Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
68|Sudah Cukup


__ADS_3

Bertahan. Aku dan Amarilis tidak jauh berbeda. Kami sama-sama dibesarkan di tengah keluarga yang berkecukupan. Adikku tidak tahu ada Katelia dalam tubuh gurunya. Jadi, dia sama seperti orang tuaku yang berpikir bahwa Amarilis tidak akan sanggup berbaur dalam dunia kami.


Mereka tidak memperhatikan sikap dan caranya membawa diri setiap kali aku membawanya dalam acara besar maupun kecil keluarga kami. Seandainya saja mereka melihat cara dia makan, menyapa, dan bicara dengan orang lain, mereka akan menyadari dia serupa dengan kami.


Lagi pula, aku sayang kepadanya. Itu sudah cukup. Aku tidak tertarik dengan perempuan lain dan sudah berjanji kepada diriku sendiri, aku tidak akan mengkhianati dia. Jika bagi mereka yang sudah lama menikah menganggap alasan itu belum cukup, aku bisa apa?


Selama mengikuti perkuliahan, Chika selalu mengambil posisi duduk di sebelahku. Awalnya, dia suka bicara tanpa henti. Lama-kelamaan, dia hanya diam, karena aku tidak pernah memberi respons. Aku tidak khawatir akan menyakiti dia dengan sikapku. Dia yang menginginkan ini.


Dia sudah tahu aku dekat dengan Amarilis sebelum orang tua kami menjodohkan kami. Jadi, aku tidak merasa bersalah sudah menolak dia berulang kali. Aku tidak peduli jika dia serius mencintai aku, karena cinta harus berjalan dua arah. Hal itu hanya terjadi antara aku dan Amarilis.


“Bagaimana kemajuan proposalmu? Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Chika ketika mata kuliah terakhir selesai. Dia masih juga tidak bisa memahami aku.


“Semester genap akan segera berakhir. Sebaiknya lo bersiap memikirkan judul proposal lo. Enggak usah pikirkan orang lain.” Aku berdiri dan berjalan mendekati pintu.


Amarilis selalu menunggu dosennya keluar dari ruangan sebelum merapikan alat tulisnya. Jadi, aku sudah tiba di depan pintu saat dia masih merapikan tasnya. Teman baiknya yang namanya aku tidak ingat itu selalu menggoda dia mengenai hubungan kami.


Beberapa kali aku mengucapkan sayang kepada Amarilis, tetapi satu kali pun dia tidak mengatakan hal yang sama. Hanya dari sikapnya aku berani menyimpulkan dia juga merasakan hal yang sama. Semoga saja kesimpulanku benar.


“Theo, cukup,” tolaknya.


Aku sengaja memesan dua porsi makanan untuknya supaya berat badannya tidak terus turun. Aku tidak suka melihat orang-orang mulai menatap ke arahnya, terutama lawan jenisnya. Amarilis punya tubuh yang bagus ketika dia tidak gemuk.


Walau aku tidak mengikuti tren, aku bisa melihatnya dari cara laki-laki memandang badannya. Apalagi dia punya dada dan bokong yang besar. Semakin berat badannya berkurang, dua bagian tubuhnya itu semakin menonjol. Itu tidak boleh sampai terjadi.


Aku tidak suka dengan apa yang aku rasakan setiap kali laki-laki lain memperhatikan badannya. Aku tahu aku cemburu, tetapi emosiku ini terlalu berlebihan. Jadi, lebih baik dia gemuk lagi dan orang tak acuh kepadanya, daripada ramping dan darahku selalu mendidih.


“Theo,” protesnya, saat aku menyendokkan nasi ke mulutnya. Hal yang selalu aku lakukan setiap kali dia tidak mau menyentuh makanan yang sudah aku pesan. Biasanya, dia mau menyantapnya sampai habis jika aku suap. Sepertinya dia benar-benar sudah kenyang.


Maka aku menghabiskan nasi goreng itu sendiri. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aku. “Gue enggak suka lihat badan lo yang sekarang,” akuku.


“Aku tahu. Tetapi ini tubuhku dan kamu tidak berhak merusaknya,” katanya dengan tajam. Dia salah. Tubuhnya juga akan menjadi milikku, tetapi aku tidak membahas itu sekarang.


“Gue sayang lo, untuk apa gue merusak tubuh lo?” ujarku tersinggung.


“Berapa kali aku harus bilang, gemuk itu tidak sehat?” Dia menutup buku yang dari tadi dibacanya. Sepertinya kami akan bicara dengan serius. “Aku tidak mau mati mendadak karena sesak napas. Apalagi usiaku masih muda dan aku punya banyak impian, Theo.”


