
Amarilis sudah pulas, jadi aku duduk di sofa sambil memeriksa laporan dari restoran. Hanya itu pekerjaan yang belum aku selesaikan. Sayang sekali, aku berada dekat dengan usaha kami, tetapi tidak bisa menginjakkan kaki ke tempat ini. Kondisi belum aman untuk bepergian tanpa polisi.
Walau aku punya pengawal sendiri, mereka tidak mengizinkan aku ke mana pun tanpa pengawalan. Jadi, kami lebih baik mengerjakan semuanya dari rumah daripada merepotkan mereka. Aku juga tidak mau mengambil risiko mengalami penyerangan lagi.
Tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan, maka aku mencoba untuk tidur. Aku berbaring di sisi istriku dan memejamkan mata. Saat membukanya lagi, hari sudah pagi. Aku bisa melihat matahari sudah tinggi lewat jendela yang terbuka. Amarilis juga sudah tidak berbaring di sisi tempat tidurnya.
Aku memeriksa ponsel dan ada satu pesan baru yang belum dibaca. Dari Matt. Mungkin Papa atau Mama melarang dia menelepon karena sudah jam tidur. Syukurlah, mereka sudah tiba di Dubai dengan selamat. Aku tidak mau menghubungi mereka agar mereka bisa berisitirahat dalam pesawat berikutnya. Mereka pasti sedang menuju ke sini.
Semoga keluargaku tiba dengan selamat. Lalu setelah ini, kami tidak akan menginjakkan kaki di kota ini lagi. Aku perlu merencanakan untuk membuka cabang di negara bagian yang lebih aman. Tidak semua negara bagian membebaskan penggunaan sènjàta äpi.
Pintu terbuka dan Amarilis masuk bersama seorang pelayan. “Selamat pagi, sayang!” sapanya, lalu meminta wanita itu untuk meletakkan baki di atas meja. Setelah berterima kasih, dia menutup pintu kembali. “Bagaimana istirahatmu? Aku senang melihat kamu tidur dengan pulas.”
Dia terlihat cantik sekali dengan baju longgarnya. Apalagi ketika dia berjalan, perutnya semakin kelihatan dengan jelas. Dia duduk di sisiku, maka aku memeluknya dengan erat. Puas menghirup wewangiannya, aku melonggarkan pelukanku.
Aku menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk duduk bersamaku di sofa. Dia menikmati potongan buah, sedangkan aku menyantap semua makanan dan minuman yang ada di baki. Masih ada sepuluh jam lagi sebelum keluargaku tiba.
Kami menonton siaran berita yang melaporkan putusan hakim atas kasus Hillary. Dia dipenjara selama lima tahun. Wanita yang malang. Masa mudanya akan banyak habis di balik sel. Setelah bebas pun, dia harus menjalani persidangan berikutnya di Indonesia.
“Tunggu, sayang. Jangan ganti salurannya,” kataku, melihat ada berita terbaru.
Komplotan penjahat yang menjadi buronan, akhirnya, ditangkap oleh polisi. Orang suruhan pria yang menjadi teman Clara untuk menyerang aku. Kalau saja polisi yang menyamar di mobil Antonio itu tidak têrtèmbak, mereka tidak akan dikejar-kejar semasif ini oleh pihak yang berwajib.
Hal yang menarik adalah, ternyata, pria itu menyelundupkan sénjàta dan obat tèrlarang. Wah, dia dan rekan-rekannya akan dipenjara sangat lama. Begitu mereka menyebut Clara ada hubungannya dengan penyerangan terhadap aku, maka tamat riwayat wanita itu.
Ketika polisi yang menjawab pertanyaan wartawan muncul di layar, aku terkejut dia menyebut aku telah berjasa besar membantu mereka menangkap para penjahat itu. Padahal aku tidak melakukan apa pun. Keluarnya mereka dari persembunyian adalah berkat Clara, bukan aku.
“Mereka benar. Jika kamu tidak datang, maka pria itu dan gerombolannya tidak akan pernah ditahan. Kamu tidak tahu, mereka sangat licin dan sudah lama menjadi buronan,” kata Antonio kepadaku.
__ADS_1
“Mengapa Clara terlibat dengan orang sejahat itu?” Amarilis bergidik. “Apa dia tidak menyesal juga?”
“Dia pasti berpikir dia masih punya harapan andai kalian tidak bersaksi. Bila satu dari kalian dihabisi, sisanya akan ketakutan dan tidak jadi memberi kesaksian. Dia lupa bukti rekaman itu sudah cukup kuat untuk menghukumnya. Kesaksian kalian hanya memperkuat bukti yang sudah ada.”
“Akibat perbuatannya, Meghan yang harus menanggung patah hati,” kata Amarilis pelan.
Antonio tersenyum. “Dia akan menemukan orang yang lebih cocok untuknya di sini. Patah hati itu akan jadi pengalaman berharga untuknya,” hiburnya.
Aku baru bisa bernapas lega ketika keluargaku tiba. Dua mobil polisi mengawal perjalanan mereka dari bandara. Mama segera memeluk aku dengan erat begitu kami dekat. Dia pasti terguncang putra sulungnya lagi-lagi berada di depan pintu maut.
Kami mengobrol sambil menemani mereka makan malam. Amarilis sudah pulas, jadi dia berbaring di kamar kami. Dia berusaha untuk menahan kantuk, tetapi tidak bisa. Hanya ada aku dan Antonio yang menyambut kedatangan mereka.
