Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
18|Bisa Diandalkan


__ADS_3

Jantungku berdebar kencang mendengar kalimat itu. Apalagi orang yang mengucapkannya bukan orang sembarangan. Dia tahu benar prestasiku di sekolah kami dahulu. Aku menelan ludah dengan berat sebelum menoleh ke arah belakangku.


Chika, Nisa, dan Rahma menatap aku dan papan pengumuman itu secara bergantian. Ketiga orang yang selama beberapa bulan ini hanya berpapasan atau melihat aku dari jauh, ada tepat di depanku, melihat aku dengan penuh selidik.


“Kamu nyaris tidak naik kelas karena nilai akademikmu tidak cukup. Kamu bisa lulus ujian nasional saja kami anggap keajaiban.” Chika melirik kertas pengumuman tersebut. “Bagaimana mungkin kamu malah dapat nilai serba A dan A plus pada semester pertama kuliah?”


“Apa kamu pura-pura miskin, ternyata membayar dosen untuk membeli nilai?” tanya Nisa curiga.


“Itu tidak mungkin, aku tidak percaya moral semua dosen kita serendah itu. Dia pasti mencuri soal ujian, lalu menyiapkan jawabannya. Jadi, ketika hari ujian, dia bisa menjawab setiap soal dengan sempurna,” kata Rahma, menuduh sembarangan.


“Kamu dengar apa yang mereka bilang?” Terdengar suara mahasiswa lain.


Aku menoleh dan melihat tuduhan ketiga perempuan iri hati ini sudah mengundang perhatian mahasiswa lain yang seangkatan denganku. Mereka saling berbisik terhadap satu sama lain sambil menatap aku dengan sinis. Urusan pencurian dompet belum sepenuhnya selesai, aku malah harus berhadapan dengan tuduhan baru.


“Apa aku bilang? Tidak mungkin dia yang duduk paling belakang bisa dapat nilai bagus. Dia pasti menyiapkan contekan saat ujian.”


“Kamu benar juga. Apalagi dosen tidak selalu mengawasi kita selama ujian. Ketika mereka lengah, bisa saja dia mengintip jawaban yang sudah dia siapkan.”


“Ternyata bukan badannya saja yang gendut dan mukanya jelek, ternyata otaknya juga busuk.”


Chika dan kedua temannya tersenyum puas melihat aku menjadi bahan gunjingan orang. Dasar tiga orang iri hati. Hanya karena mereka tidak bisa mendapatkan nilai sebagus aku, mereka menuduh aku tanpa bukti. Namun ini adalah kesalahanku juga. Seharusnya aku berhati-hati.


Ah, tidak. Untuk apa aku berhati-hati? Nilai akademikku akan memengaruhi karierku kelak. Aku tidak mau dapat IPK pas-pasan yang menyebabkan aku kesulitan diterima di perusahaan bagus. Impianku besar, bukan sekadar jadi karyawan di perusahaan biasa.


Jika mereka mau menuduh aku, biarkan saja. Dosen yang memeriksa sendiri jawabanku dan tahu betul kualitasku saat kami diskusi di kelas. Mereka tidak akan terpengaruh dengan tuduhan palsu ini seperti ketika Chika mengadu aku mengambil lima ratus ribunya.


“Apa kalian tidak punya hal lain yang lebih penting?” Datang suara penyelamatku yang sudah aku kenal. Semua orang menoleh ke arahnya. “Dia dapat nilai A, lalu apa urusannya dengan kalian? Kalau mau protes, tanya langsung saja ke dosen yang memberi nilai.”


“Mengapa kamu bicara begitu?” ucap Chika tersinggung. “Kamu tahu sendiri dia orang paling bodoh di kelas kita. Mana ada orang yang jadi pintar dalam waktu semalam.”


“Dia mempersiapkan diri selama satu tahun lebih sampai bisa masuk kampus ini, masa lo masih bertanya? Bagaimana lagi caranya seseorang bisa lulus seleksi masuk kalau tidak belajar keras? Joki? Itu mustahil untuk dilakukan karena ujian pakai tanda pengenal,” kata Theo, membela aku.


“Aku baru tahu kamu bisa naif begini.” Rahma mendengus keras. “Untuk apa ada kasus joki yang tertangkap kalau hal itu mustahil?”


