
Setelah aku pikir-pikir, apa yang perlu aku khawatirkan jika ketiga gadis nakal ini tahu tentang aku? Semua rahasia mereka ada di tanganku, maka akan adil jika aku membuka satu rahasiaku kepada mereka. Bila mereka memberi tahu semua orang, mereka hanya akan dianggap gila.
Aku yakin mereka tidak mau merusak reputasi keluarga mereka sendiri dengan melakukan itu. Aku tidak akan kehilangan apa pun, tetapi mereka akan kehilangan segalanya. Lagi pula, aku sudah bosan bermain kucing-kucingan dengan mereka.
“Aku akan melepaskan kamu, tetapi berjanjilah kita akan bicara baik-baik tanpa ada kekerasan,” bisikku kepadanya. Dia segera mengangguk dengan cepat. Begitu aku melepaskan lehernya, dia segera berlari dan berdiri di belakang tubuh Rahma.
“Kamu tidak apa-apa, Chika?” tanya mereka berdua, mengkhawatirkan keadaannya.
Gadis itu terbatuk-batuk saat menarik napas panjang. Rahma dan Nisa menolong dengan mengusap punggungnya dan memberinya botol berisi air minum. Aku hanya diam, menunggu sampai situasi cukup kondusif untuk memulai percakapan.
“Apa kita bisa bicara sekarang?” tanyaku sambil menyilangkan tangan di depan dadaku.
“Heh, bukan kamu yang menentukan kapan kita bicara!” hardik Rahma, tanpa rasa takut. “Kamu mau aku kempeskan? Dasar badak tidak tahu diri! Kalau aku melaporkan perbuatanmu hari ini kepada dosen, kamu bisa dikeluarkan dari kampus ini.”
Chika menyentuh tangannya dan menggelengkan kepalanya. “Apa maksudmu, Chika? Kamu tidak perlu takut kepadanya. Ada aku dan Nisa yang akan membantu kamu,” tukas Rahma.
“Dia Kat,” ucap Chika dengan suara serak.
“Apa?” tanya mereka berdua, tidak percaya dengan pendengaran mereka.
Chika menghela napas panjang sebelum bicara lagi. “Dia bukan Amarilis, tetapi Kat.” Gadis malang itu mencoba untuk menjelaskan.
Aku cukup memanggil dia dengan nama yang paling dia benci, maka dia langsung tahu ini adalah aku. Chika paling benci dipanggil Chik. Padahal orang barat punya makna bagus untuk panggilan itu. Chick ditujukan kepada gadis muda yang menarik. Tetap saja dia tidak suka.
Rahma dan Nisa membeku. Mereka tidak bergerak atau bicara untuk beberapa saat. Ketika mereka menoleh ke arahku, wajah mereka sudah pucat pasi. Mata mereka bergerak liar pertanda mereka sedang berusaha untuk mencerna apa yang telah terjadi.
“Bagaimana tidur kalian setelah bekerja sama untuk menyingkirkan aku?” tanyaku, tanpa basa-basi.
“Kat,” kata Nisa. Aku mendelik ke arahnya. “Ah, maksudku, Amarilis. Ka-kami tidak bekerja sama un-untuk menyingkirkan kamu.”
“Oh, ya? Lalu mengapa kamu gugup?” tantangku.
Mereka bertiga saling bertukar pandang. Aku mengenal mereka selama tiga tahun, tetapi tidak pernah menduga persahabatan mereka bertiga penuh kepalsuan. Mereka sama-sama terpaksa menjadi temanku. Jika begitu lebih baik kami tidak pernah berteman sama sekali.
“Kalian tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini? Jiwamu masih hidup, tetapi semua orang berpikir kamu sudah mati,” kataku lirih. “Lalu apa kalian tahu yang paling menguntungkan dari keadaanku ini? Aku tahu siapa yang tulus dan yang berpura-pura baik kepadaku.”
“Amarilis, kamu salah paham,” kata Rahma, berusaha untuk memberi penjelasan.
__ADS_1
“Aku mau kita mengambil jalan kita masing-masing,” lanjutku, tidak memedulikan ucapannya itu. “Sudah cukup kita saling melukai. Katelia sudah mati, biar dia pergi untuk selamanya. Semua yang kalian ingat tentang dia yang ada pada Amarilis, pura-pura buta saja. Kalian terpaksa berteman denganku, jadi kalian aku bebaskan.”
