Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
20|Si Penyelamat


__ADS_3

Matilah aku. Pertanyaan pertama bisa aku jawab dengan mudah. Mereka tidak tahu aku bisa bermain biola atau tidak, jadi aku tinggal mengaku saja kalau aku diajari oleh tetanggaku. Yang sulit itu mencari alasan mengenai biola yang aku pakai.


“Mengapa kamu diam saja? Ayo, jawab!” desak Chika.


“Bagaimana orang bodoh dan lambat seperti kamu bisa berubah drastis begini? Bermain biola tidak mudah, bagaimana bisa kamu bermain dengan mulus begitu?” tanya Nisa, ikut menambahkan.


“Kat tidak akan pernah mau barangnya disentuh olehmu. Dari mana kamu dapatkan biola itu? Apa kamu mencuri dari rumahnya?” hardik Rahma.


Katelia sangat membenci aku, karena jelek dan lambat. Yang paling membuat dia kesal adalah tubuhku yang gemuk dan otakku yang bodoh. Ini bukan kesalahanku, karena mamaku sendiri tidak peduli dengan pendidikanku. Hanya anak laki-laki yang dia perhatikan.


Hercules mendapatkan segala kemudahan, sedangkan aku tidak. Bahkan aku sekolah pun ada yang membiayai. Entah siapa yang memberi aku beasiswa, masih perlu aku telusuri. Namun orangnya tidak pernah memberi kabar, mungkin dia hanya berkomunikasi dengan orang tuaku.


Bagaimana ini? Otakku mendadak tumpul. Aku, Katelia Wulan, tiba-tiba tidak bisa berpikir. Ayo, dong. Pikirkan alasan apa saja yang masuk akal. Apa yang memungkinkan Katelia untuk memberikan barangnya kepada orang hina seperti aku?


Duh, tidak ada. Katelia sangat menyayangi semua biola koleksinya. Karena itu, dia memberi tanda pada semua benda itu dengan stiker khususnya yang tidak akan bisa hilang dimakan waktu. Aku bodoh sekali. Seharusnya aku menutup stiker itu dengan sesuatu. Oh, Tuhan. Tolong aku ….


“Hai, Riris!” Seseorang tiba-tiba saja merangkul bahuku. Jantungku yang berdebar begitu cepat dari tadi, nyaris berhenti.


Suara ini. Aku menoleh dan benar saja. Kak Jericho berdiri begitu dekat di sisiku. Apa yang dilakukan kakak bodohku ini di sini? Setahuku, dia mengambil cuti kuliah untuk satu tahun demi karier modelingnya yang tidak seberapa itu. Namun mataku memanas, aku selamat.


“Ada apa? Mengapa wajah kalian tegang begitu?” tanyanya bingung.


“Kakak sejak kapan berteman dengan perempuan gendut ini?” tanya Chika dengan sinis.


Kak Jericho menoleh dan memperhatikan tubuhku sesaat. “Dia tidak gemuk-gemuk amat.”


“Mengapa Kakak dekat dengan dia?” tanya Chika lagi, mendesak. “Kakak berteman dengan dia?”


“Sejak kapan kami bermusuhan?” tanya Kak Jericho dengan heran.


“Dia adalah orang yang tidak disukai Kat,” kata Nisa, mengingatkan.


“Apa semua orang yang adikku benci harus aku benci juga?” tanyanya lagi. Hal yang menjengkelkan darinya itu justru sangat aku sukai saat ini.


“Tetapi Kat—”


“Adikku sudah meninggal, mengapa kalian masih saja menyinggung-nyinggung dia.” Kak Jericho menarik aku untuk mengikutinya. “Ayo, ada hal penting yang harus kita bicarakan.”


Chika, Rahma, dan Nisa hanya bisa merapatkan bibir mereka, membiarkan kami pergi. Syukurlah. Akhirnya, aku lepas juga dari mereka. Kalau Kakak tidak datang menolong, entah apa jadinya aku tadi. Jangan-jangan, aku terpaksa mengakui siapa aku yang sebenarnya.


“Dasar bodoh!” Kak Jericho mengacak-acak rambutku saat kami sudah jauh dari mereka dan berada di sebuah sudut koridor yang sepi. “Apa kamu sudah bosan hidup damai? Apa yang kamu lakukan sampai ketahuan begitu??”


