
~Altheo~
Hampir satu tahun berada di negara ini, aku sama sekali tidak merasakan rindu rumah. Aku sibuk dengan urusan di kampus dengan menumpuknya tugas, sekaligus mengawasi pembukaan restoran baru Papa di kota ini.
Sejak dibuka pada bulan Februari lalu, pelanggan yang datang semakin hari semakin banyak. Tidak sedikit juga yang memesan makanan untuk diantar ke kantor atau tempat tinggal. Ternyata orang-orang Amerika suka mencoba hal-hal baru, termasuk makanan.
Begitu orang tuaku kembali ke Indonesia, aku bergegas mencari tempat tinggal baru dan membayar untuk dua tahun ke depan. Amarilis bukan perempuan yang rewel, jadi aku yakin dia akan menyukai tempat tinggal bersama kami.
Aku tidak mau membohongi hati lagi, jadi aku tidak peduli dia masih ingat dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan atau tidak, dia tidak bisa pergi dari hidupku. Daripada aku khawatir dia tinggal dengan orang lain, entah laki-laki atau perempuan, lebih baik dia bersamaku. Di negara ini, baik pria maupun wanita sama-sama rivalku dalam memenangkan hati Amarilis.
Hal pertama yang dia lakukan ketika kami bertemu adalah memeluk aku. Tentu saja aku senang, tetapi aku tidak mau menunjukkannya secara gamblang. Yang membuat aku yakin perasaannya masih sama untukku, ketika dia berniat mencium bibirku.
Kami tidak bisa melakukan itu untuk pertama kalinya setelah lama berpisah di depan orang banyak. Jadi, aku menunggu sampai kami tiba di apartemen untuk melakukannya. Lagi pula, aku lebih suka mencium dia saat sedang terkejut, karena bibirnya sedikit terbuka.
Pada detik aku merasakan bibirnya, pikiranku berkelana jauh. Apalagi dengan adanya ranjang di dekat kami, aku mulai membayangkan untuk membuka pakaiannya. Dorongan untuk merasakan kulitnya bertemu dengan kulitku semakin kuat sehingga aku harus mengakhiri ciuman kami.
Hampir dua tahun sejak aku mengatakan putus dan satu tahun lebih sejak aku mengucapkan selamat tinggal, reaksi tubuhku padanya masih sama. Aku dekat dengan banyak perempuan muda dan cantik di kota ini pun tidak mampu membuat aku merasakan sesuatu.
Aku tidak bisa diam lagi. Aku harus mencari jalan agar kami bisa menikah meski tanpa kehadiran orang tua atau keluarga lainnya. Aku tidak yakin aku akan bisa menepati janjiku untuk tidak tidur dengannya jika dia terus berjalan di dekatku lebih sering dari sebelumnya.
“Lulus dengan summa cum laude, masa begini saja lo enggak mengerti?” balasku mendengar dia bertanya tentang perbuatanku selama kami jauh.
“Di mana mereka?” tanyanya lagi sambil melihat ke sekeliling kami.
“Rahasia,” jawabku. Mereka juga ada di sini bersama kami, tetapi aku tidak akan memberi tahu dia di mana lokasi mereka.
“Mengapa kamu masih mengawasi aku? Bukannya kita sudah putus?” Dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya sehingga kedua benda indah di sana terlihat semakin besar.
Aku menelan ludah dengan berat, lalu berdehem agar pikiranku tidak berkelana jauh. “Kamu lupa kamu merengek tidak mau putus?”
Dia tertawa terkejut. “Apa katamu? Kapan aku merengek tidak mau putus?”
__ADS_1
“‘Tidak, Theo. Jangan pergi. Pasti ada jalan untuk kita bersama.’” Aku meniru kalimat yang pernah dia ucapkan. Wajahnya memerah. “Lalu wanita mana yang sudah putus malah memeluk mantannya di depan umum? Merengek minta dicium lagi.”
“Aku tidak merengek!” protesnya.
“Untung saja gue masih punya benteng pertahanan yang tinggi. Kalau tidak, bisa bahaya,” kataku, tidak berhenti menggodanya yang semakin panik.
“Ya, sudah. Kamu punya satu catatan, maka ada catatan tambahan dariku.” Dia memegang pulpen dan mulai menulis. “Tidak boleh berciuman di apartemen atau saat hanya berdua saja.”
“Serius? Lo enggak menyesal menulis itu?” tantangku.
“Aku tidak akan pernah menyesal,” katanya begitu yakin. Dia memicingkan matanya. “Ada apa? Kamu merengek minta catatan ini dihapus, tidak akan aku hapus.”
“Bukan masalah,” jawabku dengan santai. Aku menulis catatan itu di bukuku.
Dia menambah beberapa hal sepele mengenai kebersihan apartemen, siapa yang memasak, dan berbagai detail lainnya. Aku hanya tersenyum dan menurutinya. Kelihatan sekali dia gugup dan menggunakan cara ini agar aku tidak menyinggung rengekannya itu.
