
~Altheo~
Bagaimana bisa hal sepenting itu luput dari perhatianku? Amarilis trauma dengan danau. Aku lupa Katelia bertukar tubuh dengan Amarilis di danau. Tanpa pikir panjang, aku membawa dia jalan-jalan ke pantai. Apa yang aku pikirkan?
Aku bahkan tidak tahu dia mengkhawatirkan kondisi jiwanya yang ada di tubuh yang salah. Karena aku sudah terbiasa dengan dia sebagai Amarilis, aku tidak pernah terganggu dengan kenyataan dia juga adalah Katelia. Bagiku, mereka adalah orang yang sama.
Hal itu adalah fakta mengerikan ketika aku belum mengingat segalanya. Sampai aku tidak sanggup memanggil atau mendengar dia disebut Kat. Namun setelah ingatanku kembali, aku pun terbiasa lagi dengan dia yang punya dua nama.
Mendengar ketakutannya itu, aku mulai mencari banyak informasi yang ada hubungannya dengan pertukaran tubuh. Namun tidak ada peristiwa serupa yang bisa dibuktikan secara sains bisa terjadi. Apa yang Amarilis dan Katelia alami adalah sebuah keajaiban.
Aku justru lebih takut dengan kejadian nyata. Pênèmbakan yang dilakukan Hillary dan Clara adalah peristiwa yang aku harapkan tidak pernah terjadi. Ketika peristiwa itu berlangsung, aku tidak merasa ketakutan sebesar saat sudah mengingat segalanya.
Dua kejadian besar itu nyaris membuat aku kehilangan Amarilis untuk selamanya. Yang paling mendebarkan adalah ketika dia menghalangi Clara untuk menembak orang tuaku. Aku seharusnya menghukum dia lebih berat dari sekadar mengikatnya di tempat tidur.
“Ada apa?” tanya Matt, membuyarkan lamunanku dengan menepuk bahuku. “Gue panggil dari tadi lo diam saja menatap lurus ke depan. Awas, lo bisa kesurupan.”
Aku melirik jam tangan. “Sudah saatnya bersiap menemani Papa makan malam dengan koleganya.” Aku mengabaikan pertanyaannya itu dan mulai bersiap-siap.
“Apa kabar kakak kesayangan gue?” tanyanya.
“Makin meresahkan,” jawabku jujur.
“Sabar. Dia memang orang yang aktif, tidak bisa diam. Lo mana bisa berharap dia akan duduk saja tanpa melakukan apa pun.” Dia tertawa kecil.
“Dia tergelincir di tangga kemarin. Itu bukan aktif, tetapi ceroboh.” Setelah mejaku rapi kembali, aku memasukkan ponsel ke saku bagian dalam jasku. “Untung saja gue sigap menolong.”
Kalau bukan karena ada panggilan penting mendadak, aku tidak akan meninggalkan dia terlalu lama di kamar. Ada hal yang perlu aku diskusikan dengan manajer restoran di Amerika. Aku juga tidak menyangka pembahasan kami akan memakan waktu begitu lama. Untung saja aku melihat Amarilis tepat waktu. Kalau tidak, aku bisa saja kehilangan dia dan anak kami.
“Serius? Dia tidak biasanya begitu. Aku akan meminta dia untuk berhati-hati. Walau aku belum bertemu dengan keponakanku, aku sudah sayang kepadanya.” Dia membuka pintu dan menunggu aku keluar dahulu.
Aku sudah meminta Daisy untuk selalu bersamanya di dalam rumah, jadi aku tenang meninggalkan Amarilis. Para pelayan sudah punya tugas masing-masing. Karena itu, aku tidak mau membuat satu dari mereka bekerja lebih berat dari yang lain.
Demi menghemat, aku tidak membeli mobil baru untuk keperluanku bekerja. Lagi pula, aku bisa naik sepeda motor kesayanganku. Hal yang aku syukuri, kedua kendaraan yang aku miliki aku beli dengan uangku sendiri. Jadi, Papa dan Mama tidak bisa menyitanya.
