
~Altheo~
Aku tidak suka mendengar kata putus darinya. Walau kami menyembunyikan hubungan kami dari orang lain, bukan berarti aku tidak serius dengannya. Apalagi semakin hari aku semakin suka berada di dekatnya. Hanya dia yang tidak rewel saat kami bersama dan membiarkan aku yang memimpin.
Meski dia melawan, membantah, membangkang semua yang aku katakan, pada akhirnya, dia patuh juga. Waktuku tidak habis bertengkar seharian dengannya. Lagi pula, aku suka mengetahui apa yang ada dalam pikirannya ketika dia memberi pendapat.
Chika bukanlah gadis yang cocok untuk mendampingi aku. Dia tidak mencintai aku, tetapi terobsesi. Aku tidak tahu kapan dia merasakan sesuatu, padahal aku tidak pernah perhatian kepadanya. Kami selalu bertengkar semasa Katelia masih hidup.
“Jadi, bagaimana menurutmu mengenai Jessica?” tanya Papa ketika kami sarapan bersama.
“Jika ini tentang kedatangan mereka semalam, biasa saja, Pa,” jawabku sekenanya.
“Menurutku, dia gadis yang baik. Aku suka melihat dia mau dekat dengan gadis biasa seperti Amarilis. Mendengar dia membela gadis itu di depan mamanya membuat hatiku damai. Theo dan Jessica akan menjadi pasangan yang sangat serasi! Theo yang acuh tak acuh akan tertutupi oleh sifat Jessica yang sabar dan baik kepada semua orang,” puji Mama.
Aku baru tahu mamaku bisa salah menilai orang. Biasanya dia sangat peka mengetahui sifat orang itu tulus atau palsu dari cara mereka bicara dan gerak-geriknya. Sabar dan baik bukanlah sifat Chika. Jelas sekali dia hanya berpura-pura baik di depan kami semua. Mulutnya manis, tetapi matanya menatap tajam. Bagaimana bisa hal itu luput dari perhatian Mama?
“Mama jangan tertipu penampilan seseorang selama satu atau dua jam bersama. Lihat saja Theo yang dingin ternyata bisa baik kepada Kak Amarilis. Kapan Mama pernah melihat dia mau mengantar seorang gadis pulang selain Kak Amarilis?” tanya Matt.
“Gue malah lebih suka melihat Theo bersama Kak Amarilis daripada Jessica. Perempuan itu, entahlah, aku tidak bisa menyukai dia seperti aku langsung jatuh hati kepada guruku.” Dia mengangkat kedua bahunya. “Kami lama bersama, jadi aku tahu Kak Amarilis apa adanya. Dia cocok dengan Theo.”
“Theo harus menikah dengan gadis yang akan membawa keuntungan pada keluarga kita, Matt. Para pemegang saham akan tenang jika dia menikah dengan perempuan dari keluarga terpandang juga,” kata Mama dengan tegas.
“Duh, Theo. Malang benar nasib lo,” ejek Matt.
“Mengapa takut dengan perjodohan? Apa kalian tidak lihat, kami juga bisa bahagia. Jangan khawatir berlebihan. Tidak semua pernikahan tanpa cinta berakhir buruk. Sebaliknya, tidak semua pernikahan berdasarkan cinta yang berakhir bahagia. Kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri,” ucap Papa sambil memegang tangan Mama.
Aku sedang menemani Papa bertemu dengan koleganya ketika ponselku bergetar. Aku membuka dan membaca pesan yang baru masuk. Dia makan siang dengan model itu. Gadis ini … berapa kali aku harus mengatakan agar dia tidak berduaan dengan laki-laki lain??
Karena ada Papa dan kenalan kami, aku menahan diri untuk tidak melempar ponsel tersebut. Awas saja. Aku akan membalas sikap membangkangnya ini nanti. Tidak satu kali pun dia mau mendengar perintahku. Padahal aku hanya meminta satu hal itu darinya.
