Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
83|Tak Terduga


__ADS_3

Wow, Amarilis. Pesona apa yang ada padamu sampai ada dua pria yang menyukai kamu? Aku sudah terbiasa disukai banyak laki-laki selama menjadi Katelia karena aku cantik. Amarilis sama sekali tidak menarik, lalu ada apa pada mata mereka sampai tertarik dengan gadis jelek ini?


Theo benar. Mas Norman menginginkan hubungan kami bisa lebih dari sekadar atasan dan karyawan magang. Baru satu bulan bersama dan dia sudah mengatakan hal seserius itu? Theo butuh waktu lebih lama untuk mengajak aku menjadi pacarnya. Kami backstreet, tetapi itu tetap berpacaran.


Kalau bukan karena aku mendengarnya sendiri, aku tidak akan percaya ada orang yang kaya raya, baru saja diangkat menjadi direktur utama menggantikan ayahnya, tampan, baik hati, tubuhnya bagus layaknya aktor film laga meminta Amarilis menganggapnya lebih dari bos atau teman.


Kejutan belum selesai sampai di situ. Sabtu pagi, aku sedang bersantai sejenak setelah berberes saat ponselku bergetar. Tante Wiryawan mengirim pesan memberi tahu aku itu adalah nomornya, lalu menelepon aku untuk mengajak makan siang bersama.


Sungkan menolak, aku menerima ajakannya tersebut. Perasaanku tidak enak karena aku belum siap untuk bertemu dengan Mas Norman lagi sejak percakapan kami di mobilnya. Hubunganku dengan Theo memang tidak mulus, tetapi aku sungguh sayang kepadanya.


Aku tidak tertarik dengan laki-laki lain walau ada yang intensitas pertemuannya lebih baik daripada aku dengan Theo. Tetap saja yang ada di dalam pikiranku dan selalu aku rindukan adalah Theo, bukan yang dekat di mata.


“Amarilis, di sini!” panggil Tante Wiryawan ketika aku mencarinya di antara para tamu restoran. Dia datang sendirian, tidak ada Om atau Mas Norman. Syukurlah.


Pelayan yang membukakan pintu untukku, mengantar aku ke meja tersebut. Dia memberikan aku buku menu yang dia bawa setelah aku duduk dengan nyaman. Aku memilih dengan cepat dan memutuskan untuk memesan makanan yang porsinya kecil agar cepat habis.


“Kamu tidak kesusahan menemukan tempat ini, ‘kan?” tanya Tante dengan ramah. Pelayan itu sudah pergi, jadi kami bisa mengobrol dengan santai.


“Tidak, Tante. Saya naik ojek daring, jadi tinggal duduk santai saja,” jawabku.


“Lo, mengapa kamu tidak bilang? Kalau aku tahu, aku akan pesankan taksi untukmu. Cuaca sedang panas di luar.” Dia memandang jendela dan aku secara bergantian.


“Tidak apa-apa, Tante. Sudah biasa.”


“Baiklah.” Dia tersenyum lega. “Aku perhatikan kamu tidak pernah tampil lagi bermain biola. Apa kamu sedang menyusun tugas akhir?”


Aku senang dia tidak menyinggung tentang uang atau aku harus menjelaskan tentang alasan aku tampil ke sana kemari dengan alat gesek itu. Skripsi adalah alasan yang umum yang aman untuk aku bahas. Aku tidak mau terlalu terbuka dengan orang yang baru aku kenal.


Namun bisa jadi Mas Norman menceritakan pertemuan pertama kami. Aku sedang mengamen di sebuah taman pada saat itu. Mungkin perempuan ini tidak mau membuat aku malu dengan tidak menyinggung pekerjaanku dahulu.

__ADS_1


“Kamu akan memasuki semester berapa pada pertengahan tahun ini?” tanyanya ingin tahu.


“Semester tujuh, Tante,” jawabku dengan bangga.


“Semester tujuh dan sudah menyusun skripsi? Aku harus mengatakan kepada Norman agar dia mengangkat kamu menjadi karyawan.” Matanya berbinar-binar bahagia.


“Tetapi, Tante, saya bukan lulusan perhotelan,” kataku, mengingatkan.


“Omong kosong. Lulusan manajemen bisa ditempatkan di bagian mana saja tanpa ada latar belakang pendidikan perhotelan,” bantahnya. “Lagi pula, kamu sudah magang selama satu bulan, maka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan tugasmu nanti.”


“Terima kasih, Tante.” Aku memutuskan untuk menurut agar topik itu tidak dibahas terus.


“Ah, maafkan aku. Maksudku bukan memaksa kamu bekerja di hotel kami. Jika kamu sudah punya rencana lain, abaikan saja ucapanku tadi,” katanya, menyadari kesalahannya.


“Tidak apa-apa, Tante. Mempekerjakan orang yang sudah dikenal tentu lebih nyaman daripada menyeleksi orang asing.” Aku tersenyum kepadanya.


