
“Lobi. 20:00.”
Dosen gila itu benar-benar mengirim pesan memberi tahu nama hotel yang perlu aku datangi, titik temu, dan waktunya. Apa yang dia inginkan dengan menyuruh aku datang ke hotel? Dia bukan mau meniduri aku, ‘kan? Perutku mendadak bergejolak.
Aku segera ke kamar mandi merasakan perutku benar-benar mual. Ini gila. Aku mengenal dosen itu sejak mengerjakan proposal. Walau kami jarang berkomunikasi karena aku menyelesaikan segalanya dengan efektif dan efisien, aku tidak pernah menduga dia pria mêsum.
Kami juga selalu bimbingan di ruangan dosen, jadi apa yang membuat dia berubah sikap? Apa iya perubahan tubuhku membangkitkan darah prianya? Aku memang sudah mencapai berat ideal yang aku idamkan. Bagian tertentu pada tubuhku terlihat menonjol, tetapi aku tidak pernah memakai baju ketat yang bisa menggoda lawan jenis.
Tidak. Apa yang aku lakukan? Pria itu melecehkan aku, itu bukanlah salahku. Mengapa aku malah mencari di mana letak kekeliruanku? Dia serius dengan ancamannya, maka aku tidak boleh kalah. Aku memang ingin tamat kuliah dengan baik-baik, tetapi kalau harus ada yang terluka, bukan aku orangnya. Dosen ini nekat bermain api denganku.
Dia meminta aku memakai baju yang terbaik, maka itu yang aku kenakan. Aku menggunakan jasa ojek daring untuk pergi ke hotel. Gaji seorang dosen ternyata besar juga untuk memesan tempat di hotel semahal itu. Pria hidung belang itu sudah menunggu di lobi.
Keningnya berkerut melihat penampilanku. Memangnya apa yang dia pikirkan? Aku mengenakan baju berbelah dada rendah dengan rok sobek memamerkan paha, begitu? Atau dia pikir aku akan memilih baju super ketat di mana setiap lekukan tubuhku bisa dinikmati semua orang? Enak saja.
“Kamu pasti lapar. Kita makan dahulu.” Dia meletakkan tangan kurang ajarnya itu ke punggung bagian bawahku. “Aku sudah memesan tempat.”
Aku segera menepis tangannya. “Ada banyak mata yang melihat, Pak.”
Dia tertawa kecil. “Jangan berlagak masih peràwan. Aku tahu sejauh apa pergaulan anak-anak muda zaman sekarang. Apa kamu pikir video mêsummu itu tidak ditonton pihak kampus?” ejeknya.
Aku mengepalkan tanganku. Sial. Jadi, dia pikir aku perempuan murahan karena menonton video itu? Apa dia tidak tahu aku berciuman dengan pacarku, bukan dengan sembarang laki-laki? Enak saja dia mau meminta hal yang sama dariku.
Orang yang ada di ruang makan itu sibuk dengan teman makannya. Namun perhatian para karyawan kepadaku tidak luput dari perhatianku. Mereka mengikuti aku dengan mata mereka. Apa dosen ini sering datang ke sini membawa perempuan yang berbeda untuk dia tiduri?
Karena dia yang membayar makanan, maka aku tidak segan menyantap sebanyak yang aku mau. Lagi pula, aku membutuhkan energi untuk menahan emosi. Aku berusaha untuk mengabaikan caranya menatap dadaku di balik baju hangat tebal yang aku pakai.
“Masuk,” katanya setelah membuka pintu kamar yang dipesannya.
Dia masuk dahulu, maka aku menyusul di belakangnya. Aku menunggu sampai dia berjalan terus ke bagian dalam kamar sebelum melepas sepatuku dan menjadikannya sebagai penghalang pintu. Dia memilih kamar kecil dengan satu ranjang yang besar.
Tanpa membuang waktu, dia membuka beberapa kancing teratas kemejanya. “Apa yang kamu lakukan di situ? Kemari.” Dia mengajak aku mendekati tepi tempat tidur.
“Apa yang kita lakukan di sini, Pak?” tanyaku tidak mengerti.
__ADS_1
“Kamu mau lulus, ‘kan? Maka turuti aku dan skripsimu akan mendapat nilai yang terbaik. Kamu juga bisa mengikuti sidang gelombang pertama dan santai saja sampai hari wisuda.” Dia sudah membuka semua kancing kemejanya. “Kalau kamu tidak mau menurut, maka kamu tidak akan pernah lulus.
“Silakan saja, kamu mau pilih yang mana.” Dia berjalan mendekati aku. “Kamu tidak perlu takut. Aku sudah berpengalaman dan bisa memuaskan kamu lebih baik dari pemuda ingusan itu.”
“Pak, Anda adalah dosen pembimbing saya. Yang kita lakukan ini tidak benar.” Aku menjauh saat dia berusaha memegang tanganku. Seluruh tubuhku gemetar menahan emosi.
Dia tertawa kecil. “Karena itulah aku akan membimbing kamu dalam urusan orang dewasa juga. Apa kamu tidak mau lulus? Diam dan turuti aku atau kesempatanmu untuk tamat akan lenyap.”
“Jadi, begini caramu memperlakukan para gadis yang malang ini?” Terdengar suara dari arah pintu. Karena pintu tidak tertutup rapat, dia tidak mendengar ada yang membukanya dari luar.
Wajah pria itu memucat, mengenali pemilik suara tersebut. Dasar laki-laki otak pendek. Apa dia pikir aku ini bodoh? Untuk apa nilai sempurna selalu menghiasi hasil akademikku kalau menghadapi pria hidung belang seperti dia saja aku tidak bisa?
