Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
188|Tidak Sederajat


__ADS_3

“Tidak,” jawab Theo ketika aku meminta izin untuk keluar rumah pada siang itu. “Lo tahu sendiri gue yang bawa mobil. Gue enggak izinkan lo naik taksi atau sepeda motor.”


“Ya, sudah. Aku keluar besok saja.” Aku terpaksa mengalah.


“Tidak biasanya Richo mengajak ketemu pada hari Senin. Lo mau apa keluar rumah? Kalau ketemu Sonata, lo pasti izin keluar sore,” katanya penuh selidik.


Aku memutuskan untuk jujur. Toh, pengawalnya akan melapor dengan siapa aku bertemu. “Pak Norman ingin bicara denganku.”


“Tidak,” balasnya dengan cepat. “Untuk apa pria beristri mengajak bertemu perempuan bersuami berdua saja? Kalau dia mau bicara denganmu, dia bisa melakukannya saat kita menghadiri acara yang sama. Tidak perlu janji khusus.”


Bagaimana kami bisa bicara kalau dekat saja tidak boleh? Aku tahu akhirnya akan begini, tetapi aku tidak mungkin tidak bertanya dahulu. Pak Norman tidak mungkin mengajak bicara bila tidak ada hal penting yang mau dia diskusikan denganku. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Chika.


Karena Theo tidak mengizinkan, aku pun menjawab dengan jujur pada pesannya itu. Aku tidak bisa bertemu secara khusus dengannya dan mempersilakan dia membahas apa pun denganku bila kami berjumpa di acara yang kami hadiri bersama.


Pintu ruang kerja diketuk, maka aku mempersilakan masuk. Kepala pelayan memberi tahu ada tamu yang ingin bertemu denganku. Hanya Kakak dan Matt yang mengetahui rumah ini. Keduanya sedang bekerja, maka tidak mungkin mereka yang datang.


Begitu mendengar nama orang yang berniat melewati gerbang, aku mengerutkan kening. Ada apa dia datang ke sini? Bagaimana dia bisa tahu alamat kami? Ah, iya. Apa yang tidak mungkin dilakukan oleh orang kaya raya seperti mereka? Informasi apa pun bisa mereka dapatkan dengan mudah.


“Tante, silakan masuk.” Aku mengajak dia menuju ruang depan.


Tante Ruth berdiri di teras, menunggu sampai aku mempersilakan masuk. Protokol ketat dari Theo. Tidak ada satu tamu pun yang boleh masuk ke rumah tanpa izin kami. Kak Jericho dan Matt pun harus melewati proses yang sama. Bisa saja suamiku sedang marah dengan mereka dan tidak mau melihat wajah mereka di dekatnya.


“Uang dari mana kalian bisa membeli rumah sebesar ini?” tanyanya heran.


“Ah, ceritanya panjang, Tante.” Aku memutuskan untuk tidak berterus terang mengenai itu.


Dia duduk di salah satu sofa, maka aku duduk di seberangnya, dengan meja ada di antara kami. Aku yakin dia tidak akan suka kami duduk di kursi yang sama. Pelayan bergerak sigap dengan menyajikan minuman dan kudapan di hadapan kami, lalu pamit.


“Aku senang melihat Tante sehat,” kataku dengan tulus, mencoba membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Sampai kapan pun aku tidak akan berubah pikiran.” Dia meletakkan tas yang dibawanya ke sofa. “Kamu bersama Theo berpuluh tahun sekalipun, aku tidak akan menerima kamu menjadi menantu. Jadi, daripada kamu membuang waktu, lebih cepat kalian bercerai, lebih baik.”


Aku meneguk teh yang ada di mulutku, lalu meletakkan cangkir dan tatakannya ke meja. “Tante salah orang. Yang seharusnya Tante ajak bicara itu Theo. Dia yang mau menikah denganku, dia juga yang mengurus akta perkawinan kami.”


