
“Tenang saja, Amarilis. Kamu silakan mulai bekerja. Aku akan memberikan data yang kamu butuhkan nanti,” kata Mas Norman dengan serius. “Dan kamu, ajari dia dengan baik. Jangan macam-macam.”
“Saya tidak akan macam-macam, Pak,” ucap wanita itu sambil melirik ke sudut kanan atas ruangan. “Kamera itu ada di mana-mana, Bapak pasti tahu kalau saya melawan perintah.”
“Bagus, kalau begitu. Pergilah. Aku masih punya banyak pekerjaan.” Dia kembali menatap layar komputernya dan mengabaikan kami.
Wanita itu mengajak aku keluar, lalu menunjukkan meja kosong untukku. Aku menatapnya terkejut. Aku magang dengan menjadi asistennya? Dia hanya tertawa kecil dan memberikan tugas untuk hari pertamaku. Kelihatannya dia baik, karena dia sangat sabar menuntun aku mengerjakan tugasku.
Atasan kami mengajak aku makan siang di ruangannya dan memberikan sebuah diska lepas. Data yang aku butuhkan ada di dalamnya. Aku sangat berterima kasih kepadanya yang telah membantu aku melanjutkan penelitianku.
Data itu tidak akan aku gunakan seluruhnya, hanya hal yang berhubungan dengan penelitian saja. Nama perusahaan juga tidak akan aku lampirkan, karena aku hanya membandingkan data lama dengan yang baru. Andai hubunganku dengan Tante Ruth baik, Om Azarya pasti mau menolong.
“Siapa yang bernama Amarilis!?” seru seorang pria yang datang ke ruangan kami.
“Ah, selamat pagi, Pak,” ucap sekretaris Mas Norman yang segera berdiri dan menundukkan sedikit tubuhnya. Aku melakukan hal yang sama.
“Apa kamu orangnya?” tanya pria separuh baya itu kepadaku.
“Ah, iya, Pak. Saya Amarilis,” akuku dengan sopan.
Dia menatap aku dengan saksama dari kepala hingga kaki, lalu kembali lagi melihat wajahku. “Kamu terlihat tidak asing. Apa kita pernah bertemu?” Dia mengerutkan kening, mencoba untuk mengingat.
“Ng, saya tidak tahu, Pak,” ucapku bingung. Teringat dengan satu kejadian penting itu, aku pun tahu jawabannya. “Ah, saya pernah bermain biola untuk acara ulang tahun pernikahan Anda dengan Ibu.”
“Oh, iya, iya, iya!” Dia menjentikkan jarinya. “Aku sering melihat kamu juga tampil pada beberapa acara lain. Kamu … kamu kurus. Apa kamu sakit makanya tidak pernah tampil lagi?”
Untuk beberapa saat ke depan, sepertinya aku harus bersabar menjawab pertanyaan yang serupa mengenai berat badanku yang berubah drastis. Terakhir kali tampil di muka umum, berat badanku memang belum seideal ini. Wajar saja banyak yang mengenal aku pangling melihat perubahanku.
“Saya sehat, Pak. Saya bermain biola untuk mencari makan. Setelah mendapatkan beasiswa, saya bisa konsentrasi kuliah. Karena itu, saya tidak bekerja lagi, Pak,” jawabku dengan sopan.
__ADS_1
“Begitu.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kalau kamu yang membutuhkan data itu, aku tidak akan melarang. Tetapi, kamu harus merahasiakan nama perusahaan ini sesuai janjimu.”
“Terima kasih banyak, Pak,” ucapku senang. “Saya janji, saya tidak akan melampirkan nama siapa pun dalam penelitian saya nanti.”
“Ya, sudah. Aku datang untuk memarahi kamu, tetapi istriku suka denganmu. Jadi, aku izinkan kamu untuk menggunakan data kami.” Dia tersenyum, lalu memandang aku dan wanita di sisiku secara bergantian. “Baiklah. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian.”
Pria itu datang dengan wajah merah padam, lalu pergi dengan muka ceria. Pemandangan yang sangat kontras. Aku dan sekretaris Mas Norman saling bertukar pandang sebelum kembali ke tempat duduk kami masing-masing.
Lima hari bekerja di perusahaan itu, aku benar-benar tidak bisa keluar rumah pada hari Sabtu. Ada banyak pakaian yang harus aku cuci, membersihkan kamar, ditambah lagi menyetrika pakaian yang sudah kering, barulah aku bisa beristirahat.
Jadi, ketika Matt datang menjemput aku pada hari Minggu, aku menolak. Namun dia selalu tahu bagaimana membujuk aku agar mau ikut dengannya. Lalu lintas kota sangat padat karena semua orang juga ingin menikmati akhir pekan di tempat hiburan. Untungnya, dia menggunakan sepeda motor sehingga kami tidak terjebak kemacetan.
Sudah lama rasanya aku tidak menonton di bioskop, jadi aku tidak tahu perkembangan film terbaru. Aku membiarkan dia yang memilih filmnya. Kami menunggu dengan makan siang di sebuah restoran kesukaannya. Jalan-jalan seperti ini sangat aku suka, karena tidak melelahkan.
“Kakak ke mana saja? Sibuk banget sedang liburan begini,” tanyanya, memulai percakapan kami.
