
Kami beberapa kali bercinta, mungkinkah kami terlalu bersemangat sehingga melukai di kecil? Aku benar-benar tidak berani bergerak sehingga membiarkan dia yang membersihkan tubuhku, lalu membantu mengenakan pakaianku. Yang bisa aku lakukan hanya menangis.
Aku benar-benar ketakutan kehilangan bayiku ini. Seharusnya aku menuruti larangan Theo dan tidak menemui Chika atau Nisa yang sudah menolak aku. Kalau sampai janin ini gugur, aku akan merasa sangat bersalah. Aku berulang kali berniat menghubungi Bunda atau Mama, tetapi hatiku kecut. Mereka pasti akan khawatir atau memarahi aku.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak dahulu. Lo hanya akan memperburuk keadaan lo,” tegur Theo. Dia membopong tubuhku keluar dari kamar.
“Bagaimana aku tidak takut? Aku tidak mau kehilangan bayi ini,” isakku.
“Kita enggak akan kehilangan dia.” Theo mencium kepalaku. “Lo harus tenang atau dia benaran pergi. Psikis lo memengaruhi kondisi fisik lo.”
“I-iya.” Dia benar mengenai hal itu. Aku menarik napas panjang dan mencoba untuk menenangkan diri. Bayi kami akan baik-baik saja.
Aku tidak boleh terpengaruh dengan ucapan buruk Chika. Biar saja dia mengatakan apa pun, tetapi aku tidak boleh percaya begitu saja. Tubuhku, aku yang tahu. Bayiku, aku yang jaga. Aku hanya boleh memikirkan hal yang baik agar jauh dari penyakit.
Pengawalnya mengendarai mobil secepat mungkin menuju rumah sakit terdekat. Tiba di depan pintu ruang gawat darurat, Theo keluar terlebih dahulu, kemudian dia membopong aku. Petugas yang berjaga menunjuk dipan yang kosong dan bergegas memberi tindakan.
Aku tidak melepaskan tangan Theo sehingga dia tetap berdiri di sisiku. Dokter memeriksa keadaanku sambil bertanya banyak hal kepadaku, lalu tersenyum sambil melingkarkan stetoskop kembali di lehernya. Namun aku masih tidak tenang melihat ekspresi itu.
“Ibu dan janin baik-baik saja. Ibu hamil mengeluarkan bercak darah adalah hal yang normal. Selama Ibu tidak mengalami sakit yang hebat di punggung, pinggang, dan perut bagian bawah, maka janin Ibu baik-baik saja.” Dia melirik perawat di sebelahnya. “Untuk memastikannya, Ibu akan diantar ke dokter spesialis kandungan. Sehat selalu, ya, Bu.”
Wanita itu tidak berbohong. Si kecil baik-baik saja. Betapa leganya aku ketika dokter spesialis itu membenarkan ucapan dokter di UGD tadi. Aku menggunakan kesempatan bersamanya dengan bertanya mengenai aktivitas ranjang kami. Betapa leganya aku ketika dia meyakinkan bahwa kami tetap bisa melakukannya.
Aku pun berjalan kaki dengan santai, tidak takut lagi akan melukai si kecil. Karena sudah berada di luar hotel, kami menyempatkan untuk jalan-jalan dan makan siang di salah satu cabang restoran milik Keluarga Husada. Para karyawan segera mengenali Theo dan melayani kami dengan ramah.
“Uang yang kamu berikan untukku andai kita bercerai, banyak sekali.” Aku meletakkan kepalaku di lengannya, saat kami duduk menikmati udara sore di balkon. “Apa kamu tidak khawatir aku akan tergoda meninggalkan kamu demi uang?”
__ADS_1
Karena dia tidak merespons, aku pikir dia tidak mendengar kalimat itu. Namun dia menoleh saat aku mengangkat kepalaku, menaruh tangannya di daguku, lalu mênciúm bibirku. Tidak sampai di situ. Dia memeluk aku dengan erat, menahan tubuhku tetap lekat di dadanya. Bibirnya tidak berhenti mênciúm aku yang aku balas dengan senang hati.
Dia berhenti tiba-tiba dan diam menatap aku, sedangkan aku berusaha untuk mengatur napasku yang memburu. Aku masih tidak habis pikir, bagaimana dia bisa melakukan itu? Mengapa hanya aku yang selalu mengalami kesulitan setiap kali kami bérciúman?
“Kalau lo siap kehilangan ini selamanya, silakan tinggalkan gue.” Dia mendekatkan wajahnya. “Dan kalau lo siap melihat wanita lain yang ada di sini bersama gue, silakan ceraikan gue.”
Aku mendengus. “Percaya diri sekali.”
“Waktu gue sakit dan orang tua menolak gue sejak kita menikah, lo pasti sudah meninggalkan gue kalau hanya mengincar harta.” Dia mengangkat kedua alisnya dengan arogan. “Lo ketagihan ciuman gue, makanya bertahan.”
Aku tertawa mendengarnya. “Sayang, itu alasan yang sangat dangkal.” Aku membalas pelukannya. “Aku bertahan, karena aku sayang kamu. Maka aku tidak meninggalkan kamu kelak, juga karena aku sayang kamu. Aku tidak mau menjalani hidup ini tanpa kamu.”
