
Seorang wanita berjalan mendekati pintu dan membukakannya untuk kami. Melihat kepalanya sedikit tertunduk terhadap Theo, dia pasti tahu pemuda ini adalah anak dari atasannya. Kami memasuki ruangan itu dan aku menahan napas melihat orang yang ada di dalam.
Yang aku pikirkan akan ada dalam ruangan itu adalah Om Azarya, Tante Ruth, dan Matt. Aku tidak pernah menduga akan ada Om dan Tante Winara, serta Chika. Theo bilang hanya keluarganya yang akan makan malam bersama kami. Mengapa ada keluarga Chika juga?
“Theo?” tanya Tante Ruth setelah rasa terkejutnya hilang. “Apa ini?”
“Gue yang seharusnya bertanya kepada Mama. Apa ini?” balas Theo.
“Kita akan menjadi satu keluarga, tidak ada yang salah dengan mengundang keluarga Chika makan malam bersama kita. Yang aneh itu kamu membawa Amarilis.” Dia menatap aku dengan bingung.
“Ini adalah acara gue, maka gue yang berhak memilih undangan, bukan Mama.” Dia mengangkat tangannya ketika mamanya ingin menyanggah. “Sebaiknya kita mulai makan. Semua pasti sudah lapar.” Dia mengajak aku mendekati sebuah kursi.
Matt segera berpindah tempat duduk agar aku dan Theo bisa duduk bersebelahan. Melihat kursi yang kosong di sisi Chika, mereka pasti biasanya menyuruh dia duduk di sana. Aku jadi penasaran seperti apa sikap Theo terhadap tunangannya itu ketika aku tidak ada.
Pelayan masuk mengantarkan makanan demi makanan dan meletakkannya di atas meja. Air liurku terbit melihat semua masakan lezat itu. Restoran Husada sangat terkenal dan rasa makanannya layaknya masakan rumah. Mereka menggunakan bahan berkualitas, tetapi harganya terjangkau.
Keluarga Katelia sering makan di restoran mereka cabang Medan. Aku tidak pernah tahu bahwa keluarga inilah yang akan bersatu dengan keluarga kami. Papa pasti menginginkan kerja sama dengan mereka agar menu dan jasa koki terlatih mereka bisa kami gunakan di hotel kami.
Para tamu pasti akan menyukainya. Masakannya enak, tetapi harganya enteng di kantong. Sayang sekali, jika dia dan Chika resmi menikah, maka hotel Keluarga Winara yang akan mendapatkan kerja sama tersebut. Pantas saja mereka ngebet Theo menikah dengan putri mereka.
“Kat, ah, maksudku, Amarilis,” kata Chika yang aku yakin sengaja dia lakukan. “Dari mana kamu curi, ah, maksudku, dari mana kamu beli cincin itu?”
Semua orang mengarahkan pandangan mereka ke tangan kananku yang memegang sendok. Cincin pemberian Theo ada di sana, berkilau ketika terkena cahaya lampu di langit-langit ruangan. Tante Ruth menarik napas terkejut, lalu menatap Theo dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan?” tuduh mamanya dengan tajam. “Cincin itu kamu bilang hilang. Mengapa malah ada di tangan gadis itu??”
Aku sangat lega mendengar pertanyaannya itu. Sepertinya tidak ada yang mendengar nama yang Chika sebutkan di awal dia memanggil aku tadi. Syukurlah. Karena semua orang di tempat ini tahu siapa yang biasanya dia panggil dengan nama itu.
Namun nyaliku ciut melihat tatapan tajam Tante Ruth terhadap putranya, karena aku juga bisa merasakan kemarahannya ditujukan kepadaku. Aku terbiasa mengomeli dan menyakiti orang. Sebaliknya, aku belum terbiasa digertak oleh orang yang umurnya lebih tua dariku.
“Karena Amarilis adalah calon istri gue, Ma. Cincin pemberian Nenek hanya untuk calon istri pilihan gue sendiri. Itu pesan terakhir Nenek,” jawab Theo dengan lugas.
