Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
162|Menghadapi Orang Tua


__ADS_3

Theo melepaskan pelukannya, tetapi satu tangannya tetap ada di bahuku. Dia menoleh ke arah dua orang yang berdiri di depan kami, lalu melihat aku penuh tanya. Tentu saja dia tidak mengenalnya. Sepertinya, kami tidak bisa menutupi penyakitnya dari orang lain lebih lama lagi.


Perempuan itu tertawa terkejut sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Apa aku tidak salah lihat? Kalian kembali bersama?” ejeknya. “Apa Tante Ruth tidak marah melihat kalian berduaan di sini? Oh. Apa kalian berniat kawin lari?”


“Kawin lari?” Aku sengaja menyeka poni dengan tangan kananku, memamerkan cincin kawinku yang sederhana di jari manisku.


Mereka menarik napas terkejut. “Ka-kalian sudah menikah?” tanyanya kaget.


“Mengapa kamu terkejut begitu?” Aku memasang wajah lugu. “Bukankah kamu sudah lama tahu kami saling mencintai? Bagaimana dengan kalian? Apa kalian berpacaran atau melakukan perjalanan dinas bersama?” Tidak ada cincin di jari mereka, maka mereka belum menikah.


Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan pria itu. “Kebetulan kita bertemu di sini. Berikan mereka undangan, sayang.” Pria itu menurut dengan mengeluarkan sebuah undangan tebal dan harum dari tas yang disandangnya.


“Wow, Chika. Kalian akan menikah?” tanyaku terkejut, melihat foto mesra mereka pada sampulnya. “Kalian benar-benar pasangan yang cocok. Aku harap kalian tidak berbuat jahat lagi.” Aku melirik ke arah calon suaminya. “Semoga kalian bahagia, Pak Norman.”


Terdengar pengumuman nomor penerbangan kami. “Ah, itu pesawat kita. Ayo, sayang. Jangan sampai kita ketinggalan penerbangan karena mereka.” Ternyata mereka juga naik penerbangan yang sama. Kebetulan yang luar biasa.


Aku menggeleng pelan melihat mereka pergi mendekati antrian. Chika dan Pak Norman. Luar biasa. Pernikahan mereka pada hari Sabtu nanti. Kedatangan kami ke Medan sangat tepat waktu, walau aku tidak menduga begini cara kami bertemu lagi. Namun mengapa mereka menikah di Medan, tidak di Jakarta?


Theo bertanya siapa kedua orang tadi, maka aku memberi tahunya. Aku melupakan diriku sebagai Katelia dan fokus bercerita tentang Chika dari sisi Amarilis. Aku tidak mau membebani dia dengan hal yang mengejutkan mengenai jiwa Katelia yang ada di tubuh Amarilis. Dia bisa sakit kepala.


Setelah antrian berkurang, kami pun memasuki kabin pesawat. Chika dan Pak Norman pasti duduk di kelas bisnis, jadi kami bersyukur tidak perlu bertemu mereka. Kami duduk di kelas ekonomi dan masuk lewat pintu belakang.


Kami belum punya pemasukan, jadi perlu berhemat dengan setiap pengeluaran. Tabungan Theo nyaris terkuras, sedangkan aku tidak punya banyak simpanan. Dia menatap aku dengan sedih, tetapi aku tersenyum kepadanya. Duduk di kelas ekonomi tidak seburuk itu.


Tiba di Bandara Kualanamu, kami tidak perlu mengambil bagasi. Kami hanya membawa koper kecil berisi pakaian kami untuk beberapa hari saja. Aku tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Bunda dan Mama yang sudah menunggu kami di luar terminal kedatangan.


“Anak durhaka.” Bunda memeluk aku, lalu membiarkan Mama melakukan hal yang sama. “Kamu juga tidak ada bedanya. Berani sekali kalian menipu kami,” kata Bunda kepada Theo.


“Siapa yang menipu Bunda?” kataku, membela diri.


“Lalu apa ini?” Dia mengangkat tangan kananku dan Theo. “Kalian berani menikah diam-diam!”


