Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
133|Membalas Dia


__ADS_3

~Amarilis~


Dia memarahi aku habis-habisan setiap kali aku berinteraksi dengan Mike atau Robert. Padahal aku tidak punya hubungan apa pun dengan mereka. Aku juga tidak merayu atau memberi harapan agar mereka mengejar aku. Lagi pula, aku bukan tipe wanita yang menjadi incaran banyak pria. Aku tidak cantik atau menarik. Semuanya terbukti dengan pengakuan Robert. Aku hanya bahan taruhan.


Eh, bisa-bisanya dia menyembunyikan sebuah rahasia besar dan berharap aku tidak akan marah. Dia bukan hanya selingkuh, tetapi akulah teman selingkuhnya. Dia tidak jujur kepadaku mengenai wanita yang sudah menjadi tunangannya. Jahat sekali.


Menikah tanpa restu orang tuanya atau orang tuaku hanya akan memperkeruh suasana. Keempat ayah dan ibuku tidak akan mempermasalahkan dengan siapa aku menikah. Walau dia tidak pernah bilang dengan lugas, aku tahu Bunda tidak keberatan jika aku dan Theo punya hubungan asmara.


Namun Tante Ruth akan semakin membenci aku dan restu darinya akan semakin jauh. Aku tidak bisa menikah dengan Theo jika keluarganya tidak bisa menerima aku. Alasan mereka bisa aku pahami. Aku bukanlah perempuan dari keluarga yang sederajat dengan mereka.


Zaman memang sudah maju, tetapi pernikahan tetap menjadi satu metode untuk memperkuat kerja sama bisnis antara dua perusahaan besar. Karena itu, mereka lebih suka memutuskan tali keluarga dengan anak pembangkang dan menjaga perusahaan mereka tetap berdiri tegak.


Aku keluar dari apartemen beberapa saat setelah dia pergi. Aku hanya menuju lobi dan menunggu sampai dua pengawalku muncul dari elevator. Kedua orang ini pasti memanfaatkan CCTV untuk tahu aku berada di mana. Enak sekali bisa menguasai teknologi seperti mereka.


“Nama kamu Daisy, ‘kan?” tanyaku kepada perempuan bertubuh tinggi dan kelihatan kuat itu. Dia mengangguk. “Jangan beri tahu Theo aku keluar dari kamar. Jika dia bertanya atau ketika kamu melapor, cukup sampaikan Amarilis tidak keluar dari kamar. Apa kamu mengerti?”


“Maaf, Nona. Saya pantang berbohong.”


“Kamu tidak berbohong. Bukankah tugasmu adalah menuruti perintah? Kamu pengawalku atau dia? Kalau kamu pengawalku, maka kamu harus menuruti aku. Jangan takut. Aku tidak akan berbuat bodoh. Hanya meminta kamu mengatakan aku tidak keluar dari kamar.”


Mereka berdua saling bertukar pandang. Aku menunggu dengan tidak sabar ketika mereka saling berkomunikasi dengan mata, tanpa bicara. Apa mereka punya kemampuan telepati? Hebat sekali. Entah ke mana satu orang pria lagi yang biasanya membantu aku menghajar orang. Apa mereka hanya berdua ikut ke Amerika?


“Baik,” jawab perempuan itu setelah beberapa saat.


“Bagus.” Aku berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar. “Aku mau makan burito. Apa kalian mau makan menu lain saja?” Mereka hanya diam, aku pun tidak bicara lagi.


Kalau dipikir-pikir, banyak juga uang Theo. Dia punya tiga pengawal, aku dua. Apa memang harus punya orang sebanyak ini untuk berjaga-jaga? Bukankah satu orang saja cukup? Katanya, dia mau membeli rumah. Kalau begini, semua hasil kerja kerasnya tidak akan pernah bisa ditabung.

__ADS_1


Namun dia bukan suamiku dan bisa jadi tidak akan pernah, apa yang dia lakukan terhadap uangnya, aku tidak bisa ikut campur. Tunangan. Aku jadi kesal lagi mengingat hal itu. Dia tahu segalanya tentang aku karena para pengawas ini. Eh, dia seenaknya menyimpan rahasia dariku.


Karena itu, dia harus dihukum. Keluarganya tinggal bersamanya di hotel itu, bukan masalah. Ada perempuan lain yang cantiknya luar biasa, aku cemburu berat. Kalau aku adalah Katelia, aku tidak akan rendah diri begini. Katelia jauh lebih cantik dari perempuan kecentilan tadi. Amarilis jelas bukan levelnya. Jangankan cantik, manis saja tidak.


Mengapa nasibku jelek begini? Punya sahabat, malah berkhianat. Dua cowok mencoba untuk dekat, ternyata cuma taruhan. Belum lagi sainganku dalam asmara adalah para perempuan cantik. Apa aku tidak bisa hidup normal saja seperti orang lain?


