Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
212|Menuntut Hak


__ADS_3

~Amarilis~


Aku baru merasa lega dan bahagia sebentar, selalu saja ada masalah baru yang timbul. Apa aku tidak akan bisa hidup tenang lagi seperti dahulu? Hidupnya berkurang satu tahun jika tidak lebih karena peristiwa buruk yang menimpa Theo. Aku pikir aku kehilangan dia untuk selamanya.


Antonio dan Meghan sampai kehabisan akal menenangkan aku yang histeris melihat kondisi mobil sahabat kami yang dia gunakan ke pengadilan. Karena itu, aku percaya tidak percaya dia pulang dalam keadaan selamat. Lelah menangis dan khawatir, aku pun pulas ada dalam pelukannya.


Satu bulan itu kami jalani dengan tenang, walau aku tahu dia dan aku sama khawatirnya. Melihat mobil polisi masih berjaga di pekarangan rumah Antonio adalah pengingat bahwa keadaan kami belum aman. Mereka akan terus mengawasi tempat tinggal kami sampai penjahat yang buron itu berhasil ditangkap.


Ketika teman Clara itu dan gerombolannya ditahan pihak yang berwajib, kami masih dilindungi polisi. Musnah sudah harapanku bisa hidup tenang dan nyaman di negara ini sampai kami pulang nanti. Aku berusaha untuk menikmati hari-hariku demi pertumbuhan si kecil.


Baru saja tenang sesaat usai memberi kesaksian dalam persidangan, kami disambut keadaan yang kurang menyenangkan di rumah Antonio. Kami tidak bisa masuk dengan mobil, maka kami turun dan para petugas menolong membuka jalan sampai kami masuk ke pekarangan rumah.


Melihat ada mobil ambulans, jantungku berdetak semakin cepat. Antonio. Hanya nama itu yang ada di kepalaku. Kalau sampai dia terluka, aku akan merasa bersalah. Dia tidak akan mengalami ini jika bukan karena menerima kami tinggal di rumahnya.


“Pelan-pelan. Ingat dengan kandunganmu.” Theo yang memegang tanganku, menahan aku agar tidak mempercepat langkah memasuki rumah.


“Oh, Tuhan.” Aku terkejut melihat bércak dàrah di lantai.


Tenaga medis mengerumuni seseorang sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Dilihat dari jumlah kerumunan, sepertinya ada dua orang yang térluka parah. Aku tidak bisa melihat siapa yang sedang mereka tangani. Theo memeluk pinggangku, lalu menarik aku menjauh dari mereka.


“Dia tidak apa-apa,” kata Theo. Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang menatap seseorang, maka aku mengikuti pandangan matanya.


Pria yang aku cari sedang duduk di sebuah kursi dengan Buddy berbaring di dekat kakinya. Seorang polisi sedang bicara dengan serius dengannya. Theo benar. Dia baik-baik saja. Tidak ada seorang perawat yang sedang memeriksa tubuhnya.


Aku mendesah lega dan menunggu sampai polisi itu selesai dengannya. Mama berdiri di sisiku, ikut mendesah lega. Papa mengajak kami untuk menyingkir agar tidak menghalangi orang-orang yang sedang mengerjakan tugas mereka.


Kami memasuki ruang keluarga dan duduk menunggu. Pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman untuk kami. Melihat dia menangis, Mama mencoba untuk menghiburnya. Akhirnya, kami pun tahu bahwa salah satu anak asuh Antonio datang menuntut warisan.

__ADS_1


Karena tidak ada lagi polisi yang berjaga, dia menggunakan kesempatan ini untuk menemui Antonio. Bukannya bicara baik-baik, dia malah menembak kepala pelayan dan seorang pelayan lain yang datang untuk memeriksa apa yang terjadi. Antonio bersembunyi di ruang rahasia, begitu juga dengan pelayan yang lain sampai bantuan datang.


Pria itu membakar kamar Antonio, tetapi àpi sudah dijinakkan. Pantas saja ada mobil pemadam kebakaran di depan pagar. Suasana tadi pasti sangat kacau. Tidak mengherankan ada kerumunan orang dan media yang ingin tahu apa yang terjadi.


“Ada-ada saja,” kata Papa setelah pelayan itu keluar ruangan. “Mana ada hak anak asuh mendapat warisan. Anak angkat saja tidak bisa menuntut, apalagi anak asuh.”


“Mungkin ada yang menghasut dia sehingga nekat begini,” timpal Mama yang duduk di samping Papa. Dia memberikan secangkir kopi kepada suaminya itu. “Masih ada saja orang malah yang tidak mau bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.”


“Setidaknya, dia enggak perlu khawatir tentang tempat tinggal dan makanan. Semua itu akan dia dapatkan di penjara,” ujar Matt. “Semoga saja dia membusuk di penjara karena sudah menembak dua orang yang tidak bersalah.”


Antonio dan Buddy bergabung bersama kami setelah semua orang pergi. Kedua pelayannya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Pria yang menjadi pelaku utama insiden itu langsung ditahan di kantor polisi. Namun hidup kami belum tenang. Polisi masih akan berjaga kali ini untuk dua alasan, kami dan Antonio.


“Dia tahu rencanamu,” kata Theo kepada Antonio. Pria itu mengangguk pelan. “Aku sudah bilang hati-hati. Kalau sampai mereka mengincar istriku, kamu harus tanggung jawab.”