“Bukan karena lo menunggu sampai sepuluh atau dua puluh tahun untuk menggandakan uang ganti rugi yang akan lo terima nanti?” godanya.
“Lo menuntut ilmu jauh-jauh ke Amerika, gue membayarnya dengan mahal, untuk apa semua itu kalau lo tidak menggunakannya demi kebaikan orang banyak? Gue mending enggak habiskan semua tabungan gue jika lo cuma pendam talenta lo itu,” katanya. Aku mencibir. “Kat?”
“Ya?” sahutku.
“Jangan pernah tinggalkan gue,” bisiknya.
“Kamu mengusir aku sekalipun, aku tidak akan pergi,” janjiku.
“Gue enggak akan sanggup mengusir lo. Kalau lo berani meninggalkan gue, pasti gue kejar, lalu gue ikat selamanya,” ancamnya. Dia selalu saja merusak suasana romantis dengan ancamannya.
Kami bersiap untuk pulang pada pagi harinya. Dia yang mengurus barang bawaan kami, sedangkan aku diminta untuk duduk santai saja. Kami sarapan di ruang makan hotel, tidak mendekam dalam kamar lagi. Enaknya berlibur pada hari biasa adalah restoran itu sunyi seolah berada di rumah sendiri.
__ADS_1
Theo masih menikmati kopinya, jadi aku tidak mengajak kembali ke kamar. Aku ingin buang air dan memutuskan untuk melakukannya di toilet umum saja. Dia mengangguk saat aku pamit. Daisy ikut berdiri dan berjalan tidak jauh dariku. Mereka tidak lagi menjaga aku dari jauh, tetapi dari dekat.
“Ternyata dia tidak secantik yang diucapkan Ruth, ya.” Suara dari dalam toilet itu menghentikan langkahku. Apa Ruth yang disebut-sebut itu adalah ibu mertuaku?
“Iya. Dia terlalu berlebihan memuji perempuan miskin itu di akun medsosnya. Kelihatan sekali dia oplas. Masa yang dari plastik begitu dibilang cantik? Theo juga bodohnya minta ampun. Ada banyak wanita cantik alami, dia malah tidak mau lepas dari pelet perempuan kampungan itu,” ujar wanita kedua dengan sinis.
Ah, sepertinya ada yang kecewa putrinya tidak dipilih oleh suamiku. Yang sudah dipilih dengan baik saja tidak bisa memegang ucapannya, apa dia pikir putrinya akan lebih baik? Aku yakin dia akan bertindak sama seperti Venny ketika Theo hilang ingatan dan tidak bisa berjalan, meninggalkannya.
Aku tenang setiap kali mendengar penilaian orang tentang aku hanya seputar penampilan, status, dan kecurigaan mereka aku menggunakan ilmu hitam. Setidaknya, belum ada satu perbuatanku pun yang mencoreng reputasi Husada. Jadi, aku tidak perlu merasa tersinggung.
“Kita lihat saja. Berapa lama mereka akan bertahan. Anak-anak zaman sekarang, ‘kan, hobi kawin cerai. Paling juga pernikahan mereka hanya seumur jagung. Yang sudah lama menikah saja cerai, kok. Apalagi yang awal pernikahannya sudah banyak masalah seperti mereka,” ujar wanita pertama.
Sepatu berhak datarku tidak mengeluarkan bunyi, maka aku menggunakan cara lain agar mereka tahu ada yang datang. “Tunggu di sini saja. Aku hanya sebentar.” Aku melirik Daisy.
Kedua wanita itu berhenti bicara, jadi aku masuk dan mencari pintu bilik yang terbuka. Melihat mereka ada di sebelah kananku, maka aku menoleh, lalu mengangguk seraya tersenyum. Tanpa mengatakan apa pun, mereka saling dorong untuk keluar dari toilet wanita.
Aku pikir mereka adalah orang yang garang. Masa melihat aku saja langsung mundur? Aku segera menyelesaikan urusanku di bilik itu, kemudian kembali kepada suamiku. Ternyata kedua wanita tadi juga sedang sarapan bersama suami mereka. Ada juga satu keluarga yang duduk bersama pada satu meja. Aku tidak melihatnya tadi, mungkin mereka baru datang.
Theo mengajak aku untuk kembali ke kamar, maka aku mengangguk setuju. Aku mengambil tasku, sedangkan dia mengurus koper kami. Setelah check-out dari hotel, kami langsung ke bandara. Aku tidak terkejut melihat mamanya juga ada di rumah, menyambut kepulangan kami.
Barulah pada malam harinya, kami bisa berdua lagi di kamar. Bulan madu tiga hari rasanya belum cukup untuk bermesraan dengannya. Melihat ada koper lain di dekat pintu ruang pakaian, aku mengerutkan kening. Apa kami akan bepergian lagi?
“Hanya gue. Lo di sini saja. Richo bisa marah besar kalau lo cuti lebih lama. Gino pasti sudah sangat kerepotan mengambil alih tugas lo.” Theo melepas pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah mengenakan baju tidur, aku duduk di tepi tempat tidur, menunggu dia selesai mandi. Dia tidak mengatakan apa pun tentang pergi selama kami bulan madu. Jika ini hanya perjalanan dinas, dia pasti sudah cerita. Dia mau pergi ke mana hingga menyembunyikan hal ini sampai kami pulang?
__ADS_1