Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
144|Jaga Dirimu


__ADS_3

“Theo.” Aku berhasil membebaskan diri, tetapi dia mênciúm bibirku lagi.


Aku tidak tahu sudah berapa lama kami duduk di sini dengan aku pada pangkuannya dan bêrciúman. Dia bahkan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bernapas sejenak. Namun panggilan untuk nomor penerbangannya sudah diumumkan dua kali.


“Ini hukuman untuk lo yang sudah memaksa gue pulang.” Dia turun mênciúm leherku. “Gue akan hukum lo lebih dari ini, kalau gue dapat laporan lo dekat dengan laki-laki lain.”


Napasku memburu karena ciúmannya. Bagaimana bisa dia tetap bernapas dengan tenang tanpa mengalami kesulitan? “A-aku tidak,” kataku dengan susah payah.


“Lo kalah taruhan, jadi lo harus menuruti semua ucapan gue. Mengerti?” katanya lagi.


Menjengkelkan sekali. Bagaimana bisa aku melupakan taruhan konyol kami pada saat backstreet? Aku menyatakan cinta karena tidak mau dia salah paham denganku. Kalau aku ingat, aku tidak sudi mengucapkan kata itu terlebih dahulu.


“Mengerti?” Dia menggigit leherku.


“Mengerti!” jawabku kesal. Apa dia tidak bisa melihat aku masih berusaha untuk mengatur napasku yang memburu karena ulahnya?


Dia memindahkan aku untuk duduk ke kursi di sebelahnya, lalu berdiri. Setelah merapikan pakaian, dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menerimanya dan kami berjalan menuju gerbang khusus penumpang. Semakin dekat ke tujuan, semakin sesak rasa di dadaku.


“Jaga diri lo baik-baik,” ucapnya, menahan suara tetap normal.


Aku mengangguk pelan. “Kabari aku begitu kamu sampai.”


“Gue mencintai lo, Kat.” Dia membelai pipiku. “Gue serius. Jangan dekat dengan laki-laki lain.”


“Aku juga mencintai kamu. Awas, kalau kamu dekat dengan perempuan lain.” Aku meniru dia.


Dia mencium keningku, lalu berjalan tanpa menoleh lagi. Jantungku berdebar dengan cepat. Cinta kami akan mulai diuji lagi. Hanya satu tahun kembali bersama dan aku harus kuat melihat dia pulang untuk bertunangan dengan wanita pilihan orang tuanya.


Kami sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Juga tidak bisa menebak apa dia akan kembali ke sini untuk bersamaku lagi. Semuanya serba tidak pasti. Namun hubungan kami menjadi lebih baik. Kami sama-sama menyadari kami saling mencintai, lebih dari rasa suka dan sayang.


Walau aku sempat menyesal telah makan siang di restoran itu bersama Meghan, aku kini bersyukur. Aku akhirnya tahu apa jadinya kami tanpa satu sama lain. Aku sudah siap untuk menjalani hubungan penuh perjuangan ini bersama Theo. Dia kembali atau tidak, aku akan setia menunggu di sini.

__ADS_1


“Daisy,” kataku setelah kami sampai di depan apartemen. “Aku mau kamu mengajari aku bela diri.”


Semester tiga pun dimulai, aku melakukan segalanya sendiri. Olahraga, makan, dan pergi ke mana pun tanpa Theo lagi. Pengawalku mengerjakan tugas mereka dengan berusaha untuk tidak terlihat sedang mengawasi aku.


Aku tidak tahu siapa yang memasak, tetapi aku yakin Daisy yang mengantar semua makanan itu ke konter dapur. Aku berbelanja sendiri membeli kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali aku tergoda untuk membeli bahan makanan dan mencoba untuk memasaknya sendiri. Namun aku batalkan. Aku tidak mau jadi penyebab apartemen kebakaran.


Keadaan kampus tidak sama lagi. Orang-orang sudah tidak memandang aku dengan aneh. Mereka sibuk sendiri dengan urusan masing-masing. Aku berjalan dengan santai menuju ruang kuliah. Hanya beberapa kursi yang sudah diisi. Untungnya, kursi di lokasi favoritku masih kosong.


“Pagi, Meghan!” sapaku melihat dia datang.


Dia tersenyum sungkan, lalu duduk di tempat biasa, di sebelahku. Aku mengerutkan kening melihat sikapnya yang aneh itu. “Meghan, kamu baik-baik saja?”


“Ah, I-iya,” jawabnya tanpa melihat ke arahku.


Aku menyentuh tangannya yang sibuk mengeluarkan alat tulisnya. Dia pun berhenti. “Meghan, apa kamu masih merasa bersalah atas kejadian di restoran?” Dia diam. “Meghan, semua orang punya caranya sendiri untuk bertahan hidup. Kamu tidak bersalah.”


“Aku salah, Amarilis. Kalau saja pria itu tidak berhasil dibekuk, kita bisa kena tembak. Aku tidak akan memaafkan diriku yang pengecut ini.” Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Aku punya usul. Apa kamu mau dengar?” tanyaku.


Dia tertegun sejenak, lalu menurunkan tangannya. “Usul apa?”


