Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
113|Grup Diskusi


__ADS_3

Teman kelompok kami itu sengaja melakukannya? Pantas saja semua teman hanya diam mendengar dia tidak berhenti bersikap sok tahu. Ternyata mereka sudah tahu hal itu. Aku yang bodoh meladeni dia, berpikir cara itu akan membuat dia diam.


“Bodohnya aku,” gumamku.


“Kamu tidak bodoh, hanya belum tahu.” Nora menyikat sikuku. “Ayo, kita makan siang. Masih ada tugas kelompok yang perlu kita kerjakan.”


Theo sudah jarang berada di sekitar ruang kuliah, jadi kami jarang bertemu di kampus. Dia lebih sering bergelut di perpustakaan bersama senior kami yang lain. Melanjutkan studi di negeri asing memang ada tantangannya tersendiri. Perbedaan bahasa yang paling terasa.


Selama musim gugur, aku selalu lapar. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana nanti saat musim dingin. Namun Theo tidak mengeluh memasak porsi makanan lebih banyak dari biasanya. Entah mengapa dia suka sekali aku gemuk lagi.


Tinggal bersama orang yang fokus pada urusan akademik adalah pilihan yang sempurna. Kami lebih suka di kamar untuk belajar daripada jalan-jalan atau menghadiri undangan pesta. Dia juga teman satu apartemen yang menyenangkan. Kami berbagi dalam membayar kebutuhan sehari-hari, tagihan bulanan apartemen, bahkan untuk urusan penatu dan kebersihan tempat tinggal kami.


Dia benar. Tinggal bersama sangat hemat. Aku semula menduga apartemen ini mahal. Ternyata tidak. Dia memilih tempat khusus untuk mahasiswa dan mengamati peraturan dengan detail. Di gedung ini dilarang mengadakan pesta dengan suara berisik apalagi sampai lewat tengah malam.


“Gue perhatikan lo sering belajar kelompok dengan orang yang sama,” katanya usai makan.


Aku ikut membantu mencuci piring. Hari ini hari Sabtu, jadi aku bebas sejenak dari urusan kampus. “Kamu sempat juga memperhatikan aku?” godaku.


“Jangan terlalu dekat dengan teman cowok lo. Gue enggak suka.”


“Aku selalu bersama Nora. Jangan cemburu begitu.” Aku menyikut lengannya. “Aku tidak lupa dengan kesepakatan kita.”


“Ada satu cowok yang suka sama lo, karena itu, gue bilang begini. Insting lo jelek, beda dengan gue.”


“Kamu bukannya harus pergi ke restoran?” Aku melirik jam tanganku.


Sejak memasuki semester baru, dia pergi ke restoran milik keluarganya pada akhir pekan. Aku belum pernah ke sana, jadi aku tidak tahu seperti apa keadaannya. Aku hanya memeriksanya lewat internet dan tempat itu sangat ramai pada akhir pekan. Om Azarya benar-benar genius dalam bisnis.


Kami sudah selesai mencuci piring, maka aku mengeringkan tangan, lalu membalikkan badan. Namun Theo mengurung aku dengan meletakkan kedua tangannya di sisi wastafel. Kami berdiri begitu dekat, tetapi aku tidak bisa mundur. Bökongku menempel dengan konter tersebut.


“Gue serius gue pencemburu berat. Jangan pancing amarah gue, Kat,” ancamnya dengan serius.


Aku menelan ludah dengan berat. Aku tidak suka bertengkar, apalagi sampai putus dengannya lagi. Namun aku kesulitan menahan diri ketika ada orang yang mengajak berdebat. Masa peraturannya ditambah lagi? Apa gunanya diskusi kalau aku hanya diam?

__ADS_1


“Oke,” kataku, menurut.


Dia menatap aku sejenak. Melihat tatapan intensnya, aku menghindari matanya dengan menunduk. Jarinya berada di daguku, lalu dia perlahan membujuk aku mengangkat kepalaku lagi. Matanya turun melirik bibirku, maka aku memberi izin dengan memejamkan mataku.


Dia hanya sebuah kecupan, lalu memeluk aku dan mencium sisi kepalaku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi aku membalas pelukannya. Sikapnya aneh sekali. Ada saat dia membuat aku sedih karena membuang muka, lalu di kesempatan lain dia menghindari aku. Melihat dia berbeda pagi ini, aku mengabaikan peraturan mengenai ciuman dengan memberi izin.


“Theo, ada apa?” tanyaku bingung.


“Seandainya bisa, gue mau menikahi lo sekarang,” bisiknya.


Aku tersenyum lega mendengarnya. “Kita pasti akan menikah. Kamu jangan takut begitu. Walau ada banyak laki-laki dan perempuan lain yang mencoba memisahkan kita, aku yakin kita akan kembali bersama. Lihat saja sekarang. Dua tahun terpisah, kita berpelukan lagi.”


“Gue sayang lo, Kat.”


“Aku juga.”


Ujian tengah semester tiba, kami sama-sama menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Kami saling mengingatkan untuk makan malam, lalu bertemu di kantin kampus yang terdekat dengan perpustakaan. Sedang makan pun, kami tidak lepas dari buku.