“Karena buktinya sudah ada di depan kalian,” jawab Theo. “Jika dia pakai joki, bagaimana cara dia bisa dapat nilai yang sempurna juga saat kuliah?”


Mereka pun diam, tidak bisa lagi membantah ucapan Theo. Aku menahan senyum agar mereka tidak semakin marah. Ternyata ada gunanya juga menjadi guru privat Matt. Terima kasih kepada Chika yang sudah mengerjai aku sehingga hubunganku dan pemuda tampan ini semakin dekat.

__ADS_1


Dia tidak hanya teman yang baik, tetapi juga pembela yang bisa diandalkan. Aku perlu berhati-hati agar dia tidak marah atau kecewa lagi kepadaku. Perannya sangat penting selama aku kuliah di sini supaya identitas asliku tidak terbongkar.


Chika merapatkan bibirnya. Kedua temannya mendekat dan terlihat memberinya dukungan. Gadis itu berusaha untuk memikirkan kalimat selanjutnya, tetapi dia kehabisan kata-kata. Kasihan. Dia pasti kesal tidak bisa membuat Theo setuju dengannya.


“Ayo, Amarilis. Jangan sering bersama orang suka iri,” kata Theo sambil menggandeng tanganku.


Orang-orang menarik napas terkejut melihat hal itu. Jangankan mereka, aku saja kaget merasakan dia menggenggam tanganku. Tidak peduli dengan perhatian semua orang, dia membawa aku melewati mereka menjauh dari tempat itu.


Jantungku perlahan berdetak sedikit lebih cepat. Sesuatu membuat aku merasakan aliran listrik dari tangan ke punggungku. Apa ini? Mengapa aku merasakan hal yang aneh ini? Wajahku juga terasa panas sampai aku khawatir orang akan melihatnya.


Mahasiswa lain yang berpapasan dengan kami mengarahkan pandangan mereka kepada kami. Aku menarik tanganku, tetapi Theo tidak mau melepaskannya. Dia mengajak aku untuk naik ke sepeda motornya, maka aku menolak.


“Ada apa lagi?” tanyanya.


“Kamu mau bawa aku ke mana?” Aku balik bertanya.


“Makan siang,” jawabnya singkat.


“Aku sudah bilang, tidak lagi. Kamu sudah tidak perlu mentraktir aku makan.”


“Hari ini ulang tahunku,” katanya, membuat aku merasa tidak enak. “Apa kamu akan menolak juga?”


Seorang pelayan membawa kami ke sebuah ruangan, dan aku merasa tidak nyaman akan berdua dengannya di tempat tertutup itu. Namun aku kembali diberi kejutan. Tante Ruth dan Matt sudah berada di dalam menunggu kedatangan kami.


Bodohnya aku. Mengapa aku menduga Theo akan membawa aku ke tempat mewah ini untuk makan berdua saja? Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Matt, sudah sewajarnya dirayakan bersama keluarganya. Aku duduk di sisi Tante Ruth, sedangkan Theo di samping adiknya.


“Papa kamu baru saja pergi. Aku sudah memarahinya. Selalu saja lebih mengutamakan pekerjaan daripada putranya sendiri,” keluh Tante Ruth dengan wajah kesal.


“Tidak apa-apa, Ma. Sudah biasa. Lagi pula, Papa bekerja untuk kita juga,” kata Matt dengan bijak.


“Ng, ini acara keluarga. Mengapa saya diundang juga, Tante?” tanyaku segan.


“Tentu saja karena kamu adalah bagian dari keluarga kami,” jawab wanita itu yang berubah riang. “Matt dapat ranking di sekolahnya berkat bantuan kamu. Suamiku sangat bangga melihat perubahan putranya. Jadi, apa pun kegiatan keluarga kami, kamu selalu ikut serta.”


“Aduh, Tante. Saya jadi tidak enak. Matt belajar keras, karena itu dia juara,” dalihku.


“Sebelum dengan kamu, dia tidak pernah dapat ranking.” Pintu diketuk, kemudian dibuka. “Nah! Makanan kita sudah datang! Kamu makan yang banyak, ya. Aku perhatikan kamu kurusan.”

__ADS_1


“Ah, iya, Tante,” ucapku tersipu. Aku menoleh ke arah murid privatku itu. “Maaf, aku tidak bawa kado untukmu. Aku tidak tahu hari ini hari ulang tahunmu.”


