Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
73|Bicara Jujur


__ADS_3

Kalimatnya itu membuat kami melihat ke sekitar kami. Ada beberapa orang yang memenuhi jendela restoran yang fokus ke arah kami. Para tamu yang duduk di dekat jendela itu terlihat tidak nyaman, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Semua meja yang jauh dari jendela sudah penuh.


“Jika kalian hanya makan bertiga, kalian akan menjadi bahan gosip selama berhari-hari. Namun dengan adanya gue di sini, mereka pasti berpikir kita yang berteman. Amarilis ada di sini karena dia selingkuhan gue. Beres, ‘kan?” pungkas Theo dengan enteng.


“Mengapa kamu terus saja menyebut aku selingkuhanmu?” tanyaku tidak suka.


“Karena itu yang mereka tulis tentang kita,” jawabnya santai. “Makanya, segera beri tahu orang tua kalian mengenai Amarilis. Jangan sampai Tante Wibowo berbuat nekat, barulah kalian bertindak.”


“Mama tidak akan berbuat nekat,” kata Kak Nolan, membela ibu kami.


“Apa Richo tidak pernah memberi tahu lo apa yang sanggup mama kalian itu lakukan kepada Amarilis? Dia menamparnya setiap kalian mereka bertemu. Polisi sudah katakan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa tenggelamnya mereka berdua ke danau, tetapi dia terus saja menyebut Amarilis sebagai pembunuh putrinya,” lapor Theo.


“Amarah yang terlalu lama dibiarkan terpendam, suatu hari nanti akan meledak. Kalau sampai hal itu terjadi, kalian berdualah yang akan gue tuntut, bukan Tante Wibowo,” tambah Theo. “Dia tidak akan mati karena mengetahui keajaiban yang menimpa Amarilis dan Katelia. Dia hanya akan terkejut dan butuh waktu untuk mencernanya. Memangnya berapa lama sebuah rahasia bisa disimpan?”


Pernyataannya itu ada benarnya. Namun keadaan Mama tidak memungkinkan untuk diajak bicara. Setiap melihat aku, dia otomatis marah. Bagaimana caranya bicara dengan orang yang sedang emosi? Belum lagi Chika dan teman-temannya tidak jujur menceritakan tentang kejadian nahas itu.


“Apa kamu yang melarang Kat untuk bicara jujur kepada orang tua kita?” tanya Kak Nolan kepada Kak Jericho. Dia mengangguk. “Mengapa?”


“Aku percaya tak percaya dia masih hidup, Kak, apalagi ada dalam tubuh orang lain. Apa Kakak pikir orang tua kita juga akan bisa menerimanya? Lalu bagaimana dengan semua orang yang akan tahu tentang ini nanti? Bisa jadi dia akan dijadikan bahan percobaan,” jawab Kak Jericho.


“Dasar bodoh!” umpat Kak Nolan. “Kamu terlalu banyak menonton film fantasi jadi otakmu ikut rusak. Mama justru akan lebih tenang kalau dia tahu Kat masih hidup. Apa kamu tidak lihat Mama tidak bahagia? Yang dia pikirkan selalu putrinya yang sudah tiada.”


“Coba saja Kakak yang lakukan itu kalau bisa,” tantang Kak Jericho. “Aku mana berani memberi tahu Mama tentang Amarilis.”


“Sudah, sudah. Kita pikirkan hal itu nanti saja. Hari bahagia tidak perlu dirusak dengan peristiwa yang tidak menyenangkan,” leraiku.


Kak Jericho mengajak menonton untuk mendinginkan suasana. Kami tidak bisa pergi ke tempat ramai dan terbuka karena kondisinya yang sedang populer. Wajahnya selalu menghiasi semua media berkat iklan yang dibintanginya.


Theo menolak makan malam bersama mereka dan mengajak aku pergi dari tempat itu. Kak Nolan protes, tetapi pacarku tak acuh dengan panggilannya. Dia tidak mengajak aku singgah untuk makan, tetapi membeli makanan yang aku mau lalu mengantar aku pulang.

__ADS_1


“Ada apa?” tanyaku heran dengan sikapnya itu.


Dia memberikan makanan bagianku. “Aku sedang punya ide, jadi aku harus pulang dan mengetiknya di rumah. Kamu istirahatlah. Aku akan menghubungi kamu nanti.”


“Oke.” Melihat dia menarik tanganku, aku mengerti. Dia ingin memberi kecupan selamat malam.


Perkuliahan pun dimulai, aku dan Matt lebih sering bertemu daripada dengan Theo. Dia sudah jarang ke kampus dan hanya datang untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Hanya pada saat dia datang, kami bisa bersama, tetapi aku harus kembali mengikuti kuliah usai makan siang.


Semakin mendekati sidang, Theo semakin sulit ditemui. Dia datang ke kampus sesaat saja dan segera pulang entah melakukan apa. Mungkin saat aku mengerjakan skripsi nanti, aku akan mengerti. Kami lebih banyak berkomunikasi lewat pesan, tetapi itu sudah cukup untukku.


