
“Perjanjian pranikah. Seharusnya gue siapkan ini sebelum pernikahan kita di Las Vegas, tetapi gue buru-buru. Baca baik-baik sebelum lo tanda tangani. Surat ini demi kebaikan kita berdua,” katanya, berusaha untuk menjelaskan.
“Sayang, aku mengerti.” Aku memegang tangannya. “Aku tahu kita harus melakukan ini. Bunda sudah memberi tahu aku segalanya. Orang tuaku juga punya perjanjian serupa. Aku yakin orang tuamu juga. Aku baca dahulu, ya.”
Dia mendesah lega, lalu mengangguk. Ada-ada saja. Untuk apa aku tersinggung? Aku lahir di tengah keluarga yang menikahkan anak-anak mereka demi keuntungan kedua belah pihak. Jadi, aku tahu kami pun akan melanjutkan tradisi itu.
Poin pertama yang menjadi hal utama adalah mengenai harta pusaka Keluarga Husada. Aku tidak bisa menyentuhnya dan akan diwariskan kepada anak laki-laki pertama kami. Andai terjadi hal yang buruk, aku akan mendapat banyak uang dikalikan sejumlah banyaknya tahun kami bersama. Hak asuh anak-anak jatuh ke tangan Theo.
Hal lainnya bukan masalah untukku, karena dia mengizinkan aku bekerja atau melakukan apa pun yang aku anggap baik. Kami akan mengasuh anak-anak bersama, tidak ada satu pihak yang dapat porsi lebih besar dari yang lain dalam hal tanggung jawab.
Poin lainnya sangat banyak dan detail. Aku tidak menyangka dia akan sebaik ini kepadaku. Aku pikir akan ada poin di mana aku harus menuruti semua kata-katanya, tanpa protes. Ternyata seluruh poinnya sangat adil dan untuk kebaikan keluarga kecil kami.
Aku pun membubuhkan tanda tanganku pada ketiga berkas itu dan mengembalikan kepadanya. Dia sudah terlebih dahulu memberi tanda tangannya, jadi tinggal disahkan oleh kuasa hukumnya. Dia mengulurkan tangan, maka aku menerimanya. Kami berjabatan tangan sesaat sebelum dia menarik aku dan mencium bibirku dengan lapar.
Suasana rumah pada sore itu sangat kacau. Semua orang bicara pada waktu yang bersamaan. Ayah mendadak kehilangan sebelah sepatunya. Papa tidak tahu di mana menyimpan dasinya. Sampai Kak Nolan panik mencari jam tangannya. Aku sampai menggeleng pelan melihatnya.
Untung saja semua bisa diatas para ibu dan pelayan dengan baik. Theo sudah berangkat ke lokasi terlebih dahulu, jadi kami pun tidak boleh terlambat. Papa dan Ayah tidak perlu berebut, karena aku dengan senang hati bersedia diantar ke altar oleh keduanya.
“Aku tidak menyangka hari ini akan tiba juga,” ucap Ayah lirih. “Aku mengantar putriku pada hari pernikahannya. Aku pikir aku tidak akan pernah melakukan ini.”
Aku merasakan mataku memanas. “Ayah, jangan buat aku menangis.”
“Kamu yakin dengan pilihanmu ini? Kamu masih bisa berpisah secara hukum, tetapi setelah dari tempat ini .…” Ayah menatap aku dengan serius.
“Bahkan secara hukum pun, aku tidak akan meninggalkan dia, Ayah,” kataku tanpa keraguan.
Ayah dan Papa saling bertukar pandang. “Bagus. Walau kamu sudah menjadi istrinya, tugas kami sebagai ayahmu tidak akan berubah. Jika dia menyakiti kamu, sedikit saja, kamu harus memberi tahu kami,” kata Papa dengan serius. “Kami akan menjaga kamu.”
“Iya, Pa,” kataku terharu. “Apa kita akan terus bicara atau masuk sekarang? Aku tidak akan bisa berhenti kalau sampai menangis sekarang.”
__ADS_1
“Baiklah, baik.” Papa mengusap kepalaku.
Kami bersiap-siap keluar dari ruangan menuju ruang ibadah. Musik sudah mengalun, maka kami memasuki tempat kudus itu disambut tatapan keluarga besar dan sahabat kami. Aku tidak mau semakin gugup dengan seluruh pasang mata itu dan fokus kepada Theo.
Dia tidak menunjukkan emosi apa pun, tetapi aku yakin dia puas melihat penampilanku dalam balutan gaun serba putih yang aku kenakan. Pandangan mata kami bertemu dan ada kekuatan yang tidak bisa aku gambarkan, yang membuat kami tidak bisa berpaling.
“Perlakukan dia dengan baik, Nak. Kamu adalah suaminya, tetapi dia akan selalu punya ayah yang siap sedia melindungi dia. Aku tidak pernah memukul dia, jadi kalau dia salah, lapor kepadaku. Jangan sampai tanganmu yang menyakiti kulitnya, biar aku yang lakukan. Karena lebih mudah bagimu bila dia membenci aku daripada kamu,” kata Papa dengan serius.
“Aku janji akan perlakukan dia dengan baik, Pa,” kata Theo. Dia menerima tanganku, lalu membantu aku menaiki tangga altar.
Kami mengucapkan sumpah pernikahan kami dengan emosional, karena kami sudah menjalaninya. Kami tahu apa itu sakit, miskin, dan duka. Theo yang hilang ingatan dan terancam putus hubungan dengan orang tuanya karena menikahi aku tidak menyurutkan niat kami untuk bersatu. Kami lega sudah melewati semua itu dengan baik.
