
Para polisi yang ada di sekitarku keluar dari mobil dan témbàkan balasan pun mereka lepaskan. Aku tetap di tempat, karena tidak ada yang memberikan perintah untuk bergerak. Jantungku berdetak kian liar membuat aku semakin kesulitan bernapas.
Amarilis. Semoga aku masih sempat bertemu lagi dengannya dan lolos dari situasi ini. Aku tahu ini akan terjadi. Karena itu, aku tidak mau membawanya serta. Seandainya aku bisa memberi kesaksian secara daring, ini tidak akan terjadi.
Sayangnya, mereka mewajibkan satu dari kami untuk datang ke lokasi persidangan. Mereka memang bertanggung jawab dengan mengirim polisi untuk menjaga aku. Namun para penjahat itu terbukti tidak takut dengan pihak yang berwajib.
Pintu di sisiku terbuka. Pengawalku memberi sinyal agar aku mengikutinya. Sudah tidak terdengar bunyi témbàkan. Apakah bahaya sudah lewat? Karena dia menyuruh aku untuk menunduk, maka aku menurutinya. Kami menjauh dari mobil itu menuju mobil polisi lain yang sudah siap sedia di seberang jalan. Aku segera masuk disusul petugas yang melindungi aku.
“Anda baik-baik saja?” tanya satu dari mereka. Karena tidak bisa bicara, aku mengangguk. “Tenang. Kami akan mengantar Anda pulang dengan selamat.”
Aku kembali mengangguk. Mobil bergerak tanpa ada halangan di depan kami. Semua mobil sudah menyingkir memberi jalan kepadaku. Ada beberapa petugas polisi yang mengatur lalu lintas tersebut saling memberi sinyal kepada polisi yang bersamaku.
Aku menoleh ke belakang, melihat lokasi penémbàkan itu. Kedua mobil polisi yang mengawal aku baik-baik saja. Hanya mobil Antonio yang rusak terkena hujan pèlúru. Dugaan mereka benar. Kami akan diserang sepulang dari pengadilan, bukan saat berangkat ke sana.
Syukurlah, mereka bertindak dengan tepat. Sopir Antonio duduk di mobil polisi paling depan, aku di mobil patroli belakang, sedangkan rekan mereka ada di mobil Antonio bersama sebuah maneken. Mobil itu tidak antipélúru. Jadi, saat ditémbàk, hanya maneken yang jadi sasaran. Orang yang ada di sekitar mobil pun tidak terluka.
“Apa kalian tahu siapa yang melakukan ini?” tanyaku, tidak sanggup lagi menahan rasa penasaran.
“Bukan Gordon atau Willis. Mereka keluarga terhormat di kota ini, tidak akan berbuat serendah itu kepada anggota keluarga dari rekan bisnis mereka. Hillary tidak melakukan hal yang mencurigakan selama berada di dalam tahanan,” jawab polisi di sisiku.
“Kemungkinan besar ini ulah Clara. Dia pasti mau menghalangi kamu bersaksi pada persidangannya. Dia punya teman dekat yang cukup berpengaruh yang beberapa kali berkomunikasi dengannya lewat orang lain. Dia pikir kami tidak tahu,” tambah polisi yang duduk di depan.
“Bagaimana aku bisa memercayakan keselamatan seluruh keluargaku pada persidangan itu jika saat ini saja dia berani menyerang aku?”
“Kami berjanji dan akan mengatakannya lagi. Kami yang menjamin keselamatan Anda dan keluarga saat persidangan nanti. Hanya ada keluarganya dan keluarga Anda selama kejadian, maka kami membutuhkan kesaksian kalian untuk memenjarakan dia,” kata pria di sisiku.
Aku diam, karena perdebatan ini tidak akan ada ujungnya. Bagaimana pun juga, kami harus bersaksi pada persidangan itu. Dia benar. Hanya ada Keluarga Willis dan Husada di lokasi kejadian ketika Clara dengan bodohnya melepaskan beberapa pèlúru ke langit-langit penthouse mereka. Dia cuma bisa membuat orang repot saja.
Jika benar sèràngan hari ini adalah rencananya, maka dia tidak bisa kembali ke perusahaan Keluarga Willis. Ceroboh sekali. Dia membuang semua kesempatannya untuk hidup lebih baik selepas dari penjara. Hillary yang mendapat hukuman untuk dua kejahatan saja tidak sêbégo itu.
__ADS_1
Sebuah mobil polisi ada di pekarangan rumah Antonio. Sepertinya mereka berjaga demi istriku. Aku berterima kasih kepada polisi yang duduk di sisiku sebelum keluar dari mobil. Hanya kepala pelayan yang menyambut kepulanganku di pintu depan. Dia mengantar aku ke ruang duduk.
Ternyata Antonio dan Meghan sedang menghibur Amarilis yang histeris. Istriku yang malang. Dia pasti terguncang melihat siaran berita pènémbakan itu. Aku tidak bisa memberi tahu dia supaya rencana polisi itu tidak terbongkar.
“Theo!” serunya terkejut melihat aku yang duduk di sisinya. “Theo!” Dia memeluk aku dengan erat. “Kamu baik-baik saja? Kamu tidak apa-apa, ‘kan??”
“Gue baik-baik saja, sayang. Gue enggak ada dalam mobil Antonio saat mereka ményèrangnya.” Aku mengusap-usap punggungnya.
“Apa maksud kamu?” Dia menatap aku dengan wajah bersimbah air mata.
Aku menyeka kedua pipinya. “Gue dan sopir Antonio ada dalam mobil patroli, jadi tujuan mereka tidak tercapai,” jawabku.
“Syukurlah. Syukurlah.” Dia memeluk aku lagi, maka aku membalas pelukannya.
