
Aku mengikuti mereka menuju salah satu ruang kuliah yang kosong, karena aku menolak dibawa ke tempat lain. Bisa saja mereka membawa aku ke lokasi yang sepi, lalu menghajar aku tanpa alasan. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, jadi aku harus melindungi diriku sendiri.
Dengan tubuh rampingku, menghadapi tiga atau empat perempuan seperti mereka bukan masalah. Namun dengan tubuh gendut dan lambat ini, aku jelas kalah. Seandainya saja aku punya waktu untuk berolahraga atau memeriksakan diri ke dokter … aku mau punya badan seperti Katelia.
Mereka bertiga hanya diam ketika kami berempat saja di ruang kuliah. Aku menunggu sampai salah satu dari mereka yang bicara lebih dahulu. Mereka saling bertukar pandang, kemudian saling sikut, menyuruh yang lain untuk buka mulut.
“Oke. Kalian bisa berhenti menyikut aku!” ucap Chika dengan kesal. Dia melihat aku, lalu berdehem. “Kita berempat satu kelas dan SMU. Theo sangat membenci Kat, jadi dia tidak mungkin mengetahui hal ini. Kamu bisa saja mencuri dengar percakapan kami, jadi, jawab dengan jujur. Apa kamu yang mengirim ketiga hadiah itu?”
“Tiga hadiah?” tanyaku tidak mengerti. “Orang miskin seperti aku tidak bisa membeli kado untuk diri sendiri, apalagi untuk diberikan kepada orang lain. Kalian salah orang.”
“Jangan pura-pura. Kamu orang terakhir yang berada di dekat Kat. Apa dia mengatakan sesuatu saat kalian tenggelam? Atau apa dia menemui kamu dan mengatakan rahasia kami bertiga?” tanya Nisa, ikut mendesak.
“Jangan diam saja. Ayo, jawab!” seru Rahma tidak sabar.
“Apa kalian jadi hilang ingatan karena sudah memfitnah aku?” tanyaku, masih berpura-pura tidak mengerti. “Kat mendekati aku hanya untuk menyakiti aku. Memangnya rahasia apa yang mau dia ceritakan kepada korbannya? Justru kalian yang sibuk mencari tahu kelemahanku.”
Mereka kembali saling bertukar pandang. Ada keraguan di mata mereka mengenai tindakan mereka ini. Wajar saja. Walau kami satu sekolah dan kelas selama SMU, bukan berarti aku yang mengirim ketiga hadiah itu. Lagi pula, apa buktinya aku adalah pelakunya?
“Aku tidak tahu bagaimana kamu mengetahuinya, tetapi aku yakin kamu tahu rahasia kami bertiga,” ucap Chika dengan serius. “Kamu selalu jujur, jadi katakan. Kamu yang mengirim hadiah itu, ‘kan?”
“Jangan ganggu aku lagi.” Aku ikut memasang ekspresi serius. “Apa yang terjadi di sekolah, sudah cukup. Aku tidak mau kalian mengganggu aku lagi.”
“Anak miskin seperti kamu berani mengancam kami?” Nisa mendekat dengan mata tajam.
“Bukan hanya kalung berlian milik ibumu yang pernah kamu curi dan jual tanpa sepengetahuannya, Nisa. Ada banyak benda lain yang kamu curi demi membeli tas, sepatu, dan baju mahal kesukaanmu,” kataku, tepat di depan mukanya.
Dia mundur selangkah seolah baru saja dipukul telak. “Ka … bagaimana kamu bisa ta-tahu?”
__ADS_1
“Menggugurkan kandungan pada usia muda bukanlah satu-satunya rahasiamu, Rahma.” Aku melihat ke arah gadis yang segera memucat itu.
“Apa kamu tergoda untuk mengonsumsi obat terlarang itu lagi, Chika?” ucapku kepada pemimpin geng perempuan nakal ini.
“A-apa maumu? Kamu akan menyebarkan semua ini ke orang-orang?” tantang Chika.
“Aku tidak menginginkan apa pun selain jangan ganggu aku lagi.” Aku menatap mereka satu per satu. “Dan ada syarat lainnya juga, tetapi aku mau tahu. Mengapa kalian melakukan ini? Mengapa kalian berbuat jahat kepadaku? Kat sudah tiada, mengapa tidak kembali ke jalan yang benar?”
Chika duduk, maka aku juga mendekati kursi di depannya. Mereka terlihat lebih tenang setelah tahu aku bukanlah musuh mereka. Aku tidak pernah melihat ekspresi itu selama mengenal mereka. Apa rencanaku berhasil? Mereka merasakan tidak enaknya menjadi korban dan tidak mau jahat lagi?
“Aku sebenarnya tidak mau berbuat jahat, tetapi aku takut kepada Kat,” aku Chika pelan.
“Aku juga takut kepadanya. Ayahnya seorang yang sangat berpengaruh, lebih dari orang tuaku sendiri. Mereka juga sering mengingatkan aku untuk tidak macam-macam dengannya. Jadi, aku ikut semua yang dia perintahkan,” kata Rahma dengan jujur.
“Alasanku sama. Kat menjadi ketua kami tanpa kami sadari. Aku terlalu takut untuk melawan dia, jadi aku terbiasa melakukan apa yang dia perintahkan,” ucap Nisa pelan.
Jadi, ketiga orang yang dahulu aku anggap sahabat ini bukanlah temanku. Mereka hanya takut kepadaku sehingga mereka menurut saja dengan apa yang aku katakan. Mengapa rasanya perih mengetahui apa artinya aku, ah, maksudku, Katelia dalam hidup mereka?
