak mengajak kalian memasuki toko perlengkapan bayi itu.”
“Ma,” ucapku.
“Tidak, Amarilis. Dia pasti berpikir kamu hamil dan berniat untuk menggugurkan kandunganmu. Kalau aku tidak mengajak kalian memasuki toko itu …. Ya, ampun. Maafkan aku ….” Mama menutup muka dengan kedua tangannya.
“Aku justru bersyukur dia melakukannya sekarang, Ma. Aku masih lincah bergerak. Apa Mama bisa bayangkan andai dia melakukan itu saat perutku sudah besar?” Aku mencoba untuk menghiburnya. “Mungkin aku tidak akan bisa menghindar dari serangannya itu.”
“Sudah, sudah. Apa kalian tidak bisa berhenti membicarakan hal yang buruk? Sudah cukup,” lerai mamaku. “Aku tidak kuat mendengarnya.” Mama menutup telinga sambil menggelengkan kepalanya. Aku mendekat untuk memeluknya.
Mamaku menarik napas panjang, lalu menoleh kepada mama Theo. “Cucu dan putri kita selamat. Itu yang terpenting, Ruth. Orang berbuat jahat kepadanya bukan karena kamu, tetapi karena orang itu memang punya niat yang tidak baik. Kita fokus menjaga mereka saja. Jika ada yang berbuat jahat lagi, kita serahkan kepada Menantu. Kamu tidak perlu membebani pikiranmu dengan hal yang buruk.”
“Iya, Ma.” Aku memeluk mereka berdua. “Kita fokus pada persiapan hari Sabtu saja.” Mereka saling bertukar pandang, lalu tersenyum tipis.
Walau aku berkata begitu, aku tidak bisa menentang nuraniku yang mendadak kasihan kepada ketiga wanita yang pernah menjadi orang terdekatku itu. Mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal, maka aku sedikit tenang. Namun aku mau bertemu lagi dengan mereka untuk bicara.
__ADS_1
Tentu saja Theo melarang. Namun bukan Katelia namanya kalau tidak keras kepala. Aku menunggu sampai mamanya menjemput mamaku dan mereka pergi mengurus persiapan acara besar kami. Antonio hanya tertawa kecil ketika masuk ke taksi daring bersamaku.
Dia tidak mau membiarkan aku pergi sendiri masuk ke mulut harimau. Padahal akulah harimau di antara kami berempat. Chika, Rahma, dan Nisa tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Melawan mereka seorang diri pun aku sanggup, asal mereka tidak berbuat curang.
Keadaan rumah sakit ramai dengan wartawan, jadi sopir memutar menuju pintu masuk dari samping. Aku yakin yang mereka incar adalah berita mengenai Chika, bukan Rahma. Aku tidak perlu bertanya kepada resepsionis nomor kamarnya, karena Daisy sudah mencari tahu.
Mama Rahma menemaninya di kamar saat aku datang. Perempuan itu mengusir aku dengan kasar, tetapi putrinya melarang. Dia meminta mamanya untuk meninggalkan kami bicara berdua. Wanita itu awalnya terlihat keberatan sebelum mengabulkan permintaan Rahma.
Dia yang selalu berdandan sempurna dengan rambut rapi dan pakaian yang indah, kali ini sangat berbeda. Mukanya pucat pasinya dan rambutnya kusam. Dia mengenakan baju khusus rumah sakit tanpa satu perhiasan pun menghiasi tubuhnya yang tidak tertutup pakaian.
“Kamu datang untuk menertawai aku?” tanyanya dengan suara lemah.
“Aku datang untuk menyelesaikan segalanya. Aku harap ini adalah untuk terakhir kalinya,” kataku dengan serius. “Kita tidak saling mengenal dan tidak akan mendekati satu sama lain lagi.”
Dia mendesah pelan. “Aku janji.” Sebutir air mata bergulir membasahi bantalnya. “Aku sudah sangat jahat kepadamu di masa lalu. Aku mengerti sekarang. Kak Jericho benar. Bagaimana dia bisa jatuh cinta kepada orang yang sudah menyakiti adiknya?”
Dia membuka mata, lalu tersenyum kepadaku. “Terima kasih sudah datang, Kat. Kamu adalah orang yang paling aku tunggu menjenguk aku di sini. Aku bahagia pernah menjadi sahabatmu dengan semua hal jahat maupun baik yang kita lakukan bersama.” Matanya berkaca-kaca.
“Kamu selalu ada untukku. Orang pertama yang menolong aku setiap kali ada dalam kesulitan. Aku malah membalas dengan berbuat jahat. Aku mau menjadi seperti kamu. Memaafkan diriku agar orang yang pernah aku jahati juga memaafkan aku. Semoga suatu hari nanti akan ada pria yang mau mencintai aku apa adanya, juga mertua yang sayang kepadaku. Seperti yang kamu dapatkan.”
