Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
117|Belajar Mandiri


__ADS_3

~Altheo~


Memasuki semester baru, aku disibukkan dengan tesis dan harus membagi waktu juga dengan urusan restoran. Biasanya aku memeriksa laporan harian pada malam hari, tetapi saat aku muak dengan riset, aku melirik laporan itu dan mendiskusikan dengan manajer jika ada masalah.


Karena restoran selalu ramai pada akhir pekan, aku datang melakukan kunjungan pada dua hari itu. Amarilis bersantai di apartemen bicara dengan keluarga dan temannya, jadi aku bisa tenang pergi ke tempat kerja. Walau jaraknya agak jauh, aku selalu pulang pergi menggunakan sepeda.


Semua karyawan mengenal siapa aku, jadi mereka selalu menyapa setiap kali berpapasan denganku. Pernah ada karyawan yang memandang rendah hanya karena aku orang Asia. Detik itu juga, dia dipecat oleh manajer restoran. Isu kebencian terhadap orang Asia memang masih kental di sini.


Pada hari biasa, aku akan berada di kampus dan lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku ingin sekali bisa pulang bersama Amarilis, tetapi tidak adil meminta dia menunggu aku sampai malam. Jika beruntung pulang lebih cepat, aku sering sekali butuh sesuatu yang ada di perpustakaan. Karena itu, aku memilih pulang malam sekalian.


Ketika sedang lelah, godaan pelukan, ciuman, dan sentuhannya tidak terlalu mengganggu. Aku tidak mengalami reaksi apa pun ketika dia menyambut aku dengan manja di apartemen. Namun ada juga waktunya aku merasakan si junior bereaksi sehingga aku harus mengendalikan diri.


“Sayang.” Mendengar suara mendayunya itu, aku tahu apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.


Aku tidak berhenti mengetik pada laptopku. Kami sedang duduk bersama di sofa karena aku bosan berada di kamar. “Hm.”


“Menurutmu, ini artinya apa?” tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya ke lenganku.


“Tugas pribadi atau kelompok?” Aku terpaksa berhenti mengetik ketika dia memegang tangan kiriku, mengangkat dan melingkarkannya di bahunya. Jadi, dia bisa lebih dekat dan menunjukkan paragraf buku yang sedang dia baca.


“Tugas pribadi, jadi aku hanya punya kamu sebagai teman diskusi.” Dia menatap aku dengan mata memelas. “Bantu aku satu ini saja. Yang lainnya bisa aku kerjakan sendiri.”


Kalau bukan karena kami sedang sibuk kuliah, aku sudah mencium pipinya dan memanjakan dia di sini saat ini juga. Namun aku sayang dia dan mau dia bisa mandiri dengan studinya, sebelumnya juga begitu. Aku tidak bisa selalu ada untuknya menganalisa tugas dari dosen.


“Lo bisa kerjakan yang lain, kenapa hanya satu ini yang tidak? Coba kerjakan sendiri. Kalau enggak bisa juga, baca jurnal yang membahas hal itu. Ada banyak di perpustakaan yang bisa lo akses secara daring.” Aku menatapnya dengan serius.


“Pelit.” Dia mencibir, lalu menjauhkan dirinya dariku.


“Kat,” panggilku. Dia menoleh dengan wajah cemberut, maka aku mencium keningnya dengan sayang. Sebuah senyuman pun mengembang di bibirnya. “Lo pasti bisa.”

__ADS_1


Satu kecupan dan hatinya langsung luluh. Dia duduk menyandarkan punggungnya kepadaku. Aku tidak keberatan walau aku kesulitan mengetik. Asal dia sedang mengerjakan tugasnya, aku tidak masalah sedikit terganggu. Lagi pula, selalu ada waktu untuk membalas dendam.


Laporan Daisy pada hari itu membuat suasana hatiku buruk. Ada satu pria dalam grup diskusinya yang terlihat tidak berhenti memberi perhatian kepada calon istriku. Yang aku takutkan benaran terjadi. Amarilis tidak pernah mau percaya kalau dia wanita yang menarik.


Masa aku harus membungkus dia dan menahannya di apartemen selamanya? Bagaimana kalau dia lanjut kuliah daring saja? Profesornya tidak mungkin mengizinkan. Aku yang hanya konsultasi tesis saja tidak bisa lewat telepon jika dia ada di tempat. Mengesalkan sekali.


Mendeklarasikan hubungan kami sekarang juga bukan solusi. Karyawan bisa saja memosting fotoku bersama Amarilis di media sosial, lalu hubungan kami ketahuan Mama. Dia bisa nekat datang ke sini dan menikahkan aku dengan wanita lain.


Karena itu, aku mau mereka tahu saat kami sudah resmi menikah. Entah bagaimana caranya, hanya itu jalan yang terbaik untuk mencegah Mama memisahkan kami lagi. Aku sebenarnya bisa menjauh dari pengawasan Mama dengan mengganti foto profilku, tetapi aku bertahan. Aku mau dia dan semua orang tahu, Amarilis saja yang pantas jadi istriku.


“Selamat pagi, Pak. Asisten manajer yang baru sudah mendapatkan ruang kerjanya dan ini laporan untuk minggu ini,” kata manajer yang menyambut kedatanganku.


“Baik. Aku akan ada di ruang kerjaku sampai pukul lima sore nanti.” Aku menerima map yang dia sodorkan. Pria itu menundukkan kepalanya lalu meninggalkan aku.


