Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
26|Barang Pemberian


__ADS_3

Semua orang kembali ke tempat duduk favoritnya masing-masing. Tentu saja barisan yang paling banyak diincar adalah paling belakang. Hanya beberapa kursi pada barisan paling depan yang diisi, sebagian besar kosong. Tempat favoritku.


Karena mereka tidak menempatinya, maka aku memilih salah satu yang dekat dengan jendela. Jadi, tidak ada mahasiswa yang duduk di belakangku yang penglihatannya akan terhalang oleh tubuh besarku. Syukurlah, satu masalah selesai. Aku bisa tenang melanjutkan kuliah.


Begitu dosen mata kuliah kedua keluar, aku mengikutinya menuju pintu. Jika pada pagi hari aku menghindari ketiga gadis itu, maka menjelang makan siang, aku mengelak dari Theo. Tidak peduli dengan kesepakatan sepihaknya itu, aku bukanlah pacarnya.


“Aw!” keluhku ketika tanganku ditarik saat melewati sebuah ruangan.


Tubuhku didorong masuk, kemudian pintu di belakangku ditutup. Aku menoleh dan melihat Rahma dan Nisa berdiri menghalangi pintu tersebut. Benar, ‘kan? Mereka masih belum bisa melepaskan aku terkait dengan biola Katelia.


Aku membalikkan badan, tahu bahwa dia yang berdiri di belakangku. Chika menatap aku dengan kedua alisnya terangkat tinggi. “Kamu mau menghindar sampai kapan?” tanyanya.


Jangan tatap matanya, tetap tundukkan kepala, dan bicara seperlunya. Aku mengucapkan mantra itu berulang kali di kepalaku, mengingat bagaimana biasanya Amarilis bersikap setiap kali aku dan ketiga gadis ini mengganggunya dahulu.


“Hebat juga kamu, ya. Setelah Theo, Kak Jericho pun ada di pihakmu,” ucapnya sambil berdecak seperti cecak. “Kamu mengadukan apa ke Kak Jericho? Hah? Dia sampai menasihati kami agar tidak mengganggu kamu lagi. Jawab!”


“Aku tidak mengadu,” jawabku pelan.


Kakak bodoh itu membahas apa dengan mereka? Katanya, aku harus berhati-hati agar orang tidak curiga. Lalu apa yang dia lakukan ini? Mengapa dia malah datang menasihati ketiga gadis nakal ini? Hubungan dia dengan Amarilis tidak pernah dekat.


“Jangan pikir kami lupa tentang biola Kat yang ada padamu,” katanya, menyinggung tentang topik pembicaraan kami pada hari Senin lalu. “Bagaimana biolanya bisa ada padamu?”


“Kak Jericho yang memberikannya,” jawabku dengan jujur.


“Hah! Tidak mungkin.” Dia melirik ke arah pintu, lalu kembali kepadaku. “Maksudmu, Kak Jericho suka kepadamu sehingga memberikan barang peninggalan adiknya kepadamu?”


Oh. Itu maksudnya melihat ke arah pintu. Siapa di antara kedua temannya itu yang menyukai Kakak? Menarik. Dia menaksir Theo, sedangkan temannya ada yang diam-diam berharap kepada Kak Jericho. Balas dendam yang sangat gampang.


Kalau Chika tahu aku dan Theo pacaran, dia pasti patah hati. Lalu kedekatanku dengan Kakak akan membuat temannya gigit jari. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sepertinya aku tidak perlu menunggu sampai bekerja dan punya uang untuk menyakiti mereka.


“Bukan begitu—” kataku, berusaha untuk menjelaskan.


“Bukan begitu, bukan begitu apa? Mana ada orang yang mau memberi hadiah kepada pembunuh adiknya sendiri!” ucap Chika dengan sengit. “Jawab dengan jujur!”


“Chika, aku masih memegang rahasiamu,” kataku, terpaksa menggunakan senjata rahasiaku.

__ADS_1


“Aku tidak takut. Aku bisa memberi tahu Tante Wibowo mengenai biola Kat yang ada padamu. Dia pasti senang karena akhirnya menemukan cara untuk menjebloskan kamu ke penjara,” katanya dengan berani. “Apa kamu tidak tahu kamu bisa kena pasal berlapis?”


