
Tampar, jangan. Tampar, jangan.
Gara-gara omongan Kak Jericho, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Perempuan seperti Amarilis pasti diam saja, karena otak lambatnya tidak bisa mencerna dengan cepat apa yang sedang laki-laki genit ini lakukan. Aduh, aku tidak mau pengalaman pertamaku justru kulakukan dengan cowok arogan ini!
Namun aku terpaksa menutup mata dan mengucapkan mantra semoga semua ini terjadi dengan cepat, jangan lama-lama. Aku memegang helm itu dengan erat agar tanganku tidak melayang menampar pipinya. Seharusnya aku melakukan ini dengan pemuda yang aku cintai.
“Lo sedang apa?” tanyanya. Suaranya terdengar cukup jauh.
Aku membuka mata dan melihat dia sudah kembali duduk dengan tegak di jok sepeda motornya. Lo? Sudah selesai? Apa memang hal itu tidak ada rasanya? Mengapa tidak ada apa pun yang menyentuh wajahku tadi? Apa yang dia lakukan kepadaku?
“Kenapa lo tutup mata segala? Jangan bilang, lo pikir gue mau cium lo?” tanyanya penuh selidik. Dia tertegun sejenak sebelum tertawa kecil, yang kemudian terbahak-bahak. “Gue cuma … mau ambil daun … kering yang menempel … di rambut lo.”
Wajahku memanas. Aku merasa malunya minta ampun. Dia mendekat tadi bukan berniat untuk mencium aku. Ya, ampun. Aku tidak pernah merasa semalu ini seumur hidupku. Tanpa menunggu lagi, aku memberikan helm itu kepadanya dan masuk ke pekarangan.
Tawanya semakin keras, membuat aku kian jengkel. Aku tidak peduli dengan nasihat Kakak, biar saja Theo tahu aku bukan Amarilis. Aku tidak peduli. Barulah aku merasa tenang setelah berada di dalam kamar. Sebal! Kalau dia mengantar aku pulang hanya untuk menghina kepolosanku, lebih baik aku pulang sendiri saja!
Untuk membuang jauh pikiranku dari kejadian memalukan itu, aku belajar sampai kantuk datang. Bukannya tidur di ranjang, aku malah ketiduran di atas kedua tanganku sendiri dalam posisi duduk. Walau badanku rasanya remuk, aku tetap berolahraga pada pagi harinya.
Ponsel dalam tasku bergetar usai mata kuliah kedua, aku memeriksanya. Ada pesan dari Kakak. Aku segera menuju tempat yang ditunjuknya. Syukurlah, dia ada di sana, jadi aku tidak bertemu dengan laki-laki arogan itu. Kami makan siang bersama di tempat kesukaannya.
“Pantas saja Kakak suka dengan tempat ini, tidak ada penggemar yang mengganggu kita,” ucapku mengerti. “Makanannya lumayan enak, sayang, mahal.”
“Di lingkungan kampus, jarang ada yang peduli dengan artis. Apalagi aku hanya model yang dikenal kalau berdandan dan bergaya seperti pada foto atau iklan. Dengan penampilan biasa begini, butuh waktu untuk bisa mengenali aku,” katanya dengan bangga.
Kakak memakai kemeja biasa dengan celana panjang jin dan sepatu kets. Penampilan mahasiswa pada umumnya di kampus kami. Tidak ada barang mahal atau bermerek di badannya, kecuali yang membayar dia menjadi duta mereka. Karena menggunakan barang merek tertentu adalah terlarang baginya dan termasuk melanggar kontrak. Merepotkan sekali.
Untung saja, Kakak punya seorang asisten yang sudah mengatur isi lemarinya sehingga tidak ada satu benda terlarang pun yang akan dia pakai. Karena itu, Kakak menolak menjadi model restoran tertentu. Dia tidak mau dilarang makan di mana pun yang dia mau.
__ADS_1
“Apa kabar Papa dan Mama?” tanyaku ingin tahu. Aku sudah lama tidak bertemu atau mendengar kabar orang tuaku yang sangat baik itu.
“Mereka baik-baik saja. Papa menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan bersama Kak Nolan untuk melupakan rasa kehilangannya. Mama sudah mulai beraktivitas lagi. Mereka masih di sini sejak Kakak diwisuda. Mama mungkin akan kembali ke Medan awal bulan depan.”
“Apa Mama masih menyalahkan aku atas kematian Katelia?” tanyaku pelan, agar hanya Kak Jericho yang mendengar pertanyaan itu.
Dia mengangguk. “Juga masih mencari cara agar bisa memenjarakan kamu.” Dia menatap aku dengan serius. “Jangan sampai Mama tahu kamu ada di sini, atau dia akan mengincar kamu lagi. Hindari Mama sebisamu. Kamu tahu betapa sayangnya Mama kepada Kat, ‘kan?”
Aku menelan ludah dengan berat. Bulu kudukku meremang mendengar kalimat itu. Tentu saja aku tahu apa yang sanggup Mama lakukan demi kami anak-anaknya. Yang dia tunjukkan kepadaku di rumah sakit dan sekolah itu belum ada apa-apanya dengan tindakan aslinya.