“Kakak sudah memberi lebih dari yang gue butuhkan.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Agak aneh melihat anak usil ini berubah baik hati.


Hampir empat bulan berolahraga dan menjaga porsi makan, berat badanku berkurang sepuluh kilo. Aku masih perlu menurunkan sepuluh kilo lagi agar dadaku tidak sesak dan kakiku tidak menanggung beban tubuh terlalu berat. Itu adalah berat badan ideal menurut buku-buku kesehatan.


Aku tidak bermimpi akan seramping badan Katelia. Yang aku incar hanya tubuh yang sehat, jadi aku bisa nyaman beraktivitas. Kalau perlu, orang-orang tidak lagi menghina aku gendut, gemuk, atau badak. Cukuplah semua itu aku alami pada saat sekolah.


Dunia kerja akan sangat kejam, menurut beberapa film yang aku tonton. Penampilan menentukan karier seseorang, bukan hanya otak dan keterampilannya saja. Kebetulan pekerjaan yang aku incar akan menuntut karyawannya untuk berpenampilan menarik. Jadi, aku harus berhasil diet ketat.


“Maaf, aku selalu merepotkan kamu,” kataku ketika kami sudah tiba di depan tempat tinggalku.


“Apa boleh buat. Mama enggak akan berhenti bicara sampai gue antar lo pulang.” Dia menerima helm dariku. “Gue boleh sesekali datang untuk ajak lo makan?”


“Aku sudah bilang—” kataku, mengingatkan.


“Hanya makan, bukan traktir,” ucapnya, mengonfirmasi.


Aku tertegun sejenak. Apakah dia mengajak aku makan karena sudah punya perasaan khusus? Kami akan berlibur selama beberapa minggu dari urusan kuliah, jadi kami tidak akan bertemu. Aku juga tidak perlu mengajar Matt selama dua minggu.


Ah, sebaiknya tidak. Aku lebih baik mengamen mencari uang daripada bertemu dengannya. Lagi pula, rencana balas dendamku masih berjalan lancar. Theo lebih suka menghabiskan waktunya denganku dan sama sekali tidak tertarik dengan Chika.


“Baiklah, kalau kamu keberatan.” Dia menyimpulkan, tidak menunggu responsku. “Selamat berlibur.”


Walau kami libur kuliah nyaris satu bulan, kami tetap punya urusan di kampus dua minggu sebelum jadwal kuliah semester genap dimulai. Jadi, aku memanfaatkan setiap harinya dengan baik mencari tempat strategis mengamen pada hari kerja.


Beberapa kali aku berhadapan dengan satpol PP atau preman setempat yang mengusir aku dari tempat kekuasaan mereka. Namun pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagiku. Aku sangat menghargai uang yang dahulu aku remehkan.


“Ya, ampun, Kak!” Matt tiba-tiba memeluk aku yang baru memasuki rumah mereka. “Gue kangen berat! Dua minggu itu waktu yang lama!”


“Matt! Hei! Jangan peluk anak gadis orang sembarangan!” tegur mamanya.


“Gue serius kangen, Ma!” katanya, menegaskan. “Setiap hari belajar selama berbulan-bulan, eh, tidak bertemu selama dua minggu itu berat.”


“Sudah. Jangan banyak drama kamu. Sana, ajak gurumu ke ruang belajar kalian,” desak Tante Ruth.


Begitu memasuki ruang perpustakaan, aku juga merasakan rindu yang dia katakan tadi. Padahal hanya dua minggu, tetapi terasa lama sekali. Meski begitu, aku berhati-hati andai dia menyiapkan jebakan untukku. Anak ini baiknya hanya sementara. Dia yang asli adalah dia yang suka usil.

__ADS_1


Theo tidak ada di rumah dan aku segan merepotkan Matt, jadi aku menolak diantar pulang. Jarak rumah mereka dengan halte tidak jauh, bisa aku tempuh dengan jalan kaki. Tante Ruth pun kembali mengalah dan mengizinkan aku pulang sendiri.


“Ternyata kamu dekat dengan Theo karena adiknya,” ucap seseorang dari arah depanku. Aku menghentikan langkah dan mengangkat kepalaku. “Kamu bisa membohongi semua orang, tetapi tidak dengan kami. Mengapa orang sebodoh kamu jadi guru privatnya? Siapa kamu sebenarnya?”


__ADS_2