“Sudah, sayang. Kita bisa memarahi mereka nanti,” lerai Ayah. Dia tersenyum, lalu memeluk aku dengan erat. “Putriku pulang dengan selamat. Itu sudah cukup.”


“Terima kasih, Ayah,” seruku senang.


“Sehat, Nak?” Giliran Papa yang memeluk aku.


“Sehat, Pa,” jawabku sambil membalas pelukannya.


“Ayo, kita pulang. Mereka pasti sudah lapar,” ajak Ayah.

__ADS_1


Satu jam perjalanan, kami pun tiba di rumah Katelia. Theo melihat ke sekelilingnya dengan saksama. Kami membiarkan dia menjelajahi ruang depan dan memperhatikan setiap foto yang ada di dinding maupun bufet. Aku dan orang tuaku menuju ruang duduk dan menikmati camilan.


Aku bercerita dengan jujur mengenai hubungan kami selama di Amerika. Bunda sampai meminta aku untuk bersumpah tidak memberikan tubuhku kepadanya sebelum kami resmi menikah. Aku menurutinya. Barulah dia puas dan terharu mengetahui aku menikah dengan jodohku.


Bunda benar. Aku dan Theo sudah ditetapkan oleh kedua keluarga untuk menikah sejak kami masih muda sekali. Walau aku bukan Katelia lagi secara fisik, jalan kami selalu bertemu sampai akhirnya kami menikah. Semua ini karena kenekatan Theo yang mengajak aku backstreet.


“Masalah kami belum selesai, Bunda. Orang tua Theo tidak merestui hubungan kami,” pungkasku.


Mereka berempat saling bertukar pandang. “Kami bisa membantu,” kata Ayah.


“Tidak sekarang, Ayah.” Aku melihat ke arah pintu. “Kita harus tunggu sampai Theo pulih. Dia bisa jatuh sakit kalau tahu yang sebenarnya.”


“Benar juga.” Ayah mengusap-usap dagunya. “Apa sejauh ini dia sudah mengingat sesuatu?”


“Dia mulai mengingat kejadian terakhir yang dia alami dan beberapa peristiwa kecil. Dia mulai percaya kalau namanya Theo.”


“Bagaimana ingatannya tentang kamu? Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?”


“Dia memperlakukan aku dengan baik, Ayah.”


“Bagus. Karena kalau tidak, dia akan babak belur. Dia berani sekali menikahi anak gadis orang tetapi tidak meminta izin dahulu. Apa dia tidak menghormati kami sebagai orang tuamu?”


“Ayahmu benar. Dia melakukan kesalahan besar dengan mengajak kamu kawin lari tanpa restu kami. Namun mengingat dia sedang amnesia, aku mencoba untuk menoleransi perbuatannya itu. Dia pasti bingung dan tidak mengerti dengan semua alarm di ponselnya itu. Walau dia tetap salah.” Papa menatap aku dengan serius. Ketiga orang tuaku itu mengangguk setuju.


Syukurlah, aku sudah melakukan hal yang benar dengan memberi tahu mereka mengenai hal itu sebelum kami datang. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kepada Theo andai Ayah atau Papa menampar, bahkan meninju wajahnya. Memikirkannya saja sudah membuat pipiku ngilu.


Pintu ruangan diketuk, kami menoleh. Theo membukanya, lalu masuk dengan sopan. Aku bergeser agar dia bisa duduk di sisiku. Keempat orang tuaku hanya diam mengamatinya. Dia justru tenang saja, tidak terlihat terintimidasi dengan sikap semua orang dewasa itu.


“Aku meminta maaf sudah mendengar percakapan papa dan mama semua dari balik pintu. Aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk masuk,” katanya dengan sopan. “Aku juga minta maaf sudah menikahi putri Anda tanpa izin. Bila aku harus dihukum, aku siap menerima konsekuensinya.”


“Kapan kalian akan menikah dengan resmi secara agama?” tanya Ayah tanpa basa-basi.


“Orang tuaku belum memberi restu,” jawab Theo pelan. “Aku bisa saja meminta adik Papa untuk menjadi waliku menggantikan dia, tetapi aku merasa itu tidak etis.”


