
~Altheo~
“Papa berjanji akan memberi gue waktu untuk mengenal Venny sebelum kami bertunangan secara resmi atau menikah.” Aku sengaja tetap berada di meja makan ketika Mama dan keluarga Venny duduk di sofa untuk merencanakan acara pertunangan itu.
“Ini hanya seremonial. Lagi pula, kalian pasti menikah.” Papa menatap aku dengan serius. “Jangan pikir aku akan membiarkan kamu menikah dengan wanita lain.”
“Amarilis bukan wanita lain. Dia wanita yang sejak awal akan gue nikahi,” ralatku.
“Dia hanya akan membawa aib dalam keluarga kita. Orang tuanya miskin. Mereka tinggal di rumah kecil dan tidak punya bisnis besar yang bisa diajak bekerja sama dengan kita. Apa kata orang nanti ketika kalian menikah dan semua keluarganya tidak berhenti menyalahgunakan nama kita?”
Kalimat itu lagi, kalimat itu lagi. Padahal ulah kami sendiri yang membuat kami jadi omongan orang, bukan karena Amarilis atau keluarganya. Yang terakhir kali nyaris membuat kami malu adalah Chika, juga bukan Amarilis atau keluarganya. Mengapa dia cepat sekali lupa?
“Papa pikir gue enggak tahu apa yang sudah Mama lakukan di belakang gue? Kalau bukan karena ulah kalian, toko roti mereka pasti sudah besar dan sukses. Masih ada banyak waktu bagi keluarga Amarilis untuk menaiki tangga sosial yang lebih tinggi. Jadi, kami bisa sederajat nantinya.
“Tega sekali kalian menyuruh orang meretas tabungan mereka dan mengambil semua simpanan mereka. Gue malu, Pa. Demi perempuan yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya itu, Papa dan Mama tega menyingkirkan Amarilis dengan cara yang kotor.
“Ke mana uang mereka Papa buang? Ke laut? Gue tahu Papa tidak mengambilnya. Atau Papa berikan semua kepada peretasnya? Itu uang hasil kerja keras mereka, Pa, bukan dari meminta-minta. Tidak ada bedanya dengan uang miliaran yang Papa hasilkan setiap harinya dari bisnis keluarga kita.”
“Kamu memuji dia begitu tinggi,” sela Papa, “padahal dia hanya perempuan yang rela jual diri demi uang. Apa artinya kalian tinggal di atap yang sama kalau bukan untuk asyik màsyúk? Chika maupun Venny lebih terhormat dari dia. Setidaknya, mereka menunggu sampai menikah.”
“Jadi, Papa belum paham juga, ya?” Aku menggeleng pelan. “Gue membayar uang kuliah dan semua kebutuhannya di sana untuk mengganti uang mereka yang Papa curi. Itu cara seorang anak menebus kesalahan orang tuanya. Kembalilah, Pa, menjadi Papa yang dahulu gue kenal.”
Aku tidak tahu kami berada di mana, tetapi pemandangan dari luar jendela menunjukkan aku berada di Amerika. Apakah itu percakapan antara aku dan Papa ketika kecelakaan belum terjadi? Aku tidak bisa menebaknya, karena semua ingatan itu selalu datang secara acak.
“Apa ini?” tanya Antonio. Lagi-lagi kegelapan diganti dengan pemandangan baru yang tidak aku kenal. Sepertinya aku berada di sebuah rumah kayu. Dari dinginnya suhu, ini bukan di Indonesia.
“Jadwal hal yang harus aku kerjakan dalam waktu satu tahun ke depan,” kataku dengan bangga.
“Kamu masih muda sudah menggunakan alarm untuk kegiatan yang bisa diingatkan oleh asistenmu? Apa kamu semiskin itu?” ejek pria tua itu.
__ADS_1
“Kamu yang miskin, mengapa berlagak kaya?” balasku. “Ayo, cepat. Apa yang harus aku lakukan agar kami bisa menikah di sana? Apa semua berkas ini cukup untuk mendaftar?”
Oh. Jadi, ini momen saat aku dan pria itu menyusun rencana pernikahan kami di Las Vegas. Pantas saja dia tidak terkejut ketika aku menyinggungnya. Dia hanya kaget waktu aku menelepon setelah sekian lama tidak ada kabar. Aku tidak menyangka ada orang yang lebih baik dari orang tuaku.
Dia bahkan mengerahkan orang-orangnya untuk mengecoh orang bayaran Papa. Mereka kehilangan jejak kami dalam perjalanan menuju bandara. Ketika mereka tahu tujuan kami, aku dan Amarilis sudah resmi menikah. Jadi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Gue mencintai lo, Kat.” Aku membelai pipi seorang wanita yang wajahnya samar-samar. “Gue serius. Jangan dekat dengan laki-laki lain.”
“Aku juga mencintai kamu,” balas wanita itu yang perlahan semakin terlihat jelas. Amarilis. “Awas, kalau kamu dekat dengan perempuan lain.”
Aku bisa merasakan dadaku sakit sekali melepaskan tangannya. Apakah ini waktu aku kembali ke Indonesia sebelum kecelakaan? Kat. Siapa Kat? Itu adalah satu misteri yang tidak bisa aku pahami. Seharusnya aku tanyakan semua kepadanya, bukan memendam begini.