“Sa, sayang?” Dia membalikkan badan dan bertemu pandang dengan istrinya. “Se-sebentar. Kamu salah paham. A-aku dijebak, sayang.” Dia segera mengancingkan kemejanya kembali.
“Oh, begitu. Kamu dijebak oleh gadis muda ini?” tanya wanita itu berpura-pura prihatin.
“Iya. Dia mau lulus secepatnya, jadi dia mau mengancam aku dengan menggunakan kejadian di kamar ini. Ka-kamu tahu sendiri aku tidak pernah main mata dengan perempuan lain, sayang. Apa lagi dengan mahasiswa bimbinganku sendiri.”
Wanita itu mendekati suaminya, lalu memeriksa kantong celananya. Begitu menemukan benda yang dia cari, dia melakukan sesuatu. Pria itu pun semakin panik. Aku mengerti apa yang sedang istrinya lakukan. Biar dia tahu rasa.
“Aw! Sayang, tolong jangan lakukan ini.” Pria itu meringis saat istrinya menjewer telinganya.
“Pulanglah, Nak. Kamu tidak akan mengalami masalah yang sama lagi. Aku yang jamin kamu bisa menyelesaikan skripsimu tanpa ancaman lagi,” kata wanita itu dengan lembut kepadaku.
“Baik, Bu. Terima kasih.” Aku memeluk tas yang aku sandang.
“Tidak. Akulah yang berterima kasih. Aku tahu suamiku melakukan hal yang salah, tetapi aku tidak punya buktinya. Aku lega sudah melihatnya sendiri sekarang. Pergilah.”
Aku menunduk hormat kepadanya, lalu mendekati Matt dan Sonata yang sudah menunggu aku di ambang pintu. Syukurlah, aku melakukan hal yang benar dengan melibatkan mereka dalam hal ini. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kepadaku jika tidak ada mereka.
“Hei, kamu tidak apa-apa?” tanya Sonata yang memegang lenganku saat aku tersandung kakiku. “Amarilis, badan kamu gemetar.”
“Aku tidak apa-apa.” Aku tersenyum kepadanya.
__ADS_1
“Bapak itu memang sudah gila. Mentang-mentang kita membutuhkan dia untuk menyelesaikan tugas akhir, bukan berarti dia bisa berbuat sesukanya kepada kita.” Matt menolong memegang tanganku yang lain.
“Kakak hebat sudah memberi dia pelajaran. Semoga tidak akan ada lagi korban yang jatuh akibat perbuatan dosen mata keranjang itu.” Dia menoleh ke belakang kami, ke arah di mana kamar tadi berada. Menyeramkan.
“Sebaiknya, kita mampir ke suatu tempat agar Amarilis bisa menenangkan diri,” usul Sonata.
“Aku baik-baik saja,” tukasku.
“Sonata benar. Kakak tidak bisa pulang dalam keadaan begini. Gue tahu apa yang Kakak butuhkan.” Matt mengedipkan sebelah matanya.
Ternyata dia membawa kami ke kafe es krim. Usahanya boleh juga. Aku sebenarnya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia belum sempat menyentuh aku tadi, jadi aku tidak apa-apa. Aku lebih terguncang saat datang seorang diri ke rumahnya.
Namun yang membuat aku bisa berpikir dengan cepat adalah kejadian yang aku saksikan di mal beberapa waktu yang lalu. Sudah tidak ada lagi yang kebetulan dalam hidupku. Bila yang terjadi kepada keluargaku sudah diakui Tante Ruth sebagai perbuatannya, maka ada dua hal besar yang aku yakin direncanakan oleh orang lain.
Kalau aku tidak mengikuti nuraniku, maka aku akan kebingungan sendiri di kamar sewaku pada saat ini. Tidak tahu harus berbuat apa terhadap ancaman dosen mata keranjang itu.
“Aku salut denganmu, Amarilis. Kalau orang lain, pasti tidak berani melaporkan perbuatan dosen itu. Aku sampai terkejut dia tega melakukannya. Padahal para senior tidak memperingatkan kita tentang sifat buruknya itu.” Sonata bergidik.
“Kalau bukan karena aku punya kalian, aku juga tidak berani nekat. Selain itu, aku curiga dia tidak melakukan ini atas inisiatifnya sendiri.” Aku memandang mereka secara bergantian. “Selama satu semester lalu, dia tidak tertarik kepadaku sama sekali. Dia mendadak berubah, membuat aku curiga.”
“Benar juga. Kamu tidak mengeluhkan apa pun semester lalu.” Sonata mengangguk mengerti. “Lalu apa maksud kamu ini bukan inisiatifnya sendiri? Siapa yang menyuruh dia?”
___
~Author's Note~
Aku sampai lupa. Aku mohon maaf apabila yang terjadi terhadap Amarilis pada dua bab terakhir ini membuka kenangan buruk bagi pembaca tertentu. Kejadian yang tidak mengenakkan ini juga terjadi kepada temanku saat di SMU maupun kampus.
Enggak habis pikir. Pendidik, tetapi kelakuannya tidak mendidik. Seramnya, kasus seperti ini justru makin marak terjadi dan korban yang jatuh tidak sedikit. Entah siapa yang salah. Yang bisa kita lakukan hanya menjaga anak-anak kita (anak laki-laki dan perempuan sekarang sama saja beratnya) dan jadi teman bicara mereka agar bisa melindungi dirinya juga.
Untuk para penyintas kekerasan s*ksu@l, kalian hebat! Jangan berhenti berjuang, ya.
Salam sayang,
__ADS_1
Meina H