Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
63|Pengawal atau Penguntit


__ADS_3

“Hei! Ada orang!” serunya dari dalam bilik kamar mandi. Namun aku tidak berhenti menggedornya dari luar. Pintu itu pun terbuka. “Apa kamu tidak—”


Aku memegang kerah kemejanya, lalu menarik dan mengempaskan dia ke dinding terdekat. Suara pekikan kesakitannya tidak aku gubris. “Harus berapa kali aku katakan, menjauh dariku kalau kamu mau selamat?” kataku di antara kertakan gigiku.


“A-apa maksudmu?” Dia melihat ke arah pintu masuk toilet.


“Kedua pengawal lemahmu itu pingsan di dekat pintu. Jadi, mereka tidak akan datang menolong,” ucapku, memahami apa yang dia cari.


“Aku melakukan kesepakatan kita. Aku tidak dekat-dekat denganmu. Kamu yang saat ini menyentuh aku.” Dia menarik napas panjang. “Toloongg—”


Aku segera membekap mulutnya dengan tanganku. “Baik. Kamu yang meminta. Jangan salahkan aku jika media tahu kamu pernah kecanduan narkoba dahulu.”


Aku melepaskan dia dengan tiba-tiba agar dia tidak sempat membalas. Aku sudah berada jauh dari toilet perempuan itu ketika dia berteriak memanggil namaku. Sudah saatnya aku menunjukkan kepadanya apa akibatnya jika menantang aku.


Waktunya belum tepat, tetapi aku tidak bisa tinggal diam atau dia akan berpikir aku hanya memberi ancaman kosong. Mau bersaing, masa bertindak tidak adil begitu. Kalau dia mau cincin wasiat nenek Theo, minta kepada pemiliknya. Jangan main curi dari tanganku.


Kedua pria yang selalu menolong aku itu juga belum bisa aku ketahui identitasnya. Wajar, aku tidak punya uang untuk menyewa jasa penyelidik swasta. Apa Kak Jericho yang membayar mereka? Bisa jadi. Karena dia sedang sibuk mengerjakan skripsi, jadi dia tidak punya waktu untuk menjaga aku.


“Lama banget,” keluh Theo yang sudah menunggu di tempat parkir.


Dia juga punya kemungkinan besar untuk mengirim orang menjaga aku. Namun itu sangat aneh. Dia selalu bersamaku setiap hari. Untuk apa dia membuang uang demi membayar orang-orang itu? Satu hal lagi, penguntit perempuan itu juga belum diketahui apa motifnya.


Aku sering melihat dia secara tidak sengaja untuk memeriksa apa dia masih mengawasi aku. Dia masih melakukannya. Hanya kedua pria itu yang tidak terlihat. Mereka pandai sekali bersembunyi dari pandangan orang. Karena Matt juga tidak menyadari kehadiran mereka. Kalau bukan karena aku diserang orang, aku yakin mereka tidak akan pernah menunjukkan diri di depanku.


Selain Theo dan Kakak, siapa yang mungkin mengirim orang untuk menjaga aku? Ah, tidak mungkin Matt melakukan itu. Aku hanyalah gurunya. Papa dan Mama tidak akan mengeluarkan uang untuk membayar mahal pengawal pribadi atau penguntit. Mungkinkah mereka suruhan Tante Ruth?


“Ada apa?” Sebuah tangan dilambai-lambaikan di depanku, membuyarkan lamunanku. “Lo dari tadi sibuk sendiri. Gue bicara enggak ditanggapi.”


“Oh.” Aku mengedip-ngedipkan mataku. Sepertinya aku melamun. “Kamu membicarakan apa?”

__ADS_1


“Hari Senin depan, lo ikut gue, ya. Matt juga tidak akan bisa belajar dengan lo,” jawabnya. Dia tidak memaksa aku menceritakan lamunanku. Tumben.


“Ikut ke mana?” tanyaku.


“Nanti juga lo tahu,” ucapnya, sok misterius.


Pertanyaan sudah ada di ujung lidah, tetapi aku mengurungkan niatku bertanya mengenai ketiga orang yang tidak aku kenal itu. Jika bukan dia yang membayar jasa mereka, dia pasti akan khawatir saat tahu Chika sudah dua kali menyerang aku. Sebisa mungkin, aku menghindari pertengkaran.


Karena kejadian pada pagi sebelumnya, aku berhati-hati saat joging. Walau aku sedikit khawatir, aku tidak mau melewatkan olahraga satu hari saja. Jadi, aku memilih jalan yang ramai dengan jarak lari lebih jauh. Dengan begitu, aku tidak perlu melewati jalan yang sepi.


Namun sebuah kejutan sudah menunggu di depan pagar tempat tinggalku. Berbeda dengan kejadian sebelumnya, dia datang seorang diri. Aku melihat ke sekitarku, mencari sosok berpakaian hitam dan bertubuh besar yang selalu bersamanya. Ciri khas pengawal pribadinya.


“Amarilis,” katanya, ketika aku membuka pagar, sepenuhnya mengabaikan dia. “A-aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi, tetapi aku mohon, jangan beri tahu siapa pun.”


“Aku tidak bisa percaya lagi kepadamu,” sesalku.


Aku tahu dia akan melanggar janjinya, tetapi aku bersedia memberi dia satu kesempatan terakhir lagi. Dengan begitu, saat dia melakukan kesalahan, aku tidak akan ragu-ragu untuk menjatuhkan dia di depan semua orang, termasuk orang tuanya yang sombong itu.