Dia tidak punya peran apa pun dalam perusahaan keluarga mereka, jadi aku tahu dia tidak berniat membicarakan pekerjaan saat mengundang aku makan. Namun aku tidak menduga dia akan usil mau tahu mengenai hubunganku dengan Theo.


Karena topik itu sudah masuk dalam ranah pribadi, aku memilih untuk tersenyum dan tidak memberi respons. Dia akan salah paham jika aku melarang dia membahasnya lebih lanjut. Bila aku berkata jujur, dia juga akan merendahkan pilihanku dan Theo untuk tetap menjalin hubungan tanpa restu.


“Ah, maafkan aku. Kamu pasti menganggap aku tidak sopan. Maksudku adalah kamu bisa bersama seorang pria yang lebih baik dan mendapat restu dari orang tuanya. Jadi, untuk apa kamu tetap bersama pemuda yang tidak akan pernah bisa kamu nikahi?” katanya, melanjutkan.


“Norman adalah pria yang baik. Sebagai ibu kandungnya, aku bisa menjamin, dia akan membuat kamu bahagia. Kami tidak sama seperti orang kaya lainnya yang memandang rendah mereka dari kalangan biasa. Aku dan suamiku akan sangat bangga bisa menerima kamu dalam keluarga kami.


“Wanita muda yang pekerja keras, cerdas, dan cekatan seperti kamu tidak kami temui setiap hari. Apalagi kamu membuat putraku punya topik pembicaraan lain selain pekerjaan. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia bicara tentang perempuan kepada kami.


“Maukah kamu mempertimbangkan hal ini? Norman sudah berusia tiga puluh tiga, tetapi usia kalian pasti tidak terpaut terlalu jauh. Jangan takut. Kalian tidak menikah dalam waktu dekat. Kalian bisa saling mengenal dahulu. Bila kalian tidak cocok, maka kamu tidak harus menikah dengannya.”


Dia meraih tanganku yang ada di atas meja. “Pikirkan hal ini baik-baik. Jangan beri jawaban terlalu cepat. Aku berharap kamu mau memberi putraku satu kesempatan. Aku tahu aku terkesan memaksa, tetapi aku sayang putraku dan hanya menginginkan dia bahagia dengan wanita pilihannya.”

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata-kata. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bisa memberi tanggapan atas tawaran seseorang. Wanita ini tidak peduli dengan statusku dan meminang aku untuk menjadi calon istri putranya. Apa aku tidak salah dengar?


Pasti ada banyak perempuan cantik, cerdas, rajin, dan menarik di luar sana yang menginginkan Mas Norman. Wanita yang sederajat dengan mereka. Mengapa wanita ini malah memilih aku? Putranya baru membahas ini semalam dan mamanya sudah mengajak aku bicara pada keesokan harinya. Ini peristiwa yang berada di luar nalarku.


“Apa kamu marah kepadaku?” tanya Tante setelah aku hanya diam saja.


“Ah, tidak, Tante.” Aku menarik tanganku pelan-pelan darinya.


Untung saja makanan pesanan kami datang, jadi topik itu bisa dikesampingkan sejenak. Dia tidak menyinggung tentang Mas Norman lagi, melainkan menyebut apa yang unggul atau kurang dari makanan yang disantapnya.


“Hai, Nancy!” Seseorang menyapa Tante Wiryawan.


Dia menoleh ke arah orang yang memanggilnya. “Oh. Hai, Ruth.” Dia berdiri, lalu mencium kedua pipi Tante Ruth. “Kamu juga makan siang di sini?”


“Iya. Calon menantuku akan masuk kuliah, jadi aku memonopoli waktu liburnya sebelum dia sibuk lagi,” jawab Tante Ruth, melihat Chika yang berdiri di sisinya. Dia menoleh ke arahku. “Kamu kenal?”


“Iya. Amarilis magang di hotel kami,” jawab Tante Wiryawan senang.


“Hai, Tante,” sapaku dengan sopan.


Dia membuang muka dan melihat Tante Wiryawan. “Baiklah. Kami mau belanja. Sampai nanti.” Dia menggandeng tangan Chika, lalu meninggalkan kami.


“Maaf, aku tidak tahu dia akan ada di tempat ini juga,” ucap Tante Wiryawan merasa tidak enak saat dia kembali duduk.


“Tidak apa-apa, Tante.” Aku tersenyum. “Ayo, Tante. Kita habiskan makanan ini.”


Dia menawarkan untuk mengantar aku pulang usai makan siang, tetapi aku menolak. Aku lebih baik tidak terlalu akrab dengannya agar tidak merasa segan bicara jujur mengenai tawarannya tadi. Hari ini benar-benar hari yang aneh.


Aku sedang mengantri di halte menunggu kedatangan bus menuju rumah ketika ponselku bergetar. Aku mengeluarkannya dari tas dan mendesah keras membaca nama penelepon pada layar.

__ADS_1


__ADS_2