Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
14|Seorang Pengganggu


__ADS_3

Aku tahu cara yang aku lakukan ini sangat kotor. Namun mereka memulai lebih dahulu, maka aku tidak punya jalan lain. Hanya metode ini yang ampuh untuk menyakiti dan membuat mereka berpikir dua kali sebelum mengganggu orang lain. Aku perlu mengingatkan mereka bagaimana rasanya.


Puas melihat reaksinya, aku segera pergi dari tempat itu. Aku tidak mau mereka tahu aku ada di sini melihat semuanya dari jauh. Terlebih lagi, aku tidak mau mereka tahu, akulah yang sudah menyuruh anak kecil tadi mengantar kejutan untuk Chika.


Mereka pasti bisa dengan mudah menebak siapa yang melakukan hal itu, tetapi nanti. Jangan hari ini. Aku mau menikmati sedikit kedamaian setiap kali berpapasan, dan Chika terlalu sibuk memikirkan tentang hadiah itu. Aku bebas untuk beberapa saat.


“Heh, Amarilis. Lo pasti mencuri uang gue, ya?” ucap seorang teman sekelas ketika aku bersiap untuk makan siang.


“Uang? Uang apa?” tanyaku bingung.


“Gue bawa dua ratus ribu di dompet, tetapi uang itu lenyap,” tuduhnya dengan tajam. Mahasiswa lain di sekitar kami menarik napas terkejut.


Tidak tahan lagi setelah beberapa hari dicurigai, aku berdiri. “Kalau mau uang, kerja. Jangan malah memanfaatkan kesempatan. Apa buktinya aku yang mengambil uangmu? Mana dompetmu? Ada di tasku atau sakumu?” ucapku sengit.


“Aku baru memeriksa tasku, tidak ada barang siapa pun di dalam. Mentang-mentang senior itu bisa merampas hasil kerja kerasku begitu saja, jangan pikir aku akan diam jika ada yang mencoba hal yang sama lagi. Berikan bukti aku yang mengambil uangmu, baru bicara.” Aku berjalan menuju pintu.


Mereka saling bicara di dalam kelas, aku tidak mau tahu apa yang mereka bahas di belakangku. Mata kuliah berikutnya masih lama lagi, jadi aku tidak perlu tinggal di ruangan ini atau ke perpustakaan. Aku jera dikerjai. Lebih baik aku makan siang di kamar sewaku.


Theo masih saja bersikap menjengkelkan dengan berada di ruang belajar ketika aku bersama Matt. Adiknya senewen merasakan mata kakaknya tertuju kepada kami. Apalagi saat dia sedang duduk di sisiku untuk mendengarkan penjelasanku.


“Ada apa, Theo? Matt benar. Dia yang berhak berada dalam ruangan itu dan mengusir orang yang mengganggu kegiatan belajarnya dengan Amarilis,” ucap Tante Ruth saat kami makan malam.


“Gue enggak ganggu mereka, Ma. Sungguh. Gue cuma duduk di pojok dan tidak bicara sama sekali,” katanya, membela diri.


“Enggak ganggu apanya? Dia melotot terus ke arah Kak Amarilis, Ma. Gue yang duduk di sisinya, ‘kan, ikut terganggu,” adu Matt, belum menyerah.


“Oke, oke. Gue enggak akan ganggu lagi dan hanya baca buku doang,” kata Theo, mengalah.


“Enggak. Gue mau dia tidak ada dalam ruangan seperti biasanya, Ma,” protes Matt.


“Cukup!” seru Tante Ruth dengan tegas. Kedua putranya itu pun tutup mulut. “Matt benar. Ada apa sampai kamu bersikap aneh, Theo? Biasanya kamu mengurung diri di kamar dan belajar. Mengapa kamu harus ada di ruangan itu saat mereka sedang di dalam?”


Aku merasakan pemuda itu menoleh ke arahku, tetapi aku bersikap tak acuh dan tetap menyantap makananku. Semakin cepat aku menghabiskan jatahku, maka semakin cepat aku pergi dari rumah ini. Aku tidak terganggu dengan percakapan mereka.

