Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
177|Berlagak Korban


__ADS_3

Begitu pintu ditutup, aku memegang tangan yang menjambak rambutku agar berhenti menariknya. Lalu mundur satu langkah, memutar tubuhku lewat bagian bawah tangannya, dan pemilik tangan itu pun menjerit kesakitan.


Aku hanya diam beberapa saat ketika mengenali pelakunya sambil memegang tangannya yang masih terpelintir itu. Biar dia tahu rasa akibat dari bermain-main denganku. Menyakiti orang lemah tidak ada apa-apanya dibandingkan kepuasan menghukum orang jahat.


“Lepaskan—” ringisnya kesakitan.


“Oh, maafkan aku.” Aku sengaja melepaskan tangannya dengan tiba-tiba supaya terasa lebih nyeri. Dia mengaduh kesakitan. “Kalau memilih lawan, pilih yang seimbang. Aku sudah bilang, mendekat satu kali lagi, kamu akan menyesal pernah berurusan denganku.”


Pintu tiba-tiba terbuka. “Sayang!” Theo masuk ke ruangan bersama Kak Jericho. Aku yakin pengawal kami ada di sekitar sini, tetapi mereka sengaja tidak menunjukkan diri. “Lo enggak apa-apa?”


Aku menggelengkan kepalaku. “Dia bukan lawanku. Jangan khawatir.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku. “Seharusnya kamu jangan datang. Dia pasti ingin bicara berdua denganku. Walau aku tidak mengerti mengapa dia harus menggunakan kekerasan.”


“Lo sudah melakukannya lebih dahulu. Gue hanya membalas perbuatan lo.” Dia menoleh kepada Theo. “Lo ingat, ‘kan? Dia sudah kasar sama gue di kantor lo? Gue enggak terima diperlakukan kasar begitu. Theo, lakukan sesuatu. Dia sudah menyakiti gue lagi. Lihat, tangan gue sampai merah begini.”


Ada yang salah dengan cara kerja otak perempuan ini. Semua orang juga akan bersikap kasar melihat suami atau istrinya dipeluk sembarangan begitu. Aku suka melihat orang kalah dariku, tetapi paling benci dengan orang yang berlagak jadi korban.


“Seumur hidup gue enggak pernah memukul perempuan. Jangan sampai lo jadi yang pertama. Gue lihat sendiri lo yang tarik rambut dia sampai ke sini.” Theo memeluk pinggangku. “Jangan pernah sentuh istri gue lagi. Ayo, kita pergi.”


Dia setengah menarik aku ke arah pintu. Aduh. Mengapa dia dan Kakak datang cepat sekali? Padahal aku belum selesai bersenang-senang. Aku mau menyakiti dia lebih dari itu. Setidaknya, aku mau menjambak rambutnya juga, plus, merusak dandanannya. Biar dia malu saat keluar dari sini.


“Theo, lo enggak bisa terus menghindar. Dia hanya simpanan lo, sedangkan gue adalah tunangan lo yang sebenarnya. Cepat atau lambat, lo harus tinggalkan dia,” kata perempuan itu dengan lancang.


Aku mengepalkan tanganku mendengar ucapannya itu. Berani sekali dia menyebut aku simpanan Theo. Yang paling kurang ajar, percaya diri sekali dia mendeklarasikan dirinya sebagai tunangan Theo yang sebenarnya. Perempuan tidak tahu malu.


“Kamu—” Aku mendekatinya, tetapi Theo menghalangi aku.


“Enggak ada gunanya diladeni. Dia sedang delusi.” Theo memeluk, setengah menggendong aku keluar dari ruangan itu. Aku memberontak ingin lepas, dia melotot. Karena aku tidak mau diikat lagi, maka aku mengalah. “Lo pasti lapar. Ayo, ada banyak makanan enak di aula.”

__ADS_1


Untung saja aku hanya menggerai rambut, tidak diikat, cepol, atau sanggul, jadi aku bisa merapikan bagian yang berantakan dengan sisiran jemariku saja. Theo meminta aku untuk duduk dan dia yang mengambilkan makanan dan minuman untukku.


Sayang sekali. Aku mau tahu apa yang Venny inginkan dengan memaksa aku ke ruangan tadi. Theo malah datang terlalu cepat sebelum kami sempat bicara. Apa dia seremeh itu dengan kemampuanku membela diri? Aku bisa saja lepas dari cengkeraman tangannya sebelum ditarik ke ruangan. Aku sengaja mengalah agar tahu apa maunya.


Aku terpaksa menunggu atau menggunakan kesempatan lain untuk memberi wanita itu pelajaran. Tidak. Berhadapan dengan teman yang menusuk dari belakang beberapa kali, aku belajar. Aku tidak bisa menunggu sampai diserang terlebih dahulu. Lebih baik mencegah daripada mengobati.


“Jadi, itu simpanan Altheo Husada?” Terdengar suara orang di sebelah kananku menyebut nama Theo. “Kasihan Ruth. Jodoh pertama putranya màti mengenaskan, yang kedua putus begitu saja, lalu yang ketiga menemui banyak tantangan.”


“Padahal Venny jauh lebih cantik. Apa yang menarik dari perempuan miskin itu? Semua yang ada di wajah dan tubuhnya palsu. Kamu lihat, ‘kan, foto aslinya? Biar oplas seratus kali juga mukanya tetap saja jelek. Karena hatinya busuk,” kata wanita kedua.