Aku memasuki ruang kerjaku, menutup pintu, meletakkan tas dan berkas di atas meja, lalu duduk. Aku menarik napas panjang, bersiap untuk memeriksa laporan yang sudah menumpuk di sebelah monitor komputer. Hari ini akan sangat panjang.


Papa memercayakan segalanya kepadaku, maka aku harus bisa membuktikan diri selama berada di sini. Aku tahu ini adalah ujian yang akan dia jadikan penilaian di hadapan para pemegang saham pada hari dia menunjuk aku sebagai penggantinya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku tanpa melihat ke arahnya.


“Aku asisten manajer yang baru,” jawabnya riang.


Aku berhenti membaca laporan yang sedang aku buka. “Lain kali ketuk pintu sebelum masuk dan jangan bicara denganku tanpa melewati manajer. Kamu tidak punya urusan denganku.”


“Ada apa denganmu? Papa kita berteman, mengapa kita tidak? Kamu selalu saja bersikap dingin kepadaku. Apa kamu tidak tahu aku semakin tergoda untuk menaklukkan kamu bila kamu terus begini?” Dia berjalan mendekati mejaku.


“Keluar atau aku akan melaporkan perbuatanmu kepada ayahmu,” ancamku.


“Oke, oke. Kamu ini galak sekali.” Dia mundur selangkah. “Usai kerja, makan malam denganku, ya? Aku mau mendiskusikan menu baru untuk Thanksgiving nanti.”

__ADS_1


Aku hanya diam, tidak memberi tanggapan. Dia keluar dari ruangan dan aku menunggu beberapa saat sebelum meletakkan pulpenku dan memutar otak. Sial. Aku percayakan seleksi asisten manajer ini tanpa ikut campur, karena aku pikir aku bisa memercayai manajer itu. Mengapa dia menerima orang yang tidak ada dalam daftar kandidat?


“Ya, Pak?” jawab manajer itu saat aku meneleponnya.


“Urus karyawanmu dengan baik atau aku akan menelepon papaku untuk mencari penggantimu.”


“Maaf, Pak. Apa yang telah terjadi?”  Suaranya terdengar bergetar. Siapa yang tidak akan takut kehilangan pekerjaan setinggi itu dengan bayaran yang bagus?


“Asistenmu memasuki ruanganku tanpa mengetuk dan namanya tidak ada dalam daftar kandidat yang kamu berikan. Apa kamu sedang mempermainkan aku?”


“Ma-maafkan saya, Pak. Pak Willis yang meminta agar saya menerima putrinya mengisi lowongan itu,” lapornya dengan suara memelas. “Tolong, jangan marah, Pak. Saya akan mendidik dia dengan baik agar sopan terhadap Anda.”


Aku pikir aku sudah lepas dari perempuan itu begitu lulus kuliah. Ternyata dia malah bekerja di sini untuk tetap dekat denganku. Gila. Apa yang dia inginkan? Aku tidak lebih kaya dari ayahnya. Aku juga tidak akan menetap di sini selamanya. Mengapa ada saja perempuan seperti Chika?


Tidak mau terganggu dengan kehadirannya di restoran, aku tetap datang setiap akhir pekan untuk melihat langsung setiap karyawan dalam melayani pelanggan. Aku juga memeriksa kualitas bahan makanan dan hasil masakan mereka. Syukurlah, belum pernah ada keluhan dari konsumen.


Begitu mendengar ajakan teman sayangku untuk merayakan Thanksgiving di rumahnya, aku segera menjawab iya. Bisa lepas sejenak dari masalah tesis dan restoran adalah kesempatan yang aku tunggu. Lagi pula, aku mau tahu bagaimana mereka merayakan hari penuh syukur tersebut.


“Aku suka dengan caramu menganalisa bagian ini, Theo. Kamu sudah bisa lanjut ke bab selanjutnya.” Dosenku memberi kabar yang aku tunggu-tunggu.


“Terima kasih banyak, Profesor.” Aku menerima tesisku kembali.


“Datang kapan saja kamu sudah siap dan pastikan tidak ada kesalahan ketik.” Dia meletakkan dua buku tebal di depanku. “Ini buku yang aku janjikan. Silakan dipelajari.”


Aku menelan ludah dengan berat. Kapan lagi aku sempat membacanya? “Baik, Profesor.”


Karena sudah libur akademik menjelang Natal dan Tahun Baru, Amarilis tidak pergi ke kampus. Dia seharian berada di apartemen. Sampai suatu hari dia masuk ke kamarku dan menawarkan bantuan. Tentu saja aku memanfaatkannya dengan meminta dipijat.


Awalnya, dia melakukan hal itu walau terasa aneh. Jelas sekali dia tidak mengerti apa itu memijat. Namun ketika dia berhenti dan mulai memeluk tubuhku, aku kehilangan konsentrasi. Apa yang sedang dia lakukan? Aku pikir dia rindu rumah, ternyata cuma kasihan kepadaku.

__ADS_1


Karena dia menggoda aku dahulu, maka aku membalasnya. Sayangnya, bunyi bel menyelamatkan dia dari kecanggungan. Dia melarang aku berdiri, lalu berlari menuju pintu. Aku tertawa melihat dia salah tingkah. Bagaimana aku tidak tambah sayang kepadanya?


“Siapa yang datang, sayang?” tanyaku melihat dia hanya diam saja melihat layar. Dia menoleh dan menatap aku dengan tajam. Bukannya menjawab, dia langsung pergi menuju kamarnya. Apa lagi salahku sekarang?


__ADS_2