
~Amarilis~
Tanda jadi? Sejak kapan kami pakai tanda jadi segala? Dia belum membawa aku menemui orang tuanya, maka kami belum benar-benar kembali bersama. Aku mana mau dibohongi laki-laki yang tidak bisa dipegang kata-katanya ini.
Dia hanya diam, menatap kedua mataku. Pandangannya turun ke bibirku, membuat aku spontan mengulumnya. Jantungku perlahan berdebar lebih cepat. Dia kembali melihat mataku. Apa yang sedang dia pikirkan? Dia mendekatkan wajahnya begitu perlahan, maka aku menjauh. Tangannya menahan punggungku, lalu dia mengecup bibirku.
Hanya ciuman singkat yang segera berakhir. Rasanya sangat asing. Berbeda dengan yang aku tonton pada film-film animasi mengenai putri raja. Ciuman itu digambarkan sebagai lambang cinta sejati. Theo tidak mengatakan cinta, melainkan tanda jadi.
Menyadari dia baru saja mencuri ciuman pertamaku, darahku mendidih. Berani sekali dia mencium aku tanpa izin! Namun aku tidak bisa melayangkan tanganku untuk memukul wajahnya. Aku melihat ke arah tangannya yang masih memegang tanganku. Oh. Jadi, ini maksud tindakannya.
“Iya, gue tahu lo pasti akan menampar gue setelah rasa terkejut lo hilang,” akunya, membaca pikiranku. Matanya tidak lepas menatap aku.
“Bicara itu yang jelas dan spesifik. Kamu seharusnya minta izin sebelum mencium aku!” seruku. Aku berusaha menarik tanganku darinya, tetapi tenaganya jauh lebih besar.
“Lo akan jawab tidak,” simpulnya.
“Tentu saja. Karena kita bukan siapa-siapa!” Aku mencoba menarik tanganku dari genggamannya lagi, tetapi aku kalah.
“Lo pacar gue, calon istri gue,” ralatnya dengan serius.
Aku mendengus keras. “Bermimpi saja terus. Aku tidak bilang aku mau jadi pacar kamu, apalagi istri kamu. Lepaskan aku!” sentakku.
“Lo suka sama laki-laki lain?” tanyanya tidak suka. Aku tertawa terkejut mendengarnya. “Kalau begitu, lo suka gue. Simpel.”
“Sejak kapan aku suka sama kamu?” protesku.
“Lo hanya mengajukan satu syarat dan gue menyanggupinya. Lalu apa lagi masalahnya? Gue akan bawa lo ketemu ortu gue besok. Nah, hari ini dan besok tidak ada bedanya. Jadi, lo pacar gue!” pungkasnya, tidak mau dibantah.
Ya, ampun. Apa aku tidak akan pernah menang berdebat dengannya? Setiap alasan yang bisa aku pikirkan, tidak ada satu pun yang masuk logikanya. Dia selalu saja punya jawaban atau sanggahan. Aku tidak boleh menyerah, karena belum saatnya bagi kami untuk berpacaran.
__ADS_1
“Apa kamu tidak lihat apa yang sudah dilakukan mamamu? Dia tidak akan mengizinkan kamu dan aku bersama, Theo. Aku menyampaikan syarat itu sebelum aku tahu dia akan bertindak seekstrem ini. Kamu sudah tahu mimpiku, aku hanya mau fokus meraih semua itu.”
“Gue enggak akan halangi lo melakukan apa pun yang lo mau dan suka. Tidak banyak laki-laki di luar sana yang akan membebaskan pacarnya berbuat semaunya, kecuali selingkuh dengan yang lain. Lo akan bahagia hanya bersama gue, Amarilis,” paparnya.
“Anak manja seperti kamu tahu apa tentang bahagia? Kamu hidup mewah, punya pakaian, makanan, mau kuliah di mana pun bisa. Orang seperti kamu menjanjikan hidup bahagia kepadaku?” tuturku tidak percaya. “Katelia akan percaya kepadamu, tidak dengan Amarilis.”
“Jadi, lo takut gue akan diam saja melihat ortu gue menyakiti lo?” simpulnya dengan tepat.
“Kamu diam saja saat mamamu memesan jasa orang lain untuk mengantar aku pulang,” cercaku.
“Itu adalah haknya karena kamu adalah guru privat anaknya. Toh, kamu juga awalnya tidak suka bila aku atau sopir kami yang mengantar pulang. Lalu apa masalahnya?” balasnya, masuk akal.
Sayangnya, dia berkata benar. Tante Ruth adalah bosku dalam hal ini. Tentu saja dia berhak untuk memilih siapa yang mengantar aku pulang. Lagi pula, dia tidak melakukan hal buruk. Dia mengirim orang untuk menjaga keselamatanku, bukan orang sembarangan yang mungkin berniat buruk. Dia bisa melihat aku diantar ke alamat tujuan lewat aplikasi pada ponselnya.
Ditambah lagi, aku dan Theo tidak punya hubungan apa pun pada saat itu. Aku yang meminta putus dan mengajukan satu syarat yang berat. Jadi, untuk apa Theo menegur atau membantah mamanya dengan tetap mengantar aku pulang seperti biasanya?
Sial. Aku kehabisan kata-kata.
“Theo—” Cincin mahal itu mendadak terasa berat di jariku.
Dia tidak main-main. Dia serius dengan niatnya berbaikan denganku, bahkan memilih aku menjadi calon istrinya. Namun aku belum siap sekarang. Mengingat siapa kedua orang tuanya, aku kecut membayangkan hal yang akan mereka lakukan untuk memisahkan kami.