“Iih, bukan salahku. Mereka saja yang selalu ingin tahu tentang aku dan mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Aktor kawakan juga mustahil bisa berakting terus,” kataku, membela diri.

__ADS_1


Aku memandang ke sekeliling kami, memastikan tidak ada orang yang ada di dekat kami. Bahaya, jika ada yang mendengar percakapan kami ini. Namun tidak ada seorang pun yang lalu-lalang. Aku menghela napas panjang, menenangkan debaran jantungku.


“Tapi jangan sebodoh ini kesalahannya. Mengapa kamu main biola di depan umum??” Dia mencubit pipi tembamku dengan gemas.


“Kakak mencuri dengar, ya?” tanyaku curiga. “Lagi pula, apa yang Kakak lakukan di sini? Bukannya Kakak ambil cuti satu tahun? Ini baru satu semester.”


“Aku bosan dikejar penggemar. Jadi, aku mau kembali hidup normal dan menyelesaikan studiku. Masa kamu yang lebih dahulu wisuda. Mau ditaruh di mana harga diriku?” candanya. Dia tiba-tiba saja memeluk aku dengan erat. “Ya, ampun, Kat. Aku rindu beraaat.”


“Sssstt. Jangan sebut nama itu!” seruku dengan suara tertahan.


“Dada Riris besar juga,” gumamnya.


Aku segera memukul kepalanya dengan keras. “Dasar otak kotor! Walau ini bukan tubuh asliku, aku masih adikmu. Jangan macam-macam!”


“Siapa juga mau macam-macam?” Dia mengusap-usap bagian kepalanya yang sakit. “Biar kamu jadi secantik bidadari dari kayangan juga, aku tidak tertarik. Aku hanya bicara jujur.”


“Apa lagi yang mau Kakak bicarakan? Aku tidak mau terlambat kuliah.” Aku melirik jam tanganku.


“Aku jemput untuk makan siang. Jadi, jangan kabur. Jam berapa kamu makan?” tanyanya.


Setelah menentukan waktu dan tempat pertemuan, kami pun menuju ruang kuliah masing-masing. Aku duduk dengan tenang di barisan paling belakang, lega karena urusan dengan ketika gadis nakal itu bisa diselesaikan dengan mudah.


Tukang terlambat itu belum datang ketika aku menunggu di dekat gerbang kampusku. Justru Theo yang berdiri di sana dengan wajah dingin. Kesalahan apa lagi yang sudah aku lakukan sehingga dia memberi aku ekspresi itu kembali?


“Kita perlu bicara,” katanya, tanpa basa-basi. Dia memberikan helmnya kepadaku.


“Gue ikut,” ucapnya dengan tegas.


Ada apa dengannya? Sikapnya aneh sekali. Tidak ada Chika dan teman-temannya di sekitar kami, jadi tidak mungkin aku baru difitnah. Dia bukan mamanya yang bisa memerintah aku seenaknya. Dia juga bukan kakakku yang bisa ikut sesukanya ke mana aku pergi.


Namun aku tidak mau dia tahu aku akan bertemu dengan kakakku di sini. Dia dan ketiga gadis jahat itu adalah orang yang tidak boleh tahu kami punya hubungan yang dekat. Karena kesalahan kakakku yang bodoh itu juga, jadi Theo yang ada di sini lebih dahulu.


Maka aku mengalah dan menerima helm tersebut. Dia membawa aku ke sebuah tempat makan yang tidak ramai. Walau makanannya terlihat sangat enak, aku menahan diri dengan memesan porsi yang secukupnya. Badanku tidak seperti Katelia yang meskipun banyak makan tetap ramping.


“Bagaimana lo bisa mengenal keluarga Wiryawan?” tanyanya setelah pelayan pergi.


“Wiryawan siapa?” Aku balik bertanya. Nama itu terdengar tidak asing, tetapi di mana aku mengenal orang dengan nama itu?


“Semalam lo bermain biola dalam acara mereka di lobi hotel,” jawabnya dengan lengkap.


Matilah aku. Satu orang lagi yang tahu aku bermain biola. Aku segera mengenal nama Wiryawan yang dia maksudkan. Nama pria yang meminta aku menghibur mereka pada acara di hotel itu bernama belakang Wiryawan. Apa dia seorang pengusaha kaya sehingga Theo juga mengenalnya?