__ADS_1


“Gue kesepian sendiri di kamar. Jadi, gue belajar di mana mereka berada,” jawab Theo sekenanya. Aku tersedak makanan mendengarnya. Padahal dia dan aku tahu bukan itu alasan yang sebenarnya.


“Lo kesepian? Sejak kapan?” ejek Matt yang kemudian tertawa keras.


“Sudah, sudah. Ayo, makan yang benar. Kalian bersikap tidak sopan di depan tamu,” tegur Tante Ruth. Matt pun diam, walau dia masih mengulum senyum. “Kamu tidak datang besok, apa rencana kamu mengisi akhir pekan?” tanyanya kepadaku, mengubah topik pembicaraan.


“Bersih-bersih di kamar, Tante,” jawabku dengan sopan.


“Tuh, kalian dengar? Itu yang dilakukan oleh mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua. Jadi, kalian harus bersyukur bisa sekolah dan kuliah di sini. Kalian bisa fokus belajar, tidak mengerjakan hal lain.” Dia menasihati kedua putranya itu.


Setelah menjemur pakaian dan sarapan seadanya, aku membersihkan kamar. Hari Sabtu adalah hari yang paling aku nanti, karena aku bisa melakukan aktivitas yang aku sukai. Aku membawa biola dan menuju kota menggunakan kereta api.


Belajar dari kesalahanku sebelumnya, aku memastikan tempat yang aku datangi belum ada yang menempati. Satpol PP di ibu kota lebih galak, jadi aku juga tidak boleh sampai tertangkap. Semua usahaku untuk bisa kuliah akan gagal total kalau sampai ditahan.


“Silakan, Nak. Di sini tidak ada yang mengamen,” kata ibu penjual ketoprak.


“Oh, ya? Terima kasih, Bu,” ucapku senang.


Tidak ada banyak orang yang mau memberikan uangnya, tetapi aku tidak menyerah. Baru hari pertama, aku hanya belum menemukan tempat yang strategis. Menjelang sore, aku berpindah tempat ke dekat pintu masuk stasiun kereta api.


Sampai malam hari dan suasana kota bukannya semakin sepi, aku tidak berhenti memainkan lagu-lagu populer lewat gesekan biolaku. Mereka tidak jarang bertepuk tangan, puas dengan musik yang aku mainkan. Aku berterima kasih dan bahagia melihat uang yang mereka berikan untukku.


Hanya menyantap roti saat makan siang, aku mampir ke warung dekat kamar sewaku. Aku membeli nasi lengkap dengan sayur dan lauknya. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menikmati makan malam sambil mendengar koleksi laguku.


“Aku perhatikan, kamu dua hari ini bermain di sini,” kata seorang wanita saat aku baru keluar dari toilet. Dia kelihatannya akan menggunakan kamar kecil.


“Iya, benar,” jawabku pelan. Sepertinya dia salah satu pedagang yang ada di luar stasiun ini.


“Ada tempat yang lebih baik yang tidak akan diganggu oleh petugas,” ucap wanita itu, membuat aku penasaran sekaligus bahagia.


Tempat yang dia beri tahukan berada cukup jauh, tetapi bisa diraih dengan angkutan umum. Selama aku tidak perlu menggunakan jasa ojek daring atau taksi, maka ke mana pun aku mau pergi. Karena ongkos angkutan kota bisa terbayar dari hasil mengamen.


Aku memutuskan untuk memeriksa tempat itu pada akhir pekan depan. Hari aktif kuliah tidak bisa diganggu gugat untuk sekadar berjalan-jalan, karena aku harus belajar dan mengajar. Lagi pula, uang dari Tante Ruth cukup besar untuk memenuhi kebutuhan hidupku juga menabung untuk biaya kuliah.

__ADS_1


Berbeda dengan hari Jumat lalu, aku datang pagi dan menunggu ketiga gadis itu tiba di kampus. Aku sudah menyiapkan kejutan kedua untuk sahabatku Rahma. Mereka datang dengan mobil mereka masing-masing, lalu seorang pemuda memberikan buket bunga kepadanya.


