
“Cerewet banget, sih, Kak? Turuti gue sekali ini saja.” Dia menarik aku kembali, lalu melanjutkan langkahnya ke koridor lain.
Apa ada kenalannya di negara ini sampai menghindar begini? Jangan-jangan dia selingkuh. Huh. Mengaku punya pacar di Indonesia, eh, punya perempuan lain juga di negara ini. Pasti dia takut perempuan itu menduga aku adalah simpanannya. Kakak dan adik ini sudah gila.
“Nah, lega. Mereka tidak akan bisa melihat kita dari sudut mana pun kalau duduk di sini.” Dia melihat ke sekitar kami, lalu membuka menu dengan wajah bahagia. “Ayo, Kak. Pesan apa saja yang Kakak mau. Kenapa Kakak menatap gue seperti itu?”
Aku memicingkan mataku kepadanya. “Siapa yang tadi kita hindari?”
“Pesan, baru bicara,” katanya acuh tak acuh.
Setelah pelayan pergi membawa pesanan kami, aku masih menunggu dia buka mulut. Dia malah tertawa kecil. “Jangan buat aku makin penasaran, Matt.”
“Ada Venny dan orang tuanya tadi,” jawabnya. Aku mengerutkan kening mendengar nama yang tidak aku kenal itu. “Tunangan Theo.”
“Aku pikir ada apa. Mengapa kamu bersembunyi segala? Seharusnya kamu perkenalkan saja aku sebagai gurumu. Mereka tidak akan curiga.”
“Apa Kakak lupa? Theo belum mengganti foto profilnya sampai detik ini.”
Benar juga. Mengapa aku sampai melupakan hal sepenting itu? Semua orang yang memeriksa media sosial Theo akan melihat foto itu. Apa itu artinya perempuan kecentilan itu sudah tahu mengenai hubungan kami? Itukah sebabnya dia berkali-kali datang ke apartemen Theo?
Ah, mengapa aku malah memikirkan dia? Peduli amat dia tahu tentang aku atau tidak. Aku sudah siap menghadapi dia jika dia mencoba macam-macam denganku. Aku memang lemah dengan pria, tetapi perempuan … tidak ada yang boleh mempermainkan aku.
“Apa kabar Om dan Tante?” tanyaku teringat dengan orang tuanya.
“Baik. Mereka tidak sabar untuk menyambut Theo pulang, terutama Mama. Dia ingin sekali melihat putra sulungnya menikah.” Dia menatap aku penuh arti. “Foto profil itu membuat dia resah sendiri.”
“Theo memang bodoh.”
“Dia penuh perhitungan, tidak bodoh.” Wajar saja dia membela kakaknya. “Lewat foto itu, Theo menolak perempuan yang berusaha untuk mendekati dia.”
__ADS_1
“Iya, tetapi dampak lainnya tidak dia pikirkan. Para wanita yang mengincar dia akan berusaha untuk menyingkirkan aku.” Aku mendengus keras.
“Bukankah ada orang yang selalu menjaga Kakak?” Aku mengerutkan kening mendengar itu. “Theo mempekerjakan beberapa orang untuk mengawal Kakak, ‘kan? Dia melakukan itu karena dia tahu dampak dari foto profilnya bersama Kakak.”
“Oh.” Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku baru tahu mereka mengawal aku karena dia tahu apa yang akan aku alami akibat foto itu.
Laki-laki bodoh. Mengapa dia menghabiskan begitu banyak uang untukku? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kalau pun dia khawatir, satu orang saja cukup. Aku dan perempuan bernama Daisy itu bisa menghadapi musuh sebanyak apa pun jika aku terdesak.
“Kata Theo, ada orang kurang ajar yang taruhan untuk berciúman dengan Kakak?”
Aku tersedak roti yang aku telan. Dia mendekatkan gelas minumanku dan aku segera meneguknya untuk melegakan kerongkonganku. “Theo menceritakan itu kepadamu?”
“Setelah aku paksa dan ancam. Karena dia terdengar sangat dingin saat aku menelepon bertanya dia mau dibawakan apa dari rumah.”
“Masalah itu sudah diatasi, tidak usah dipikirkan,” kataku, mengerti maksudnya bertanya.
“Makan kuemu, tidak usah bahas hal yang tidak penting. Jangan lupa, kamu harus menemani Theo mengikuti upacara sore ini.” Aku melirik jam tanganku.
Dia pun berhenti membahas hal pribadi dan mengeluarkan tabletnya. Dia meminta aku untuk memeriksa skripsinya. Yang benar saja. Namun aku membacanya juga. Bisa berguna bagi seseorang sangat berarti bagiku, apalagi untuk pemuda yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri.
Setelah mengantar aku kembali ke apartemen, dia pun pulang ke hotel. Aku menyimpan makanan pemberiannya untuk aku santap malam nanti. Melihat masih ada banyak waktu, aku memeriksa pesan dari orang lain di ponselku. Meghan mengirim fotonya sedang berada di pantai.