Tanpa menunggu dia pergi, aku memasuki pekarangan rumah. Ketika berada di kamar, aku melihat situasi di luar lewat jendela. Dia dan mobilnya sudah tidak ada lagi di depan pagar. Kita lihat saja. Dia akan bersikap baik berapa lama dan alasan apa lagi yang akan dia gunakan untuk menyakiti aku.


Entah acara apa yang Theo maksudkan, tetapi dia benar. Matt meminta izin untuk tidak belajar pada hari Senin yang misterius itu. Aku tidak bertanya alasannya, karena muridku akan mengatakannya jika aku perlu mengetahuinya. Lagi pula, aku hanya guru privatnya, bukan guru resmi di sekolah.


Theo mengajak aku membeli pakaian yang akan cocok dengan warna setelannya. Ada-ada saja. Dia menolak semua baju yang aku punya yang pernah dia beri. Padahal ada yang warnanya sama dengan jasnya. Aku terpaksa menurut, tetapi aku menolak sepatu dan tas baru darinya.


Kami mendatangi gedung perkantoran milik keluarganya. Sudah ada banyak mobil yang parkir di lapangan yang luas itu. Theo membiarkan petugas parkir valet yang mengurus mobilnya. Ada begitu banyak orang yang berjalan menuju arah yang sama.


Melihat angka yang dipilih petugas pada elevator, aku pun mengerti. Keluarganya mengadakan acara di atap gedung, di mana taman indah itu berada. Aku menoleh ke arah Theo, tetapi dia hanya diam, memandang ke angka yang berkedip di depannya setiap kali kami melewati lantai demi lantai.


“Wow!” seru orang-orang di sekitar kami ketika pintu menuju atap dibuka.

__ADS_1


Ada tenda besar diletakkan di beberapa titik. Hanya tanaman dalam pot yang dipindahkan, sisanya tetap pada tempatnya masing-masing karena wadahnya permanen. Pot berukuran kecil digantung di langit-langit tenda dan tanaman menjalar menghiasi setiap tiang penyangga.


Pemandangan di sekitar kami sangat romantis dengan lampu yang dipasang di beberapa titik. Meja besar ada di semua tenda dikelilingi oleh kursi. Setiap meja sudah diisi dengan vas bunga, piring, gelas, dan peralatan makan yang lengkap.


Orang-orang mendekati kursi yang tersedia, tetapi Theo mengajak aku ke tenda yang paling besar. Keluarganya ada di sana bersama beberapa orang yang tidak aku kenal. Hanya keluarga Chika yang bisa segera aku kenali. Kedua orang tuanya cemberut melihat aku, tetapi gadis itu tersenyum manis. Senyum yang tampak jelas dipaksakan.


Tante Ruth merapatkan bibirnya, tidak suka melihat aku datang bersama putranya. Namun dia tidak mengatakan apa pun, juga tidak menolak uluran tanganku mengucapkan selamat. Dia pasti menjaga sikap agar tidak malu di depan tamu. Theo mengajak aku duduk bersama di meja untuk keluarganya.


“Aku tidak bisa—” kataku, menolak.


“Duduk,” perintahnya dengan tegas.


Semua orang tahu dia dan Chika bertunangan. Walau tidak ada wartawan, apa kata para undangan melihat dia duduk berdampingan dengan gadis yang bukan tunangannya? Aku melihat beberapa orang mulai berbisik dengan pasangan atau temannya sambil melihat ke arah kami.


“Duduk, Kak. Jangan berdiri saja,” ajak Matt yang duduk di sisiku yang lain. “Makan malam akan segera disajikan.” Dia menepuk-nepuk perutnya.


Maka aku pun menurut. Theo duduk di sebelah kananku, sedangkan Matt di sisi kiriku. Muridku yang baik hati itu membuat aku merasa tenang dengan obrolan santainya. Theo memukul kepalanya saat dia malah membahas bahan pelajaran yang menyulitkannya.


“Kak Amarilis adalah guru gue. Apa salahnya bertanya?” Matt mengusap-usap kepalanya.


“Tidak di sini. Gue bantu nanti di rumah.” Theo meletakkan telunjuk di depan bibirnya.


Acara dimulai. Aku pun mengetahui dari pembawa acara bahwa ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan Om dan Tante Husada. Bagaimana aku bisa melupakannya? Tidak terasa, sudah satu tahun berlalu sejak aku dan Matt berduet menghibur tamu sebelum acara dimulai.


Sayang sekali, hubunganku dengan pasangan suami istri itu hancur karena putra mereka memilih aku menjadi calon istrinya. Papa dan Mama Katelia juga pasti akan semarah itu jika Kak Nolan memilih perempuan yang tidak sederajat menjadi pacarnya.


Theo meninggalkan aku ketika pembawa acara meminta dia bergabung dengan orang tuanya. Matt juga ikut bersamanya. Mereka akan menerima suapan kue dari papa dan mama mereka. Keluarga yang harmonis, pantas saja Chika ngebet ingin menjadi bagian dari mereka.


“Amarilis?” tanya seseorang dari sebelah kiriku. Dia menduduki kursi yang ditinggalkan Matt. “Apa benar ini kamu?”

__ADS_1


__ADS_2