Serangan sakit kepala yang dahsyat itu membuat aku membuka mata. Sekelilingku remang-remang, tetapi aku bisa melihat dengan baik. Tirai pada jendela dibiarkan tetap terbuka sehingga cahaya dari luar masuk ke kamar. Suster sudah menyuntikkan obat lewat infus, mengapa nyerinya tetap terasa?
Aku memeriksa benda yang ada di atas nakas dan menemukan obat. Aku membaca kemasannya dan menemukan satu papan obat pereda nyeri. Aku segera mengambil satu dan meminumnya. Untung saja ada segelas air siap minum.
Hal pertama yang aku lakukan ketika kami tiba di kamar dan Amarilis merajuk adalah menghubungi dokterku. Dia membuang jauh semua kekhawatiranku, jadi aku bisa bernapas dengan lega. Aku tidak bisa mendiskusikan keadaanku dengan dokter di rumah sakit tadi, karena dia tidak merawat aku sejak aku mengalami kecelakaan.
Karena istriku masih marah, maka hanya ada satu cara untuk membujuk dia. “Gue ingat segalanya.”
Dia hanya diam. Lalu mulutnya terbuka dan matanya membulat. “A-apa kamu bilang?”
“Ingatan gue sudah kembali,” tukasku. “Gue sengaja tidak bangun agar mimpi itu tidak berhenti datang. Bukan mimpi, tetapi memori masa lalu gue. Ada satu hal tentang lo yang membingungkan gue sehingga gue selalu sakit kepala berat. Ini benar-benar keajaiban.”
“Maksud kamu, Katelia?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kalau aku tetap Katelia, aku tidak akan pernah menjadi seorang ibu. Amarilis telah memberi aku kesempatan itu.”
Aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku. “Kenapa lo bicara begitu?”
“Katelia tidak akan bisa punya anak karena kondisi tubuhnya. Itulah sebabnya pertunangan kita tidak diumumkan orang tuaku. Ayah dan Bunda tidak mau ada skandal saat mengakhiri perjodohan kita.” Dia tersenyum sedih. “Keadaan itu juga membuat mereka tidak melarang aku merundung orang.”
__ADS_1
“Lupakan saja. Saat ingatan gue kembali, ada beberapa hal yang aku harap tidak akan pernah datang lagi. Masa lalu ada di belakang kita. Lo hamil dan kita akan segera menjadi orang tua. Sebaiknya, itu yang kita fokuskan.” Aku membelai pipinya.
“Dan juga, kamu sudah sembuh.” Dia tersenyum bahagia. “Oh, Tuhan. Kamu sudah sembuh!” Dia menarik tanganku dan berlari keluar kamar.
“Amarilis, apa yang lo lakukan? Hei, lo enggak bisa lari-lari begini!” Aku berusaha menahan agar dia tidak berlari terlalu cepat, tetapi juga khawatir akan membuat dia tersandung.
“Nak, apa yang kamu lakukan!?” pekik Bunda panik. Dia berjalan menaiki tangga, diikuti seorang pelayan yang membawa baki.
“Bunda! Ada kabar baik!” seru Amarilis kepada mamanya. “Theo sudah bisa mengingat semuanya! Dia sudah sembuh! Ayo, cepat! Kita harus memberi tahu Ayah dan Kakak, lalu makan siang bersama untuk merayakannya. Hubungi juga Papa dan Mama. Ah, jangan, jangan. Toko harus ada yang jaga.”
Aku dan Bunda saling bertukar pandang, lalu mendesah lega. Setidaknya dia tidak berlari lagi. Kami mendengarkan dia mengatakan semua permintaannya sambil menikmati camilan menjelang siang. Dia makan begitu lahap dan aku pun tidak terkejut lagi melihat besarnya porsi makannya.
Kami makan malam bersama di restoran hotel milik Keluarga Wibowo. Ayah sengaja menyiapkan sebuah ruangan untuk kami semua. Acara itu bukan hanya untukku, tetapi juga Amarilis yang sedang hamil. Aku senang mereka semua mendoakan yang terbaik untuk kami.
Beberapa menit usai makan, aku meminum obat. Merasakan Amarilis sedang memperhatikan, aku menoleh. Dia menatap aku penuh tanya, tetapi tidak mengucapkan apa pun. Dia kembali melihat Bunda yang sedang bicara, lalu menanggapinya.
“Aku tidak mengerti,” katanya, saat kami duduk bersama di tempat tidur. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menoleh ke arahku.
“Enggak mengerti apa?” Aku ikut menaruh ponselku di atas nakas.
“Kamu begitu bersikeras tidak mau minum obat, menahan sakit kepala sendiri, lalu tadi kamu minum tanpa aku suruh.” Dia menggeleng tidak mengerti. “Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Lo benar-benar enggak tahu kenapa gue enggak minum obat?” Dia kembali menggeleng. “Gue rela menanggung rasa sakit, lo enggak mengerti alasannya apa?”
Dia menggeram kesal. “Aku tidak suka rasa penasaran. Apa kamu tidak bisa langsung jawab saja pertanyaanku?”
[Hari Senin, hari tiket merah gratis. Beri Vote untuk novel ini, ya. Terima kasih.]
__ADS_1