__ADS_1
Mereka mengancam akan membekukan semua asetku. Sayang, mereka tidak tahu aku sudah lama tidak menyimpan uang dalam tabungan yang bisa mereka ganggu gugat. Aku membuka tabunganku sendiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Rumah kami sudah lama tidak aku inginkan untuk menjadi rumahku. Aku merelakannya untuk Matt, karena aku tahu aku akan mendapatkan perusahaan. Aset keluarga kami yang lain juga tidak aku harapkan. Apartemen dan vila itu bisa mereka wasriskan juga kepada adikku. Hanya satu yang tidak bisa mereka renggut, seluruh aset perusahaan milik keluarga Husada. Itu milikku kelak.
“Ah, dia lagi,” keluh Matt saat kami memasuki ruang khusus di restoran itu.
Papa sudah tiba dan ada dua orang pria serta seorang wanita bersamanya. Tentu saja dia juga akan makan bersama kami. Mereka sengaja mengatur tempat duduk agar aku dan Venny berhadapan, tetapi Matt menyelamatkan aku dengan duduk di sana. Dia memang sekutu terbaikku.
Acara makan itu tidak menarik lagi bagiku. Jadi, aku tidak berpura-pura mendengarkan mereka. Papa harus berulang kali menyebut namaku karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Untunglah, kolega Papa tidak perlu menjadi rekan bisnisku juga.
Keluarga Venny akan menjadi satu temannya yang aku lepaskan. Mereka tidak akan mau berjuang bersama kami saat perusahaan dapat masalah kelak. Untuk apa mempertahankan hubungan kerja sama dengan rekan yang hanya mau senangnya saja?
“Bagaimana menurutmu, Theo? Ide menu yang Venny sampaikan sangat menarik. Kita bisa mencoba dahulu, jika pelanggan restoran di sini suka, baru kita luncurkan.” Papa menatap aku penuh harap.
“Kenapa hanya pendapat Theo yang ditanya? Bagaimana dengan aku?” sela Matt. Dia memandang kami semua. “Setiap usulan menu baru pasti kami terima dengan tangan terbuka, terlepas siapa pun orang yang mengajukannya. Terima kasih, Venny. Kami akan uji coba di dapur kami.”
“Ah, iya. Terima kasih kembali,” ucap Venny dengan kaku.
Usai menikmati kudapan sambil berbasa-basi, kami pun bersiap pulang. Papa dengan mobilnya, aku dan Matt dengan sepeda motor kami. Walau satu rumah dan kantor, Papa dan Matt kadang harus pergi ke tempat yang berbeda pada jam makan siang. Jadi, lebih praktis membawa kendaraan sendiri.
“Ah, ada masalah dengan ban mobil kami,” ucap papa Venny melihat layar ponselnya.
“Kalau begitu, Om Azarya antar Papa saja. Aku bisa diantar Theo.” Venny melingkarkan tangannya di lenganku. “Boleh, ya, sayang?”
“Lihatlah mereka!” kata ayahnya dengan wajah bahagia. “Serasi sekali.”
“Biar aku saja yang antar,” celetuk Matt. “Theo ke utara, rumahmu di selatan. Kita searah, jadi biar aku yang antar Venny.”
“Kalau begitu, aku permisi. Istriku sudah menunggu di rumah.” Aku melihat kesempatan untuk pamit, maka aku tidak menundanya lagi. Aku melirik Matt, dia tersenyum penuh arti.
Sayangnya, Amarilis sudah pulas di tempat tidur ketika aku sampai di rumah. Kehamilan trimester pertama memang yang paling berat, jadi aku tidak kecewa melihat hal itu. Kami tidak banyak bicara pada malam hari, tetapi aku bisa berinteraksi dengannya sebelum pergi ke kantor.