Theo menelepon, melakukan panggilan video dan suara, semuanya aku abaikan. Dia mengirim pesan juga tidak aku gubris. Jangankan membalas, membacanya pun aku tidak sudi. Biar dia tahu rasa. Aku mau dia gelisah selama bersama perempuan itu dan saat mengikuti upacara besok.


Pada malam harinya, aku mendapat kiriman makanan dari restoran milik keluarganya. Dia mengirim pesan dan menelepon beberapa saat setelah kiriman itu tiba. Semuanya aku abaikan, tetapi aku tahu dia yang memberikan semua itu untukku.


“Selamat pagii!!” sapa Matt yang berdiri menunggu di depan pintu masuk gedung apartemen.


Aku menarik napas terkejut, lalu menatapnya dengan tajam sebelum masuk ke lobi. Melihat dia mengikuti aku, maka aku berhenti dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada. “Kamu mau ke mana?” tanyaku tanpa menyembunyikan rasa kesalku.


“Theo yang seharusnya memberi tahu Kakak tentang dia, bukan gue.” Dia mengangkat tangannya ke udara. “Lagi pula, Theo tidak pernah menganggap perempuan itu tunangannya. Wajar saja dia tidak mengatakan apa pun tentangnya.”


“Kangeennn!!!” Tiba-tiba saja dia memeluk tubuhku.


“Matt! Lepaskan aku! Aku berkeringat!” Walau aku memakai jaket tebal, tetap saja aku khawatir dia akan terkena lembap dari pakaianku.


“Ayo, mandi dan ganti pakaian. Aku mau makan sarapan lengkap versi Amerika! Aku tadi melewati banyak restoran yang membuat aku mau mencoba.”


Karena aku juga rindu dia, maka aku menurut. Lagi pula, siapa yang akan menolak makan gratis? Aku juga tidak bisa memasak dan sudah bosan makan camilan yang ada di apartemen. Aku mandi dan berganti pakaian secepat mungkin, lalu mengajak dia berkeliling menggunakan sepeda.


Dia bercerita banyak mengenai keadaan di Indonesia, mulai dari kehidupan asmara, kuliah, sampai pertengkarannya dengan orang tuanya terkait hubungannya yang terlarang. Kakak dan adik memang sama saja. Yang satu sudah punya tunangan nekat backstreet, satu lagi merebut tunangan orang lain.


“Dia belum menikah, jadi apa yang gue khawatirkan? Gue enggak peduli walau gue bukan ahli waris seperti Theo. Kami pasti akan menemukan cara untuk meluluhkan hati orang tuanya.”

__ADS_1


“Dan hati orang tuamu.”


“Papa dan Mama hanya marah di mulut. Mereka pasti senang gue menikah dengan pacar gue. Orang tuanya punya usaha supermarket yang menyebar di banyak kota di Indonesia, jadi mereka bisa kerja sama di masa yang akan datang.” Dia tersenyum bangga.


“Benar juga. Andai aku juga anak orang kaya, mungkin Tante akan merestui hubungan kami.”


“Status bisa diciptakan. Kakak cerdas, maka Kakak bisa mencari pekerjaan yang bagus dan memberi gaji tinggi. Beberapa tahun berusaha, aku yakin Kakak bisa menyamakan derajat.” Dia mengedipkan sebelah matanya. “Semua masalah ada jalan keluarnya, Kak.”


“Bicara gampang, melakukannya susah.” Aku mencibir.


Dia tersenyum, lalu melirik ponselnya yang ada di atas meja. “Theo ini berisik. Gue sedang kencan, dia bisanya cuma mengganggu.”


“Matikan getarnya, biar kamu tenang mengabaikan dia,” usulku.


“Boleh juga.” Dia mengutak-atik ponselnya, lalu tersenyum kepadaku. “Jalan, yuk.”


Masih sama dengan kebiasaannya, dia memilih untuk pergi ke mal terdekat dari apartemen kami. Padahal ada banyak acara musiman yang bisa kami datangi, tetapi dia lelah. Ah, benar juga. Aku lupa kalau dia masih jet lag. Dia baru tiba pada hari sebelumnya bersama orang tuanya. Gilanya, mereka hanya berada di sini untuk dua malam.


Walau dia memilih untuk menonton film, aku tidak keberatan menikmati ruangan sejuk dengan kursi empuknya itu. Kami menonotn film animasi tentang landak setengah manusia berwarna biru. Film yang aman untuk ditonton bersama mantan murid privatku.


Film usai, dia mengajak aku untuk mencari kafe yang nyaman untuk melanjutkan obrolan. Hari yang menyenangkan. Dapat hiburan dan makanan enak juga. Aku mengelus-elus perutku, memikirkan apa yang akan aku pesan berikutnya.


“Oh, sial,” umpatnya pelan.


Aku menoleh ke arahnya. “Ada apa?”


Dia kelihatan panik, lalu memandang ke kanan dan kiri kami. Dia menarik tanganku untuk mengikuti dia. “Ah, kita ke sini saja. Cepat, Kak. Jangan bengong di situ.”

__ADS_1


Aku menarik tanganku dari genggamannya. “Bilang dahulu ada apa?”


__ADS_2