
~Amarilis~
Setelah kebiasaan tidurku mulai teratur, Theo menikmati liburan musim panas yang panjang. Dia mengajak aku mengunjungi tempat bersejarah di kota ini. Hal yang aku tunggu-tunggu. Yang dekat, kami datangi dengan sepeda, sedangkan yang jauh menggunakan transportasi publik.
Aku akhirnya bisa merasakan makanan yang dijual oleh truk-truk makanan yang ada di pinggir jalan. Ada hotdog, roti isi, makaroni keju, piza, donat, dan yang paling ikonik, pretzel. Aku suka semuanya, atau lidah Amarilis punya selera yang berbeda. Entahlah. Namun semuanya enak.
Hanya ada satu insiden yang aku sesalkan. Aku marah saat Theo tidak mau menjawab pertanyaanku di kabin. Padahal dia benar. Masa lalu orang tuanya bukanlah urusannya. Dia tidak punya hak untuk membuka rahasia mereka kepada siapa pun, termasuk aku.
Barulah pada malam menjelang tidur, aku memahami emosiku yang tidak terkendali. Aku datang bulan. Seperti biasa, aku lemas tidak bisa beraktivitas. Melihat dia membawakan sarapan, aku menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf. Dia tidak bersalah.
Hadiah demi hadiah dia berikan kepadaku, membuat aku semakin tidak nyaman. Aku tahu tempat tinggal, sepeda, ponsel, buku kuliah serta catatan, bahkan makanan adalah hal yang aku butuhkan. Tidak dengan perawatan ke spesialis ortodontik.
Namun bujukannya sangat menggoda sehingga aku tidak kuasa lagi menolak. Itu menjadi utang yang bisa aku cicil kelak setelah aku punya gaji sendiri. Butuh waktu beberapa minggu dari pemeriksaan hingga akhirnya benda itu menempel erat di mutiara mulutku. Sakitnya luar biasa.
Cara ini cukup efektif jika ada yang mau diet. Aku sampai kesulitan makan karena gigi bagian depan sakit setiap kali tidak sengaja beradu. Aku juga menghindari ciuman di area itu. Theo tidak mengeluh, malah bisa memahami keadaanku.
Sudah lama tidak memeriksa ponsel lama, aku mengaktifkannya. Begitu aku hubungkan ke internet, ada begitu banyak pesan, surel, dan pemberitahuan pembaruan aplikasi. Yang menjadi perhatianku adalah pesan dari Mama dan Bunda. Oh, Tuhan, aku lupa.
“Apa saja yang kamu lakukan di sana!? Kamu mau aku mati? Dua bulan lebih tidak ada kabar. Kamu ini bagaimana? Ponsel tidak aktif, nomor baru juga tidak dikirim. Lain kali aku tidak akan izinkan kamu pergi ke luar negeri!” amuk Bunda.
“Bundamu benar. Kami sampai panik mencari kabar lewat KBRI setempat. Kami tenang kamu sudah sampai sesuai jadwal, tetapi mengapa lama sekali tidak memberi kabar? Bukankah kampus belum dimulai? Kamu datang lebih cepat untuk memenuhi undangan pihak kampus, ‘kan?” omel Mama.
“Kalau bukan karena papa dan saudaramu sedang sibuk dengan proyek mereka, aku sudah terbang ke sana! Anak nakal.” Bunda menatap aku dengan berang. “Aku ingin sekali mencubit pipimu.”
“Aku tidak peduli dia sudah besar, aku akan memukul bokongnya sampai dia meminta ampun,” ucap Mama, tidak mau kalah.
Aku terpaksa memakai headset agar suara amarah mereka tidak terdengar sampai keluar kamar. Aku malu kalau Theo mendengar dua wanita garang ini mengomeli aku. Dia akan tertawa sepuasnya melihat penderitaanku. Walau ini adalah kesalahanku sendiri.
Pesona Theo berhasil mengalihkan pikiranku dari keluarga dan rasa rindu pada tanah air. Padahal aku sudah berjanji akan mengabari mereka begitu tiba di sini. Sudah dapat ponsel dan nomor baru, aku malah belum juga memberi tahu mereka. Bodoh.