“Apa polisi mencurigai seseorang atau mereka masih menyelidikinya?” tanya Meghan khawatir.
Wanita itu terlihat sedih. “Kamu tidak perlu menyembunyikannya. Aku tahu. Ini pasti perbuatan Clara. Hillary adalah gadis yang baik. Dia tidak akan melakukan ini kalau bukan karena terpaksa.”
“Kamu melakukan hal yang benar dengan bicara dengan Nolan. Kalian memang tidak bisa bersama. Kamu dan dia sama-sama punya tanggung jawab besar terhadap keluarga kalian.” Antonio menatap Meghan dengan prihatin. “Kamu pasti akan mendapatkan pria yang baik di sini.”
“Terima kasih, Antonio. Kalau ada pria tampan, kaya raya, sekaligus setia sepertimu, kenalkan kepadaku.” Meghan mengedipkan sebelah matanya. Antonio tertawa.
Menyadari Amarilis tidak memberi respons sama sekali, kami menoleh ke arahnya. Ternyata dia sudah pulas dalam pelukanku. Istriku yang malang. Dia pasti menangis sejak pénèmbakan itu terjadi. Aku pamit untuk membawa dia ke kamar.
Kesempatan itu aku gunakan untuk memeriksa ponselku. Ada beberapa panggilan tidak terjawab pada aplikasi komunikasi. Orang pertama yang aku hubungi adalah Mama. Dia langsung menangis begitu menjawab teleponku. Aku menuju balkon agar istriku tidak mendengar percakapan kami.
Setelah meyakinkan semua orang bahwa kami baik-baik saja, aku duduk di kursi yang tersedia. Aku menarik napas panjang, tidak menduga masih hidup sampai detik ini. Peristiwa yang menakutkan tadi akhirnya aku lewati juga. Mengerikan sekali. Apa kami tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang tanpa dihantui rasa takut setiap waktu?
Kami sangat menyukai negara ini dan punya banyak kenangan yang indah. Karena itu, Papa sampai memilih negara ini sebagai tempat pertama mendirikan cabang restoran kami di luar negeri. Tidak kami sangka pilihan ini justru mengantar kami kepada maut. Tidak hanya satu, tetapi berkali-kali.
__ADS_1
Aku tidak mau memberikan lingkungan yang tidak aman begini kepada istriku, apalagi anak-anak kami kelak. Aku tidak pernah setakut ini sebelumnya. Kalau para polisi tadi tidak cerdik, aku bisa saja sudah berada di dunia yang berbeda. Lalu bagaimana nasib Amarilis dan anak kami?
Seseorang memeluk leherku dari belakang. Aku menoleh, lalu sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku tersenyum menghirup aroma khas parfumnya, aroma bunga yang lembut. Kami hanya diam untuk beberapa saat, bersyukur bisa bertemu dan saling menyentuh lagi.
“Jangan pikirkan semuanya sendiri. Aku ada di sini untuk menanggung beban bersamamu,” bisiknya. “Kita akan pulang dari tempat ini dengan selamat.”
“Kita pasti pulang dari sini dengan selamat,” ralatku. Aku memegang tangannya, lalu menarik dia agar duduk di pangkuanku. Perutnya sudah mulai membesar, jadi kehamilannya sudah tidak bisa kami tutupi dari orang banyak. “Lo baik-baik saja?”
“Aku yang seharusnya menanyakan itu. Kamu yang baru saja melewati peristiwa yang menakutkan.” Dia membelai pipiku. “Apa orang tua kamu dan Matt tidak bisa bersaksi lewat panggilan video?”
“Pengadilan bilang tidak. Kami sudah berusaha untuk memperjuangkan itu, tetapi kita adalah saksi kunci, jadi kita harus memberi kesaksian langsung. Apalagi kami semua sehat. Karena itu, gue tidak mau mengajak lo serta. Siapa tahu kehamilan lo akan membuat mereka berubah pikiran.”
Dia memeluk leherku. “Tidak mau. Aku ikut ke mana pun kamu pergi. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan aku lakukan jika aku tidak ada di sini. Mengetahuinya lewat berita saja sudah membuat aku tidak kuat, apalagi kalau aku jauh darimu.”
Mendengar dia mengatakan itu, aku mengalah. Aku tidak mau bertengkar dengannya setelah baru saja melewati maut. Dia akan baik-baik saja bersamaku. Yang perlu aku pikirkan adalah keluargaku yang akan menyusul kami ke sini. Mereka akan menaiki pesawat biasa, bukan jet pribadi.
Aku bekerja dari rumah Antonio selama menunggu jadwal sidang berikutnya. Amarilis menemani Antonio beraktivitas di rumah. Dia menolong kami dalam mempromosikan produk restoran lewat media sosial. Kami memutuskan untuk tidak memperberat tugas polisi dengan tetap di rumah.
Para polisi masih bergantian berpatroli di sekitar rumah, menjaga kami. Pertanda bahwa keadaan kami belum aman. Sidang putusan Hillary dijadwalkan akan dilakukan pada bulan berikutnya, jika tidak ada perubahan. Lalu sidang Clara pun dimulai.
“Jangan khawatir. Gue akan menjaga ortu kita,” janji Matt. Dia mengarahkan kamera ponselnya agar wajah kedua orang tua kami terlihat di layar. Mereka bertiga tersenyum kepadaku. “Sampai ketemu di sana. Gue akan menghubungi lo lagi kalau sempat saat kami transit di Dubai.”
“Oke,” jawabku singkat.
Panggilan video diakhiri dan layar ponselku kembali gelap. Jantungku mulai berdebar dengan cepat. Dua puluh empat jam terpanjang dalam hidupku pun dimulai.
[Aku ada di sini untuk menanggung beban bersamamu,]
__ADS_1