Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
217|Semakin Kuat


__ADS_3

“Asher! Lihat apa yang om bawa!” Edrick langsung berlari mendekati anak laki-laki yang sedang asyik bermain dengan bonekanya.


“Kelinci!” seru anak berusia tiga tahun itu dengan riang. Dia menoleh ke arah neneknya meminta izin. Ibu mertuaku mengangguk pelan, barulah anak itu menerima pemberian Edrick. “Makasih, Om!”


Sonata menyikut pria itu agar menyingkir. “Kalau yang tante bawa?” Dia tidak mau kalah dengan menunjukkan benda yang dia pegang.


“Panda!” sorak Asher senang.


“Selamat ulang tahun, Asher!” Sahabatku itu memeluk dan mencium pipi montok putraku dengan gemas. Asher tertawa riang, lalu berlari mendekati aku. Padahal Edrick juga mau memeluk dan mencium dia. Sonata tertawa mengejek melihat wajah kecewa pria itu.


Hubungan mereka belum ada perkembangan. Edrick beberapa kali menyatakan cinta, tetapi Sonata menolak. Aku tidak tahu apa yang begitu dia takutkan dari pria itu. Padahal Edrick adalah pria yang baik, sopan, dan sangat sabar terhadapnya. Hanya pada saat ada orang lain mereka bertengkar. Jika sedang berdua, hm, dia sangat romantis. Suamiku saja kalah.


Mungkin Nisa yang menjadi alasan utamanya. Edrick mengaku pernah tergila-gila dengannya, tetapi perasaannya sudah berubah. Sonata punya pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu, jadi dia trauma dan khawatir Edrick akan memilih mantannya suatu hari nanti. Kondisi yang rumit.


Nisa memang sudah tiga tahun ini menghirup udara bebas. Dia beberapa kali menemui Edrick untuk membujuknya kembali, tetapi pria itu bergeming. Sebenarnya, Sonata tidak perlu khawatir. Setelah melihat hidupku yang penuh drama orang ketiga, dia sepertinya tidak mau ambil risiko yang sama.


“Mama! Aku ulang tahun?” tanyanya. Mata lugunya berbinar-binar bahagia.


“Iya, sayang.” Aku mengusap rambutnya.


Theo yang berdiri di sisiku mengangkat dan menggendongnya. “Apa lo mau makan sesuatu? Daging ayam? Ikan filet?”


“Burito,” jawabnya dengan cepat. Kami tertawa mendengarnya.


“Padahal lo enggak memakan menu itu setiap hari selama mengandung dia. Kenapa itu yang jadi makanan favoritnya?” keluh Theo kepadaku.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku, karena aku pun tidak tahu mengapa. “Sebaiknya kita pergi.” Aku melirik jam tanganku. “Kita tidak boleh terlambat.”


Papa menggandeng tangan Mama, sedangkan Edrick dan Sonata berjalan di belakang kami. Theo menggandeng tanganku dengan tangannya yang bebas. Dia berjalan sejajar denganku, sangat sabar dengan keadaanku yang sedang hamil tua. Anak kedua kami sudah siap untuk lahir kapan saja.


Walau hari ini adalah Hari Natal, Kakak sengaja memilihnya agar selalu mengingatnya. Setelah tiga tahun bergelut mengumpulkan modal, mencari rekan bisnis, hingga mengurus izin, Kak Jericho akhirnya membuka agensi modelnya sendiri.


Selagi masih laris, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia selalu mendapat banyak tawaran pekerjaan, tetapi tidak punya cukup teman yang bisa dia rekomendasikan. Maka setelah mempertimbangkan segalanya, aku mengusulkan untuk membuka agensinya sendiri.


“Papa, banyak orang!” sorak Asher melihat kerumunan wartawan di depan gedung tiga lantai itu. Dia sudah terbiasa dengan kamera yang kadang-kadang mengikuti kami saat bepergian. Para wartawan suka sekali membagi wajahnya di media, padahal Theo sudah melarang.


Aku mengenakan topi dan kacamata untuk menyamarkan wajahnya. Dia tertawa riang, membuat kami ikut tergelak. Theo sering sekali tertawa sejak menjadi ayah. Hal positif yang aku sukai darinya. Dia keluar dari mobil terlebih dahulu, barulah dia menolong aku. Untung saja hari masih siang, jadi lampu kilat kamera tidak mengganggu kami.