__ADS_1
Semua wanita itu menarik napas terkejut. Para pria bersikap lebih tenang, bahkan tidak ada ekspresi apa pun. Aku bersikap biasa saja, tetapi jantungku berdebar dengan kencang. Aku meletakkan alat makan yang aku pegang agar tidak ada yang melihat getaran tanganku.
“Apa maksud putramu, Ruth? Chika adalah calon istrinya. Bagaimana bisa dia memberikan cincin warisan itu kepada gadis lain!?” protes keras Tante Winara. Apa dia tidak salah? Semua orang diam, berani sekali dia menginterupsi pembicaraan antara Tante Ruth dan Theo.
“Tenang. Namanya juga anak-anak menjelang dewasa. Mereka suka melakukan hal yang membuat orang tua mereka marah.” Tante Ruth tersenyum kecut, lalu menoleh tajam ke arah Theo. “Lepas cincin itu dan berikan kepada Chika.”
“Maaf, Ma. Gue lebih memilih Amarilis yang jadi istri gue.” Theo memegang tangan kiriku dengan erat. “Nenek memberi hak sepenuhnya kepada gue untuk memilih gadis yang pantas memakainya.”
“Apa kamu bilang?” protes Tante Winara. “Apa kamu sedang mengatakan putriku tidak pantas jadi istrimu, tetapi gadis gendu—” Kata itu terpotong begitu dia melihat aku tidak gendut lagi. “… jelek, bau, bodoh, dan miskin ini yang lebih cocok?”
“Lanjut, Theo!” sorak Matt, satu-satunya orang yang bahagia dengan berita yang disampaikan oleh kakaknya. “Gue setuju lo sama Kak Amarilis!”
“Dasar anak tidak tahu sopan santun. Ini percakapan orang dewasa, seharusnya kamu jangan bicara,” omel Tante Winara, tanpa segan.
Aku mengerutkan kening mendengarnya. Dia pikir dia siapa sehingga bisa seenaknya mengomeli Matt? Dia berhak mengatakan apa saja kepada kakaknya. Namun sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Theo mempererat pegangannya pada tanganku. Aku merapatkan bibirku.
Lagi pula, wanita itu yang sedang bersikap tidak sopan. Dia sedari tadi menimpali percakapan antara ibu dan anak, tanpa ada yang meminta pendapatnya. Om Azarya saja hanya diam tidak ikut campur melihat perdebatan istri dengan putranya. Siapa dia sehingga merasa berhak ikut bicara?
“Kamu—” seru Tante Winara.
“Kita berkumpul untuk makan malam,” kata Om Azarya, menengahi. “Makanan sudah disajikan. Jadi, mari kita santap dengan tenang. Urusan dengan anak-anak bisa kita bahas nanti.”
“Makan, katamu? Aku sudah kehilangan selera—” pekik Tante Winara. Dia berhenti ketika Chika meletakkan tangannya di lengannya.
Aku spontan mengangkat alis mendengar caranya bicara kepada Om Azarya. Secara kedudukan dan status, Keluarga Husada berada di atas Keluarga Winara. Papa Theo bisa dengan mudah mengakhiri kerja sama dengan papa Chika, karena dia yang lebih berpengaruh.
Namun sikap mama Chika termasuk berani sedari tadi. Dia sudah lancang menginterupsi, lalu dia nekat membantah saran sopan calon besannya. Seolah dia yang memegang kekuasaan tertinggi di ruangan ini. Tante Ruth juga terlihat segan kepadanya. Ini pemandangan yang sangat aneh.
“Om Husada benar, Ma. Kita makan dengan tenang, lalu mengenai hubunganku dengan Theo, bisa kita bicarakan nanti,” ucap Chika dengan lembut.
Tante Winara mendesah keras. “Kamu sudah disakiti, tetapi masih saja membela mereka. Kasihan kamu, Nak.” Dia membelai tangan putrinya dan menatapnya dengan sedih.
__ADS_1
Kalau aku tidak mengenal sifat asli mereka, aku pasti akan tertipu dengan sandiwara itu. Namun aku tahu mereka berdua sama piciknya, jadi sikap ini hanya cara mereka untuk menarik belas kasihan Om dan Tante Husada. Aku sampai mau muntah melihatnya.