Makan siang dengan teman perempuannya bukan masalah. Aku hanya tidak suka dia berdua dengan laki-laki, tidak peduli dia adalah kakaknya. Mereka sudah bukan kakak dan adik lagi begitu dia berada dalam tubuh Amarilis. Bagaimana cara membuat gadis ini mengerti?
__ADS_1
“Selamat pagi, Theo!” sapa Chika yang sudah menunggu aku di tempat parkir sepeda motor. Satu lagi masalah yang aku benci.
“Apa kamu sudah siapkan tugas untuk hari ini?” Dia menggandeng tanganku, tetapi aku menepisnya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku melangkah cepat menuju gedung di mana ruang kuliah berada. Ada banyak mahasiswa yang juga berjalan ke arah yang sama. Tiba di dekat gedung tujuan, aku melihat Amarilis berjalan di depanku.
Chika melingkarkan tangannya di lenganku, tetapi kali ini aku tidak menepisnya. Bagus. Ini adalah cara untuk membalas sikap membantah gadis nakal itu. Semua orang yang kami lewati berhenti atau menoleh untuk melihat kami berjalan bersama. Aku mengenali ekspresi itu. Mereka menganggap aku dan Chika sangat serasi.
Padahal aku tidak merasakan hal yang serupa. Orang yang suka bersandiwara bukanlah seleraku. Dalam hal ini, aku lebih menyukai Katelia yang jujur dengan pendapat dan sikapnya. Dia tidak pernah berpura-pura baik kepada siapa pun.
“Hai, Jessica,” sapa Papa dengan ramah melihat Om Winara datang bersama putrinya. Dia punya janji makan malam dengan pria itu, tetapi tidak tahu gadis itu juga ikut. Karena kalau Papa tahu, dia tidak akan terlihat terkejut.
“Hai, Om. Cukup panggil aku Chika,” katanya dengan sopan.
“Baik. Silakan duduk. Aku senang kamu mau datang bersama papamu,” ucap Papa berbasa-basi. Dia tidak suka setiap kali urusan bisnis dicampur dengan masalah pribadi.
“Sudah saatnya dia tahu apa yang papanya kerjakan demi memenuhi semua kebutuhannya,” kata Om Winara. “Jadi, kelak dia akan mengerti mengapa suaminya sering berada di luar rumah.”
“Permisi,” kataku sambil berdiri, agar dia tidak terus mengganggu aku.
“Ada apa, Nak?” tanya Papa bingung. Dia memandang aku dan Chika secara bergantian.
“Ada urusan mendadak, Pa,” jawabku sekenanya. “Maaf, gue tidak bisa mengabaikan hal penting ini.”
“Baiklah. Hati-hati.” Papa mengangguk, mengizinkan aku pergi.
“Saya pamit, Om, Jessica,” kataku dengan sopan. Aku tidak peduli dengan respons mereka, langsung keluar dari ruangan itu.
Mendengar langkah kaki mengikuti aku dari belakang, aku mengabaikannya. Itu pasti Chika yang tidak mengerti arti sikapku terhadapnya. Dia mengajak aku bicara, memegang tanganku untuk mencegah aku pergi, tetapi aku tetap mendekati motorku.
“Theo, sikapmu ini hanya akan membuat aku semakin mempercepat hubungan kita diresmikan,” katanya, menantang aku.
__ADS_1
Aku memakai helm dan menyalakan mesin. Aku sengaja membuatnya meraung keras agar suaranya tertutupi bunyi mesin itu. Lalu aku menjauh darinya menuju palang parkir. Tidak ada tempat yang ingin aku datangi, maka aku hanya duduk di jokku melihat tempat tinggal Amarilis.
Dia pulang beberapa menit kemudian diantar oleh sopir kami menggunakan mobil Mama. Aku tidak mengizinkan siapa pun mengendarai mobil milikku, tidak terkecuali sopir kami. Gadis itu langsung memasuki pekarangan begitu keluar dari kendaraan.