“Aku berkata jujur. Kak Jericho yang memberikan biola itu kepadaku,” tukasku.


“Halah! Jangan bohong kamu. Itu tidak mungkin,” katanya tidak percaya.


“Bagaimana dengan kemampuanmu bermain biola? Bagaimana kamu bisa bermain sebagus itu?” tanya Rahma dari arah belakangku.


“Aku sudah lama belajar bermain biola,” jawabku lagi dengan jujur.


“Jangan bohong kamu!” Chika mendorong salah satu bahuku dengan keras. “Perempuan miskin punya uang dari mana untuk bayar les biola?”


Pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Rahma dan Nisa sampai terdorong maju karenanya. Theo berdiri di ambang pintu dengan wajah tidak suka. Dia menyapukan pandangannya kepada ketiga gadis itu sebelum melihat ke arahku.


“Kapan kalian berubah? Gue sudah bosan bilang jangan ganggu dia lagi. Ini yang terakhir atau gue akan buat perhitungan dengan kalian bertiga,” katanya dengan kesal.


“Ada apa denganmu? Sejak kita masih sekolah, kamu selalu saja membela dia. Apa istimewanya dia sampai kamu repot-repot begini? Apa kamu tidak merasa orang seperti dia hanya merusak suasana kampus kita?” seru Chika tidak kalah marahnya.


“Kalau dia bisa memilih, dia juga tidak mau jadi orang yang bisa terus kalian rundung.” Theo meraih tanganku. “Sekali lagi. Ini yang terakhir. Kalian lakukan ini lagi, kalian akan menyesal.”


“Karena semua yang ada pada kalian tidak ada padanya,” jawabnya singkat.


Jleb sekali. Aku menoleh ke arah Chika yang wajahnya memucat. Gadis yang malang. Aku sampai bisa mendengar bunyi hati retaknya yang hancur berantakan. Sudah janji akan berubah, masih saja mengganggu aku. Theo mungkin akan tertarik kepadanya kalau dia bersikap baik.


Mereka berasal dari keluarga kaya raya dengan ayah yang sama-sama seorang pengusaha sukses. Jadi, pernikahan mereka akan menguntungkan kedua belah pihak. Aku dalam tubuh Amarilis ini bukanlah rival yang perlu dia khawatirkan. Hubungan kami tidak akan pernah direstui.


Theo tidak melepaskan tanganku ketika kami melewati mahasiswa yang mengarahkan pandangan mereka kepada kami. Perhatian yang sebenarnya sangat aku sukai sehingga aku kesulitan berpura-pura risi dengan semua bola mata yang tertuju kepadaku.


“Mengapa kamu diam saja setiap kali mereka mengganggu kamu? Padahal badan kamu lebih besar dari mereka.” Dia memberikan helmnya kepadaku.


“Mereka bertiga,” jawabku, siapa tahu dia tidak melihat perbedaan jumlah kami.


“Tetap saja tenaga kamu jauh lebih besar dari mereka.” Dia mengenakan helmnya, lalu duduk di jok sepeda motornya. “Kamu hanya kurang percaya pada dirimu sendiri.”


Aku berhasil tidak terpancing dengan tantangannya itu. Dia dan Kak Jericho sangat berbeda. Yang satu menyuruh aku untuk melawan, yang seorang lagi untuk menahan diri. Lama-lama aku bisa pusing sendiri. Namun Theo ada benarnya. Kalau aku diam terus, mereka akan tetap mengganggu aku. Lalu apa gunanya aku berjuang kalau hanya untuk diinjak-injak lagi?

__ADS_1


Jika mereka masih membahas tentang biola itu, maka aku akan memberi tahu keluarga mereka mengenai rahasia terburuk mereka. Punya satu musuh saja sudah berat, apalagi tiga. Kalau mereka mencurigai sesuatu tentang aku, mereka bisa mengatakannya langsung. Jangan begini.


“Bagaimana dengan kuliahmu? Apa ada yang bisa aku bantu?” tanyanya saat pelayan pergi usai mencatat pesanan kami.


“Tidak ada. Semuanya baik-baik saja,” jawabku sesopan mungkin.


Dia mengeluarkan beberapa buku dari tasnya, lalu menggesernya ke arahku. “Ini buku yang akan kamu butuhkan selama semester dua. Sisanya akan aku berikan malam ini. Kalau ada lagi yang kamu butuhkan beri tahu aku. O, iya.”