“Hei, siapa kamu!?” seru Rahma ketika pria itu langsung pergi dengan sepeda motornya.


“Ada apa?” tanya Nisa yang berjalan mendekatinya. “Wow, kamu punya pacar?” Dia melihat bunga itu dengan wajah riang.


“Tidak,” kata Chika dengan curiga. “Ini pasti jebakan lagi. Apa kalian ingat dengan kotak kado yang aku terima pada hari Jumat lalu?”


Wajah kedua temannya itu memucat. Aku tersenyum melihat dia tidak sebodoh biasanya. Mereka saling bertukar pandang sebelum Rahma memeriksa kartu pada buket tersebut. Dia memberikan bunga itu kepada Nisa, lalu mengeluarkan kartu ucapan dari amplopnya.


“Oh, tidak!” pekik Rahma terkejut. Dia segera memasukkan kartu beserta amplopnya ke tasnya.


“Ada apa? Apa katanya?” desak Nisa tidak sabar. Rahma hanya menggelengkan kepalanya.


“Jangan buat kami penasaran, Rahma. Apa isinya?” desak Chika, sedikit mengancam.


Rahma meletakkan telunjuk di depan bibirnya sambil melihat ke sekitar mereka. “Rahasiaku yang hanya kalian ketahui.” Gadis malang itu pun terisak.


Itu adalah akibat dari perbuatan mereka yang jahat kepadaku. Masalah di Medan seharusnya tetap tinggal di Medan, bukan malah dibawa ke Depok dan dijadikan alasan untuk merundung aku. Apa mereka pikir aku mau dihina begitu sampai wisuda nanti?


Teman-teman sekelas masih ada yang berani menuduh aku mencuri dompetnya, berharap aku akan terjebak dan teman yang lain terpengaruh. Syukurlah, mereka tidak punya bukti. Aku tidak sudi memberikan uang yang susah payah aku dapatkan kepada mereka.


Sikap Theo juga masih sama. Dia menemani aku dan Matt di ruang belajar dari aku datang sampai pulang. Apa mengawasi aku selama tiga hari pada minggu lalu tidak cukup untuk meyakinkan dia bahwa aku tidak mencuri? Mau sampai kapan dia ada di sini?


“Oh, Tuhan!” Nisa memekik tertahan melihat kejutan untuknya di depan pintu kamar sewanya yang mewah. Kejadian yang bisa aku lihat dari luar wastu itu, karena kamarnya ada di lantai dua.


Dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah luar rumah sebelum masuk ke kamarnya. Wajahnya pucat pasi karena diingatkan lagi dengan masa lalunya. Saatnya bagiku untuk bersiap-siap andai mereka bisa menebak siapa pelaku dari ketiga kiriman benda menarik itu.


Aku tiba di kampus beberapa menit sebelum mata kuliah pertama dimulai. Dengan begitu, Chika dan teman-temannya tidak berpapasan denganku. Sebisa mungkin, aku menghindari drama pada pagi hari itu dan menyelamatkan pakaianku dari debu dan kakiku dari luka.


Teman-teman sekelas masih mendiskriminasi aku dengan menyisakan hanya kursi bagian belakang. Barisan tempat duduk itu bahkan dibuat berjarak dengan barisan di depannya. Untung saja telingaku sangat tajam, jadi aku tidak kesulitan mendengar penjelasan dosen.


Melihat Chika ada di ujung koridor, berdiri dengan santai menunggu seseorang, aku membalikkan badan. Sudah pasti dia menanti aku untuk mengerjai aku lagi. Namun Nisa dan Rahma sudah berdiri di depanku ketika aku berbalik.

__ADS_1


“Kamu sudah tidak bisa lari lagi,” kata Rahma dengan tajam. Dia melihat ke arah mahasiswa lain yang hanya lewat, tidak berniat untuk menolong aku. “Kita perlu bicara dengan serius.”


__ADS_2