Seharusnya aku pakai topeng atau penutup kepala. Ah, tidak bisa. Aku mengenakan gaun pemberian ibunya pada hari Natal lalu, jadi wajar saja dia segera mengenali aku. Sepatu yang aku pakai juga yang mereka hadiahkan pada hari itu. Bagaimana ini?

__ADS_1


“Aku tidak kenal mereka dengan baik. Kebetulan saja aku bertemu dengan Pak Wiryawan dan dia meminta aku untuk bermain menghibur mereka pada acara itu,” akuku.


“Sudah berapa lama lo bisa bermain biola?” tanyanya lagi.


“Ah, i-itu,” jawabku gugup melihat dia memicingkan matanya. “A-aku belajar dari tetanggaku. Dia mengamen dan pintar sekali bermain biola. Dia mengajari aku sebagai bekal, karena Mama tidak mau membiayai kuliahku. Katanya, aku bisa mencari duit dengan bermain musik seperti dia.”


“Oh. Gue pikir orang yang memberi lo beasiswa juga membiayai les biola itu.” Dia mengangguk mengerti. Aku lega mendengar dia percaya kepadaku. “Lalu bagaimana dengan Richo?”


“Hah?” tanyaku bingung.


“Lo punya hubungan apa dengan Jericho?” ulangnya.


“Tidak ada hubungan khusus. Model terkenal seperti dia mana mungkin mau punya hubungan apa pun denganku,” jawabku sedikit gugup.


“Bukannya lo suka dengan dia?” tuduhnya dengan tajam.


Perutku bergolak dan rasanya aku mau muntah mendengar kata suka itu disandingkan dengan kakak kandungku. Yang benar saja. Aku belum gila. Badanku boleh beda, tetapi jiwaku tetap Katelia. Mana mungkin aku suka dengan kakak bodohku itu. Ah, tetapi dia tidak tahu. Dia sedang membicarakan Amarilis, bukan Katelia.


“Itukah sebabnya lo berusaha keras untuk menurunkan berat badan? Lo tahu dia akan masuk kuliah lebih cepat dari rencana dan mau mendekatinya?” tuduhnya lagi.


Oh. Apa dia melihat aku dan Kak Jericho bicara berdua pagi tadi? Itukah sebabnya dia marah-marah begini? Namun apa hubungannya aku dengan kakakku sampai dia gelisah begini? Sepertinya dia tidak mendengar percakapan kami, karena dia tidak tahu aku adalah Katelia.


“Ada apa dengan semua pertanyaan ini?” tanyaku bingung. “Kamu bilang kita perlu bicara itu karena kamu mau menginterogasi aku?”


“Jawab saja pertanyaan gue. Lo olahraga setiap pagi demi dia?” desaknya, tidak sabar.


“Aku olahraga supaya sehat, bukan demi siapa-siapa,” jawabku dengan tegas.


“Selama kita sekolah, lo tidak mau berolahraga walaupun gue ajak. Mengapa lo berubah pikiran sekarang?” tanyanya, tidak mau percaya.


“Sebentar. Bagaimana kamu tahu aku berolahraga setiap pagi?” tanyaku terkejut. Apa dia juga hobi menguntit aku seperti tiga perempuan nakal itu?


“Lo punya giliran untuk bertanya, jawab saja pertanyaan gue,” perintahnya.


“Aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan kamu,” kataku dengan berani.


Dia diam. Matanya menatap mataku, hidung, bibir, lalu rambut pendekku. Netranya itu turun ke leher, dada, lalu kedua tanganku. Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia mengamati tubuhku seperti itu? Apa ada yang menempel di badanku?


“Gue enggak suka cewek kurus. Semua cewek yang gue kenal kurusnya minta ampun sampai malas banget dekat-dekat mereka. Jangan turunkan berat badan lo lagi,” katanya, masih dengan nada memberi perintah. “Segini sudah cukup.”


“Mengapa kamu yang mengatur soal berat badanku? Aku masih mau turunkan sepuluh kilo lagi supaya tidak sesak napas setiap kali beraktivitas.”


“Tidak boleh,” katanya dengan tajam.

__ADS_1


“Mengapa tidak boleh?” protesku.


“Karena mulai dari detik ini lo jadi pacar gue.”


__ADS_2