Aku punya studi yang harus aku selesaikan dahulu. Mereka bisa saja menghalangi aku menyelesaikan kuliahku tepat waktu jika aku tetap nekat dekat dengan putra mereka. Semua kerja kerasku selama tiga semester ini akan berakhir sia-sia. Bagaimana cara memberi tahu dia ketakutanku ini?
“Lo mau istirahat, ‘kan? Gue antar.” Dia berdiri, lalu mengajak aku mengikutinya.
Hanya begitu saja, tidak ada basa-basi dan kami berbaikan. Ah, iya. Dia juga mengecup bibirku tanpa izin sebagai tanda jadian kami. Aku tidak tahu apa yang ada dalam kepalanya. Apa dia pikir orang tuanya tidak akan berang begitu tahu aku adalah pacarnya?
Gara-gara dia, aku tidak bisa tidur semalaman. Aku juga yang bodoh. Aku pikir syarat itu cukup berat dan mustahil baginya untuk memenuhinya sekarang. Heran, apa yang sudah Chika lakukan sampai dia jadi nekat begini? Matt juga sangat kesal dibuatnya.
__ADS_1
Atas permintaannya, aku mengenakan pakaian berwarna ungu muda yang kebetulan bisa disiasati dengan tali pinggang. Aku tidak punya baju yang cocok dengan ukuran tubuhku sekarang. Aku sudah turun satu nomor lagi, berat idealku.
Dia hanya tersenyum tipis melihat keadaanku pada sore itu. Kami menuju sebuah salon dan dia meminta pegawainya untuk memberi penampilan yang terbaik untukku. Aku benci cermin. Wajah tidak sempurna Amarilis hanya membuat aku meringis.
Mereka tidak mendandani aku secara berlebihan, tetapi jerawatku tertutup sempurna. Rambutku dibiarkan tergerai dan hanya diberi jepitan pada satu sisinya. Aku hampir meneteskan air mata melihat penampilanku yang hanya sementara ini.
Sabar, Amarilis. Begitu kita berhasil mengumpulkan uang yang banyak, kita akan mulai satu per satu memperbaiki penampilan kita. Cermin akan jadi sahabat baik kita lagi. Ah, cermin hanya teman bagi Katelia dahulu. Amarilis pasti rendah diri melihat bayangan dirinya karena sering aku jahati.
“Lo sudah siap?” tanya Theo.
“Mengapa kita ke sini?” Aku melihat ke sekeliling kami dengan bingung.
“Gue enggak mau pekerja di rumah mendengar pertengkaran kami,” akunya.
Aku menelan ludah dengan berat. Dia membawa aku ke sebuah restoran. Bukan rumah makan biasa, tetapi milik keluarganya. Salah satu usaha yang mereka miliki dengan cabang yang tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga sudah merambah ke luar negeri.
Meski aku memakai sepatu berhak rendah, aku berjalan layaknya perempuan yang baru pertama kali mengenakan sepatu berhak tinggi. Theo hanya tersenyum simpul melihat aku gugup. Apa dia tidak merasakan hal yang sama? Orang tuanya akan sangat marah mendengar pengakuannya nanti.
Semakin dekat jarak kami dari ruangan yang dia tuju, semakin kecut hatiku. Jantungku berdebar begitu kencang hingga dadaku terasa kian sesak. Belum lagi telapak tanganku terasa lembap dalam genggamannya. Aku menghentikan langkah, memaksa dia untuk mengikuti gerakanku.
“A-aku tidak yakin aku bisa melakukan ini,” akuku. Tekanan yang aku rasakan sangat besar. Aku tidak siap untuk menerima amarah orang yang sudah sangat baik kepadaku selama ini.
“Semuanya akan baik-baik saja, Amarilis.” Theo meraih tanganku yang bebas, lalu menatap aku dengan serius. “Gue enggak akan meninggalkan lo menghadapi mereka sendiri. Lo cukup berdiri di samping gue, tidak perlu bicara atau melakukan apa pun. Biar gue yang hadapi. Oke?”
“Tetap saja aku ketakutan, Theo. Mama kamu orang yang baik, tetapi sangat menyeramkan saat marah.” Aku teringat betapa kerasnya teriakan dia saat memanggil Matt atau mengomelinya.
“Jadi, lo mundur, nih, ceritanya?” tanyanya pelan. “Gue sudah menepati janji, lalu lo ingkar begitu saja? Jangan lupa, lo Katelia, bukan Amarilis. Kalau lo lemah menghadapi calon mertua, bagaimana nanti saat lo menghadapi atasan galak?”
Benar juga. Masa aku menyerah semudah ini? Lagi pula, aku yang mengajukan syarat, mengapa aku yang ketakutan sekarang? Theo berjanji akan menghadapi orang tuanya sendiri, aku hanya perlu berdiri di sisinya. Itu hal yang gampang, kok. Iya, ‘kan?
__ADS_1
Lagi pula, kalau mereka mencoba menghancurkan aku lewat studi atau keluargaku, Theo tidak akan membiarkan aku berjuang sendiri. Iya, ‘kan? Ada Kak Jericho dan Matt juga yang aku percaya tidak akan tinggal diam melihat aku berada dalam kesulitan. Kami memang hanya orang muda yang tidak punya pengalaman sebanyak orang tua Theo, tetapi kalau kami bersatu, kami bisa kuat. Iya, ‘kan?
“Baiklah.” Aku menghela napas panjang, menghimpun keberanian. Apa yang akan terjadi nanti akan aku hadapi tanpa gentar. Theo benar. Aku adalah Katelia, bukan Amarilis. “Ayo.”