Dia dan Om Azarya pasti sudah bicara dengan Theo dan dia bergeming. Karena itu, dia menemui aku sebagai jalan terakhir untuk memisahkan kami. Mengapa mereka belum belajar juga? Bukan aku yang memegang peranan penting dalam hubungan kami, tetapi Theo.


Aku pergi darinya pun, dia akan berhasil membawa aku kembali. Aku lebih mudah mengalah jika hal yang aku perjuangkan tidak membuahkan hasil. Theo tidak. Dia akan terus berusaha sampai yang dia inginkan, dia dapatkan. Jadi, mengajak aku bicara adalah hal yang membuang waktunya.


“Kalau kamu tidak genit menggoda dia di apartemen itu, dia tidak mungkin tertarik untuk menikahi kamu,” ujarnya dengan sengit. “Apa kamu pikir aku tidak tahu kamu sengaja jual mahal supaya dia tidak tahan dan menikahi kamu secepat ini?


“Lagi pula, untuk apa perempuan miskin seperti kamu buang-buang waktu kuliah di luar negeri? Setelah lulus, aku perhatikan kamu bersantai ria di rumah. Hanya putraku yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian berdua. Kamu kuliah tinggi-tinggi hanya untuk ini?


“Kamu pasti sengaja, ‘kan, menjadi guru privat Matt.” Dia tertawa terkejut. “Aku tidak menduga aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Kamu sudah memperhitungkan segalanya sampai akhirnya Theo terperangkap pelet, sihir, atau apalah yang membuat dia jadi gila setiap ada kamu.”


“Tante,” aku memotongnya, “jangan lupa Tante ada di mana. Aku menghormati dan menghargai Tante sebagai ibu suamiku, tetapi aku tidak mengizinkan siapa pun menghina aku di rumahku sendiri. Tidak ada pelet di Amerika, Tante. Juga tidak ada sihir yang efeknya permanen.


“Apa Tante lupa siapa yang punya peran besar dengan kedekatan kami?” Dia mengerutkan kening mendengar kalimatku itu. “Tante sendiri yang meminta putra Tante untuk mengantar aku pulang usai mengajar Matt. Apa Tante tidak pernah pikirkan akibat dari seringnya kami bersama?”


Dia tertegun sejenak. Kami mungkin tidak menjadi dekat seandainya saja dia tidak menyuruh Theo mengantar aku pulang. Jika Matt yang mengantar, kami tidak akan punya perasaan apa pun karena bertahun-tahun menjadi gurunya, kami saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak lebih.


Matanya kemudian membulat, dan menatap aku tidak percaya. Dia kini pasti sudah mengerti bahwa proses kami bisa bersama juga ada hubungannya dengannya. Dia sibuk berpikir sendiri, maka aku menunggu sampai dia selesai mencerna informasi yang aku sampaikan.


“I-itu tidak benar. Aku melakukan itu bukan karena aku mendukung hubungan kalian atau mencoba untuk mendekatkan kalian. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu kepadamu karena pulang malam. Kamu jangan memutarbalikkan fakta. Kamu yang menggoda Theo dengan pelet,” tuduhnya.


“Dia tidak pernah tertarik dengan perempuan, tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Jadi, aku tidak khawatir menyuruh dia mengantar kamu pulang. Jangan coba-coba melibatkan aku dalam usaha jahatmu merusak masa depan putraku dan reputasi keluarga kami.” Wajahnya merah padam.


“Tante, sekali lagi. Tante ada di rumahku. Kalau Tante hanya mau menghina aku, silakan keluar.” Aku melirik pintu. Bila dia menilai aku kurang ajar sudah melakukan ini, aku tidak peduli.


“Tinggalkan Theo. Putraku berhak untuk menikah dengan perempuan yang terhormat, yang bisa membuat dia disegani banyak orang. Bukan seperti kamu yang selalu jadi bahan olok-olokan media untuk menjatuhkan reputasinya.” Dia berdiri.

