
Melihat penampilan urakan ketiga pria itu, aku segera tahu bahwa mereka adalah preman setempat. Hari begini masih ada orang yang mencuri hasil kerja keras orang lain? Memalukan sekali. Aku segera memeluk tas, tidak rela memberikan uangku kepada mereka.
“Kalian mau mencuri uangku? Kerja. Jangan bisanya hanya merampas hak orang lain,” kataku sengit.
“Waduh, Bos. Dia berani melawan Bos,” ucap pria di sampingnya, memanas-manasi. “Kami apakan dia, Bos? Kuliti? Bakar?”
“Bagaimana kalau perpaduan keduanya?” Pemuda yang mereka panggil Bos itu tersenyum sinis. Kedua temannya itu segera maju dan berusaha untuk merebut tasku.
Dasar tubuh gendut ini tidak berguna, aku tidak bisa melawan mereka seluwes biasanya. Gerakanku sangat kaku dan tidak gesit. Aku berusaha untuk mempertahankan tas itu, tetapi aku kalah kuat dari kedua laki-laki maling itu.
Mereka mendorong aku sampai jatuh, membalik tasku, dan mengeluarkan semua isinya, lalu tertawa melihat beberapa lembar uang berwarna merah. Mereka mengambilnya, kemudian salah satunya menendang pahaku. Tanganku mengepal dan seluruh tubuhku gemetar melihat perbuatan mereka.
“Sialaaannn!” Aku berdiri dan menyerang mereka dengan berat tubuhku.
Karena gerakanku tidak luwes, mereka bisa menghindar dengan mudah. Aku mencoba lagi, mereka tertawa terbahak-bahak melihat usahaku tidak berhasil. Lalu dengan mudahnya, mereka menendang, dan memukul aku sampai babak belur.
“Hei, hei, sudah!” kata orang yang mereka panggil Bos itu. “Jangan sampai dia mati. Nanti kita tidak punya celengan lagi. Jangan sampai babi gemuk itu tidak bisa bekerja untuk kita.”
Mereka berhenti menendang, lalu pergi sambil tertawa. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Berengsek. Dia sebut aku tadi apa? Celengan? Aku bekerja mati-matian sampai bisa dapat tempat sebagus dan bayaran setinggi ini setelah berbulan-bulan mengamen. Dia mau ambil enaknya saja?
Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal ini lagi. Mataku memanas, tetapi aku segera menghela napas panjang. Aku tidak boleh menangis. Ini bukan apa-apa, anggap saja tantangan. Aku hanya perlu memikirkan cara untuk mencegah mereka menang pada kesempatan berikutnya.
Lewat tengah malam sampai di rumah, semua orang sudah pulas. Sepertinya keluarga ini tidak terlalu peduli dengan keselamatan Amarilis. Gadis yang malang. Aku jauh lebih beruntung darinya. Keluargaku sayang kepadaku dan selalu menjaga aku. Mama Amarilis hanya peduli saat dia sakit, dan mengabaikan dia ketika sudah sehat.
“Kamu dari mana saja semalam?” tanya wanita itu saat kami sarapan bersama. “Aku tidak tahu kamu pulang jam berapa, tetapi aku yakin lewat dari tengah malam.” Dia memicingkan matanya.
“Aku mencari uang, Ma. Aku mendapat tempat, tetapi preman mengambil uangku,” akuku.
Hercules tertawa. “Pantas saja mukamu sampai lebam. Bodoh. Apa gunanya bertubuh besar, tetapi kalah melawan orang yang mengganggu kamu.” Dia menjulurkan lidahnya kepadaku.
“Bilang saja kamu hanya mau berkeliaran di luar sana. Mulai besok pagi, kamu lebih baik membantu aku membuat kue,” kata mama Amarilis. “Orang yang biasanya menolong aku sedang sakit.”
“Tidak bisa begitu, Ma. Aku akan selalu pulang malam, aku juga perlu belajar untuk persiapan ujian masuk tahun depan. Kalau aku juga harus membantu Mama, kapan aku belajar?” protesku.
__ADS_1
“Tidak usah banyak bicara. Cepat, habiskan sarapanmu, lalu antar semua kue itu ke toko langganan. Sekolah sudah libur, aku perlu cari pelanggan lain.” Dia memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. “Mau belajar, belajar untuk apa? Aku sudah bilang, tidak perlu kuliah!” serunya dengan mulut penuh.
