Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
215|Menguji Nyali


__ADS_3

Aku menatap Theo dengan kecut. Walau dia tidak melihat aku, dia pasti menyadari aku sedang memandangnya. Dia selalu serius dengan kalimat yang dia ucapkan, jadi aku harus berhati-hati. Tujuanku datang ke tempat ini harus berhasil. Aku sudah menunggu selama delapan tahun.


Untuk memberi keberanian kepada diriku sendiri, aku memulainya dengan hal kecil. Setelah sarapan, aku menuju kolam renang hotel. Aku menelan ludah dengan berat saat akan memasuki koridor yang langsung menunjukkan lokasi kolam renang. Aku bisa mendengar suara orang tua kami.


Aku mengintip sedikit, tetapi jantungku berdebar begitu kencang membuat aku gemetar. Aku segera berdiri tegak dan menarik napas panjang. Aku bisa. Aku harus bisa melakukan ini. Setelah beberapa tarikan napas, aku mencoba lagi. Melihat Ayah dan Bunda sedang mengobrol di tepi kolam, aku merasa sedikit tenang. Aku pun berbelok dan melihat air yang begitu banyak di depanku.


Selangkah demi selangkah, jantungku semakin tenang. Kak Nolan dan Kak Jericho yang sedang berenang melambaikan tangan mereka kepadaku. Mereka tidak tahu aku takut air, tetapi aku yakin mereka bisa menebaknya dari sikapku yang selalu menghindari kolam, danau, atau pantai. Padahal ketiga lokasi itu adalah tempat favoritku dahulu.


“Lo hebat, sayang.” Theo mengusap punggungku.


“Iya.” Aku tersenyum lebar. “Aku hebat.” Syukurlah. Aku bisa melalui ini. Mataku memanas melihat aku sudah berdiri di tepi kolam renang dan tidak merasakan takut sedikit pun.


“Kita ke tujuan utama?” tanyanya. Aku mengangguk setuju.


Theo mengabulkan keinginanku untuk merahasiakan rasa takutku itu dari keluarga kami. Jadi, aku hanya butuh dia untuk menemani aku menguji nyaliku sendiri. Aku mau sembuh dari trauma ini. Aku tidak mau selamanya menghindari danau atau pantai.


Untuk mewujudkannya, aku langsung pergi ke tempat di mana segalanya dimulai: Danau Toba. Aku belum berani naik kapal, jadi kami hanya mencari lokasi yang landai agar aku bisa menyusurinya dari tepi jalan. Hal pertama yang harus aku lewati adalah melihat tempat itu.


Theo sudah memberi tahu aku ketika danau bisa dilihat dari jendela mobil. Jantungku mendadak berdebar cepat sehingga aku memejamkan mata. Kami sudah sampai di lokasi yang tepat, tetapi aku baru berani mendengar desiran angin dan deburan ombak di dekatku. Aku belum berani keluar dari mobil. Ternyata menghadapi danau lebih berat daripada kolam renang.


“Kita bisa coba besok kalau lo belum sanggup hari ini,” kata Theo.


Aku segera menggelengkan kepalaku. Ini hanya masalah kecil. Aku tidak mau pulang dari tempat ini dengan sia-sia. Kami mungkin tidak bisa kembali dalam waktu dekat. Aku akan melahirkan dan tidak mau terlihat lemah di depan anakku. Jadi, ini kesempatan emasku.


Aku membuka mataku perlahan, lalu menarik napas panjang. Aku menoleh ke sisi kananku dan disambut dengan pemandangan indah danau dengan airnya yang berkilau terkena cahaya matahari. Mataku memanas bisa menatap tempat itu lagi. Segalanya dimulai dari sini.

__ADS_1


Walau hari sedang cerah, aku bisa mendengar percikan air saat aku terus tenggelam karena tarikan tangan Amarilis. Jantungku berdebar semakin cepat seolah peristiwa itu terulang lagi. Aku menarik napas panjang. Tidak. Itu hanya ketakutanku sendiri. Aku sedang berada di dalam mobil bersama Theo. Aku berada di tempat yang aman.


Begitu tanganku berhenti gemetar, aku meraih kenop pintu dan membukanya. Angin yang sejuk menerpa wajahku. Pelan-pelan saja, Kat. Jangan buru-buru. Kamu punya satu harian untuk berada di tempat ini dan membiasakan dirimu.


Aku membuka mataku dan kembali melihat danau yang indah itu. Aku menurunkan kaki ke jalan dan perlahan berjalan mendekati tepi danau. Air mata jatuh membasahi wajahku. Dadaku terasa sesak setiap kali aku melangkah. Mengapa? Pertanyaan itu tidak berhenti menghantui aku. Kenapa ini terjadi kepadaku? Apa dosaku begitu besar sehingga diberi hukuman seberat ini?


Mungkin sampai akhir nanti aku tidak akan pernah mendapat jawabannya. Aku hanya tahu satu hal. Aku diberi kesempatan kedua untuk melanjutkan hidupku. Amarilis pasti punya banyak impian yang mau dia raih. Namun jalannya terhenti pada malam itu dan hanya aku yang selamat.


“Terima kasih sudah bertahan hidup, sayang.” Theo memeluk aku dari belakang. “Lo enggak akan tahu betapa berterima kasihnya gue memiliki lo sebagai sahabat, teman bertengkar, sekaligus istri gue. Sebentar lagi lo akan jadi ibu dari anak kita. Gue yakin lo akan buat gue lebih bangga lagi nanti.


“Gue enggak tahu apa yang lo pikirkan mengenai diri lo yang sekarang, tetapi gue cinta sama lo. Gue enggak peduli ini tubuh siapa, gue sayang dengan jiwa lo. Karena itu, apa pun yang terjadi dengan badan lo nanti, perasaan gue enggak akan berubah.” Dia mencium kepalaku.