“Kamu ini aneh sekali. Apa kamu lupa aku magang?” Aku menggeleng pelan.
“Wajar saja dia santai. Dia juga punya kesibukannya sendiri.”
“Ada yang baru.” Dia meletakkan ponselnya di depanku.
Karena layarnya sudah pas dengan posisiku, maka aku bisa melihat hal yang ada pada ponsel dengan jelas. Akun media sosial milik Theo. Yang menarik perhatian adalah foto profilnya. Dia menggunakan foto kami berdua. Foto mesra kami saat di rumah makan.
“Ketuk fotonya, jadi Kakak bisa baca komentar orang-orang,” saran Matt.
Aku menurutinya dan terkejut membaca komentar teratas. Dasar laki-laki tak bermoral! Apa? Siapa perempuan yang menyebut Theo tidak bermoral ini? Aku dan dia berfoto sopan, tidak melakukan apa pun yang melanggar norma kesusilaan, mengapa dia mengetik kalimat sekasar itu?
Komentar lainnya juga tidak kalah kurang ajarnya. Nama mereka asing bagiku, jadi aku tidak kenal siapa mereka. Kalau dilihat dari fotonya, ada yang seusia kami, ada juga yang sebaya orang tua kami. Foto profil diatur publik, jadi yang tidak berteman pun bisa melihat dan merespons. Namun bukan berarti mereka bisa sesukanya mengatai Theo.
__ADS_1
“Eh, jangan, jangan.” Matt mengambil ponselnya kembali dariku. “Kakak tidak boleh membalas komentar mereka. Ini pakai akun gue.”
“Aku tidak berteman dengan Theo di medsos. Sini, biar aku beri mereka pelajaran.” Aku berusaha untuk merebut gadget itu kembali dari tangannya.
“Foto profil, ‘kan, bisa dikomentari siapa saja. Kakak pakai akun sendiri, dong.” Dia memeluk erat ponselnya itu.
“Aku tidak mau mereka tahu siapa aku, lalu berkomentar jahat di akunku.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku. “Dasar orang-orang tidak tahu diri. Memangnya mereka siapa bisa sampai berani mengatai Theo sesadis itu?”
“Gue menunjukkan foto dan komentar ini bukan supaya Kakak balas, tetapi agar Kakak lebih tenang.” Dia tersenyum penuh arti. “Theo mengganti foto profilnya dan memamerkan siapa calon istri yang sebenarnya. Dia tidak peduli dengan komentar orang dan tetap memakai foto itu.”
“Dia tidak perlu menantang orang begini. Apa tidak cukup semua foto yang sudah diposting orang di medsos mereka? Lama-lama aku tidak bisa ke mana-mana tanpa menyembunyikan mukaku.” Aku melihat ke sekitar kami dan baru menyadari ada beberapa orang yang memperhatikan aku.
“Theo hanya mau menepis tuduhan jahat mereka. Kakak adalah calon istrinya, bukan selingkuhan. Kalau Kakak jadi terkenal, anggap saja bonus.” Matt mengedipkan sebelah matanya.
“Lagi pula,” tambahnya, “Chika semakin gencar memamerkan foto mesra mereka. Theo tidak boleh kalah dan harus membalasnya. Ini adalah serangan yang telak.”
Aku tidak pernah tertarik melihat postingan foto Chika, tetapi mendengar cerita Matt, aku tergoda. Usai membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat, aku membuka akun media sosialku dan mencari namanya. Dasar tukang pamer. Dia mengatur publik semua fotonya bersama Theo, jadi siapa pun bisa melihatnya walau tidak berteman dengannya.
Dia rajin sekali membuat postingan pada akhir pekan dan hari-hari tertentu di mana dia makan malam bersama keluarga Theo. Hatiku lega melihat hanya perempuan itu yang tersenyum bahagia, sedangkan Theo cuma cemberut atau memalingkan wajah.
Mungkin ini yang disebut orang dengan kamu bisa memiliki tubuhnya, tetapi tidak dengan hatinya. Chika memang sering berada di sisi Theo, sayangnya, pria muda itu tidak tertarik kepadanya. Dia membalasnya lewat foto profilnya. Orang pun tahu siapa yang memiliki hatinya.
Theo sepertinya tahu aku serius mempertanyakan hubungan kami. Dia mengusir semua keraguanku itu lewat satu tindakan saja, mengubah foto profilnya dengan gambar kami berdua. Postingan apa pun yang Chika unggah, sedekat apa pun pose mereka, aku tidak terpengaruh lagi. Aku percaya hati pacarku hanya untukku.
Aku kembali memulai minggu yang baru dengan bekerja di kantor Mas Norman. Sudah terbiasa dengan ritme kerjaku, sekretarisnya tidak perlu lagi mengajari aku. Dia cukup meletakkan tugasku di atas meja dan aku akan menyelesaikannya.
“Amarilis, Pak Norman menunggu di depan lobi. Kamu diminta untuk turun sekarang,” ucap wanita itu ketika jam makan siang tiba.
Aku menutup kembali bekal yang aku bawa. “Ada apa?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Perintahnya hanya itu. Sebaiknya kamu cepat. Kamu tahu sendiri beliau tidak suka menunggu,” desak wanita itu, mengingatkan.