Aku terpaksa menurutinya. Setelah mengantar uang titipan dari setiap warung yang aku datangi, aku menuju restoran. Melihat wajah puas para tamu mendengar permainanku sangat menghibur aku di tengah banyaknya masalah yang sedang aku hadapi.
“Kamu sedang apa?” tanya koki saat aku memasukkan cairan cabai ke dalam botol penyemprot. “Oh, kamu dipalak preman-preman itu? Bos memang pelit. Dia tidak mau mempekerjakan sekuriti.”
“Tidak apa-apa, Pak. Ini sudah cukup.” Aku tersenyum puas melihat botol berisi cairan pedas itu. “Mereka tidak akan berani mengganggu aku lagi setelah ini.”
“Hati-hati, Nak. Mereka masih berkeliaran bebas di sini, karena belum ada yang berhasil mengusir mereka,” kata pria itu prihatin. Aku tersenyum mengerti.
Begitu aku selesai tampil dan restoran dibersihkan, aku pulang terlebih dahulu. Karyawan lain punya kendaraan masing-masing, jadi aku sendirian yang berjalan kaki. Sepertinya mereka sudah tahu cara menghindar dari para preman itu, makanya tidak ada yang berjalan pulang. Aku terpaksa tidak pakai sepeda agar tidak menghalangi gerakanku.
“Benar, ‘kan? Dia pasti datang lagi untuk memberi uang kepadaku. Dia tidak mungkin kabur. Apalagi pria pelit itu memberi dia gaji yang lumayan.” Ketiga pria itu berjalan keluar dari sebuah gang, lalu berdiri menghalangi langkahku.
Aku memegang erat penyemprot yang ada di saku jaketku. Ketika mereka mendekat, aku bergerak cepat mengeluarkannya dari saku, lalu menyemprot tepat ke mata mereka. Kedua anak buahnya memekik kesakitan. Mereka menggunakan kedua tangan mereka untuk menutupi mata mereka yang terkena cairan cabai itu.
“Apa yang kau lakukan? Hei, kalian jangan diam saja! Lawan dia!” seru pria itu marah.
“Pedas, Bos! Mataku pedas!” teriak kesakitan kedua anak buahnya. Mata pria itu semakin merah.
Dia berjalan mendekat tidak takut dengan botol yang aku pegang. Ketika dia sudah cukup dekat, aku menyemprotkan cairan itu ke arah mukanya. Dia menghindar, maka aku menghantamkan bahuku dengan keras ke dadanya. Dia melenguh kesakitan.
Dia pikir aku akan kalah lagi seperti malam sebelumnya. Mereka salah memilih lawan. Aku tidak akan diam saja setelah apa yang mereka perbuat kepadaku. Aku memukul kepalanya dengan tasku, lalu merogoh semua saku celananya.
“Hei! Jangan ambil milikku!” katanya menyadari apa yang aku lakukan. Aku menyemprot matanya dengan cairan cabai. Bukannya pasrah, malah melawan. Aku tidak kasihan melihat dia mengaduh kesakitan, sama seperti kedua temannya.
Begitu menemukan apa yang aku cari, aku memeriksa dompet itu dan mengambil semua uang kertas berwarna merah di dalamnya. Aku mengambil sejumlah uang yang dibayar pemilik restoran, lalu mengembalikan dompet beserta uang sisanya kepadanya.
Walau aku membutuhkan uang, aku tidak sudi mencuri. Jadi, aku hanya mengambil kembali uang yang dia renggut dariku sebelumnya. Lagi pula, sisanya pasti uang haram hasil rampasan mereka dari orang lain yang juga mereka palak.
Mudah saja bagiku melawan para preman itu setelah punya senjata di tangan. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika mama Amarilis membangunkan aku pagi-pagi benar untuk membantunya membuat kue dan roti. Hal yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku.
“Dasar anak bodoh! Kamu sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, malah mendadak idiot! Potong sayurannya yang benar!” amuknya ketika aku kesulitan memotong sayuran itu.
__ADS_1
“Campur adonan ini sampai rata, bukan berantakan begini! Mana matamu!! Apa kamu tidak bisa melihat kue ini hampir gosong!?” teriaknya tepat di telinga kananku.