__ADS_1
“Maafkan aku, Bunda, Mama. Aku benar-benar tidak sengaja,” kataku sambil memasang wajah memelas terbaikku. “Hari-hari pertama aku jet lag parah karena perbedaan waktu nyaris dua belas jam. Ketika ingat keluarga, sedang jam tidur di sana. Aku tidak mungkin mengganggu kalian.”
“Jika aku tahu keadaannya begini, lebih baik aku mengantar kamu. Berada di tempat baru pasti membingungkan. Apa kamu sudah dapat tempat tinggal, tempatnya nyaman? Bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari? Apa kamu cukup makan?” ucap Bunda dengan lembut.
“Apa itu yang menempel di gigimu?” tanya Mama. Mereka berdua serentak mengerutkan kening sambil menatap dengan saksama.
“Kamu pakai kawat gigi?” tanya Bunda tidak percaya. “Bukannya di sana harganya lebih mahal?”
Kesempatan itu aku gunakan untuk menceritakan segalanya, mulai dari biaya, lamanya perawatan, dan detail lainnya yang sudah dijelaskan oleh dokter gigi spesialis tersebut. Aku lega melihat mereka sudah tenang, tidak terlihat marah lagi.
Aku juga menunjukkan kamar yang aku tempati. Untung saja aku sudah selesai mengeluarkan semua pakaian dan barang pribadiku serta meletakkannya pada tempatnya. Jadi, Mama dan Bunda bisa lihat sendiri aku mengurus diri dengan baik.
Mereka sedang bergantian mengabari keadaan di rumah ketika tiba-tiba saja Theo mencium pipiku. Telingaku mendadak tidak mendengar suara mama lagi, hanya tawaku yang kegelian akibat ulah pacarku itu. Aneh, apa dia tidak bisa melihat layar ponselku.
“Siapa itu? Bagaimana ada laki-laki bebas masuk ke kamarmu, Kat??” pekik Bunda panik.
“Kamu ini mengapa malah tertawa? Pukul kepalanya kuat-kuat. Dia sudah melêcehkan kamu!” seru Mama. “Sebaiknya kita menelepon polisi!”
Ciuman Theo yang menghujani bukan menjadi penyebab tawaku yang tidak bisa aku hentikan, tetapi kalimat yang diucapkan kedua mamaku. Apa mereka lupa aku bisa melindungi diri sendiri? Kalau aku mau, aku bisa menumbangkan pria yang aku sayang ini dalam beberapa detik.
“Theo, hentikan!” Aku terpaksa tertawa mendengar Mama dan Bunda semakin panik sehingga aku harus melepas headset. “Theo, Mama dan Bunda melihat kita! Hentikan!”
Mereka sepertinya mengenali nama itu, karena mereka berhenti bicara. Tidak lama kemudian, mereka malah tertawa geli. Barulah Theo memahami kalimatku tadi. Aku tidak akan melupakan ekspresi wajahnya yang terkejut kedapatan mencium aku di depan calon ibu mertuanya.
Menyadari ada yang janggal, Mama dan Bunda mulai menginterogasi kami. Theo yang menjadi biang keroknya malah kabur, meninggalkan aku menjelaskan segalanya sendiri. Namun mengingat wajah pucatnya, aku tidak tega memanggilnya untuk kembali.
“Theo tinggal di sebelah, Mama, Bunda,” jawabku setengah jujur. Dia memang tinggal di sebelahku, kamarnya, bukan apartemennya. Namun aku tidak sepenuhnya berbohong. “Kami satu-satunya yang saling mengenal, jadi dia banyak membantu aku.”
“Kamu pikir aku tidak tahu apa-apa, ya, wanita muda?” Bunda memicingkan matanya. “Aku tahu kamu dan dia berpacaran. Hei, ingat, kamu tidak boleh melewati batas. Kamar adalah tempat yang terlarang. Jangan sampai dia masuk kamar kamu lagi.”