Karena itu, aku tidak mengincar perusahaan Papa untuk menjadi tempatku meniti karier nanti. Aku belum segila itu. Ada banyak usaha lain yang sudah aku daftarkan, semuanya ada di ibu kota. Lebih baik aku berada jauh dari tempat kelahiranku agar tidak perlu berada di dekat keluarga kami berdua.
“Jam berapa kamu akan berada di tempat tinggalmu?” tanya Kakak sebelum kami berpisah.
“Sekitar pukul sembilan malam. Ada apa?” Aku mengembalikan helmnya kepadanya.
“Oh, Kak. Terima kasih!” Aku memeluknya dengan erat. Itu adalah pertolongan besar yang sangat aku butuhkan. Aku bisa berhemat banyak jika tidak perlu membeli buku lagi.
“Segalanya akan lebih mudah seandainya kamu mau menerima kartu ATM-ku,” bujuknya lagi.
Aku segera menggelengkan kepalaku. “Tidak. Aku bukan Kat. Setelah satu tahun enam bulan ini, aku tidak mau bergantung lagi kepada orang lain. Lagi pula, Kakak tidak bisa menolong aku selamanya. Kalau sampai ketahuan Mama, huff, Kakak akan ada dalam bahaya besar.”
“Adikku yang malang.” Dia mengacak-acak rambutku. “Kalau kamu tidak tahan lagi, datang kepadaku. Jangan ambil jalan pintas. Kamu mengerti?” Dia tiba-tiba terdengar serius.
“Iya, Kak. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu.” Aku tersenyum. “Kakak lupa satu keuntungan menjadi orang miskin, aku bisa mendapatkan beasiswa.”
Setelah mata kuliah terakhir selesai, aku menuju rumah Matt. Karena dia belum pulang, maka aku bisa bersantai di ruang perpustakaan sambil mengulang hal yang aku pelajari tadi. Aku mengambil semua SKS yang ada, jadi aku hanya menyisakan skripsi pada semester terakhir nanti. Biaya kuliahku tidak murah, maka aku tidak boleh membuang-buang waktu.
__ADS_1
Matt terlambat hingga tiga puluh menit. Ternyata ada kompetisi musik yang akan dia ikuti. Jadi, dia ikut latihan tambahan. Maka sisa satu setengah jam itu kami manfaatkan sebaik mungkin. Dia sudah bisa belajar sendiri tanpa bantuanku lagi. Yang dia butuhkan sebenarnya hanya konsentrasi.
Namun dia selalu menolak setiap kali aku mengusulkan agar kami berhenti belajar bersama. Aku tidak keberatan datang setiap hari, karena bayarannya bagus. Hanya saja, aku mau menghindari Theo sesering yang aku bisa.
Betapa leganya aku ketika makan malam, Theo tidak bergabung bersama kami. Seperti ucapannya, aku diantar pulang oleh sopir mereka. Walau aku segan, aku terpaksa menurut agar tidak bertengkar untuk hal yang tidak penting dengannya.
Aku memasuki gerbang kampus dengan hati-hati pada pagi itu. Sudah beberapa hari terakhir, aku tidak berpapasan dengan Chika dan teman-temannya bukan berarti aku bisa menurunkan tingkat kewaspadaanku. Biola Katelia yang ada padaku pasti masih menjadi pertanyaan besar bagi mereka.
“Lo sedang apa?” Terdengar suara dari belakangku.
“Aargh!!” Aku yang sedang memeriksa kondisi koridor dari balik tembok melompat terkejut.
Jantungku berdetak sangat kencang hingga aku yakin umurku berkurang karena dikagetkan. Aku menoleh dan bertemu pandang dengan pemuda arogan yang menjengkelkan itu. Aku segera berdiri dengan tegak dan merapikan penampilanku.
“Lo belum jawab pertanyaan gue.” Dia menarik kerah kemejaku ketika aku berniat pergi.
Mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Kalimat itu sudah ada di ujung lidahku, tetapi aku menahan diri. Aku adalah Amarilis, bukan Katelia. Jadi, aku menoleh dan menundukkan kepalaku. Sebal. Aku tidak suka merendahkan diri di hadapan siapa pun.
“Ng, aku harus masuk ke ruang kuliah atau aku akan terlambat,” jawabku pelan.
“Chika masih ganggu lo?” tebaknya. Aku hanya diam. “Gue antar.”
Dia meraih tanganku, lalu berjalan menuju koridor utama. Tentu saja ada banyak pasang mata yang menoleh ke arah kami. Ada yang hanya melihat sambil lalu, terkejut, memandang sinis kepadaku, atau tersenyum mengejek seraya berbisik dengan orang di sebelahnya.
Katanya, hubungan kami rahasia. Lalu mengapa dia malah menggandeng tanganku di depan mereka semua. Aku kadang-kadang tidak bisa memahami cara berpikirnya. Namun aku tiba di ruang kuliah dengan selamat, tanpa ada insiden dengan tiga perempuan usil itu.
Ada yang berbeda pada suasana ruangan itu. Aku melihat ke sekelilingku dengan penuh tanda tanya. Apa yang telah terjadi?
__ADS_1