Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
154|Menerima Konsekuensi


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan—” Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya ketika suaminya mengangkat tangannya, meminta dia untuk tenang.


“Amarilis, tolong panggil Theo dan Matt,” kata Om Azarya.


“Baik, Om.” Aku membuka pintu lebih lebar, lalu berjalan menuju kamar.


“Siapa yang datang, Kak?” Matt membuka pintu kamarnya, lalu melihat ke arah pintu depan. “O-ow.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan? Bukannya keluar dari tadi dan membuka pintu, malah berlama-lama di kamar. Aku tidak ingin begini cara kami bertemu lagi.


Aku membuka pintu kamar bersamaan dengan Theo memutar kenopnya. Aku menarik tanganku dan mundur selangkah. “Apa ada tamu yang datang?” tanyanya begitu kami bertemu pandang. Aku menoleh ke arah belakangku. “Oh.”


“Ya, Tuhan, Theo! Kamu baik-baik saja, Nak?” Tante Ruth segera mendekat dan memeriksa keadaan telinga kanan putranya yang diperban.


“Aku baik. Hanya terserempet pêlúru.” Dia menoleh kepada papanya. “Ada apa datang tiba-tiba?”


“Ayo, kita makan malam bersama,” ajak Om Azarya.


“Tetapi gue sudah—” Theo melirik ke arah meja makan.


“Tentu saja, Pa!” potong Matt. “Ayo. Aku sudah lapar.” Dia pasti tidak mau makan masakan Theo, makanya dia langsung setuju begitu.


Theo menggandeng tanganku, lalu mengajak aku menuju pintu. “Sebentar,” kata Tante Ruth.


“Tidak apa-apa, Ma,” panggil Om Azarya. Istrinya itu ingin protes, tetapi papa Theo menatapnya dengan tajam. Wanita itu pun akhirnya menurut.


Kami memakai mantel dan syal, baru keluar dari apartemen. Para pengawal kami segera bergerak mengikuti kami. Karena jumlah kami banyak, maka kami menggunakan dua elevator. Mobil sudah menunggu di depan lobi, Theo mengajak aku memasuki mobil di mana Daisy berada.


Hanya beberapa menit, kami tiba di depan sebuah hotel. Sepertinya ini tempat menginap kedua orang tua mereka. Om dan Tante berjalan masuk dahulu, kami mengikuti mereka. Para pengawal berbaur sehingga kami tidak bisa menebak di mana mereka berada.


Bellboy mengantar kami ke depan sebuah pintu, lalu membukanya. Om Azarya masuk diikuti oleh istrinya. Ternyata sudah ada orang yang menunggu kami di dalamnya. Aku tidak mengenal mereka. Mungkin teman baik keluarga ini.


“Azarya, aku benar-benar meminta maaf,” kata pria yang paling tua di antara mereka bertiga.


“Duduk, Gordon. Kita makan, lalu bicara,” ucap Om Azarya.

__ADS_1


Gordon? Apakah mereka adalah keluarga Hillary? Dilihat dari wajah wanita yang duduk di samping pria bermarga Gordon itu, dia mirip dengan wanita jahat itu. Karena meja makan itu berbentuk bulat, maka kami bisa duduk di mana saja. Aku diapit oleh Theo dan Matt.


“Setahuku, kamu hanya punya dua anak laki-laki. Siapa wanita muda yang cantik ini?” tanya Gordon dengan sopan. Pujiannya itu membuat wajahku memanas. Aku dinilai cantik.


Walau tidak muda lagi, tubuhnya besar dengan otot yang pasti sangat keras. Pantas saja Antonio menyebut dia orang yang paling ditakuti di kota ini. Pria itu pasti akan melawan siapa saja yang berusaha untuk menghalangi jalannya.


“Jangan basa-basi. Itu bukan gayamu. Kamu tahu betul siapa dia,” kata Om Azarya. Luar biasa. Dia tidak takut sama sekali menghadapi pria yang tubuhnya jauh lebih besar darinya.


“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu Hillary telah dua kali berusaha untuk membunuh Theo. Sungguh, Azarya.” Pria itu memandang papa Theo dengan serius. “Tolong, maafkan juga putriku yang sudah membuat keluargamu susah. Aku akan menghormati prosedur hukum yang berlaku. Dia pantas untuk mendapatkannya, tetapi jangan akhiri persahabatan kita.”


“Apa kamu tidak bisa menunggu sampai kita selesai makan?” tukas Om Azarya.


“Apa gunanya? Aku tetap tidak bisa mengunyah makanan sebelum kita membicarakan ini.”


“Baiklah. Aku hanya akan memaafkan kamu setelah Hillary menjalani hukuman di sini dan di negara kami. Aku tahu bahwa polisi setempat tidak akan mengizinkan dia dibawa ke Indonesia untuk diadili sebelum menjalani hukuman atas kejahatannya beberapa hari yang lalu,” kata Om Azarya.


“Jadi, pastikan kamu berumur panjang untuk melihat putrimu bebas dari penjara. Aku tidak percaya dia mencelakainya satu kali sehingga putraku tidak bisa mengingat aku dan mamanya. Lalu mencoba untuk yang kedua kalinya.” Om Azarya berhenti sejenak. “Mengapa?”


“Mengapa putraku?” tanya Om Azarya lebih detail. “Mereka tidak pernah berinteraksi sebelumnya. Bagaimana bisa dia hanya satu kali datang ke Indonesia langsung membujuknya untuk kawin lari?”


“Mengenai itu ….” Gordon menoleh ke arah istrinya. Wanita itu mengangguk sedih. “Putri kami berteman baik dengan Clara Willis. Perempuan itu yang memanasi dia sehingga menyukai Theo. Itu menurut pengakuan Hillary kepada mamanya. Kamu bisa mengonfirmasinya langsung dari Clara.”