__ADS_1
“Nah iya. Aku dari tadi seperti pernah melihat mukanya. Dia Theo yang pernah ciuman dengan kamu di video yang viral itu.” Mama ikut menatap aku dengan tajam. “Dengar, ya. Aku mengizinkan kamu kuliah di sana untuk pulang bawa ilmu, bukan bawa anak.”
“Siapa juga yang mau pulang bawa anak?” protesku. “Bunda sudah tahu reputasi Keluarga Husada. Theo anak yang baik, Ma. Aku sudah jelaskan segalanya. Kami tidak melewati batas dahulu, kami juga tidak melewatinya sekarang.”
Aku mendesah keras ketika hubungan panggilan video itu berakhir. Rasanya lelah sekali menjelaskan hal yang sederhana itu kepada mereka. Aku bukan remaja lagi yang masih bisa mereka setir. Aku sudah dua puluh empat tahun, sudah waktunya diberi kebebasan menilai mana yang baik dan buruk.
Theo berdiri dengan resah di dekat konter ketika aku datang. Dia melihat ke arah tanganku sebelum kembali ke wajahku, pasti mencari ponselku. Seharusnya dia melakukan itu tadi, bukan sekarang. Aku tidak akan dimarahi Mama dan Bunda jika dia berhati-hati tadi.
Melihat wajah khawatirnya menanyakan reaksi kedua mamaku, aku ingin menggoda dia, tetapi aku tidak tega. Aku tidak seperti dia yang mudah saja menyakiti perasaan orang lain. Apalagi Mama dan Bunda benar-benar marah menyadari Theo masuk kamarku begitu saja.
“Aku sudah dewasa. Mamaku sudah tidak bisa mengatur apa yang baik atau buruk bagiku,” jawabku dengan santai. “Kamu masak apa? Baunya enak.”
“Lo serius? Mereka pasti marah. Lo enggak menyahut waktu gue panggil. Kalau lo jawab, semua ini enggak akan terjadi.”
“Kita makan, yuk. Aku lapar.” Masih pagi, aku tidak mau bertengkar dengannya.
Belajar dari kesalahan, aku selalu menelepon keluargaku pada akhir pekan. Jadi, mereka tidak perlu khawatir lagi mengenai keadaanku. Karena lebih nyaman menelepon pada pagi hari di waktu mereka, maka sudah malam hari di tempatku.
Merasakan perbedaan jam begini terasa janggal. Selama aku kuliah sarjana, aku tidak mengalaminya saat berkomunikasi dengan Mama. Padahal jarak antara Depok dan Medan sangat jauh. Ternyata Amerika dan Medan lebih jauh lagi. Namun hanya pada awalnya saja aku merasakan itu, aku terbiasa setelah beberapa kali berkomunikasi.
Perkuliahan pun dimulai, aku bertemu dengan orang-orang baru. Mereka langsung tahu aku mahasiswa internasional karena rasku berbeda dengan mereka. Namun aku diperlakukan dengan baik oleh semua orang, termasuk dosen.
Hanya satu hal yang membuat aku harus membiasakan diri. Kuliah master berbeda sekali dengan sarjana. Kami lebih banyak belajar kelompok daripada tatap muka dengan dosen. Tugasnya juga banyak dan tidak mudah mengerjakannya. Theo membantu memberi daftar buku, tetapi dia tidak mau menolong menganalisa kontennya.
Baru semester pertama sudah susah begini. Namun jangan panggil aku Katelia kalau persoalan sepele saja menyerah. Jika mendapatkan teman grup yang aktif, aku tenang. Nah, yang menjadi masalah kalau satu kelompok dengan orang keras kepala yang mau cari gampang saja.
“Santai. Walau ini kerja kelompok, keaktifan kita secara pribadi juga dinilai oleh dosen. Kamu tidak perlu takut akan tertinggal karena ulah dia,” hibur Nora, teman baruku.
“Aku tidak khawatirkan itu. Aku hanya lelah memperdebatkan hal yang tidak penting,” keluhku.
__ADS_1
“Dia sengaja melakukannya.” Nora menurunkan volume suaranya sambil melihat ke kanan dan kiri kami. “Kamu tidak berasal dari sini, jadi kamu tidak tahu gosip mengenai dia.”