__ADS_1


Ayah, Bunda, dan kedua kakakku menyambut kedatangan kami. Orang tuaku juga datang, kecuali Hercules. Karena posisinya, dia sudah kesulitan mendapat cuti sebebas sebelumnya. Hal yang sangat disayangkan, karena dia sangat merindukan keponakannya.


Pembawa acara memulai peresmian dan Kakak memotong pita dengan bangga. Kami pun menikmati hiburan yang telah disediakan. Selagi para tamu menyantap makanan, kami sekeluarga berkumpul di ruangan khusus untuk merayakan ulang tahun Asher.


Putra kami itu sangat senang melihat ada begitu banyak kado diberikan kepadanya. Aku bahagia melihat semua orang sayang kepadanya. Semoga perlakuan yang sama juga akan dialami oleh anak kedua kami. Aku mengusap perutku merasakan dia bergerak.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Bunda melihat ke arah tanganku. “Apa kontraksi lagi?”


“Aku baik, Bunda. Hanya menyapa si kecil,” jawabku. Aku tersenyum menerima pelukannya.


“Jangan khawatir. Aku dan mamamu datang untuk membantu kamu melahirkan.”


“Bunda dan Mama tidak membantu aku sama sekali. Kalian menertawai aku.” Aku mencibir, teringat kejadian saat Asher lahir.


Dia tertawa kecil. “Maafkan aku. Soalnya, kamu lucu sekali. Kita sudah banyak berlatih dan membaca banyak informasi seputar melahirkan, kamu masih saja percaya hal yang tidak benar. Masa kamu lebih percaya pada rasa takutmu daripada pengalaman kami?”


“Iya, iya. Aku tidak akan begitu lagi. Semoga saja pengalaman kedua ini tidak sesakit yang pertama.” Aku mengusap perutku, berharap si kecil mendengar permohonan mamanya.


Bunda sangat bahagia karena Kak Nolan juga akan memberinya tambahan cucu pada pertengahan tahun depan. Istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Kak Jericho juga tidak mau kalah. Setelah puas melajang, dia memutuskan untuk menikah pada Hari Valentin tahun berikutnya.


“Aduh.” Aku merasakan sakit pada bagian bawah perutku. “Kontraksinya semakin dekat.”


“Perlu aku panggilkan Theo?” tanya Bunda. Dia melihat ke arah kakiku. “Kètúban kamu pecah.”


Aku terlalu fokus pada rasa sakit sehingga tidak menyadari ada cairan mengalir di salah satu pahaku. Waktunya untuk melahirkan sudah dekat. Theo menyerahkan Asher kepada mamanya sebelum mendekati aku dengan wajah khawatir. Ekspresi yang sudah jarang sekali aku lihat pada wajahnya.


Dokter dan tenaga medis telah siap untuk membantu ketika kami tiba di rumah sakit. Seperti yang aku duga, proses kèlàhiran ini tidak selama yang pertama, tetapi sakitnya tetap luar biasa. Syukurlah, Asher yang biasanya tidak mau jauh dariku tidak protes saat makan dan tidur dengan neneknya.


Belajar dari pengalaman pertama, aku langsung menanyakan jènîs kélàmin bayi itu. Laki-laki. Aku menatap penuh protes ke arah Theo. Dia berjanji anak kedua kami perempuan. Mengapa kami malah memberi adik laki-laki kepada Asher? Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku.


Dia berusaha untuk membujuk aku, tetapi aku menangis sedih. Kami sepakat untuk punya dua anak, jadi dokter akan menutup ràhîmku. Theo tidak mau aku menderita lagi selama kehamilan dan proses persalinan yang menyakitkan. Mengapa nasibku bisa sama dengan Bunda dan Ibu Mertua? Kenapa aku tidak bisa seperti mamaku yang punya anak sepasang?


“Seharusnya yang kecewa itu Theo. Anak perempuan dekat sekali dengan papanya dan hanya akan jadi teman bertengkar mamanya,” goda mamaku. “Kamu beruntung. Tiga pangeranmu akan sangat memanjakan kamu.” Dia mengusap-usap rambutku.