“Mereka tidak akan menyakiti istrimu, melainkan aku. Lihat saja apa yang terjadi hari ini. Yang dia datangi aku, bukan kalian.” Antonio mengusap-usap kepala Buddy yang siaga di sisinya.


Antonio tersenyum. “Sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Baiklah.” Dia menatap aku dengan serius. “Amarilis, ada hal penting yang perlu aku beri tahukan kepadamu. Aku harap kamu tidak akan menolaknya, karena ini tidak ada apa-apanya dibandingkan yang sudah kamu lakukan untuk menyelamatkan aku.”


“Kita sudah bahas ini, Antonio. Kamu sudah memberi terlalu banyak,” kataku, mengingatkan.


“Kita bertemu pada hari itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku tidak punya ahli waris adalah sebuah pertanda.” Dia menegakkan duduknya. “Aku berencana untuk menjual seluruh asetku. Sudah ada beberapa pembeli yang tertarik. Mereka bahkan tidak keberatan dengan syarat yang aku ajukan.


“Profit salah satu cabang restoranku, yang menjadi langgananmu itu, akan menjadi milikmu seumur hidupmu. Uangnya akan dikirim langsung ke rekeningmu. Beberapa bulan terakhir, aku mengirimnya ke rekening Theo agar kamu tidak terkejut.


“Namun begitu kamu meninggal, maka profit restoran itu kembali kepada pemilik sahnya. Aku tidak akan meneruskannya kepada anak atau cucumu, karena kamu yang berjasa terhadap aku, bukan mereka.” Antonio memasang wajah memelas.


Aku yakin dia tahu aku akan menolak. “Antonio, itu—”

__ADS_1


“Aku mohon,” pintanya. “Pria tua ini tidak akan hidup tenang jika dia tidak membalas nyawa dengan nyawa. Kamu dan Theo telah menyelamatkan hidupku. Ini adalah ucapan terima kasihku.”


“Terima saja, Kak. Apa salahnya? Antonio benar. Kalau Kakak tidak menolong dia, maka semua ini akan menjadi sumber keributan antara anak asuhnya. Kakak bukan hanya menyelamatkan nyawa Antonio, tetapi juga mencegah perang saudara,” lerai Matt.


“Dia benar sekali.” Antonio menepuk tangannya.


Aku bisa bilang apa lagi? “Baiklah. Terima kasih banyak, Antonio. Aku mengerti sekarang mengapa suamiku santai saja dengan keadaan keuangan kami yang seret. Ternyata ada sumber dana yang dia rahasiakan dariku.” Aku menatap Theo penuh arti, tetapi dia hanya melihat ke arah lain.


Antonio tertawa kecil. “Jangan marahi dia. Dia sudah mendesak aku untuk segera bicara denganmu. Aku yang meminta dia untuk merahasiakannya.”


Percakapan itu membuat suasana hati kami lebih baik. Walau baru saja ada kejadian buruk yang nyaris merenggut nyawanya, aku senang melihat dia tertawa lagi. Orang setua dan sebaik dia, tidak pantas menjalani masa tuanya dengan khawatir dan takut. Seharusnya dia banyak tertawa.


Anak asuhnya itu sangat bodoh dan berpikiran pendek. Jika dia begitu ingin mendapatkan harta milik Antonio, mengapa dia tidak ada di sisinya ketika dia sedang terpuruk? Aku hanya orang asing, tetapi dia tidak berhenti memberi aku begitu banyak hal sejak aku dan Theo menolongnya.


Mendengar Antonio memberi profit satu cabang restorannya kepadaku, bukannya bersikap baik, dia malah berniat untuk menyakitinya. Apa yang ada di dalam kepala pria bodoh itu? Menyakiti dua orang, dia akan dipenjara untuk waktu yang lama. Benar-benar bodoh.


Hari-hari membosankan tanpa pekerjaan pun dimulai lagi. Aku berolahraga pada pagi hari, makan, lalu belajar banyak hal bagaimana menjadi seorang ibu bersama Mama, makan lagi, berbincang mengenai banyak hal dengan Antonio, lalu istirahat. Kadang-kadang, aku dan Theo mendiskusikan tentang pekerjaannya atau hal acak yang melintas di pikiran kami. Aku merindukan pekerjaanku.


Kakak tidak memberi gaji karena aku total tidak bekerja selama satu bulan yang lalu dan satu bulan berikutnya, aku masih di Amerika. Bagianku diberikan kepada Gino. Itu lebih adil. Jadi, dia tidak bekerja secara gratis menjawab semua telepon dan membalas pesan itu.


Untungnya, jadwal sidang Clara berjalan lancar sesuai jadwal. Kepulangan kami sudah di depan mata. Aku tidak sabar lagi untuk pergi ke dokter kandungan dan melihat keadaan si kecil. Aku tidak mau ambil risiko bepergian keluar rumah Antonio. Polisi masih berjaga, maka kami masih dalam bahaya.


“Meghan akan mengantar beberapa oleh-oleh titipan dosenku besok. Apa kamu mau pesan sesuatu, sayang?” tanyaku kepada Theo. Aku menyempatkan membawa cendera mata dari Indonesia dan memberikan kepada Meghan untuk dibagikan kepada dosen kami. Jadi, mereka tahu kepulanganku dan ingin membalas pemberianku tersebut.


“Tidak, terima kasih.” Dia begitu fokus melihat layar ponselnya.


“Serius sekali.” Aku mendekatkan wajahku agar bisa mengintip layarnya. “Kamu sedang melihat apa?”

__ADS_1



__ADS_2