Orang tuaku sangat lega saat tahu pelaku pénèmbakan itu sudah dibekuk polisi. Keadaan kami sudah aman, tetapi untuk berjaga-jaga, polisi tetap mengawal kami sampai pulang nanti. Itu waktu yang sangat lama, karena kami harus ada di negara ini sampai sidang putusan Clara.
“Aku benar-benar ketakutan saat melihat liputannya. Mobil itu hancur. Siapa pun yang ada di dalam pada saat kejadian sudah pasti tidak selamat. Bagaimana aku bisa tahu kamu ada di mobil polisi dan bukan mobil Antonio?” Mama menggeleng pelan.
“Aku baik-baik saja. Kita perlu bahas hal lain yang lebih penting.” Aku menoleh ke arah Antonio dan dia mengangguk pelan. “Tidak malam ini, karena kalian perlu beristirahat.”
Dua pelayan bersiap mengantar orang tuaku dan Matt ke kamar mereka masing-masing. Aku juga menaiki tangga bersama tuan rumah menuju ruang tidur kami. Langkahku terasa lebih ringan, karena keluargaku sudah bersamaku di tempat ini, dan mereka selamat.
Kami hanya mendekam di dalam rumah selama akhir pekan. Meghan datang pada hari Sabtu untuk menerima oleh-oleh dari Mama. Dia terharu melihat sikap keluargaku kepadanya tetap baik. Wanita aneh. Kesalahan kakaknya bukanlah kesalahan dia. Lagi pula, kami sudah mengenalnya sebagai gadis baik yang terbukti setia berteman dengan Amarilis.
Pada hari Selasa pagi, kami bersiap untuk pergi ke pengadilan. Mobil yang mengawal kami lebih banyak. Tidak mau melakukan kesalahan, mereka membawa kami dalam mobil mereka, bukan mobil biasa. Dengan begitu, jika ada yang mencoba untuk menyakiti kami, dia akan berpikir ulang.
Setelah berbulan-bulan, kami bertemu muka dengan Keluarga Willis dan Clara. Wanita itu menatap kami dengan sinis, tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah sama sekali. Kami belum sempat duduk, karena hakim akan masuk dan kami diminta untuk berdiri.
Papa yang dipanggil untuk maju memberi kesaksiannya. Pengacara Clara sangat hebat memilih pertanyaan yang tepat. Dia pandai bersilat lidah berusaha untuk mencari-cari kesalahan Papa. Enak saja dia mau membuat seolah ayahku layak untuk ditèmbàk di tempat.
__ADS_1
Penuntut umum memperbaiki segalanya ketika giliran mereka tiba. Papa terlihat lebih tenang saat menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Clara dan timnya terlihat gelisah di tempat duduk mereka. Ada-ada saja. Kebenaran tidak akan bisa dimanipulasi.
“Usaha mereka boleh juga,” kata Papa.
Kami sedang berada di ruangan khusus dan makan siang bersama. Baru kami yang bersaksi, Amarilis dan Matt belum mendapatkan giliran mereka. Jadi, kami belum bisa pulang. Bisa keluar sejenak dari ruangan tadi sangat melegakan. Suasana di dalam tadi sangat menegangkan.
“Mereka dibayar mahal agar Clara tidak mendapat hukuman yang berat. Wajar saja mereka mencari celah untuk membuat hakim bersimpati kepadanya,” ucap Matt.
“Dia tidak akan mendapat simpati jika pengacaranya menyerang korban. Seharusnya mereka belajar berempati terhadap korban klien mereka. Bukan hanya hakim, orang lain pun akan berubah pikiran mengenai wanita nakal itu jika mereka melakukannya,” tambah Mama.
“Aku ingin sekali bisa menjawab seperti Theo. Singkat dan tanpa perasaan.” Amarilis menatap aku penuh harap. “Tetapi aku tidak bisa berekspresi seperti dia.” Keluargaku tertawa mendengarnya.
Kami dipanggil kembali untuk memasuki ruang sidang. Amarilis yang mendapat giliran berikutnya. Sayang sekali, mereka masih menggunakan cara yang sama saat bertanya kepada istriku. Mereka menyerang korban. Namun mereka salah memilih lawan, Amarilis sangat tangguh.
Begitu giliran Matt selesai, kami diantar oleh petugas keamanan ruang sidang untuk keluar. Polisi yang mengawal kami mengambil alih begitu kami berada di teras gedung pengadilan. Suami dan istri satu mobil, hanya Matt yang sendirian didampingi polisi pada satu mobil.
“Akhirnya, selesai juga.” Amarilis mendesah lega. “Tinggal menunggu sidang putusan dan kita pun bisa pulang. Aku sudah rindu rumah.”
“Lo rindu juga dengan rumah?” sindirku.
“Iya, iya. Aku tahu aku yang memaksa ikut denganmu. Tetapi begini lebih baik. Aku tidak mau berpisah selama ini denganmu.” Mengapa dia harus menyebut kata pisah?
Kami berbincang dengan santai mengenai hal acak selama dalam perjalanan pulang. Para polisi yang bersama kami terlihat tidak keberatan dengan kami yang bicara menggunakan bahasa Indonesia. Mereka juga sesekali mengobrol dengan bahasa mereka.
“Jangan terkejut dengan apa yang kalian lihat nanti,” kata polisi yang duduk di sisiku.
Kami serentak menoleh ke arahnya. “Apa maksud Anda?” tanya Amarilis.
__ADS_1
Mobil berbelok memasuki jalan menuju rumah Antonio. Kami disambut oleh banyaknya orang yang berkerumun, orang-orang media, mobil polisi, dan pemadam kebakaran. Semuanya berpusat ke satu titik, rumah teman kami. Oh, Tuhan. Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk kepada pria tua itu?