Makanan dan minuman kami pun diantar. Dia membulatkan mata melihat besarnya piza dan burger yang diletakkan di depan kami. Aku serius dengan ucapanku tadi. Aku sangat lapar, jadi aku sanggup menghabiskan satu loyang besar piza seorang diri. Lagi pula, adonannya tipis dan renyah, jadi tidak terlalu mengenyangkan jika makan satu potong saja. Tipe piza kesukaanku.
“Lo makan burger murahan, makanya tidak tahu ada burger seenak ini di Indonesia,” balasku.
Dia mencibir kesal. “Apa kamu pikir aku tidak pernah makan burger mahal? Aku hidup tidak hanya sebagai Amarilis. Aku pernah jadi anak orang kaya.”
“Oh, begitu,” godaku.
“Ngomong-ngomong, mengapa kamu ada di sini? Kamu kuliah di mana?” tanyanya curiga. Aku menjawabnya dengan detail dan dia membulatkan matanya. “Kamu seniorku? Kamu tidak pernah bilang kamu mau kuliah di sini juga?”
“Juga? Gue sudah lama merencanakan kuliah di sini. Papa gue, ‘kan, alumni dari kampus ini. Lo yang ikut-ikutan gue kuliah di sini,” balasku.
“Bagaimana bisa aku yang ikut-ikutan kamu? Aku tidak pernah dengar kamu mau kuliah di sini,” bantahnya dengan cepat.
“Lo memang sudah lama mau lanjut kuliah, tetapi lo belum tahu mau ke kampus mana, ‘kan? Lalu lo pernah dengar Papa cerita tentang studinya di luar negeri. Tanpa sadar, lo memilih kampus itu.”
__ADS_1
Walau Papa jarang makan malam bersama kami, tetapi setiap kali dia bergabung, dia suka berbagi pengalamannya mempersiapkan diri menjadi pengganti Kakek. Salah satu caranya untuk menasihati aku agar mengikuti jejaknya dan Kakek.
Terbiasa mendengarnya sejak aku masih kecil, aku tidak merasa terbebani untuk melanjutkan studi di luar negeri. Jika jalan ini bisa menolong aku menjadi pemimpin sebaik Papa dan Kakek, maka akan aku telusuri. Lagi pula, aku masih muda, sebaiknya masa ini digunakan untuk banyak belajar.
“Dari mana kamu tahu aku akan kuliah di sini?” katanya, tidak mau sepenuhnya mengakui Papa yang memberinya inspirasi studi di kota ini.
“Gue sering bertemu Richo menghadiri acara tertentu mewakili papanya. Topik kesukaan dia, ya, lo. Riris mau begini, Riris berencana begitu. Makanya, gue bilang juga apa. Jangan dekat-dekat dia. Kakak lo itu enggak bisa jaga rahasia.”
“Aku sudah jujur kepada Ayah dan Bunda. Mereka sudah tahu aku adalah Amarilis,” ucapnya, tanpa peringatan. Aku sampai terbatuk-batuk, tersedak makananku sendiri. Dia mendekatkan gelasku. “Kami sepakat untuk jujur saja, karena kesehatan Bunda menurun terus.”
Kebetulan sekali. Aku merencanakan pernikahan kami, dia juga sudah bicara dengan orang tuanya. Akan lebih mudah bagiku untuk menemukan solusinya bila dia sudah tidak menyimpan rahasia dari orang tua kandungnya. Karena aku akan butuh dukungan dari kedua keluarga itu.
“Mengapa lo memanggil bunda?” tanyaku heran.
“Supaya mereka tidak bingung aku panggil mama, jadi salah satu harus ganti sapaan,” jawabnya.
Aku mengangguk mengerti. “Syukurlah, kalau begitu. Lo pasti tenang sekarang.”
“Bagaimana dengan kita? Apa hubungan kita sekarang?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya itu. Ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya. Jadi, aku mengalihkan pembicaraan dengan menyebut beberapa peraturan dasar di kampus. Dia langsung tertarik untuk mendengarnya.
Usai makan, aku membayar tagihan kami dan mengajak dia kembali ke apartemen. Dia masih jet lag dan butuh istirahat. Aku juga punya urusan, tidak bisa berlama-lama di luar kamar. Aku memegang tangannya selama kami berjalan dan dia tidak keberatan.
“Mengenai hubungan kita,” kataku beberapa meter dari pintu masuk gedung.
“Ya?” Dia menoleh ke arahku, maka aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium bibirnya. Dia tidak mengecewakan aku dengan membalas ciumanku.
“Kamu masih calon istriku,” ucapku dengan serius.
Dia tersenyum bahagia, lalu bergelayut manja di lenganku. Ya, Tuhan. Dia menempelkan dadanya ke lenganku. Sampai kapan aku bisa menahan diri dari godaan besar ini?
__ADS_1