Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
54|Kasih Ibu


__ADS_3

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap Mama, terharu. Aku mengantar mereka ke bandara menggunakan taksi. Karena ini akan menjadi pertemuan terakhir kami sebelum aku wisuda nanti, aku menyediakan waktu lebih banyak bersama mereka.


“Iya, Ma,” kataku, menurutinya.


“Makan dan istirahat yang cukup. Boleh mencari uang, tetapi jangan lupa, tubuhmu juga ada batas kemampuannya,” kata Papa tidak mau kalah. Aku mengangguk mengerti.


“Sampai nanti, Kak.” Hercules mengangkat tas besar yang dia pegang. “Terima kasih oleh-olehnya.”


“Jaga Papa dan Mama dengan baik,” kataku setengah mengancam. Dia hanya tertawa.


Aku berdiri diam melihat mereka memasuki terminal keberangkatan. Setelah petugas memeriksa tiket, mereka menoleh dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalas dengan antusias. Ketika mereka tidak terlihat lagi, aku pun pulang menggunakan bus.


Ketika mengeluarkan uang untuk membayar tiket, ada sebuah amplop di dekat dompetku. Aku tidak ingat memasukkan benda itu ke tas. Isinya cukup tebal, maka aku segera membukanya. Aku menarik napas terkejut. Ada banyak sekali uang kertas berwarna merah di dalamnya.


Air mataku menetes satu per satu menyadari Mama yang diam-diam memasukkannya. Seharusnya dia tidak melakukan ini. Aku punya cukup uang untuk membayar kuliah dan biaya hidupku. Mereka lebih membutuhkan uang ini untuk mempertahankan usaha kue mereka.


Sebelum lupa dengan niatku, maka aku menelepon Mama. Dia tidak menjawabnya. Mungkin dia sedang sibuk atau tidak mau menangis mendengar suaraku. Jadi, aku mengucapkan terima kasih kepadanya lewat pesan.


Pada hari pengumuman, nilai akademikku masih sempurna, jadi aku puas dengan hasil kerja kerasku. Tinggal empat semester lagi untuk tamat dari kampus ini. Aku tidak melihat Theo atau ketiga gadis menjengkelkan itu, maka aku bergegas pergi.


Melihat Kakak sudah menunggu di gerbang kampus, aku mendekat. Aku memeluk tubuhnya dengan erat, rindu sekaligus lega bisa bertemu dengan orang yang aku kenal baik. Dia tidak mengendarai sepeda motor seperti biasanya, ternyata karena dia membawa oleh-oleh.


“Terima kasih, Kak! Wah, bolu gulung kesukaanku!” Dia sampai membeli satu kardus besar yang aku yakin berisi empat kotak bolu. “Aku bagi dengan teman-temanku, ya?”


“Kue itu sudah milikmu, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Kita antar semuanya ke kamarmu, baru kita makan. Nanti meleleh terlalu lama terkena panas mobil saat parkir,” katanya.


Dia membantu aku membawa masuk dua tas belanja entah berisi apa ke kamarku. Aku hanya membawa kardus berisi kue bolu. Dia melihat-lihat ke sekeliling kamarku yang berukuran tiga kali tiga meter tersebut. Lumayan besar untukku sendiri.


“Sudah, jangan dipandang lama-lama. Katanya, mau makan.” Aku mendorong tubuhnya agar keluar dari kamarku. Tidak ada hal menarik yang perlu dia lihat dari ruangan itu.


Kami menuju restoran yang sepi untuk menghindari orang yang mungkin saja mengenalnya. Sejak iklan parfumnya tayang di televisi, internet, bahkan dipajang di papan reklame besar, wajahnya semakin dikenal banyak orang.


Walau dia memakai topi dan masker, aku masih bisa mengenalinya dari jauh sekalipun. Jadi, aku yakin ada juga penggemar yang pasti berhasil mengenali samarannya itu. Namun untuk saat ini, kami aman. Tidak ada yang datang mendekati Kakak.


“Kamu belum bisa menerima dirimu, ya?” tanya Kak Jericho, mengejutkan aku.