“Enggak usah heran. Zaman boleh maju, tetapi pelet masih hidup. Dia pasti pakai itu untuk dapatkan laki-laki sekaya dan setampan Altheo. Apalagi dia ahli waris utama Husada. Siapa yang akan menolak kesempatan bisa hidup enak dengannya? Jadi simpanan pun mau,” timpal wanita pertama.


“Sstt. Dia datang. Sebaiknya dia tidak dengar kita membicarakan dia. Kabarnya kalau marah, Altheo bisa membekukan api sekalipun,” ucap perempuan kedua.


Benar saja. Sebuah piring diletakkan di depanku beserta sebuah gelas berisi jus. Theo duduk di sisiku, kemudian seorang pelayan datang membawa baki. Dia menaruh bagian suamiku di depannya, juga beberapa piring lain berisi lauk dan sayur tambahan.


Ingin menggoda kedua perempuan yang duduk di meja sebelah kananku, aku sengaja membiarkan nasi, kari, dan bumbu apa pun yang aku makan, menempel di sudut bibirku. Theo yang memang sangat perhatian sejak aku hamil melihat hal itu, lalu menyeka dengan jarinya atau tisu.


Aku bisa melihat dari sudut mataku bukan hanya dua, tetapi semua perempuan di meja itu semakin membicarakan aku. Sayangnya, dengan kehadiran Theo, mereka memilih untuk berbisik. Padahal aku mau tahu apa pancinganku berhasil atau tidak.


Mendapat kesempatan lain lagi, aku melakukan hal yang sama saat makan kue. Aku membiarkan krimnya menempel di sudut bibirku. Hal yang masih tidak luput dari perhatian Theo. Dia menyeka dengan sabar menggunakan jari atau tisu, sampai satu kali dia mengejutkan aku.


Bukannya membersihkan dengan tisu, dia malah menjilatnya dengan lidahnya, lalu lanjut mênciúm bibirku. Setelah rasa terkejutku hilang, aku membalas cîúmannya itu. Namun dia menjauh sebelum kami kehilangan kendali. Sayang sekali, kami sedang di tempat umum.


“Cukup,” bisiknya. Aku tertawa kecil mengetahui maksudnya. “Lo enggak perlu terus memanasi mereka. Apa lo harus berantem dengan ibu-ibu juga?”


“Katakan itu juga kepada mereka. Jangan hanya aku,” cibirku.

__ADS_1


“Mereka bukan istri gue.” Dia mengusap puncak kepalaku. Benar juga. Untuk apa dia menegur orang yang tidak dia kenal? “Makanlah, lalu kita pulang.”


Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Tujuanku datang ke tempat ini sudah selesai, jadi aku tidak perlu tinggal lebih lama. Kami menikmati hiburan penyanyi tenar yang sedang tampil sampai kue di piring kami ludes. Ingat dengan misiku, maka aku memotret tangan kami yang ada di atas meja dan mengunggahnya ke media sosial. Attending an event with my hubby.


Setelah menyapa semua orang kesayanganku pada Sabtu pagi itu, aku lanjut dengan mencari tahu perkembangan Rahma dan Nisa. Mereka aktif di media sosial, jadi aku bisa dengan mudah melihat aktivitas mereka sejauh ini. Apalagi mereka mengaturnya untuk publik.


Rahma bekerja untuk ayahnya di hotel mereka, tetapi dia lebih banyak membantu dari jauh dengan bekerja bersama pamannya. Sepertinya dia serius mau mendekati Kakak, tetapi mengapa usahanya berjalan lambat sekali? Apa dia punya rencana lain atau hanya angin-anginan?


Nisa hidup lebih tenang. Dia membuka sebuah butik yang lumayan ramai di sebuah plaza mewah di ibu kota. Ternyata dia sudah bertunangan dengan putra pengusaha properti terkenal di negeri ini. Hebat juga dia bisa menggaet triliuner itu. Ahli waris tunggal lagi.


Postingannya termasuk aman, termasuk milik mereka yang menandai namanya. Apa dia sudah berubah dan tidak melakukan kebiasaan lamanya lagi? Hm. Bagaimana cara membalas jika hidupnya sempurna begini? Kalau aku tidak hati-hati, lawanku adalah keluarga tunangannya.


“Sayang.” Theo duduk mendekat, memeluk tubuhku, lalu mencium pipiku.


“Sebentar. Aku sedang bekerja.” Aku menjauhkan diri darinya.


“Istri gue yang cantik.” Dia mencium pipiku lagi.


“Theo, kamu tadi setuju aku boleh melakukan sesuatu sebentar.” Aku meletakkan tanganku di depan mulutnya agar dia tidak terus mênciúm aku.


“Lo sudah dua jam duduk di sini, berkencan dengan laptop lo, masih belum cukup?”


Aku melirik jam tanganku. Wow. Dia benar. Aku sudah dua jam mengabaikan dia. Masih ada yang mau aku kerjakan, tetapi janji adalah janji, jadi aku memberikan perhatian penuh kepadanya. “Ada apa, sayang? Kamu lapar? Kita makan siang?”


Dia memberikan sebuah amplop cokelat kepadaku. “Bukalah.”


“Apa ini?” Aku menerimanya dan merogoh isi di dalamnya. Ternyata hanya sebuah kertas yang cukup tebal. Aku mengeluarkannya dan kepala suratnya nyaris membuat jantungku berhenti.

__ADS_1


__ADS_2