Mike dan Robert menjaga jarak mereka dariku. Nora hanya tinggal kenangan. Dia menyukai Theo, tetapi aku tidak pernah melihat dia berusaha untuk mendekati pacarku. Dari beberapa pertemuan kami yang tidak disengaja, dia sedang dekat dengan seorang pria. Baguslah.


Meghan menemani aku bertemu dokter gigi usai diskusi, lalu kami pulang ke apartemenku. Aku terkejut dia membawa sebuah kantong belanja. Dia tidak membawanya saat kami kuliah tadi. Dia hanya tersenyum, memberi tas yang ternyata berisi oleh-oleh, lalu mengikuti aku ke ruang olahraga.


Kami berganti pakaian di ruang ganti, kemudian keluar bersama menuju aula. Daisy sudah siap di posisinya. Dia memimpin pemanasan kami, lalu memberi gerakan dasar untuk kami ikuti. Aku sudah beberapa minggu belajar seorang diri. Melihat kondisi Meghan, aku pikir ini akan membantu dia lebih percaya diri dengan kemampuannya.


Jika pada hari biasa aku disibukkan dengan urusan kampus dan melatih fisik, maka pada akhir pekan, aku seorang diri. Usai menyapa Mama dan Bunda lewat panggilan video, aku tidak punya kegiatan apa pun. Membaca buku, aku sedang muak melihat angka dan huruf.


Theo berpesan agar tidak mengirim pesan atau menelepon, kecuali keadaan darurat. Dia tidak mau mamanya menangkap basah dia sedang bicara denganku. Merepotkan sekali. Namun mengingat ini adalah rencanaku sendiri, maka aku tidak bisa marah.

__ADS_1


Ketakutan kami terjadi. Acara pertunangan berjalan dengan lancar, tetapi Theo belum bisa kembali. Meghan sudah ada di sini, sedangkan dia masih di sana, entah melakukan apa. Matt tidak membahas apa pun mengenai hal itu, maka aku tidak bertanya. Padahal aku sangat penasaran.


“Apa yang kamu lakukan dengan berdiri menatap restoran itu?” tanya seseorang dari sisi kananku.


Aku menoleh dan melihat wajah yang tidak asing. “Ah, kamu!” pekikku begitu mengenalinya. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak jadi mati?” Aku melihat ke sekitarnya. “Mana anjingmu?”


“Anak muda zaman sekarang. Apa kalian tidak bisa bicara dengan sopan kepada orang tua?” Dia memicingkan matanya kepadaku.


“Kamu sudah merepotkan aku dan pacarku, menumpang di kabin kami untuk makan dan tinggal gratis, siapa pun akan melupakan etika saat bertemu denganmu,” kataku sengit.


Dia tertawa kecil. “Kalian benar-benar tidak akan memaafkan aku, ya?” Dia memegang lenganku. “Ayo, aku sudah lapar. Kabarnya, makanan di sini enak.”


Karena aku tidak sendirian, maka aku berani memasuki restoran khas Meksiko itu. Aku ingin sekali makan burito buatan mereka yang sangat enak. Aku melihat tempat itu tidak seramai biasanya pada akhir pekan, pasti karena peristiwa penembakan tersebut. Kasihan pemiliknya.


“Kamu sedang ada di sini saat kemalangan itu terjadi, ‘kan?” ucap kakek tua itu setelah pelayan pergi membawa pesanan kami. Aku membulatkan mataku. “Jangan kaget begitu. Beritanya ada setiap hari dan wajah kamu dengan pacarmu itu terlihat jelas di kamera wartawan.”


“Ooo. Jadi karena itu, kamu tahu kami tinggal di sini dan mau minta makan dan tinggal gratis?” Aku menatapnya dengan curiga.


Dia tertawa kecil. “Giliranku yang traktir kamu hari ini. Pesan apa saja yang kamu mau kalau kamu mau tambah makananmu.”


“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.


Dia mengangguk. “Kamu tidak jera datang ke sini setelah kejadian mengerikan itu, maka kamu pasti sangat menyukai tempat ini.”


“Iya. Buritonya sangat enak. Menu lainnya juga, tetapi burito adalah favoritku,” akuku.


“Kalau begitu, datanglah ke sini kapan saja kamu mau memakannya.” Dia meletakkan sebuah kartu di atas meja, lalu menggesernya ke arahku. “Sebagai gantinya, buat ulasan jujur mengenai makanan yang ada di restoran ini di media sosialmu.”


Aku mengambil kartu itu dan membaca nama restoran itu beserta lambangnya, lalu tepat di bagian tengah ada nama Antonio Herrera, Chief Executive Officer, dan nomor yang aku yakin adalah nomor ponsel. Aku memicingkan mataku ke arah pria tua itu.


“Jangan memandang aku seperti itu. Aku anak angkat, makanya wajah seperti orang Amerika Utara, sedangkan namaku Amerika Selatan. Tetapi aku warga negara Amerika asli. Aku lahir dan besar di sini.” Dia membusungkan dadanya.

__ADS_1


“Apa maksudmu? Kamu Antonio Herrera yang di kartu ini?” tanyaku, mengonfirmasi. Dia mengangguk. “Kamu pemilik restoran keren ini?” Dia tersenyum lebar. “Bukannya kamu miskin makanya mau mati??”


__ADS_2