Semua amarah itu aku telan bulat-bulat agar dia tidak semakin panas. Aku tidak mengerti mengapa dia berubah sikap, tetapi aku tidak melawan. Mungkin dia membutuhkan pelampiasan karena baru bertengkar dengan papa Amarilis. Lagi pula, putrinya adalah seorang penurut, bukan pembangkang.
Tanganku lelah dan kakiku keram terlalu lama memasak sambil berdiri sejak pukul dua dini hari. Namun aku belum bisa beristirahat, mama Amarilis meminta aku mengantar kue itu ke semua toko langganannya. Aku memekik terkejut ketika melihat ada seekor kodok di dalam ransel.
Hercules kurang ajar! Aku sudah tidak tahan lagi! Dia terus saja mengerjai aku. Amarilis hanya diam, tetapi aku tidak. Biar saja mereka tahu aku bukan Amarilis yang sebenarnya. Anak itu perlu diberi pelajaran agar tidak terus begini.
“Permainan kamu sangat bagus, Nak. Tamuku hari ini lebih banyak dari biasanya. Padahal jumlah ini hanya terjadi pada hari Sabtu dan Minggu. Aku tidak bisa bayangkan berapa yang akan datang pada saat makan malam nanti.” Pria pemilik restoran itu menyapa aku yang sedang makan siang.
“Terima kasih kembali sudah memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja di sini, Pak,” kataku dengan tulus. Dia tersenyum senang.
Aku menggunakan waktu istirahatku untuk belajar. Jadi, saat pulang nanti, aku bisa langsung tidur. Aku yakin wanita itu akan menyuruh aku untuk membantu dia memasak lagi. Karyawan yang biasa membantu dia itu pasti tidak benar-benar sakit. Dia sengaja melakukan ini.
Kejutan diberikan oleh pria baik hati itu pada saat restoran tutup. Dia memberikan aku bonus atas ramainya tamu yang datang untuk makan. Mataku memanas melihatnya. Kalau begini terus, aku akan punya cukup uang untuk biaya tahun pertama kuliahku.
“Itu dia, Bos! Itu orang yang sudah membuat kami susah!” kata preman yang dua malam ini sudah mengganggu hidupku. Mereka tidak lagi datang bertiga saja, tetapi ada tambahan tiga pria lain.
“Kalian kalah melawan perempuan gendut ini? Apa kalian tidak malu sudah mencoreng namaku!?” Dia menampar dengan keras pemuda yang mengadu tersebut.
“Ma-maaf, Bos! Maafkan kami! Kami mohon, jangan hukum kami.” Dia dan kedua temannya segera berlutut dengan kepala menyentuh aspal.
Mati aku. Jumlah mereka bertambah dua kali lipat. Orang yang dipanggil bos itu juga kelihatannya tidak lemah. Aku memeluk tas dengan satu tangan, sedangkan tanganku yang lain bersiap dengan alat pertahanan diriku.
“Kamu sudah salah memilih lawan, Nona.” Pria bertubuh tinggi besar itu berjalan mendekati aku. “Seharusnya kamu tahu bahwa kami akan saling menolong satu sama lain. Kamu tidak bertanya kepada orang yang ada di lingkungan ini siapa yang menjaga keamanannya?”
“Menjaga keamanan?” dengusku. Kat, apa yang kamu lakukan? Jangan lawan pria jahat ini. Kamu sendirian! “Kalian yang sudah membuat tempat ini tidak aman.”
Dia mengarahkan tangannya kepadaku, pada saat yang bersamaan, aku mengeluarkan penyemprot dan mengarahkan pada matanya. Namun aku lengah, tidak sadar ada yang sudah berdiri di sisiku, siap untuk memegang tangan kananku itu.
Pria itu berhasil mencengkeram leherku dengan kuat. “Apa kau pikir aku bodoh!? Aku tidak akan bisa ditipu dengan cara yang sama kau menghajar anak buahku!”
Aku mencakar tangannya itu agar melepaskan leherku, karena dia membuat aku tidak bisa bernapas. Aku meringis kesakitan ketika dia mengempaskan tubuhku dengan mudahnya ke dinding. Oh, Tuhan. Apa yang akan dia lakukan?
__ADS_1
“Kau tidak akan pulang dalam keadaan utuh,” bisiknya dengan matanya menyala-nyala. Aku sampai menahan napas, tercium aroma busuk mulutnya. “Cepat, lakukan tugas kalian!”