Mengapa aku melakukan ini? Aku tahu hubungan kami tidak akan ada ujungnya selain putus. Chika sudah datang menggantikan Katelia, lalu apa yang aku harapkan dari hubunganku dengan Amarilis? Dia tidak akan bisa menikah denganku. Chika adalah pilihan orang tuaku.
Namun aku tersenyum puas melihat kesempatan untuk menunjukkan kepada Papa mengenai dia yang sebenarnya datang juga. Dia menghadang Amarilis bersama kedua pengawalnya yang bertubuh besar itu. Aku hanya butuh beberapa detik saja sebagai bukti dia penuh kepalsuan.
Aku baru saja akan mengakhiri rekaman itu ketika Amarilis dengan lihainya berhasil memukul wanita itu. Maka aku tetap merekam kejadian itu dan tersenyum puas melihat gadisku berhasil membekuk kedua orang yang jelas-jelas bukan tandingannya itu.
“Lo? Kamu belum berangkat?” tanya Mama yang menuruni tangga bersamaan denganku. Dia melirik jam tangannya. “Acara peresmian dimulai pukul sepuluh.”
“Gue enggak akan terlambat, Ma,” kataku dengan santai.
“Masalahnya, kamu akan naik mobil, bukan sepeda motor. Papamu bisa marah kalau kamu tidak tiba tepat waktu di sana,” protesnya.
Aku hanya melambaikan tanganku kepadanya dan bergegas menuju garasi. Apa gunanya aku tahu begitu banyak jalan tikus kalau bepergian harus buru-buru? Aku tiba beberapa menit sebelum acara dimulai, begitu juga dengan gadis itu.
Amarilis serius dengan niatnya mencari uang sendiri. Kalau bukan karena aku melihat kejadian di rumah sakit, aku tidak akan percaya dia adalah Katelia. Gadis manja itu bisa hidup mandiri adalah sebuah keajaiban. Apalagi perlahan berubah cantik tanpa menjalani perawatan apa pun.
Ini kedua kalinya aku melihat dia tampil di depanku, bermain biola dengan sangat baik yang mampu menghanyutkan emosi setiap orang yang mendengarnya. Namun aku tidak menyukainya. Aku benci melihat semua orang memejamkan mata menikmati permainannya atau tersenyum melihat dia di panggung. Amarilis hanya milikku.
“Sikap kamu ini sangat berlebihan. Mengapa muka kamu jelek begitu hanya karena aku memakai baju pemberian Kak Jericho?” protesnya saat kami dalam perjalanan menuju butik.
“Lo hanya boleh menerima barang dari gue. Gue sudah sangat menoleransi lo menerima baju dari Mama, tetapi enggak dengan orang lain,” kataku dengan tegas. “Gue sudah sering katakan itu.”
“Kita belum pacaran pada hari Natal!” ujarnya, mengingatkan.
Aku tidak memedulikan protesnya dan membawanya ke sebuah butik yang aku tahu menyediakan baju ukuran sebesar tubuhnya. Sayangnya, aku menyesal melihat pakaian demi pakaian bagus itu terlihat cocok di badannya. Bagaimana bisa dia yang jelek terlihat secantik itu?
Jantungku perlahan berdebar lebih kencang. Aku sampai mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak mendekati dia dan menciumnya sepuasku. Tunggu, tunggu. Perasaan apa ini? Aku tidak pernah begini sebelumnya, baik terhadap dia atau orang lain.
__ADS_1
Jangan-jangan …. Ah, tidak. Itu tidak mungkin. Kami baru bersama selama beberapa saat, jadi tidak mungkin. Dia hanya terlalu cantik saja. Kalau dia pakai baju jenis lain, aku tidak akan berdebar-debar lagi. Iya, ini pasti karena semua baju bagus itu.