“Terima kasih, ya, Ma. Sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menemani aku.” Aku tersenyum. “Aku malah merepotkan Mama dengan menangis seperti anak-anak.”


“Itu pengaruh hormon. Kami juga mengalaminya.” Mama bertukar pandang dengan Bunda dan Ibu Mertua. Mereka mengangguk setuju.

__ADS_1


“Dia sudah tidur.” Bunda mendekat, lalu mengambil bayiku dari pelukanku. “Punya dua jagoan bukan hal yang buruk. Kamu akan bersyukur memiliki mereka berdua nanti.”


“Bukannya aku tidak bersyukur. Tentu saja aku senang dikaruniai anak-anak. Ada banyak orang di luar sana yang masih berharap dan berusaha untuk memilikinya juga. Aku tidak akan bersikap jahat dengan mengeluh berkepanjangan, tetapi aku juga punya harapan,” kataku pelan.


“Sering sekali, hidup memang berjalan tidak seperti harapan kita,” kata Ibu Mertua penuh arti. “Aku setiap hari bersyukur kamu yang jadi menantuku. Aku tidak bisa bayangkan apa jadinya jika Chika atau Venny yang menikah dengan putraku.”


Aku memahami maksudnya. Chika belum dikaruniai anak sampai hari ini. Aku merasa bersalah sudah bicara kasar kepadanya pada hari pertemuan terakhir kami. Seharusnya, aku tidak membalas kutuk dengan kutukan. Namun aku belajar bahwa Tuhan penentu segalanya, makanya aku bisa tenang.


Venny belum juga menikah, karena perbuatannya terhadap Theo. Orang-orang takut mereka akan ditinggal pada saat susah. Wanita yang malang. Dia menantang suamiku, jadi dia harus menderita begitu. Andai dia tetap jaga jarak setelah mereka putus, Theo tidak akan membongkar CCTV itu.


Mama Theo mengusap rambutku, lalu mencium keningku. “Istirahatlah. Kamu membutuhkannya.”


“Iya, Ma.” Aku tersenyum tipis.


Mereka keluar dari kamar, meninggalkan aku dengan suamiku. Dia duduk di tepi tempat tidur, lalu memegang tanganku. Aku mengangkat dan mencium punggung tangannya. Kami hanya saling pandang sesaat, tidak ada yang bicara.


Aku menoleh ke arah bayi kami yang tidur di boksnya, tepat di sampingku. “Aiden. Nama kita semua berawalan A. Aku tidak menyadari hal itu sebelumnya.”


“Karena lo memanggil gue Theo, jadi lo pikir T adalah huruf awal nama gue,” katanya.


“Benar. Altheo, Amarilis.” Aku tersenyum. “Altheo dan Katelia tidak buruk juga.”


“Seperti yang sudah gue katakan. Gue mencintai jiwa lo, enggak peduli dengan badan lo.”


“Aku juga mencintai kamu. Kita jaga mereka sama-sama, ya?” Aku menoleh ke arahnya. “Jangan khawatir. Aku sayang Aiden, walau harapanku tidak terwujud.”


“Gue tahu.” Dia mendekatkan wajahnya, lalu mènciúm bibirku. “Terima kasih sudah memberi gue dua anak, sayang. Lo hebat.”


Perjalanan hidup kami belum berakhir. Aku tahu akan ada banyak hal yang sudah menanti kami di depan. Namun aku semakin kuat setiap harinya, apalagi aku sudah memiliki dua anak yang masih membutuhkan mama mereka. Aku mau mereka tumbuh menjadi pria yang kuat.


Kuat bukan berarti tidak pernah ditimpa kemalangan. Kuat artinya sanggup menjalani setiap hal yang terjadi di dalam hidup, baik atas pilihan sendiri atau pilihan sikap orang lain terhadap mereka. Kuat artinya menang dalam ujian terberat sekalipun.


Aku kehilangan identitas, hidup, dan keluargaku karena peristiwa nahas itu. Namun aku mendapat identitas, hidup, dan keluarga yang baru. Mereka menjadi sumber kekuatanku untuk percaya diri menghadapi masa depan yang masih penuh dengan tanda tanya. Aku yakin, kami pasti bisa.



[Cara Amarilis mengisi daya supaya tetap kuat. 🤭😆 #peluk_Theo]

__ADS_1


__ADS_2