Dia tidak meminta izin pada pagi harinya, jadi aku tenang dia akan bekerja dari rumah. Melihat dia makan dengan lahap, aku menambahkan telur pada piringnya. Dia menoleh dan tersenyum. Itu saja sudah cukup untuk membuat aku bersemangat bekerja.
__ADS_1
Apalagi saat dia mengantar sampai teras dan memberi aku cîúman yang membuat aku memikirkan dia saja saat di kantor. Kemewahan yang hanya aku dapatkan pada satu tahun pertama pernikahan kami. Karena aku tidak akan menghalangi dia bekerja di luar begitu si kecil cukup umur.
Papa meminta aku untuk memeriksa kondisi restoran utama kami di pusat kota. Maka aku tidak ke kantor tetapi ke rumah makan dahulu. Manajer sudah datang, kelihatan sekali Papa sudah meminta dia untuk bersiap, jadi aku bisa memeriksa laporan yang dianggap mencurigakan.
Tumpukan laporan itu serasa tidak ada habisnya, tetapi aku tidak menemukan apa pun yang aneh. Semuanya selesai menjelang makan siang, maka aku bisa pergi ke kantor. Matt yang akan menemani Papa bertemu dengan koleganya sehubungan dengan proyek baru kami.
“Hai, Theo!” sapa Venny yang duduk di barisan meja dekat koridor kantor.
Tentu saja ini yang Papa rencanakan dengan menyuruh aku memeriksa semua laporan lama. Tidak ada urusan apa pun dengannya, maka aku meneruskan langkah ke pintu keluar. Pelayan membuka pintu untukku, tetapi aku harus menghentikan langkah merasakan tanganku ditahan.
“Hei, lo pasti enggak dengar panggilan gue,” kata perempuan yang tidak tahu malu itu.
Aku menarik tanganku darinya. “Berhenti. Kita sudah tidak punya hubungan apa pun, jadi hentikan ini. Apa lo pikir gue lupa apa yang sudah lo katakan di kamar rumah sakit itu? Lo dan ortu lo sudah mengakhiri hubungan kita. Orang lain mungkin tidak tahu, tetapi sandiwara lo ini enggak akan bisa mengubah fakta kita sudah bukan siapa-siapa.”
“Theo, maafkan aku.” Dia memasang wajah memelas. “Aku tahu aku salah. Aku sangat menyesal sudah menyakiti kamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya.”
“Gue sudah menikah.” Aku mengangkat tangan kananku di mana cincin itu berada.
Dia tersenyum, lalu tertawa kecil. “Hubungan kalian hanya status untuk satu tahun. Apa kamu pikir Om Azarya dan Tante Ruth akan membiarkan kamu dan simpananmu menikah dengan sah?”
Aku tidak membalas dan keluar dari tempat itu. Dia berteriak memanggil namaku tanpa tahu malu, tetapi aku tidak menghentikan langkah. Sudah saatnya bicara dengan Papa. Ini sudah keterlaluan. Apa dia pikir aku hanya memberi ancaman kosong?
Dia belum kembali ketika aku sampai, jadi aku menunggu di ruangannya. Sekretarisnya menyajikan minuman dan kudapan, lalu meninggalkan aku sendiri. Beberapa menit menunggu, Papa datang dengan wajah bahagia. Dia mendesah pelan ketika melihat aku.
“Seharusnya kamu tidak melakukan itu kepada tunanganmu.” Dia mendekati kursi kerjanya.
“Hentikan semua kekonyolan ini, Pa.”
“Aku tidak melanggar kesepakatan apa pun. Venny adalah yang terakhir. Semua orang melakukan kesalahan, tetapi mereka berhak untuk mendapat kesempatan kedua,” katanya dengan santai.
Aku tahu kalimat ini jahat, tetapi aku tidak peduli. “Papa yang tidak pernah bisa memaafkan adik Papa sendiri membicarakan kesempatan kedua?”
“Tutup mulutmu!” Dia menggebrak meja kerjanya dengan keras.
__ADS_1