__ADS_1


“Apa maksud Kakak bicara begitu?” Aku balik bertanya, tidak memahami maksudnya.


“Tidak ada cermin di kamarmu. Aku juga baru menyadari kamu tidak mau melihat bayanganmu di kaca mobilnya layaknya gadis normal, atau kalau boleh jujur, seperti kebiasaan Katelia,” katanya penuh selidik. “Kamu risi karena kamu tidak cantik?”


Akhirnya, aku ketahuan juga. Aku sengaja tidak mengizinkan dia atau Theo mampir ke kamar, karena alasan itu. Mereka pasti akan melihat sesuatu yang tidak biasa untuk standar kamar perempuan. Pemilik kamar menyediakan cermin, tetapi aku menyembunyikannya.


“Memangnya Kakak tidak risi melihat wajah ini?” Aku tertawa gugup.


“Aku sudah sering bertemu dengan wajah yang lebih buruk darimu.” Dia memegang tanganku. “Aku bawa ke dermatolog, ya?”


“Tidak. Aku tidak punya uang untuk itu,” tolakku.


“Aku yang bayar. Kita juga temui spesialis ortodontik, ya?” bujuknya lagi.


Aku kembali menggelengkan kepalaku. “Jawabanku tetap tidak, Kak. Aku bisa melakukan itu kalau aku ada uang nanti. Kakak jangan khawatir. Cermin bukanlah segalanya,” kataku berkelit.


“Aku tidak suka kamu menganggap aku orang lain. Iya, DNA kita tidak sama, tetapi secara perasaan, kita adalah saudara kandung. Yang kamu lakukan ini menyakiti aku,” ucapnya sedih.


“Maaf, aku harus melakukan itu. Aku sudah bertekad untuk berdiri di atas kedua kakiku sendiri, jadi aku tidak akan mundur sekarang,” debatku dengan tegas.


“Mengapa jadi bahas dia?” protesku.


“Karena kamu menjengkelkan sekali.”


Untuk mengalihkan perhatiannya, aku bertanya tentang persiapan skripsinya. Aku tetap bangga kepadanya yang berhasil lulus ujian proposal. Walau dia mengeluh dengan nilai B, itu sebuah prestasi mengingat dia sangat sibuk dengan pekerjaannya pada semester lalu.


Dia meminta aku untuk menemaninya ke perpustakaan nasional, maka aku mengiyakannya. Satu hari tidak mengamen, tidak akan membuat aku tidak bisa mengumpulkan uang kuliah semester depan. Aku tidak menyesal menjawab iya, karena ada banyak buku yang bagus di sana.


Ketika giliranku mengerjakan proposal dan skripsi nanti, ada banyak buku yang bisa aku baca untuk bahan pustaka. Aku bahkan punya banyak ide yang bisa aku angkat untuk penelitian ilmiahku nanti. Jadi, aku tidak perlu membeli buku dan bisa hemat banyak.


Begitu perpustakaan tutup, Kakak mengajak aku keluar. Pustakawati yang berjaga menggodanya karena langsung mengenali dia dari namanya. Kakak dengan senang hati memberikan tanda tangan kepada wanita yang sepertinya sudah berumur empat puluhan itu.


Gara-gara dia, rekan perempuannya yang lain pun meminta hal serupa dari kak Jericho. Aku yang semula bangga melihat pemandangan itu jadi sebal sendiri di sudut ruangan. Meminjam buku yang bisa dilakukan dalam waktu beberapa menit saja jadi nyaris habis satu jam.


“Kamu seharusnya bangga melihat kakakmu ini dikerumuni penggemar,” katanya.

__ADS_1


“Aku bangga, tetapi tidak selama itu juga menunggu untuk pergi dari sana,” balasku.


“Ya, sudah. Aku traktir makanan yang enak, ya.”


Makanan enak yang dia maksudkan benar-benar enak. Kami makan daging panggang sepuasnya di sebuah restoran Jepang. Aku tidak peduli dengan program dietku dan memakan semua yang masih bisa aku jejalkan ke mulutku. Kakak hanya tersenyum penuh arti dan makan secukupnya.


