
“Gue enggak percaya mereka melakukan ini.” Theo mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung. Siapa yang dia maksudkan dengan mereka?
Aku menunggu dengan jantung berdebar-debar, berharap Theo bisa segera mengatasi masalah ini. Aku tidak punya kenalan di kedutaan atau kantor pemerintahan mana pun. Jadi, tidak ada yang akan bisa aku mintai tolong. Aku melihat Matt sedang bicara dengan seseorang di ponselnya.
“Sial. Dia sengaja tidak menjawab panggilan dariku.” Theo menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu memeriksa entah apa di alat komunikasi itu.
“Ibu Josepha,” panggil petugas itu lagi. Aku menoleh kepadanya. “Antrian semakin panjang. Ibu sebaiknya mengikuti rekan saya ke kantor kami.”
Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya. Ada banyak petugas lain yang berjaga di konter mereka. Dia menakuti aku saja. Lagi pula, antrian semakin panjang karena ada penerbangan yang akan lepas landas dalam waktu dekat. Bukan karena aku menunggu kedua orang terdekatku menolong aku.
“Sebentar. Ada yang mau bicara denganmu.” Matt mengulurkan ponselnya kepada petugas itu.
“Maaf, Pak. Kami tidak menerima telepon dari siapa pun. Kamu tidak bermaksud mengancam petugas, ‘kan? Kalau kalian tidak menurut, kami justru semakin curiga,” kata pria itu mulai marah.
“Matt, sebaiknya kamu jangan—” Aku berusaha untuk melerai. Aku hanya ingin pulang dan tidak mau punya masalah di negeri orang.
“Kalian berdua ke ruanganku sekarang dan biarkan wanita itu lewat.” Terdengar suara seorang pria lewat pengeras suara ponsel Matt.
Mereka berdua tertegun sejenak sebelum wajah mereka memucat. Petugas itu akhirnya memberi stempel pada pasporku dan mengembalikannya. Seorang pria lain datang dan duduk menggantikan dia melayani di konter itu. Aku bengong melihat perubahan sikap mereka yang secepat kilat.
Petugas baru itu mempersilakan aku untuk maju agar dia bisa melayani penumpang selanjutnya. Kedua rekannya yang menahan aku itu terburu-buru pergi ke bagian dalam koridor. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Theo menggandeng tanganku dan Matt berjalan di belakang kami menuju ruang tunggu. Jantungku masih berdetak sangat cepat walau masalah itu sudah teratasi. Menakutkan sekali. Kalau aku sampai tertahan di sini, tiket pesawatku bisa hangus. Itu uang yang sangat banyak bagi Theo.
“Lo enggak apa-apa?” tanya Theo. Aku mengangguk dengan cepat. Dia merangkul bahuku, lalu mengecup kepalaku. “Kita pasti pulang. Jangan khawatir.”
__ADS_1
Kami melewati pemeriksaan barang terakhir, barulah bisa duduk di ruangan besar itu. Ada banyak sekali orang yang juga menantikan penerbangan mereka. Matt melambaikan tangannya kepada kami begitu menemukan tempat yang bisa menampung kami bertiga.
“Siapa yang kamu telepon tadi?” tanyaku, tidak bisa lagi menahan rasa penasaranku.
“Orang yang berkata selalu siap sedia menolong kalian,” jawab Matt dengan santai. Dia melirik Theo saat aku mengerutkan kening, tidak mengerti. “Theo meminta gue menelepon Antonio jika kita menemui masalah. Lalu pria asing itu menelepon gue. Sepertinya atasan mereka.”
“Syukurlah.” Aku benapas lega. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi pria yang baik hati itu. Dia bukan tipe yang suka berbasa-basi, jadi kami hanya mengobrol seperlunya.
Keren sekali. Aku melupakan bahwa aku punya teman yang selalu bisa aku andalkan. Aku tidak tahu kalau ternyata dia punya banyak teman baik berkat restoran yang dia miliki. Aku kian bersemangat menghadapi hariku ke depan. Mengingat hari pertemuan kami yang aneh itu, aku sangat bersyukur tidak menuruti Theo dan menolong Antonio.
Penerbangan yang nyaris dua puluh empat jam itu berjalan lancar dengan drama transit yang melelahkan. Aku harus akui para pengawal kami sangat hebat dalam menjaga jarak. Mereka tidak terlihat bersama kami, tetapi mereka hadir setiap kali terjadi hal yang mencurigakan.
Aku menolak beristirahat ketika kami tiba di Indonesia. Aku hanya ingin pulang dan tidur di kamar, tidak duduk sekadar meminum kopi. Matt akan pulang ke rumahnya, sedangkan kami sementara akan menginap di hotel sampai Theo dapat tempat tinggal yang murah.
Namun keluar dari terminal kedatangan internasional, seseorang memegang kertas bertuliskan nama Theo dan aku. Kami mendekati pria itu, maka dia memperkenalkan dirinya sebagai utusan dari sebuah perusahaan properti. Theo tidak merasa membeli rumah atau apartemen.
