Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
93|Pion Rahasia


__ADS_3

Dosen pembimbingku yang baru sangat profesional. Dia menerima kami semua mahasiswanya di ruang dosen. Jadi, ada banyak mata yang mengawasi kami. Bab dua diterima dengan baik, hanya bab tiga skripsiku yang perlu diperbaiki sedikit. Betapa leganya aku.


Setelah menentukan jadwal konsultasi berikutnya, aku keluar dari ruangan. Sudah ada mahasiswa lain yang menunggu giliran mereka. Aku keluar dari kantor jurusan kami dan berniat pulang sebelum lupa dengan semua saran dosen tadi. Namun melihat seseorang berjalan ke arahku, aku berubah pikiran. Ada hal penting lainnya yang perlu aku selesaikan.


Tidak mau menunggu terlalu lama, aku menghalangi dia di sebuah koridor yang sepi. Sebelum dia sempat bereaksi, aku menariknya ke sudut supaya tidak ada yang melihat atau mendengarkan kami. Bukannya takut kepadaku, dia malah tersenyum sinis.


“Lihat sekarang siapa yang melanggar kesepakatan. Kita tidak saling kenal dan sepakat menjalani hidup masing-masing, Amarilis,” katanya, memasang wajah lugu.


“Kamu sudah bosan hidup damai, ya? Pak Norman dan dosen itu adalah kesempatan terakhir dariku. Kamu pikir aku tidak akan tahu kamu terlibat dalam kedua hal itu?”


“Apa maksudmu? Aku tidak mengenal apalagi dekat dengan Pak Norman. Siapa itu Pak Norman?” Dia masih saja berakting dengan sangat buruk.


Aku menunjukkan layar ponselku kepadanya. “Aku baru tahu kamu suka makan bersama dengan orang yang tidak kamu kenal apalagi dekat.”


Usai pertemuan terakhirku dengan Tante Ruth, aku mendapati dia bertemu dengan Pak Norman di sebuah kafe. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dari tempat dudukku, tetapi aku tahu mereka tidak dekat. Keluarga Winara tidak hadir pada hari ulang tahun Om Wiryawan. Maka hanya ada satu alasan mereka bicara dengan gerak-gerik yang mencurigakan itu: aku.


Dia menelan ludah, berusaha untuk menutupi kegugupannya. “Apa salahnya dua ahli waris dari pengusaha perhotelan bertemu? Kamu jangan berpikir buruk dahulu. Aku tidak terlibat dalam hal apa pun yang Pak Norman lakukan.”


“Pak Norman sudah mengaku, jadi silakan saja sangkal sepuasmu. Yang kamu rencanakan bersama dosen itu lebih menjijikkan. Kamu perempuan, tetapi kamu membiarkan kaummu dilecehkan. Apa kamu ini manusia? Demi seorang Theo kamu sampai melakukan hal ini?” ucapku tidak percaya.


“Jangan menuduh sembarangan kalau tidak ada bukti.” Dia mendorong tubuhku, tetapi aku lebih kuat darinya dengan tanganku tetap berada di bahunya.


“Kamu membuang kesempatan terakhirmu, jadi jangan salahkan aku semuanya berakhir seperti ini.” Aku menatapnya dengan serius. “Semoga kamu sudah menyiapkan sanggahan terbaikmu.” Aku mundur dan menarik tanganku.


Dia tertawa kecil. “Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Curhat kepada semua orang tentang masa laluku? Kamu berteriak ke sana kemari tidak akan ada yang percaya kepadamu. Apa kamu lupa? Kamu Amarilis, bukan Katelia.”


Sebenarnya aku menyimpan senjata utamaku ini untuk forum yang lebih besar, tetapi menunjukkan kepadanya dahulu juga tidak ada salahnya. Maka aku memilih sebuah video yang ada dalam folder khusus ponsel canggihku pemberian Matt, lalu mengarahkan layarnya kepadanya.


“Oh!” Dia menarik napas terkejut.


Jenis obat terlarang yang pernah dia konsumsi adalah kökaina. Dia menyukai yang berbentuk serbuk sehingga tinggal dihirup saja. Kami beberapa kali mengatakan betapa berbahayanya hobi barunya itu, tetapi dia tidak peduli.

__ADS_1


Dalam keadaan màbuk, dia pernah meminta aku merekam aksinya sebagai tutorial penggunaan obat terlarang itu dengan benar. Aku acuh tak acuh saja asal dia senang. Syukurlah, aku melakukan ini dan bisa memakainya untuk membalas kejahatannya kepadaku dan Amarilis.


Tiba-tiba saja dia berlutut. Aku mengamankan ponselku dahulu sambil mundur selangkah, menjaga jarak darinya. Dia benar-benar sudah lupa siapa aku. Mana pernah aku mengancam orang tanpa bukti. Bertahun-tahun pernah menjadi temanku, dia masih saja menilai aku.


“Ma-maafkan aku. To-tolong ja-jangan sebarkan vi-video itu,” mohonnya dengan suara sesenggukan. “Aku bersumpah, su-sungguh. Aku ber-bersumpah tidak akan mengganggu kamu la-lagi.”


“Apa kamu tidak dengar? Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan terakhirmu, Chika,” tukasku. “Bukannya menepati janji, kamu berulang kali ingkar. Setiap kali ingkar, rencanamu makin jahat.”


“Ampuni a-aku.” Dia mendekat, tetapi aku bergegas mundur. “Tolong, jangan sebarkan video itu. Aku bersumpah ti-tidak akan mengganggu kamu lagi. Sungguh, Amarilis.”