“Kamu tahu sendiri, anak muda mudah tersulut emosi,” timpal wanita itu. “Dia tidak menyadari Clara sedang membuat dia jatuh cinta kepada Theo. Aku sadar putriku salah, karena itu aku tidak membantu dia bebas dari jeratan hukum. Ini pelajaran untuknya.


“Namun Clara juga sudah jahat telah sengaja mempermainkan emosinya. Belakangan aku tahu, wanita itu menyukai Theo dan sakit hati karena ditolak berulang kali. Mungkin dia tahu Hillary akan melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya, jadi dia memilih putri kami untuk membalas dendamnya. Beri keadilan kepada kami, Azarya. Ampuni putriku.”


Om Azarya dan Tante Ruth saling bertukar pandang. “Dia tidak akan mendapat hukuman berat di sini, tetapi berbeda dengan di Indonesia, Gordon. Peristiwa itu memakan korban jiwa. Kalian tahu sendiri apa hukuman untuk pêlàku pêmbúnuhan berencana.


“Mengenai hubungan kita, kamu tidak bersalah. Ini sepenuhnya kesalahan putrimu,” lanjut Om Azarya. “Tetapi, maaf, aku harus mengakhiri hubungan kerja sama kita.”


“Itu tidak adil, Azarya!” protes pria itu. “Aku … begini saja. Bagi keuntungan kita aku naikkan. Kamu enam puluh, aku empat puluh. Kamu tidak akan mendapatkan penawaran setinggi itu dari siapa pun.”


“Itu yang namanya tidak adil, Gordon,” balas Om Azarya.

__ADS_1


“Hidup tidak adil, tetapi bisnis harus saling menguntungkan, Azarya. Kamu sendiri yang bilang, ini bukan kesalahanku. Aku tidak terima kerja sama kita putus karena ulah putriku.”


“Setuju.” Theo berdiri dan mengulurkan tangannya. Gordon dan Om Azarya saling bertukar pandang. “Aku sudah lapar dan kalian tidak juga berhenti bicara. Jadi, biar aku yang mewakili papaku.”


Om Azarya mendesah pelan, kemudian menganggukkan kepalanya kepada Gordon. “Silakan jabat tangannya.” Dia pun mengalah.


Walau aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi mengenai bisnis mereka, aku menyimak semua yang ada hubungannya dengan Clara. Perempuan berengsek. Dia tahu betul menjaga tangannya tetap bersih dengan membayar atau memprovokasi orang lain demi tujuan pribadinya.


Kasihan juga wanita muda yang bernama Hillary itu. Dia tidak menyadari orang yang dia anggap teman baik sedang menjerumuskannya ke lubang yang dalam. Aku tidak bisa bayangkan berapa lama dia akan dipenjara di Indonesia untuk membayar kêmàtian sopir Theo.


Dugaanku benar mengenai pilihan hotel itu. Orang tua Theo menginap di sini. Usai makan, kami mengantar ketiga orang itu di depan lobi. Mobil tumpangan kami yang berikutnya datang. Namun Tante Ruth memegang lengan Theo sehingga kami tertahan sejenak.


“Apa ini?” Dia mengangkat tangan kanan Theo. “Kalian menikah diam-diam?”


“Sayang,” lerai Om Azarya. “Kita bicarakan itu nanti. Biarkan mereka pulang. Kita juga perlu istirahat, karena masih jet lag.” Walau ingin protes, mama Theo menuruti suaminya.


Sikap Om Azarya sejak kami pertama bertemu di apartemen sangat aneh. Apa dia tahu mengenai kehadiranku di tempat tinggal Theo? Dia juga tidak terkejut atau panik mengetahui aku dan putra sulungnya sudah menikah. Apa mungkin dia sudah tahu segalanya?


Hanya Tante Ruth yang bersikap natural dengan sikap kaget dan marahnya. Aku adalah orang yang tidak akan mereka duga tinggal satu atap dengan putra mereka, apalagi menjadi istrinya. Namun sikap Om Azarya sangat tenang, terlalu tenang.


“Mereka pasti akan mengajak kita makan lagi,” ucap Theo setelah menutup pintu apartemen.


“Giliran Keluarga Willis?” tebak Matt. Theo menganggukkan kepalanya. “Gue enggak habis pikir ada cewek sepicik Clara.”


“Hati-hati memilih teman. Jangan sampai lo berakhir seperti gue.” Theo menepuk pundak adiknya itu, lalu duduk di sofa. “Duduk, Amarilis.”


Aku menurut. Berada di ruangan ini jauh lebih aman daripada di kamar dan bercinta sampai pagi dengannya. Dia dan Matt sibuk dengan gadget mereka. Sesekali mereka mendiskusikan hal yang acak. Aku tidak ikut campur dengan memeriksa media sosialku.


Sikap Theo terhadap Matt sangat santai. Berbeda sekali dengan sikapnya kepada orang tuanya tadi. Dia terkesan menjaga jarak, bahkan saat bicara dengan mereka, dia tidak menggunakan kata sapaan. Apa dia belum terbiasa memanggil mereka papa dan mama?


Rasanya aku baru saja pulas ketika mendengar suara di dekatku. Masa dia sudah meminta lagi? Apa dia tidak mengenal lelah? Aku membuka mata dengan malas dan mendengar suara Theo menahan sakit. Aku segera menyalakan lampu nakas dan duduk.


Theo sedang berlutut dengan kepalanya berada di kasur dan kedua tangan menekan kedua sisi bagian paling atas tubuhnya itu. Dia meringis kesakitan, membuat aku panik. “Theo? Ada apa?”

__ADS_1


__ADS_2