Dia berbeda sekali dengan kakaknya. Orangnya baik, ramah, dan sedikit rendah diri. Aku tidak tahu mengapa dia mendekati aku, tetapi sejauh ini belum ada masalah. Dia juga kelihatannya jujur mengenai dirinya. Kalau pun dia punya maksud lain, kira-kira apa?
“Kapan mereka resmi bertunangan?” tanyaku kepada Daisy. Aku sengaja datang ke kampus agar bisa melihat Theo dari jauh, walau hanya sekejap.
Aku menoleh ketika perempuan yang berdiri di sisiku itu tidak menjawab. “Lama-lama kamu bisa bisu benaran karena jarang bicara.” Namun dia tetap bergeming mendengar gertakanku, begitu juga dengan rekannya. “Kalian berdua sangat membosankan.”
Melihat perempuan itu juga datang, bahkan ikut masuk ke dalam aula, aku mengepalkan tanganku. Apa yang sudah dia lakukan kepada Theo sehingga dapat kehormatan untuk mengikuti acara itu? Apa dia membantu biaya kuliah atau memberinya semangat? Benar-benar menjengkelkan.
__ADS_1
Begitu acara dimulai, aku pulang dan menghabiskan apa saja yang ada di dalam kabinet atas. Aku sudah lelah jalan-jalan dengan Matt sepanjang pagi dan siang, jadi aku bersantai sampai mengantuk. Rindu juga dengan cowok arogan nan menjengkelkan itu. Aku tidak pernah tidak melihat dia selama dua malam berturut-turut.
Apa yang direncanakan orang tuanya dengan datang bersama calon menantu pilihan mereka? Aku seharusnya tahu hubungan kami tidak mungkin diteruskan. Aku malah mau saja menjalin hubungan lagi dengannya begitu menginjakkan kaki di negeri ini.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau orang tuanya memaksa dia ikut pulang agar mereka bisa menikah secepatnya? Aku benar-benar benci hidup dalam ketidakpastian. Namun membalas pesan atau menerima telepon darinya, aku tidak mau. Biar saja dia gelisah di sana.
Matt pamit ketika dia sudah berada di bandara. Dia tidak menyebut siapa saja yang ikut bersamanya. Bagaimana dengan Theo? Ah, tidak. Dia tidak kembali mengambil sisa pakaiannya, berarti dia tidak pulang dengan keluarga tunangannya itu.
Benar saja. Pintu apartemen terbuka pada sore harinya dan dia masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Aku tetap duduk dan kembali membaca buku. Dia duduk di sisiku dan tanpa mengatakan apa pun menciúm bibirku. Aku masih marah, jadi aku mendorong tubuhnya menjauh. Dia malah memeluk aku. Untung saja keadaan gigiku sedang baik, jadi dia tidak melukai aku.
“Theo, berhenti,” protesku.
“Berhenti?” Dia mempererat pelukannya. “Kenapa lo membalas ciúman gue?”
Sial. Mengapa tubuhku selalu punya kemauannya sendiri? Aku yang semula menolak perlahan mengizinkan dia melakukan apa yang dia mau. Apa dia sangat merindukan aku sehingga menciúm aku seperti ini? Kami hanya tidak bertemu selama dua malam.
Dia berpindah menciúm pipiku sebelum meletakkan kepalanya di bahuku dan diam cukup lama. Kami sama-sama mengatur napas kami yang memburu. Dia tidak pernah menciúm aku seperti ini sebelumnya. Jantungku sampai berdebar sangat kencang.
“Lo marah, gue mengerti. Tetapi apa harus mendiamkan gue selama dua hari? Gue tidak mencintai dia, sayang. Kenapa lo enggak percaya kalau pertunangan kami bukan atas inisiatif gue?” bisiknya.
“Kamu berbohong, Theo. Kita berjanji tidak ada rahasia lagi dan kamu sengaja tidak memberi tahu aku tentang dia,” ralatku.
“Lo pasti langsung menolak gue dan enggak mau kembali bersama, karena itu gue enggak bilang. Gue mau lo jadi milik gue dahulu, baru gue ceritakan segalanya.” Dia mempererat pelukannya. “Gue hanya akan menikah dengan lo.”
“Bagaimana caranya?” tanyaku tidak mengerti. “Dengan kekuasaan dan relasi yang orang tuamu miliki, mereka bisa dengan mudah membatalkan pernikahan kita jika kita nekat. Apa kamu tidak pernah pikirkan itu?” Aku berusaha lepas dari pelukannya, tetapi dia tidak mengizinkan.
“Kita harus menikah secepatnya,” tukasnya dengan tegas.
Kalimatnya itu membuat aku heran. “Mengapa kamu terus bicara tentang menikah?” tanyaku curiga. “Apa orang tuamu mengatakan sesuatu tentang pernikahan kalian?”
__ADS_1