Semoga saja kami akan begitu sampai akhir hidup nanti. Kami tersenyum lega saat dideklarasikan sebagai suami istri di hadapan Tuhan dan jemaat. Pendeta menutup pemberkatan itu dengan doa. Aku merasa kebahagiaan yang meluap-luap lebih dari pernikahan kami di Las Vegas.
Hari ini aku tidak sedikit pun diliputi keraguan. Theo mengucapkan sumpahnya dengan penuh cinta, berbeda dengan sikap dinginnya pada upacara pernikahan pertama kami. Dia juga mengenal aku dengan baik dan aku percaya hatinya sungguh hanya untukku.
Acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah aula hotel. Ada banyak sekali orang yang tidak aku kenal yang datang. Undangan yang sepertinya orang penting. Aku sampai merasa sungkan saat mengenali wali kota dan gubernur yang menyempatkan untuk mengucapkan selamat.
“Jaga bicaramu. Kalimatmu itu punya makna negatif. Seolah-olah mereka bercerai, lalu rujuk,” tegur Sonata. Dia tersenyum kepadaku. “Aku bahagia untukmu, Amarilis!” Dia memeluk aku dengan erat.
“Terima kasih, Sonata.” Aku membalas pelukannya.
“Mengapa kamu selalu menilai buruk semua kalimat dan perbuatanku? Apa kita tidak bisa damai satu kali saja?” protes Edrick.
“Kamu yang cari ribut, ya, aku ladeni,” balas Sonata.
Aku dan Theo saling bertukar pandang melihat mereka kembali bertengkar. Berbeda dengan resepsi pada umumnya, kami tidak menggunakan pelaminan. Aku dan orang tua kami mendapat meja yang sama, tetapi hanya saat makan. Begitu makanan kami habis, kami berkeliling menyapa para tamu.
Cara ini lebih terasa akrab daripada kami hanya duduk di depan dan menjadi tontonan banyak orang. Para undangan juga bisa leluasa mendekat dan mengobrol dengan kami. Lagi pula, siapa pun sudah tahu kami telah menikah secara hukum. Ini hanya resepsi yang tertunda.
__ADS_1
Meskipun begitu, orang tua Theo dan Katelia merogoh kocek sangat dalam untuk menyiapkan acara yang sangat mewah ini. Mama Theo benar-benar tidak mau aku merasa lebih inferior dibandingkan Venny. Pertunangannya dengan Theo memang sangat megah, tetapi ini lebih dari itu.
“Sebaiknya kalian pacaran biar damai,” celetuk Theo.
“Lebih baik aku melajang selamanya daripada menikah dengan dia.” Sonata bergidik.
“Heh, Theo. Dengar, ya. Aku tahu kamu sangat bahagia bersama istri cantikmu. Tetapi walau hanya ada satu perempuan tersisa di dunia ini, aku lebih baik manusia musnah daripada menikah dengan si cebol ini!” Edrick Mengangkat dagunya melirik Sonata.
“Bagus, kalau kita satu kata. Awas, jika kamu termakan omongan,” ancam Sonata.
Usai resepsi, kami berganti pakaian, lalu bersiap untuk pergi. Keluarga mengantar kami sampai teras hotel. Aku dan Theo akan berbulan madu selama tiga hari. Hadiah pernikahan dari Ayah dan Bunda untuk kami. Mereka semua memeluk kami dengan erat, seolah berat untuk berpisah. Para saudara lelakiku menggoda Theo, tetapi dia bergeming.
Aku lega melihat lokasi penginapan yang dipilih Theo. Kami tidak dekat dengan lokasi wisata air mana pun. Bahkan jendela kamar tidak menunjukkan pemandangan pantai, danau, bahkan kolam renang hotel. Aku bisa melihat ke luar jendela tanpa takut.
“Edrick benar. Ini rasanya aneh.” Aku tertawa kecil.
“Apanya yang aneh. Lo enggak suka bulan madu dengan gue?” goda Theo.
“Tentu saja aku suka.” Aku mendekat, lalu membantu membuka kancing kemejanya. “Kamu hanya untukku selama kita berada di sini. Kita tidak akan keluar kamar.”
“Permintaan istri adalah sebuah perintah,” ujarnya. Aku tertawa geli.
Kami benar-benar hanya menggunakan waktu di dalam kamar. Theo tidak keberatan tidak joging, karena diganti dengan olahraga di ranjang. Kami memesan makanan diantar ke kamar, termasuk camilan menjelang siang dan sore. Ada begitu banyak pilihan saluran yang membuat kami betah tidak beranjak dari tempat tidur.
Aku bersiap mandi pada pagi itu ketika aku melihat ada yang aneh pada pàkaian dälamku. Tidak ada yang terasa sakit pada tubuhku, lalu mengapa bisa ada bercak merah? Semoga bayi itu gugur dan kamu tidak pernah menjadi seorang ibu. Tiba-tiba saja kalimat itu mengiang di kepalaku.
Oh, Tuhan. Tidak. Jantungku berdebar sangat cepat dan aku bisa merasakan keringat mendadak memenuhi keningku. Tanganku refleks menyentuh perutku. “Theo,” panggilku sambil mengenakan mantel mandi. “Theo, cepat kemari!” Aku semakin panik ketika dia tidak juga datang, sedangkan aku tidak berani bergerak sedikit pun.
Pintu kamar terbuka dan dia berdiri di ambang pintu. “Ada apa?”
__ADS_1
“Theo, sesuatu yang buruk terjadi.” Aku tidak lagi menahan air mataku. “Aku péndàrahan.”