Dia bersimpuh hingga kepalanya menyentuh lantai. Dia begitu takut masa lalunya terkuak, tetapi masih saja berani menantang aku. Perbuatannya kali ini tidak termaafkan. Serendah-rendahnya aku sebagai Katelia, aku tidak pernah membayar atau menyuruh orang melecehkan kaumku.


Aku juga tidak pernah mempermainkan perasaan orang lain, apalagi sampai melibatkan orang tua. Aku masih merasa tidak enak karena Tante Wiryawan meminta aku memberi kesempatan kepada putranya. Padahal Pak Norman tidak punya perasaan apa pun kepadaku.


Setelah beberapa kali menyerang aku langsung, dia malah beralih dengan menggunakan orang lain. Apa lagi yang akan dia lakukan nanti jika aku memberinya ampun? Perempuan ini tidak punya rasa sesal. Yang dia tahu hanya berpura-pura, lalu mengulangi kesalahannya lagi.


“Bersiaplah. Sampaikan kepada orang tuamu untuk menjaga perusahaan kalian. Wartawan akan mulai menggali kuburmu lebih dalam lagi,” ucapku dengan serius.


“Baik.” Aku sudah mendengar yang perlu aku dengar. Dia akan berhati-hati mulai dari hari ini. “Aku beri satu kesempatan. Begitu orang-orang terdekatku mengalami hal buruk, aku tidak akan bicara denganmu, tetapi langsung mengirim video itu ke wartawan.”


“A-apa maksudmu? Aku tidak pernah menyakiti orang terdekatmu?” katanya takut.


“Kamu bersumpah tidak pernah melakukan itu?” tukasku.


“Tidak. Aku tidak sekotor itu. Urusanku denganmu, hanya denganmu. Kamu tahu aku tidak pernah bermain kotor dengan melibatkan orang lain.”


“Kamu tidak menyentuh mamaku sama sekali?”


“Mama yang mana … oh, tidak. Aku tidak menyentuh mamamu, Amarilis. Aku bersumpah.”


Aneh. Jika itu bukan perbuatan Tante Ruth dan Chika, lalu siapa lagi? Apa mungkin Rahma atau Nisa yang melakukannya? Mereka sudah wisuda pada semester lalu, jadi aku tidak tahu di mana mereka sekarang berada.

__ADS_1


Tidak. Ini bukan perbuatan mereka. Kami sudah lama tidak saling berinteraksi. Hal terakhir yang aku dengar tentang mereka adalah Rahma yang mengganggu Kak Jericho. Lalu tidak ada kabar lanjutan. Entah dia masih mendekati atau mengabaikan kakakku itu.


Mengingat targetku pada hari ini, aku membeli makan siang, lalu pulang. Aku menghabiskan sisa hari itu dengan merevisi setiap hal yang ditandai oleh dosen pembimbingku. Untung saja data dari Pak Norman sangat lengkap, jadi setiap kekurangan bisa diselesaikan saat itu juga.


“Baik. Bab tiga kamu sudah beres, kamu bisa lanjut ke bab empat,” kata dosen itu ketika aku datang untuk konsultasi berikutnya.


“Benar, Pak?” tanyaku tidak percaya.


Dia tertawa. “Aku akan ada di kampus sampai hari Jumat pada jam yang sama. Datanglah kapan saja bab itu sudah selesai untuk aku periksa.”


“Baik, Pak. Terima kasih banyak.” Aku menjabat tangannya, lalu keluar dari ruangan itu. Mahasiswa bimbingannya sudah mengantri, jadi aku tidak bisa berbasa-basi.


Bab empat hanya berisi kesimpulan dan saran. Itu bagian yang mudah dan aku sudah menyiapkan beberapa poin pentingnya selama mengerjakan kedua bab yang paling penting ini. Oh, Tuhan. Aku senang sekali! Aku akhirnya bisa lulus sesuai target! Pemberi beasiswa akan senang mendengar ini.


“Hya!” Aku memekik terkejut merasakan seseorang merangkul bahuku.


“Cepat berbaikan dengan Theo. Gue panggil dari tadi enggak dengar. Apa suara gue harus habis baru Kakak puas?” protes Matt.


Aku menoleh ke arahnya dengan lega. “Kamu bisa tepuk pelan bahuku atau apalah. Mengapa pakai rangkul segala? Kalau aku mati karena serangan jantung, kamu mau tanggung jawab?” omelku.


“Gue lapar. Kakak bisa marah sambil makan.”


Dia dan kakaknya sama saja dalam urusan memaksakan kehendak, jadi aku tidak menolak ajakannya itu. Lagi pula, aku senang ditraktir makan. Dia membawa aku ke rumah makan terdekat dan aku tidak segan-segan memilih makanan sebanyak yang aku butuhkan.


“Kakak sudah enggak makan berapa hari?” tanya Matt setelah pelayan pergi.


Aku tertawa kecil. “Kamu tahu aku tidak akan menyia-nyiakan makanan gratis.”


Dia menggeleng pelan, lalu menatap aku dengan saksama. Karena dia tidak pernah memperhatikan aku seperti itu, aku memeriksa wajahku. Apa ada yang mengotori pipiku? Gawat, apa dosenku tadi melihat hal yang aneh pada wajahku?


“Ada apa?” tanyaku ingin tahu. “Ada sesuatu pada wajahku?”

__ADS_1


__ADS_2