“Jika jiwa lo menjelajahi badan yang lain, lo harus datangi gue. Kalau enggak, gue akan cari lo sampai dapat. Jadi, jangan coba-coba pergi tanpa izin gue, Kat. Gue hanya mau lo yang jadi teman hidup gue.” Aku tidak bisa bicara, tetapi aku mengangguk mendengarnya.


Setelah dia membantu menyeka air mataku, dia menggandeng tanganku untuk berjalan sampai kaki kami menyentuh air danau. Aku melihat ke sekelilingku, juga menatap langit biru dengan awan putih yang menghiasinya. Suara dan bunyi itu hilang. Jantungku berdetak dengan normal dan badanku tidak gemetar lagi. Aku memejamkan mata dan seolah bisa melihat wajah tersenyum Amarilis.


Tugasnya di dunia sudah selesai, maka aku yang melanjutkan tugas yang ditinggalkannya untukku. Aku akan menjaga keluarganya sebaik mungkin. Walau aku tidak bisa membantu dalam hal materi lagi, aku bisa membantu mereka mempromosikan usaha mereka.


Sudah ada dua toko roti dan kue milik mereka yang sangat laris di Medan. Aku melarang mereka untuk membuka cabang di kota lain untuk mempertahankan rasa dan kualitasnya. Bila terlalu banyak toko yang serupa, maka toko utamanya terancam sepi. Lagi pula, roti mereka bisa dijadikan buah tangan. Semoga saja suatu hari nanti akan menjadi oleh-oleh khas dari kota kami.


Satu hal yang paling aku takutkan tidak terjadi. Aku tidak merasakan tubuh ini bukan milikku. Jiwaku sama sekali tidak ada niat untuk pergi. Aku tidak tahu bagaimana aku dan Amarilis bisa bertukar badan, tetapi hari ini aku percaya. Jiwaku sudah menemukan rumahnya.


“Kamu jangan ke mana-mana lagi,” ucap Bunda dengan tatapan serius. “Sudah cukup. Kamu bisa bepergian lagi melakukan apa pun yang kamu mau setelah si kecil cukup umur.”


“Iya, Bunda.” Aku memeluknya dengan erat. “Terima kasih banyak untuk segalanya, ya, Ma. Maaf, aku sudah membuat Mama susah sejak aku lahir. Aku pun akan sangat merepotkan Mama nanti.”

__ADS_1


“Kamu ini bicara apa,” omelnya, tetapi aku bisa mendengar nada haru pada suaranya. “Kamu adalah putriku, sudah tugasmu untuk membuat aku repot. Semua kenakalanmu akan dibalas anakmu.”


Aku tertawa mendengarnya. “Itu pembalasan yang sangat elegan.”


Bunda melepaskan pelukannya. “Kamu pasti bisa. Bekerja sama dengan suamimu. Jangan bertengkar terus. Tidak baik. Sebisa mungkin, jangan lakukan di depan anak.” Dia membelai pipiku.


“Iya, Bunda,” janjiku. Dia memeluk Theo, maka aku mendekati Mama.


“Terima kasih untuk segalanya, Ma. Jaga kesehatan, ya. Jangan terlalu lelah mengurus toko.” Aku memeluknya dengan erat.


“Kamu juga jaga kesehatan. Kami akan datang sebelum si kecil lahir, jadi kamu tidak sendirian.” Dia mengusap-usap punggungku. Aku mengangguk pelan.


Kami pun berpisah. Aku beserta keluarga suamiku kembali ke Jakarta. Keluargaku mengantar kami sampai di bandara, tetapi mereka tidak bisa masuk ke terminal keberangkatan. Theo dan Matt yang mengurus bawaan kami dan melakukan check-in. Aku dan mertuaku bisa duduk menunggu mereka.


Liburan usai, kami kembali pada kesibukan kami masing-masing. Aku semakin ketat menjaga pola makan dan istirahatku. Kami juga menyempatkan untuk ikut senam khusus ibu hàmil, tetapi aku lebih suka berenang di kolam yang tersedia di rumah. Fasilitas yang akhirnya berani aku gunakan.


Memasuki bulan Desember, aku dan Theo selalu saja punya topik untuk diributkan. Kami sepakat untuk berhemat, tetapi dia tidak berhenti berusaha untuk membujuk aku membeli dekorasi Natal, termasuk pohonnya yang tidak murah. Padahal kami hanya menggunakannya setahun sekali.


“Begitu keadaan kita sudah aman, keuangan juga stabil, kamu boleh beli apa pun yang kamu mau. Asal, tidak dengan kartu kredit.” Aku menyandarkan tubuhku kepadanya. Kami sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton siaran berita.


“Lo enggak percaya sama gue. Lo masih khawatir gue akan biarkan lo kehilangan semua ini.”


“Jangan terlena dengan keadaan sekarang, sayang.” Aku melingkarkan kedua tanganku di lengannya. “Aku belajar banyak dari pénèmbakan kedua yang kamu alami di Amerika. Hidup kita sangat rapuh. Jika sesuatu yang buruk terjadi kepadaku atau aku, kita harus memulai dari awal lagi.”


“Kita akan dapat santunan yang besar dari asuransi, Kat. Lo enggak perlu khawatir. Gue bisa berobat dengan tenang, menemui spesialis terbaik karena asuransi. Kalau gue màti, lo sebagai ahli waris gue akan dapat uang santunan yang sangat besar. Jadi, lo enggak perlu khawatir.”

__ADS_1


“Bagaimana aku tidak khawatir?” Aku terisak. “Musuh kita seolah tak ada habisnya.”


__ADS_2