Aku menatap mereka satu per satu. “Belum terlambat bagi kalian untuk berubah. Jangan tiru aku. Semua yang aku lakukan semasa sekolah sangat buruk, lihatlah akibatnya. Aku berada dalam tubuh orang yang paling aku sakiti dan tidak bisa kembali menjadi diriku lagi.
“Aku kehilangan hidupku, keluargaku, identitasku, tubuhku, ini lebih buruk dari neraka. Aku yang tidak pernah mencari uang sendiri harus bekerja sampai tanganku kapalan.” Aku menunjukkan telapak tanganku kepada mereka. “Jangan sampai hal yang sama terjadi kepada kalian.
“Aku tahu informasi ini sangat mengejutkan kalian. Percayalah, aku juga masih tidak percaya hal ini terjadi kepadaku. Jika ada pertanyaan, aku siap untuk menjawab. Lalu setelah ini, aku mau kita jalani hidup kita masing-masing,” pintaku dengan serius.
Mereka terlalu terguncang dan butuh waktu untuk mencerna informasi yang baru aku sampaikan. Jadi, kami berpisah dan aku menunggu kabar selanjutnya dari mereka. Bebanku terangkat dari kedua pundakku selesai bicara dengan mereka. Aku bahkan bisa dengan tenang menjadi diri sendiri.
Aku tidak bisa menyangkali identitasku selamanya. Ini tubuh Amarilis, tetapi jiwaku adalah Katelia. Untuk apa aku berpura-pura menjadi dia sampai jadi bingung sendiri? Lebih baik aku menjadi diriku sendiri dan mengejar cita-citaku dalam tubuh yang baru. Aku sudah lelah berpura-pura.
Setelah mereka bertiga meninggalkan aku, maka aku juga berjalan menuju ruang kuliahku. Baru saja akan berbelok, seseorang memeluk aku dengan erat. Mengenali aroma kolonyenya, aku tersenyum. Kak Jericho. Aku membalas pelukannya dan membiarkan kasih sayangnya menghangatkan hatiku.
“Apa yang sedang lo lakukan!?” Tiba-tiba saja tubuhku dijauhkan dari Kakak. Aku menoleh dan melihat Theo berdiri di antara kami berdua.
“Apa kamu tidak bisa melihat? Aku memeluk Riris,” kata Kakak dengan nada tidak suka. Dia berusaha untuk menarik aku mendekat, tetapi Theo menghalanginya.
“Sebaiknya jauhkan tangan lo dari dia,” kata Theo dengan tegas.
“Gue akan menghubungi perusahaan yang lo incar supaya mereka tidak memberi kesempatan kepada lo untuk mengikuti audisi,” balasnya dengan serius.
Kakak tertegun sejenak. Matanya yang semula marah perlahan berubah lembut. “Oh. Aku hanya bercanda.” Dia tertawa geli. “Kamu ini serius sekali. Baiklah. Sampai nanti, Ris.” Dia melambaikan tangannya kepadaku dan segera ambil langkah seribu.
Aku mengangakan mulutku, tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Kakak bodohku itu pergi begitu saja hanya karena satu ancaman? Jadi, audisi itu lebih penting baginya daripada membela adiknya dari cowok arogan ini? Benar-benar Kakak yang bodoh!
“Apa lo lupa lo enggak boleh dekat dengan cowok lain?” katanya kepadaku.
“Kak Jericho itu temanku. Apa aku hanya boleh dekat dengan kamu?” ucapku kesal.
Dia terdiam, melihat aku dengan mata sedikit membesar. Lalu sebuah senyuman tersungging pada bibirnya. “Lo harus memilih untuk menjadi salah satu, Amarilis. Lo tidak bisa mengubah-ubah sifat seperti ini. Kemarin lo jadi Amarilis, lalu hari ini menjadi—”
Aku yang kini membulatkan mata mendengar kalimat itu. Aku tahu dia sengaja menggantung kalimat terakhirnya itu. Dia mau menyebut nama Katelia. Bagaimana bisa semua orang tahu aku bukanlah Amarilis? Apakah sifat kami sekentara itu perbedaannya?