Aku mendekat dan memegang tangannya. “Kamu pasti akan mendapatkannya. Bahkan jauh lebih baik dari yang aku miliki.” Aku tidak menahan air mataku lagi. “Aku juga senang pernah menjadi sahabatmu, Rahma. Maafkan aku juga, semuanya berakhir seperti ini.”
Kami menangis bersama. Kenangan demi kenangan kami selama SMU bermain di kepalaku. Kami hanya remaja yang masih mencari jati diri. Walau kami suka merundung orang, kami juga sering berbuat positif. Sayangnya, persahabatan kami berakhir di geladak kapal itu.
__ADS_1
Setelah kami tidak menangis lagi, aku memeluknya untuk yang terakhir kali, lalu keluar dari kamar itu. Aku berterima kasih kepada mama Rahma dan berjalan menuju kamar berikutnya. Aku tidak heran melihat Pak Norman ada di dalam dan melarang aku masuk. Aku tidak memaksa karena Chika juga tidak mau menerima aku.
Tempat yang aku kunjungi berikutnya juga tidak mau menerima kedatanganku. Jadi, aku bisa pulang ke rumah lebih cepat dari yang aku rencanakan. Antonio tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku sebelum dia masuk ke ruang keluarga, tempat sementaranya untuk bekerja. Aku masuk ke ruang kerja untuk menjawab semua panggilan dan pesan masuk untuk Kakak.
Suamiku pulang entah jam berapa, karena aku sudah menunggu tetapi tertidur. Bangun pada pagi harinya, dia sudah tidak berbaring di sisiku. Mendengar bunyi air dari kamar mandi, aku tersenyum. Aku bangun dan menyusul dia. Ternyata dia sedang membersihkan wajahnya.
“Selamat pagi, sayang.” Aku memeluknya dari belakang. Dia hanya diam, menatap aku pun tidak mau. “Aku dan Rahma sudah berbaikan semalam. Kami berjanji tidak akan saling mengganggu lagi.”
Melihat dia masih diam, aku berpindah dengan berdiri di hadapannya. “Aku juga menemui Chika dan Nisa, tetapi mereka menolak. Jadi, aku akan mencoba lagi hari ini.” Dia tidak memberi respons.
“Sayang. Jangan diam saja. Katakan sesuatu,” desakku.
Dia memegang tanganku yang terkait di punggungnya agar aku melepaskan pelukanku. Aku terpaksa menurut dan membiarkan dia pergi keluar kamar. Duh, dia benar-benar merajuk. Aku bergegas mengganti pakaian dan menyusul joging bersamanya.
Antonio dan Buddy sudah lebih dahulu berkeliling pekarangan rumah. Aku mencoba untuk mengejar Theo, tetapi dia sengaja berlari lebih cepat dariku. Gawat. Dia benar-benar marah. Antonio tertawa kecil membuat aku tambah kesal saja.
Karena dia tidak juga mau bicara, melihat, atau menyentuh aku, maka aku menggunakan cara yang membuat dia tidak bisa menolak aku. Saat berada di kamar, aku melepas satu per satu pakaianku sambil berjalan ke kamar mandi. Aku sengaja melenggokkan pinggulku untuk menggodanya. Benar saja. Dia membopong aku dan membawa aku ke kamar mandi.
Puas bercinta, kami bergegas mengenakan pakaian agar bisa sarapan bersama Mama dan Antonio. Dia juga bisa terlambat kalau kami tidak cepat. Setelah dia berangkat dengan mobilnya dan mamaku pergi dengan mama Theo, aku dan Antonio saling bertukar pandang.
Belum menyerah, aku menjenguk Chika di rumah sakit. Wartawan masih memenuhi pintu masuk utama, jadi kami lewat pintu samping lagi. Pak Norman tidak ada di kamar, tetapi mama Chika yang galak itu yang menjaganya. Dia mengusir aku pergi ketika aku meminta bertemu dengan putrinya.
Tidak mau memaksa, aku pun mengalah. Kami melanjutkan perjalanan ke kantor polisi. Wanita yang menerima aku pada hari sebelumnya memahami maksud kedatanganku. Dia meminta aku untuk duduk, maka aku dan Antonio menurutinya.
__ADS_1
Dia meninggalkan kami, lalu datang beberapa menit kemudian. “Dia bersedia untuk menemui Ibu, tetapi ada syaratnya.”
Aku tahu dia tidak akan membuat segalanya mudah bagiku. “Apa syaratnya?”