__ADS_1


“Aku beri waktu dua minggu. Jika kamu masih bersikeras membantah, aku tidak akan tinggal diam lagi.” Dia menatap aku dengan serius. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi ceria nan ramahnya, yang dia tunjukkan pada hari pertama kami bertemu.


“Tante tidak perlu menunggu selama satu minggu,” aku ikut berdiri, “aku tidak akan meninggalkan Theo. Selamanya. Silakan Tante lakukan apa saja untuk memisahkan kami. Semua itu hanya akan semakin memperkuat hubungan kami.”


Dia tertawa kecil. “Percaya diri juga kamu. Meremehkan lawan akan membuat kamu kalah sebelum berperang. Aku bukan orang kemarin sore yang tidak tahu kelemahan musuh sebelum mengancam.”


Aku ingin sekali mengembalikan kalimatnya itu kepadanya. Karena dialah yang sedang melakukan tuduhannya itu, meremehkan lawan. Namun aku menahan diri. Biar bagaimana pun, dia adalah ibu mertuaku, ibu kandung suamiku. Aku tidak mau durhaka.


“Ketika kita bertemu pertama kali, Tante sangat baik dan ramah kepadaku. Tante tahu aku miskin sehingga membutuhkan uang tambahan dengan mengajar privat. Tetapi Tante tidak memandang aku sebelah mata.” Aku mencoba untuk membujuk dia.


“Apa aku berubah buruk karena menjalin hubungan dengan Theo? Apa aku tidak layak jadi bagian dari keluarga Tante hanya karena status? Aku bahkan tidak diberi satu kesempatan pun untuk membuktikan aku bisa menjadi menantu Keluarga Husada. Itu tidak adil, Tante.”


Dia tersenyum. “Hidup memang tidak adil.”


Aku merasa bagai dipukul tepat di dada kiriku. Sakit sekali. Hatinya begitu keras sehingga apa pun yang aku katakan, semuanya kembali sia-sia. Dia tersentuh ketika aku membahas tentang awal kedekatanku dengan Theo. Namun dia kembali menutup hati hanya karena aku miskin.


Rencana apa yang sudah dia siapkan sehingga memberi aku waktu dua minggu? Dia sudah menikah selama dua puluh tahun lebih. Mudah sekali dia meminta seorang istri untuk meninggalkan suami yang sudah sah di mata hukum. Apalagi pria itu adalah putranya sendiri. Apa dia tidak melihat Theo bahagia bersamaku? Mengapa yang dia pikirkan hanya reputasi dan status?


Pintu kamar terbuka dan Theo masuk. Namun dia tertegun sejenak melihat aku tidak ada di tempat tidur. Wajahnya berubah panik, lalu mencari aku di sekeliling ruangan. Ekspresi dinginnya itu hanya menunjukkan emosi di saat seperti itu, kehilangan aku.


Bagaimana bisa ada orang tua yang lebih suka melihat anaknya menderita asal bersama wanita yang sederajat dengannya, daripada bahagia bersama perempuan pilihan yang dia cintai? Iya, dunia tidak adil. Namun yang sedang memperlakukan aku tidak adil adalah mereka, bukan dunia.


Dia mendesah lega ketika melihat aku duduk di sofa, lalu wajahnya kembali tanpa ekspresi. “Ada apa? Kenapa lo belum tidur? Lo lupa bergadang enggak baik untuk ibu hàmil?”


Aku berdiri ketika dia sesaat lagi berada di dekatku, lalu memeluk pinggangnya. Aku sudah melewati banyak hal bersamanya. Pelukan ini tidak akan pernah aku lepaskan. Tante Ruth boleh melakukan apa saja yang dia bisa untuk mulai memisahkan kami. Namun Theo akan tetap milikku.



[Bagaimana gue bisa tidur dipeluk terus? 🙄 Sudah, dong, Kat. Hei, Kat. Aduh, mana orangnya sudah pulas. 😒]

__ADS_1


__ADS_2