Aku tetap fokus pada studiku dan mengikuti ujian tengah semester dengan baik. Matt meminta belajar bersama, maka aku tidak menolak. Yang aku tolak adalah uang yang dia berikan sebagai balas jasa. Aku sudah bukan guru privatnya lagi, hanya senior. Lagi pula, beasiswa yang aku terima lebih dari cukup untuk membiayai hidup dan kuliahku.


“Kakak sabar banget, ya,” kata Matt ketika kami selesai belajar.


“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.


“Iya. Theo beruntung. Dia bisa mengerjakan skripsi dengan tenang tanpa harus berhadapan dengan pacar yang merajuk karena kurang perhatian.” Dia tersenyum penuh arti. “Jangan khawatir. Theo tidak selingkuh walau Chika dan keluarganya makan malam di rumah setiap akhir pekan.”


“Iya. Dia akan lanjut studi ke luar negeri. Kapan lagi mereka bisa dekat kalau tidak sekarang?” Dia mengangkat kedua bahunya.


Ketika aku dan Theo semakin jauh, Chika justru bisa bersamanya setiap minggu. Tidak adil. Namun Matt benar. Theo butuh ketenangan untuk menyelesaikan penelitiannya tersebut. Dia tidak butuh pacar yang terus menuntut waktu dan perhatiannya.


Masalahnya, dia juga jarang membaca, apalagi membalas pesanku. Aku tidak tahu apa dia sedang sehat atau sakit. Apa dia makan dengan teratur dan cukup tidur? Pertanyaanku itu tidak pernah dijawabnya. Sekadar menelepon untuk bicara sebentar pun dia tidak punya waktu.


Apa menyusun skripsi sesibuk itu? Atau dia sudah bosan denganku, jadi dia mencari kesibukan lain yang lebih menyenangkan? Katanya, dia akan menikahi aku. Kalau belum menikah saja sudah sulit membagi waktu, bagaimana ketika kami menjadi suami istri? Jangan-jangan, dia melupakan aku.


Ujian akhir semester sudah di depan mata, maka aku kembali fokus dengan studiku. Aku tidak boleh punya nilai yang gagal, karena beasiswaku bergantung pada hasil studiku. Urusan dengan Theo aku kesampingkan. Dia sibuk dengan skrispsinya, maka aku dengan studiku.


“Selamat pagi,” sapanya, mengejutkan aku.

__ADS_1


Aku baru melewati pagar tempat tinggalku dan dia sudah menunggu di depan tembok pagar. Aku sampai mengucek-ngucek mata, tidak percaya dia berdiri di sana. “Theo?”


“Iya. Gue.” Dia memasang wajah penuh curiga. “Memangnya lo menunggu siapa? Lo selingkuh?”


Aku tertawa setengah menangis mendengarnya. Dia tidak berubah. Tidak peduli dengan mahasiswa yang lewat, aku berlari ke pelukannya. Semua beban dan rasa sakit karena rindu pun terangkat. Dia datang menemui aku! Itu artinya dia tidak melupakan aku.


“Ada apa? Kenapa menangis?” tanyanya bingung.


“Tidak apa-apa,” jawabku.


“Tidak apa-apa dari mulut perempuan katanya bohong, tidak jujur,” tuduhnya.


“Mengapa kamu selalu menjengkelkan?” Aku melepaskan pelukanku.


“Karena gue lebih suka melihat lo marah daripada sedih begini.” Dia menyeka air mata dari kedua pipiku. “Lo rindu sama gue? Kenapa enggak bilang?”


“Kamu sedang sibuk, aku tidak mau mengganggu.” Aku ikut membersihkan wajahku.


“Nanti juga lo mengerti.” Dia tersenyum. “Sudah, jangan sedih lagi. Gue selalu sayang sama lo.” Dia mencium pipiku. “Setelah semua ini berakhir, gue akan berusaha bagi waktu dengan baik.”


“Oke.” Aku mengangguk setuju.


“Ayo, gue antar ke kampus. Kita nanti makan siang bersama, ya.”


“Sungguh!?” tanyaku senang. Dia mengiyakannya.


Perkuliahan itu aku jalani dengan ringan sambil tidak sabar menunggu datangnya jam makan siang. Sonata tersenyum penuh arti melihat Theo sudah berdiri di depan pintu ruang kuliah kami. Aku segera mendekati dia dan menerima uluran tangannya.


Matt ingin ikut, tetapi Theo melarang. Walau adiknya itu cemberut, aku melihat dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku sangat senang bisa memeluk dia lagi dari belakang ketika berada di jok sepeda motornya. Begini jauh lebih menyenangkan daripada di dalam mobil.

__ADS_1


Theo membawa aku ke rumah makan favorit kami. Pelayan yang sudah menghafal pesanan kami hanya mengonfirmasi dan tidak memberikan buku menu. Kami tertawa bersama melihat tingkahnya itu. Ketahuan sekali kami selalu memesan makanan yang sama setiap kali datang.


“Jadi, ada apa?” tanyaku ingin tahu. “Mengapa selama beberapa bulan terakhir kamu mengabaikan pesanku dan tidak mau menelepon?”


__ADS_2