“Lo terkejut gue tahu siapa lo?” Dia menyeringai lebar. “Lo sama sekali tidak berakting saat di rumah sakit. Orang lain buta, tidak memahami tingkah lo yang aneh itu. Tetapi gue tahu lo bukan Amarilis saat lo terguncang dengan kematian Katelia.”
Aku mengangguk mengerti. Apa yang dia ucapkan itu benar. Itu adalah waktu yang paling jelas di mana aku bertingkah sebagai Katelia. “Aku seharusnya lega karena orang yang sudah membuat aku susah akhirnya pergi untuk selamanya.”
__ADS_1
“Kasihan lo.” Dia mendekatkan wajahnya, maka aku menjauh. “Bagaimana rasanya menjadi orang yang paling lo benci ini?”
Aku merapatkan bibirku mendengarnya. Seluruh tubuhku gemetar menahan amarah, karena aku tahu dia sengaja mengajukan pertanyaan retorik itu. “Kamu tidak akan mau tahu. Dan aku yakin, kamu tidak akan bisa hidup menjadi orang miskin dan jelek begini,” tantangku.
“Oh, jangan sampai terjadi. Gue enggak mau kehilangan wajah dan tubuh ini,” katanya dengan arogan. “Karena itu, gue enggak mau jahat sama siapa pun. Gue sudah nasihati lo, berhenti ganggu dia. Lo masih saja nekat. Andai lo turuti gue, mungkin ini tidak akan pernah terjadi.”
“Kamu benar-benar suka dengan Amarilis, ya?” tanyaku penuh selidik.
“Jadi, lo benar-benar tidak tahu siapa gue?” Dia balik bertanya sembari mendekatkan dirinya lagi.
Aku kembali mundur hingga punggungku bertemu dinding. “Apa maksud kamu? Tentu saja aku tahu. Kamu Altheo Gunawan yang sangat menjengkelkan, yang merasa paling ganteng sedunia, munafik, sok pintar, dan selalu membuat aku kesal!” jawabku dalam satu tarikan napas.
Dia tersenyum penuh arti, meletakkan tangannya di dinding, lalu menunduk ke arahku. “Lo lupa menyebut nama lengkap gue, Altheo Gunawan Husada.”
“Aku tahu nama lengkapmu. Guru setiap hari menyebutnya setiap kali memeriksa kehadiran kita di kelas,” ucapku tersinggung. “Aku hanya menghemat tenaga sehingga tidak menyebut nama Husada.” Ya, ampun. “Oh. Kamu seorang Husada.”
Seringaiannya semakin lebar. “Bagus, kalau lo sudah mengerti.”
Bagaimana aku bisa tidak menyadari hal itu? Dia berasal dari Jakarta, jauh-jauh melanjutkan SMU di Medan. Aku tidak menganggapnya sebagai sebuah keanehan begitu mengetahui nama keluarganya pada nama belakangnya. Husada adalah nama yang umum, bukan nama yang hanya dipakai oleh keluarga tertentu. Jadi, dia adalah tunangan Kat yang misterius itu?
Tiga tahun sekolah di tempat yang sama, belajar di kelas yang sama, dan aku tidak tahu pemuda yang sering berdebat denganku ini adalah tunanganku sendiri? Aku tidak percaya aku bisa sebodoh itu. Pantas saja dia tahu nomor ponsel Kak Jericho, juga terlihat santai bicara dengannya. Mereka sama sekali tidak terlihat canggung.
“Aku bukan Katelia. Kamu bertunangan dengan dia, bukan aku,” kataku, mengingatkan.
“Siapa bilang kita tunangan?” Dia menyeringai lebar, mengejek aku.
“Lalu untuk apa kita berpacaran? Kamu tahu sendiri mustahil kita bisa bersama, Theo. Orang tuamu tidak akan pernah merestui hubungan kita.”
“Siapa yang bilang kita akan menikah?” ralatnya lagi, membuat aku jengkel.
“Jadi, kita pacaran untuk apa?” ujarku geram.
“Untuk melindungi lo,” pungkasnya tanpa keraguan.
Aku mendengus keras, tidak peduli jika dia menilai responsku itu tidak sopan. “Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku tidak membutuhkan pertolongan siapa pun.”
“Bukan dari orang lain, Amarilis,” katanya, mendadak serius. Aku menelan ludah dengan berat melihat tatapan tanpa emosinya. “Gue melindungi lo dari diri lo sendiri.”
__ADS_1