
Aku tersenyum melihat antrian di depan gerobak pedagang itu. Ternyata semakin banyak orang yang tahu tentang dagangannya. Syukurlah, usahaku itu berhasil. Aku meminta Hercules untuk mampir dan berpura-pura membeli makanannya, lalu memotretnya. Sama seperti usaha toko roti orang tua, aku juga memosting menu sarapan ini di media sosial.
“Selamat pagi. Mau pesan apa? Makan di sini atau dibungkus?” tanya ibu itu dengan ramah ketika giliranku tiba.
“Lontong saja, Bu, tanpa lauk dan jangan pedas, ya,” jawabku. “Makan di sini.”
Dia menuruti pesananku, lalu memberikan piring yang sudah diisinya kepadaku. Aku duduk dan menyantap makanan yang rasanya masih sama enaknya itu. Udara dari mobil yang lalu lalang pada pagi hari terasa sejuk, membuat masakan itu terasa semakin nikmat.
Aku menunggu suasana sepi untuk mengembalikan piringnya. Dia dari tadi tidak berhenti melayani pembeli yang datang. Mereka bukan hanya pelajar yang sekolahnya ada di dekat sini, tetapi juga karyawan kantor yang datang dengan kendaraan pribadi mereka.
“Terima kasih banyak, Bu.” Aku mengembalikan piring miliknya. “Berapa semua?”
“Tujuh ribu saja, Nak,” jawabnya. Dia menerima uang dariku, lalu memberikan kembaliannya. “Apa kamu baru di sini? Saya tidak pernah melayani kamu sebelumnya.”
“Kalau badan saya gemuk dan bermain biola di sini, apa Ibu akan ingat siapa saya?” godaku.
Dia menatap aku sejenak, lalu matanya membulat melihat tubuhku. “Kamu Amarilis??” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk. “Ada apa denganmu? Apa kamu tidak cukup makan?”
Aku tertawa geli. “Saya sengaja menurunkan berat badan, Bu, biar sehat,” akuku.
“Wah! Saya jadi iri. Saya tidak punya badan kurus lagi.” Dia mengusap-usap lenganku. “Apa kamu sudah selesai kuliah?”
“Sudah, Bu. Saya akan lanjut sekolah lagi.”
“Bagus itu. Selagi muda harus sekolah tinggi-tinggi,” pujinya. Dia menoleh ke sebelahku, ada orang yang datang untuk membeli dagangannya. Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk pamit.
Namun baru beberapa kayuhan, dia berseru memanggil namaku. Aku mengabaikannya dan terus menggerakkan sepedaku menjauh darinya. Aku sengaja menempelkan uang dalam amplop di bawah piring yang aku pakai tadi. Jumlahnya tidak banyak, tetapi cukup untuk membantu.
Aku memasuki sebuah restoran dan memesan camilan mereka yang aku tahu rasanya sangat enak. Menunggu sebentar, kue dan minuman pun diantar ke mejaku. Tempat ini memang butuh hiburan agar terasa lebih hidup. Aku tidak tahu siapa yang sekarang menghibur para tamu di sini.
Puas makan dan membayar tagihan, aku mengeluarkan biolaku dari tempatnya. Tidak banyak tamu yang datang padahal sudah jam makan siang. Sepertinya ruang makan ini hanya perlu sedikit warna baru agar semakin banyak yang datang.
Semua mata menoleh ketika aku memainkan nada pertama. Aku menundukkan kepala sebagai salam kepada mereka, lalu menyelesaikan lagu pertama tersebut. Orang yang pertama keluar dari pintu dapur adalah kepala koki yang dahulu menyelamatkan aku, disusul pemilik restoran.
Mata mereka berkaca-kaca menyaksikan aku bermain sebaik mungkin di depan semua orang. Aku hanya memainkan tiga lagu, lalu mengakhirinya dengan menundukkan tubuh kepada semua orang. Tepukan tangan pun memenuhi restoran itu.
__ADS_1
“Kamu dari mana saja?” tanya pemilik restoran itu terharu. “Kamu beda sekali sekarang.”
“Apa kuliah kamu sudah selesai?” tanya kepala koki.
“Aku tidak bisa lama-lama, hanya mau mampir sebentar menyapa bapak berdua,” kataku.
Kami mengobrol sesaat saling melepas rindu, lalu aku pamit. Pria baik hati itu menawarkan sejumlah uang atas penampilanku, tetapi aku menolak. Kepala koki itu mengantar aku sampai ke dekat sepeda di tempat parkir. Kesempatan itu aku gunakan untuk menyisipkan amplop di kantong celemeknya.
Aku melajukan sepedaku dengan cepat agar dia tidak bisa mengejar aku. Badannya masih gemuk, jadi dia tidak bisa lari dengan cepat. Aku menoleh dan melambaikan tanganku kepadanya. Semoga orang-orang yang pernah baik kepadaku itu akan selalu dijaga Tuhan.
Minggu-minggu terakhir berada di Medan aku manfaatkan sebaik mungkin. Aku membagi waktu antara Keluarga Andriyana dan Wibowo. Pada hari kerja, aku tinggal di rumah Amarilis, lalu di rumah Katelia pada akhir pekan. Aku suka dengan kedua identitasku itu.
Kedua mamaku semakin sering menangis begitu hari kepergianku semakin dekat. Hari bahagia saat membuka toko roti Mama lagi malah mereka isi dengan tangisan. Orang-orang berpikir mereka hanya terharu, padahal bukan itu alasannya.