Ayah mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Ooo. Meminta pamanmu menjadi walimu tidak etis, tetapi menikahi putriku tanpa izin adalah hal yang wajar. Unik juga cara berpikirmu.”


“Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Theo menundukkan kepalanya.


“Ayah, ini bukan hanya kesalahan Theo. Aku juga salah tidak memberi tahu keluarga mengenai rencana pernikahan kami di sana.” Aku membela suamiku. “Ayah jangan marahi dia saja.”


Bunda tertawa kecil. “Tuh, sayang. Apa kamu bisa marah melihat putrimu membela suaminya?” godanya. Pintu diketuk, lalu dibuka. Seorang pelayan masuk, lalu mengangguk ke arah Bunda. “Ya, sudah, kita semua pasti lapar. Makanan sudah siap. Ayo, kita ke ruang makan sekarang.”

__ADS_1


Kami menikmati makanan sambil mengobrol dengan santai. Mereka bertanya kami tentang tempat tinggal kami dan rencana kami ke depan. Karena Theo lebih memilih diam, aku yang menjawabnya. Jika ada pertanyaan tertentu yang ditujukan kepadanya, barulah dia yang bicara.


Setelah makan siang, para pria berkumpul di ruang kerja Ayah, sedangkan aku dan kedua mamaku duduk santai di teras samping. Aku tersenyum melihat tanaman bunganya sedang mekar dengan indah dan terawat. Hasil tangan tukang kebun, tetapi Bunda kadang-kadang melakukannya sendiri.


“Aku benar-benar marah dengan perbuatanmu ini, Kat,” kata Bunda dengan wajah kecewa.


“Bunda,” ucapku dengan nada membujuk.


“Aku tahu pria muda itu gantengnya selangit, tetapi kamu bukan wanita yang mudah buta dengan penampilan luar laki-laki.” Bunda memberikan sepotong bronis kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman termanisku. “Hei, apa ini?” Bunda memegang daguku.


“Lo? Amarilis, kamu dapat uang dari mana?” tanya Mama ikut melihat ke arah mulutku.


“Kamu sudah merawat gigimu selama di sana?” Bunda menatap aku tidak percaya.


“Bagus, ya, Bunda? Ma?” Aku tersenyum bangga. “Theo yang mendahulukan pembayarannya. Aku akan mencicil biayanya sampai lunas setelah bekerja nanti.”


“Aku benar-benar marah sampai tidak melihat kamu sangat cantik sekarang.” Mama memandang aku dengan haru.


“Semua ibu pasti mengatakan putrinya cantik,” godaku.


“Kalau ada yang bilang kamu jelek, dia hanya sirik.” Mama membelai pipiku. “Apa kamu juga masih mengenakan krim dari dokter?”


“Iya, Ma. Terima kasih untuk bantuan kalian berdua.”


“Aku tidak mengeluarkan sepeser pun. Ini semua jasa bundamu.” Mama tersipu.


“Lalu,” Bunda berubah serius, “apa kalian sudah melakukannya?”


Wajahku memanas, memahami maksudnya. “Aku tidak mau membahas ini.”


Mama dan Bunda saling bertukar pandang. “Mereka sudah melakukannya,” pungkas Mama sambil menahan senyum geli.


Mata Bunda berkaca-kaca. “Aku tidak bisa berharap dari kedua kakakmu yang masih betah melajang, tetapi aku akan senang sekali jika kalian segera punya momongan. Apalagi suamimu adalah orang yang berasal dari keluarga terpandang.”


“Bunda, mengapa menangis?” tanyaku bingung. Mama juga ikut heran melihat sikapnya.


“Karena aku bahagia.” Bunda memegang tanganku. “Hal yang aku pikir tidak akan pernah terjadi, justru kamu dapatkan dengan cara ini.”


“Kamu ini bicara apa?” tanya Mama tidak mengerti.


“Kat sering bertanya mengapa kami tidak mengumumkan pertunangannya dengan Theo, aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.” Bunda menundukkan kepalanya. “Sebenarnya, kami sedang bersiap untuk mengakhiri perjodohan mereka. Ada masalah yang tidak bisa kami temukan solusinya.”

__ADS_1


__ADS_2