Dia kembali mengambil sesuatu dari tasnya, lalu memberikannya kepadaku. “Ini ada beberapa info beasiswa, termasuk yang disediakan oleh papaku. Kamu pilih saja yang tawarannya paling menarik. Jangan lamar beasiswa prestasi yang disediakan oleh kampus. Kamu tidak akan menyukainya.”


“Mengapa kamu bilang begitu?” tanyaku heran. Beasiswa itu justru salah satu sumber dana yang sudah aku masukkan ke daftar untuk aku lamar.


“Percayalah. Yang aku berikan kepadamu itu jauh lebih menarik.” Dia melihat ke arah brosur yang aku pegang. “Aku sudah memilah, semuanya terkenal jujur dan menepati janji memberikan beasiswa yang mereka programkan. Yang paling menarik, ada kemungkinan kamu diangkat jadi karyawan.”


Itu adalah berita yang ingin aku dengar. Aku memasukkan semua brosur itu ke tas. Sebaiknya aku periksa nanti saja di kamar. Aku tidak mau mendiskusikan apa pun dengan dia. Apalagi kalau sampai dia yang menentukan beasiswa mana yang harus aku pilih.


Selesai mengajar Matt, malam itu Theo yang mengantar aku pulang. Dia menepati janjinya dengan memberikan sisa buku kuliah yang akan aku butuhkan selama semester dua. Dia mendesak diizinkan masuk ke kamar, aku menolak. Kakakku saja tidak aku terima, apalagi dia.


Menatap dua tumpukan buku itu, aku hanya bisa mendesah panjang. Aku harus berhati-hati ketika mengembalikannya nanti. Jangan sampai buku Theo tertukar dengan milik Kakak. Dengan adanya bahan kuliah itu, maka aku bisa belajar dengan lebih leluasa.


Akhir pekan itu aku jalani dengan bekerja sepanjang pagi hingga malam, lalu beristirahat pada malam harinya. Bisa bebas dari Kakak maupun Theo selama dua hari itu ada tidak enaknya juga. Aku terpaksa makan siang dengan uangku sendiri. Untuk mengambil jatah makan siangku di warung, aku harus kembali ke tempat tinggalku, rugi di ongkos.


Namun uang yang aku dapatkan dari hasil mengamen lumayan banyak, jadi aku tidak sepenuhnya rugi harus membeli makanan sendiri. Tinggal pilih yang paling murah dan mengenyangkan saja. Aku jadi rindu tampil lagi di acara besar. Bayarannya sangat banyak.


“Aku bosan harus menanyakan hal yang sama berulang kali.” Chika datang dari arah depanku bersama kedua temannya.


Aku tidak lagi takut dengan mengintip koridor untuk menghindari mereka. Hanya ada lima orang di kampus ini yang mengenal Amarilis dan Katelia. Jika aku membiarkan ketiga gadis ini menghina aku sesuka mereka, maka mahasiswa lain akan terus memandang aku rendah juga.


Sudah cukup aku dicurigai sejak Chika menuduh aku mengambil dompetnya. Beberapa teman satu angkatanku menggunakan kesempatan itu untuk mencoba memeras aku. Walau miskin, Mama mengajari aku untuk bekerja keras mengais rezeki, bukan mencuri.


“Ikut aku,” ajakku ke sudut koridor dekat tangga.


Tidak peduli mereka mengikuti aku atau tidak, aku berjalan lebih dahulu. Mendengar langkah sepatu mereka, aku tahu mereka menuruti permintaanku. Begitu mereka sudah dekat denganku, maka aku bergerak secepat mungkin ke arah Chika, mencengkeram lehernya, dan mengempasnya ke dinding.


Perempuan malang itu sedang tidak siap sehingga dia menjadi sasaran yang empuk. Mendengar tarikan napas terkejut dari belakangku, aku tersenyum. Seluruh tubuhku segera waspada. Hm. Aku suka dengan sensasi ini. Tiga lawan satu adalah hal yang gampang.

__ADS_1


“Hai, Chik,” sapaku, setengah berbisik. Chika berhenti berontak, lalu matanya membulat. “Aku sudah cukup melihat kamu merasa menjadi bos atasku.”


__ADS_2