Matt mendorong kami untuk mengikuti pria itu. Sopirnya sudah menunggu, jadi dia pulang dahulu. Theo pun setuju dan mengikuti sang pria yang ternyata sudah membawa mobil dengan logo sebuah perusahaan properti terkenal. Aku sering melihat iklan mereka di televisi.
“Mari, kita masuk. Bos saya sudah menunggu di dalam.” Pria itu berjalan menuju teras.
Ternyata sudah ada tim yang khusus mengurus pemindahan balik nama rumah itu. Notaris meminta Theo menandatangani beberapa berkas yang sudah dia siapkan. Begitu sertifikat selesai, mereka yang akan mengantar ke rumah atau kantor. Kami tidak perlu repot mengambilnya.
“Luar biasa.” Aku menatap bagian dalam rumah itu dengan kagum. “Rumah ini hadiah dari Antonio?”
Di depan kami ada tangga besar. Pada bordesnya, anak tangga terbagi ke kanan dan kiri. Susurannya terbuat dari besi yang berukir indah. Sama seperti lantai yang kuinjak, anak tangganya juga dilapisi marmer yang indah dan pasti mahal ditutup dengan karpet berwarna keemasan.
Ada pintu ruangan di kanan dan kiri kami. Beberapa ruang itu dibatasi dengan kaca, yang lainnya dengan tembok. Langit-langit lebih indah lagi dengan lampu kristal yang menggantung. Aku tidak percaya. Para pelayan juga berbaris, siap untuk melayani kami.
__ADS_1
“Pemberian orang kaya raya memang beda. Seharusnya rumah ini atas nama lo.” Theo meraih tanganku, lalu menggandeng aku untuk mengikuti kepala pelayan yang mengajak kami ke kamar.
“Kita sudah menikah. Namamu atau aku, sama saja.”
“Bagaimana kalau gue selingkuh, lalu menceraikan lo? Rumah ini akan jadi milik gue seorang.”
“Kamu yakin aku akan menyerah semudah itu?”
“Yang pasti, lo enggak akan menang dari gue.”
Aku tidak takut dia selingkuh atau meninggalkan aku. Karena aku tidak akan diam lagi. Hubungan kami kali ini berbeda. Aku tidak akan melepaskan dia, sekalipun dia yang ingin lepas dariku. Setelah kami saling memiliki, apa dia pikir aku akan mudah membiarkan milikku pergi?
Kamar utama itu sangat besar dan indah. Namun aku tidak punya tenaga untuk memeriksa atau mengaguminya. Aku bahkan tidak membiarkan diriku terpukau dengan keadaan kamar mandi yang indah itu dengan segera membersihkan diri. Aku pun tenang ketika berbaring di ranjang yang empuk.
Kami hanya di rumah selama satu minggu. Begitu kami tidak jet lag dan mulai terbiasa dengan waktu setempat, aku mulai mengirim lamaran kerja. Saat Theo menemui dokter untuk pemeriksaan, aku menemaninya. Kesempatan itu aku gunakan untuk mengadu kebandelannya tidak mau makan obat.
Matt rajin sekali mampir ke rumah kami sepulang dari tempat kerja. Dia mendiskusikan banyak hal dengan Theo di ruang kerja, maka aku tidak ikut campur. Apalagi Theo mulai terlihat bahagia bisa melakukan hal yang dia sukai itu, tanpa mengalami kesulitan lagi.
Yang paling aku takuti pun terjadi. Bunda dan Mama protes aku tidak pulang ke Medan, malah ada di Jakarta. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk memberi tahu mereka bahwa aku sudah menikah. Theo mengajak aku pulang dan bicara langsung dengan mereka.
Kak Jericho menelepon dan meminta bertemu, tetapi aku menolak. Aku tidak mau dia tahu terlebih dahulu, kemudian mengadu kepada Bunda. Bisa tamat riwayatku. Matt melapor kalau dia bertanya alamatku, tetapi dia merahasiakannya. Syukurlah. Kami lebih baik bertemu di Medan. Aku tidak peduli dia ada jadwal foto atau syuting di Jakarta pada hari kedatangan kami.
“Tenang. Semuanya akan baik-baik saja,” kata Theo untuk kesekian kalinya, tetapi aku tetap gugup.
“Kamu tidak tahu Bunda. Jiwaku bisa meninggalkan tubuhku kalau dia sudah marah.” Theo tiba-tiba memeluk aku. Tubuhnya gemetar, membuat aku terkejut. “Theo?”
“Jangan bicara màtî. Gue enggak suka,” ucapnya kesal. Namun aku bisa mendengar kesedihan pada suaranya itu.
__ADS_1
Aku mengusap-usap punggungnya. “Maafkan aku.” Kami berpelukan sesaat, melupakan sejenak ada orang di sekitar kami di ruang tunggu.
“Amarilis? Apa yang kamu lakukan di sini?” Terdengar suara perempuan yang sudah lama tidak aku dengar. Aku membuka mata dan menoleh ke arah datangnya suara. Dia membulatkan mata melihat wajahku. Mengenali orang yang ada di sisinya, aku juga ikut terkejut.