“Dia sudah tiada. Mengapa kalian masih mengganggu aku?” tanyaku, walau sudah tahu jawabannya.
“Kamu menarik dia tenggelam ke danau,” jawab Chika dengan nada marah.
“Jangan lupa, kalian yang sudah mendorong aku jatuh,” balasku, tidak mau dimanipulasi.
“Kamu segendut ini bisa terjatuh karena dorongan kami yang berbadan kurus?” ejek Rahma. Mereka serentak tertawa meledek aku.
“Kalau bukan karena usiamu masih tujuh belas tahun, Tante Wibowo sudah menjebloskan kamu ke penjara. Hanya itu alasan polisi tidak mau memproses kasus pembunuhan yang kamu lakukan,” tuduh Nisa dengan tajam.
__ADS_1
Aku menatap mereka satu per satu. Tuduhan itu masih saja mereka ucapkan padahal aku sama sekali tidak bersalah. Aku tidak bisa berenang, karena itu, aku sekuat tenaga tidak melepas tangan Katelia. Dia bisa berenang, bahkan memenangkan begitu banyak perlombaan.
Siapa yang bisa menyangka kalau dia tidak akan bisa membawa aku ke permukaan bersamanya? Ah, iya. Aku ingat. Ada cahaya yang sangat menyilaukan sebelum aku kehilangan kesadaran, lalu bangun di tepi danau. Bukan lagi di dalam tubuhku sendiri, tetapi badan gendut Amarilis.
Aku tidak tahu itu sinar apa, tetapi benda itu salah satu alasan aku maupun Katelia tidak bisa naik ke permukaan. Kami ditelan oleh kilauan terang itu sehingga tidak sadarkan diri. Itu bukan perbuatan manusia biasa. Mungkinkah alam yang menginginkan ini terjadi kepada kami?
“Kalian takut kepada Katelia. Aku yakin kalian juga membenci dia selama tiga tahun harus menjadi anak buahnya. Kita berempat orang terakhir yang ada di kapal itu, tetapi kalian sepakat untuk melimpahkan seluruh kesalahan kepadaku,” kataku tanpa gentar.
Aku berdiri dan berjalan mendekati mereka dengan penuh keyakinan. “Kalian mendorong aku, maka aku terpaksa berpegangan pada apa pun yang terdekat dariku. Kebetulan yang aku raih adalah tangan Katelia. Di mana kalian? Mengapa kalian tidak membantu jika kalian adalah sahabatnya?”
“A-apa maksudmu?” tanya Chika sedikit gugup. Detik itu juga, aku tahu dugaanku benar. “Ka-kamu menuduh kami sengaja membiarkan dia mati di danau itu?”
“Kalau aku salah, mengapa kamu gagap?” tantangku.
Mereka bertiga menelan ludah dengan berat. Melihat cara mereka saling bertukar pandang, aku mulai merasakan jantungku berdebar dengan cepat. Dadaku sesak seolah-olah kembali berada di danau dan berusaha untuk lepas dari cengkeraman Amarilis.
Jahat sekali. Kalau mereka langsung terjun menolong aku, mungkin nyawaku akan selamat. Tidak, jiwa Amarilis akan selamat. Andai tubuh kami tetap tertukar, aku akan menemukan cara untuk kembali lagi ke badan kami semula. Namun kemungkinan itu musnah begitu dia meninggal dunia.
Ketiga orang ini lebih jahat dari Katelia. Setidaknya, dia tidak munafik dan selalu jujur kepada semua orang. Suka, dia akan bilang suka. Sebaliknya, kalau benci, dia akan mengatakan benci. Dia tidak memperlakukan orang berbeda, baik saat orang itu ada di depan atau belakangnya.
Sudah lama sekali aku menahan pertanyaan ini. Mengapa mereka hanya diam, berdiri di geladak kapal dan tidak mau menolong aku? Jika mereka tidak mau menyelamatkan Amarilis, aku mengerti. Namun Kat adalah sahabat baik mereka. Mungkinkah mereka merencanakan semua ini?
Aku terlalu sibuk menarik tanganku dari genggaman Amarilis pada kejadian itu. Aku fokus mengatur napas agar bisa bertahan lebih lama di dalam air, sampai tidak menyadari ada yang salah dengan keadaan di sekitar kami. Mengapa tidak ada yang terjun untuk menolong kami? Bila mereka takut berenang, mereka bisa membantu dengan berteriak minta tolong.
“Ka-kami sudah bicara dengan jujur,” kata Chika, memecah keheningan. “Kami ju-juga berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi. Iya, ‘kan, teman-teman?” Kedua gadis itu mengangguk dengan cepat. “Jadi, to-tolong, jaga rahasia kami.”
“Dengan dua syarat,” ujarku, tidak mau memberi mereka kemudahan.
__ADS_1
Rasa sakit ini akan aku balas kelak. Perbuatan mereka terhadap Amarilis dan Katelia harus mereka bayar lunas. Namun hal yang pertama harus aku lakukan adalah lulus dan mencari pekerjaan yang bagus. Mereka orang berduit, maka aku harus memberi pelajaran dengan melibatkan duit.
Chika berniat untuk protes, tetapi dia segera mengubah ekspresinya dengan tersenyum manis dan mata menatap aku dengan serius. “Baik. Apa syaratnya?”