Walau perasaanku tidak enak, aku tidak menunda kepergianku untuk lanjut studi. Hanya dua tahun, lalu kami bisa bertemu lagi. Aku bisa saja mengambil program satu tahun, tetapi kampus tidak menyarankan hal itu. Menurut mereka, program dua tahun jauh lebih baik.
“Jaga dirimu baik-baik, ya. Sering-sering telepon kami,” kata Bunda dengan wajah berderai air mata.
“Iya, Bunda,” jawabku dengan berat, berusaha untuk menahan air mataku.
“Terima kasih, Bunda.”
“Mengapa kamu harus pergi secepat ini?” Tangisnya pecah, maka aku memeluknya. “Aku belum puas mengobrol denganmu. Aku juga masih mau membelikan banyak barang untukmu.”
“Sayang, jangan begini,” bujuk Ayah. “Kita bisa mengunjungi dia di sana. Biarkan dia pergi dengan tenang. Jangan malah buat dia khawatir.”
Bunda pun menurut. Aku memandang Ayah, Kak Nolan, Papa, Mama, dan Hercules, mengingat wajah mereka semua, lalu berjalan menuju antrian pemeriksaan ke ruang tunggu. Aku melangkah dengan ringan, tidak mau terbebani dengan orang-orang yang aku tinggalkan.
Kak Jericho sudah menunggu bersama Matt saat aku keluar dari terminal kedatangan. Matt tidak menunggu sampai aku dekat dengan berlari mendapati aku. Bukannya mengambil alih troliku, dia memeluk aku dengan erat, lalu merangkul aku sambil mendekati Kakak.
“Dasar laki-laki tidak tahu etika,” omel Kak Jericho. “Seharusnya kamu bawa trolinya.”
“Ada lo, kenapa gue yang repot?” balas Matt dengan santai.
Walau sikap mereka berdua menjengkelkan, aku merindukan suasana itu. Apalagi aku hanya melihat ini hanya untuk satu hari, lalu berpisah dengan mereka selama dua tahun lebih. Karena itu, aku tidak berusaha untuk melerai mereka.
__ADS_1
Kami berbincang saling berbagi kabar dalam perjalanan. Aku senang mendengar Matt bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Dia juga sudah aktif lagi dalam orkestranya. Sayang sekali, aku tidak bisa menghadiri konser terdekat mereka.
Aku heran melihat tempat tujuan kami. Mengapa Matt tidak memilih mal seperti kebiasaannya atau restoran layaknya kebiasaan Kakak? Semakin dekat ke lobi, aku pun mengerti. Sudah ada seorang wanita muda cantik yang berdiri di sana.
“Sonata!” seruku senang saat keluar dari mobil.
“Amarilis!” balasnya. Kami berpelukan sesaat, saling melepas rindu. “Kamu gila. Kamu benar-benar lanjut kuliah ke luar negeri!”
“Hei, cepat masuk! Gue lapar!” panggil Matt yang menunggu di sisi mobil.
Kami saling berbagi cerita sambil makan siang di restoran terdekat. Sonata sedih tidak bisa ikut bersama kami, karena dia harus kembali bekerja. Aku, Kak Jericho, dan Matt melanjutkan aktivitas kami dengan menonton film, bersantai di kafe, barulah aku menginap di apartemen Kakak.
Aku harus bangun pagi-pagi benar untuk berangkat ke bandara. Kakak mengantar aku dan ikut menunggu sampai aku masuk ke kabin pesawat. Dia menjadi orang terakhir yang aku lihat wajahnya. Begitu duduk di kursi pesawatnya, barulah aku menangis, sedih meninggalkan tanah air.
Perjalanan panjang itu melelahkan, apalagi pada saat transit. Ini bukanlah penerbangan selama dua puluh empat jam pertamaku sebagai Katelia, tetapi yang pertama bagi Amarilis. Jadi, aku harus melewati pemeriksaan ketat, terutama saat memasuki Amerika Serikat.
Sendirian di tempat yang asing bukanlah masalah bagiku. Negara ini tempat yang dahulu sering aku kunjungi. Namun kampus berbaik hati mengirim orang untuk menjemput aku di bandara. Sayangnya, aku tidak melihat satu orang pun yang memegang papan bertuliskan namaku.
Ponselku terhubung dengan internet bandara, tetapi aku merasa segan menghubungi pihak kampus demi menanyakan nomor kontak orang yang menjemput aku. Sebentar. Aku tidak bisa menelepon siapa pun karena masih memakai nomor Indonesia. Bodoh.
“Ah!” Seseorang menyenggol lenganku sehingga ponsel yang aku pegang terlepas dari genggaman. Ponsel mahal pemberian Matt itu meluncur bebas ke lantai, tetapi seseorang menangkapnya dengan cepat. Jantungku nyaris berhenti membayangkan alat yang berharga itu hampir rusak.
“Oh. Maafkan saya,” ucap bule menjengkelkan yang tidak punya mata itu.
“Tolong, hati-hati saat berjalan,” kataku, menahan emosi.
Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan, punya mata dipakai, tetapi aku ingat aku sedang ada di negeri orang dan perlu menjaga sikap. Aku menoleh ke arah penolongku itu, dan debaran jantungku pun semakin cepat saat bertemu pandang dengannya. Apa aku sedang bermimpi?
___
~Author's Note~
Siapakah sosok yang dilihat Amarilis? Biasanya yang buat deg-degan itu ketemu cowok tinggi yang menyeramkan karena berewokan atau ganteng banget serasa jatuh dari kayangan.
__ADS_1