Debar-debar yang tadi aku rasakan belum berkurang, tetapi aku sudah lebih berani. Setidaknya, Matt ada di pihak kami. Aku dan Theo tidak sepenuhnya sendiri dalam memperjuangkan hubungan, ralat, pemberontakan kami. Papa dan mamanya tidak akan pernah merestui pilihannya, tetapi aku mau tahu sampai di mana Theo akan menentang mereka.
Usai makan, Tante Ruth mengantar keluarga Chika keluar. Kami berempat tetap berada di ruangan itu. Om Azarya hanya diam menghabiskan isi gelasnya, sedangkan Matt tersenyum lebar, menggoda aku dan kakaknya. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, jadi lebih memilih diam.
Pintu diketuk sebelum dibuka. Tante kembali masuk dan duduk di tempatnya semula di samping Theo dan Om Azarya. Semua orang diam, termasuk aku. Sepertinya dalam keluarga mereka, wanita sangat dihormati, karena Om sekalipun tidak mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Aku sangat kecewa kepadamu, Theo. Yang kamu lakukan ini sangat memalukan. Untung saja, hanya ada keluarga kita dan tidak ada wartawan atau orang lain,” kata Tante Ruth dengan kesal.
“Kamu tega sekali memilih hari ini untuk melakukan hal gila ini. Apa yang kurang pada Chika sampai kamu harus memilih gadis lain di luar kalangan kita untuk menjadi istrimu? Kamu tidak berhenti melakukan fitnah supaya kami memutuskan pertunangan kalian.
“Lalu sekarang kamu menggunakan cara serendah ini untuk menghina mereka? Keluarga Winara adalah sahabat baik kita dan sudah lama melakukan kerja sama bisnis dengan papamu. Aku sudah bilang, kami sudah lama mengamati Chika. Dia gadis yang cocok untukmu,” pungkas wanita itu.
“Jika benar Mama dan Papa sudah lama mengamati dia, tidak mungkin kalian akan menjodohkan gue dengannya. Gue menolak bertunangan dengannya, karena reputasinya di sekolah akan merusak nama baik kita juga, Ma,” kata Theo dengan tenang.
“Memilih Amarilis tidak akan merusak reputasi kita, begitu maksudmu?” tantang Tante Ruth. “Apa kamu pikir keluarga kita tidak akan menjadi omongan orang?”
“Apa yang salah dengan Amarilis? Mama sendiri yang mengatakan dia gadis yang baik, sopan, dan cerdas. Bukankah itu kualitas yang diidamkan oleh ibu mertua mana pun? Mama memuji dia yang mengajari Matt sehingga berhasil memperbaiki akademiknya.” Theo menoleh ke arah Matt.
“Theo benar, Ma,” ucap Matt setuju.
“Lalu mengapa dia enggak boleh menjadi istri gue kelak?” tanya Theo.
“Nak, kriteria guru dengan istri itu dua hal yang berbeda. Masa itu saja kamu masih harus aku ajari? Jangan bodoh hanya karena kamu jatuh cinta. Perempuan seperti dia ada banyak, tetapi yang seperti Chika hanya ada satu. Dia cantik, terpelajar, sopan, dan berasal dari keluarga baik-baik,” kata Tante Ruth membela Chika. “Ke mana pun kamu pergi, orang-orang akan menghormati kamu.”
“Begitu mereka mengorek masa lalu, semua orang akan tahu dia tukang rundung di sekolah, Ma. Dia bahkan masih melakukannya di kampus. Buktinya sudah Mama lihat, tetapi Mama tidak percaya,” balas Theo dengan tenang.
“Apa Mama pikir wartawan yang menontonnya akan membela Chika seperti halnya Mama?” Aku menoleh kepada Theo. Apa yang dia maksudkan dengan kalimatnya itu?
Tante Ruth menyipitkan matanya. “Apa maksudmu? Kamu berniat untuk menyebarkan video itu? Kamu mengancam mamamu sendiri demi perempuan miskin ini!?”
__ADS_1