Kami tetap belum bisa menarik napas lega ketika ujian berakhir karena tugas semakin banyak. Aku beberapa kali menyampingkan harga diri dengan meminta bantuan Theo, tetapi dia tetap pada pendiriannya. Aku harus berusaha sendiri.


“Kesimpulan ini tidak cerdas. Ibu Johnson pasti meminta kita untuk merevisinya. Mengapa kalian tidak percaya kepadaku dan menulis saja apa yang aku usulkan?” desaknya ketika diskusi berakhir.


Seperti biasa, teman-teman hanya diam. Mereka sibuk merapikan alat tulis dan buku mereka, lalu memasukkan ke tas. Melihat itu, aku pun melakukan hal yang sama. Nora yang bertanggung jawab mengetik hasil diskusi kami dan membawanya pada hari penyerahan tugas.


“Jadi, kalian semua lebih suka mendengar pendapat Amarilis daripada aku? Oke. Semester depan, aku tidak mau satu kelompok lagi dengan kalian,” ancamnya. Masih tidak ada yang peduli. Dia pun berdiri dan pergi dengan kesal.


Teman-teman serentak mendesah lega setelah dia jauh dari kami. Mereka berhenti melakukan aktivitas berberes mereka tadi. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa mereka tidak bilang terus terang saja kepadanya?


“Gosip itu benar,” kata seseorang, menarik perhatian kami. “Dia bisa melakukan sihir jahat. Seorang teman memberi tahu aku, satu korbannya bebas minggu lalu setelah menuruti kemauannya.”


“Aku juga diberi tahu mantan teman sekolahnya, dia sanggup memisahkan jiwa dari raga selama yang dia mau sampai keluarganya berpikir dia tidak terselamatkan lagi. Tepat sebelum mesin yang menjadi pendukung hidupnya dimatikan, dia bangun,” kata teman kedua.


“Dia terbangun setelah memenuhi permintaannya,” ucap teman pertama tadi, menyimpulkan. Pria kedua tadi mengangguk. Dia menoleh ke arahku. “Kamu harus berhati-hati, Amarilis.”

__ADS_1


“Mengapa dia harus berhati-hati?” Nora memandang aku dan pria itu secara bergantian.


“Dia berulang kali menyalahkan kamu sebagai sumber masalah kami tidak mau menerima pendapat darinya. Bisa jadi dia sedang mencari alasan untuk membuat kamu sebagai target berikutnya.”


Jantungku nyaris berhenti mendengar kalimatnya itu. Kalau hanya ada satu kasus, maka aku percaya itu hanya kebetulan. Namun mereka memberi contoh dua hal yang pernah terjadi pada orang-orang terdekat mereka. Apa mungkin Robert menguasai sihir jahat?


Mereka benar mengenai satu hal. Dia sering sekali menyebut namaku setiap kali melakukan protes. Padahal kami menggabungkan setiap ide yang baik bersama, juga menyimpulkannya bersama. Apa iya dia sengaja menyalahkan aku?


“Abaikan semua yang mereka dan Robert katakan. Kamu akan baik-baik saja.” Seseorang berjalan mendekat saat aku membuka kunci sepedaku.


“Terima kasih, Mike.” Aku memakai helmku.


“Kamu pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan dahulu di kantin? Aku yang traktir.” Dia menunjuk ke arah mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri.


“Tidak, terima kasih. Aku harus pulang,” tolakku dengan halus.


“Mungkin lain kali?” tanyanya, belum menyerah.


“Maaf, aku tidak bisa berjanji,” kataku, tanpa berbasa-basi.


Orang-orang tahu aku dan Theo dekat, tetapi mereka pikir itu karena kami berasal dari negara yang sama. Tidak ada yang tahu bahwa kami serius berpacaran. Namun beberapa orang mencurigai hal itu, karena aku menjaga jarak dengan semua orang.


Kami juga selalu menolak jika ada yang mengajak berfoto bersama untuk urusan kuliah sekalipun. Mereka bisa saja memostingnya di media sosial. Kalau mamanya sampai tahu kami bersama di sini, tamatlah riwayat kami. Theo adalah segalanya bagiku saat ini dan aku tidak mau kami putus lagi.


“Ada apa?” tanya Nora yang berjalan mendekati sepedanya. “Mengapa Mike terlihat sangat marah?” Dia menoleh ke arah pria yang mendekati mobilnya itu.


“Aku menolak ajakan makannya.” Aku mengangkat kedua bahuku.


“Kamu menolak ajakan makan malam Mike?” tanyanya tidak percaya. “Dia anak orang kaya di kota ini. Perempuan mana pun pasti merasa beruntung bisa menghabiskan satu malam dengannya.”


“Aku bukan perempuan seperti itu, Nora.”


Dia mengangakan mulutnya. “Jangan bilang kamu masih pêràwan,” ucapnya terkejut. “Amarilis, menolak Mike tidak akan menyelesaikan masalahmu.”

__ADS_1


“Mengapa kamu bilang begitu?”


“Apa kamu tidak dengar? Dia anak orang terkaya di kota ini.” Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. “Dia selalu mendapatkan semua yang dia mau.”


__ADS_2