Walau sempat kesal, bisa seharian bersamanya sangatlah menyenangkan. Apalagi Kakak sangat sibuk selama semester lalu. Aku yakin dia akan kembali fokus dengan skripsinya pada semester baru. Ini adalah kesempatan yang mungkin tidak akan terulang.


Sebelum pulang, aku menyempatkan mampir ke toilet. Kakak juga melakukan hal yang sama. Seperti biasa, aku tidak melihat atau pun melirik cermin yang begitu banyak di ruangan itu. Aku tidak bisa mengubah penampilanku sekarang, juga tidak mau berbohong, aku benci wajah ini.


Kakak membelikan aku beberapa kebutuhan sehari-hari, barulah kami pulang. Aku tergoda untuk langsung mengempaskan badan ke kasur, tetapi aku berhasil memaksakan kakiku menuju kamar mandi. Melihat lemari, aku memikirkan cermin yang aku sembunyikan di baliknya.


Ah, tidak. Lebih baik benda itu tetap di sana. Bila aku perlu memikirkan penampilan, aku bisa pakai cermin lipat yang aku bawa di tas. Benda yang hanya aku keluarkan untuk memulas lipstik yang pernah aku beli untuk bermain biola pada acara mewah.


“Terima kasih, Amarilis! Aku suka sekali dengan kue gulung ini!” ucap teman satu rumah yang telah memperkenalkan aku kepada Tante Ruth.


“Sama-sama. Ada teman yang baru kembali dari Medan dan dia memberi banyak sekali kue. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri,” kataku, menjelaskan. “Selamat menikmati!”


Satu kotak kue aku berikan kepada pemilik rumah dan satu lagi untuk Matt. Dia mengajak aku bertemu untuk membeli beberapa buku persiapan ujian nasional. Maka aku dengan senang hati menemaninya. Dia datang bersama mobil dan sopirnya, jadi kue itu tidak perlu kami bawa-bawa.


Ternyata bukan hanya kami, ada beberapa orang muda juga yang mendatangi toko buku memenuhi lorong yang sama. Aku membantu Matt memilih buku yang cocok. Ketika kami sudah selesai, dia meminta aku untuk mengambil satu buku yang aku mau. Hal yang tidak aku tolak.


Usai membayar semua buku yang dia beli, Matt memberikan bukuku, lalu mengajak aku untuk makan siang. Syukurlah, aku sudah kelaparan. Aku tidak terbiasa terlambat makan siang, tetapi tanggung untuk berhenti mencari buku tadi demi makan.


“Gue benar-benar benci perempuan itu,” kata Matt sambil menggigit ayam gorengnya dengan keras seolah-olah sedang memakan orang yang dia bahas. “Acara Natal dan Tahun Baru keluarga kami jadi berantakan gara-gara dia.


“Untuk apa, sih, Papa dan Mama memilih dia jadi calon istri Theo? Enggak ada untungnya. Mana dia suka merundung orang sesukanya lagi. Sejak melihat rekaman video dia menyuruh pengawalnya memukul Kakak, gue enggak suka dia. Gue tahu dia bukan perempuan baik-baik.


“Lalu mengapa Papa dan Mama tidak bisa melihat hal yang sama? Iya, tahun lalu Kakak bersama kami merayakan kedua hari raya itu. Tetapi segalanya berjalan dengan lancar. Enggak seperti saat dia bergabung dengan kami. Ya, ampun, Kak. Dia menempeli Theo terus.” Dia menggeram kesal.


“Kamu cemburu, ya?” godaku, mencoba untuk mencairkan suasana.


“Amit-amit,” jawabnya dengan cepat, membuat aku tertawa geli.


“Aku ingat Om bilang, keputusan ada di tangan Theo, jadi kamu jangan khawatir.” Aku mengingatkan. “Dia tidak akan menjadi kakak iparmu jika Theo tidak setuju.”

__ADS_1


“Harus ada alasannya, Kak. Theo tidak bisa sembarangan menolak,” katanya putus asa. “Rekaman yang Theo tunjukkan saja tidak mereka gubris, alasan apa lagi yang akan mereka dengar?”


__ADS_2