“Impian lo cuma satu, jadi istri gue,” simpulku.

__ADS_1


Dia mendengus keras. “Dalam mimpimu. Dari semua rencana yang sudah aku susun, kamu tidak masuk dalam daftar. Kamu saja yang memaksa kita backstreet, lalu sekarang berbaikan.”


“Jadi, lo terpaksa jalan sama gue?” Aku mengerutkan kening, tidak suka dengan reaksinya itu. “Lo enggak suka sama gue?”


Dia merapatkan bibirnya sebelum menjawab, “Suka.”


“Lo enggak sayang sama gue?” Melihat sebuah kesempatan terbuka, aku memanfaatkannya. Aku sudah lama mau tahu perasaannya kepadaku.


“Sayang,” akunya tanpa ragu.


“Lo enggak cinta sama gue?” cecarku lebih lanjut.


“Aku tidak akan menjadi orang pertama yang mengatakan cinta, Theo.” Dia menyilangkan kedua tangannya di atas meja. “Aku tidak akan terjebak pada pertanyaanmu itu.”


Aku tersenyum bahagia. Mendengar dia mengaku sayang kepadaku saja sudah cukup. Aku juga tidak tahu apa aku merasakan cinta kepadanya. Menjalani hubungan ini dengannya masih asing bagiku, entah bagaimana nanti ketika kami menikah.


Dia adalah satu-satunya hal yang aku pilih sendiri, tanpa campur tangan orang tuaku. Tempat tinggal, sekolah, kampus, pekerjaan, bahkan tunanganku adalah pilihan Papa dan Mama. Namun Amarilis adalah hasil keputusanku sendiri. Karena itu, aku sayang sekali kepadanya.


“Kalau begitu, jangan bilang gue tidak masuk daftar impian, rencana, atau apalah yang sudah lo susun. Lo bicara begitu seolah gue enggak ada artinya,” tegurku.


“Kita tidak akan pernah menikah, Theo. Apa aku masih perlu mengatakan itu kepadamu?”


Dia tertegun sejenak. Lalu sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. “Aku jadi ingat, sudah berapa lama kamu menyuruh mereka menguntit aku?”


“Gue yang dahulu bertanya,” kataku, mengingatkan.


Dia menggerakkan bibirnya mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Dia pasti sedang mengumpat aku dengan mengatakan aku menjengkelkan, arogan, dan sebagainya. Itu pun kalau aku membaca gerak bibirnya dengan tepat.


“Tante meminta aku menjauhi kamu. Dia tidak akan membiarkan kita menikah,” akunya. “Jadi, Theo, kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari hidupku.”


“Apa lo menantang gue?” Aku mendekatkan tubuhku ke meja.


“Aku tidak keberatan menikah denganmu. Hanya perempuan bodoh yang menolak dan menangis dipaksa menikah dengan orang kaya raya seperti kamu. Apalagi kamu ahli waris utama keluargamu. Kamu ganteng, cerdas, dan tidak genit kepada cewek lain adalah bonus.” Dia tersenyum manis.


“Jadi, tidak, Theo. Bukan aku yang menantang kamu, tetapi mamamu,” pungkasnya.


“Biar gue yang urus. Karena lo mau sama gue karena gue kaya, maka menolak warisan bukanlah pilihan. Gue akan cari cara lain supaya mereka merestui hubungan kita,” godaku. Dia tertawa.

__ADS_1


Ponselnya di atas meja bergetar. Kami sama-sama diam dan dia menjawabnya. Melihat dari caranya bicara dan mendengar kata yang dia pilih, si penelepon pasti berusia lebih tua darinya. Dia terlihat gugup sebelum akhirnya matanya berkaca-kaca.


“Ada apa?” tanyaku tidak sabar begitu dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


“Kamu tidak akan percaya mendengar ini.” Dia malah terisak, membuat aku khawatir. Lalu aku mengerti mengapa dia bersikap begitu. “Aku mendapatkan beasiswa itu.”


Aku tersenyum lega mendengarnya. Akhirnya, dia tidak perlu kerja keras lagi. Dia bisa fokus pada studinya sampai tamat nanti. Aku sengaja memilihkan perusahaan yang memberikan beasiswa penuh yang menanggung biaya penelitian sampai wisuda.


Walau aku bangga kepadanya yang berusaha mengumpulkan uang sendiri untuk biaya hidup dan kuliahnya, aku tidak suka itu. Dia tidak mau ditolong dan aku tidak mau menjatuhkan harga dirinya yang tinggi itu dengan membujuk, maka aku mengalah. Jadi, beasiswa adalah solusi yang terbaik.


“Selamat, Amarilis. Aku tahu kamu pasti akan mendapatkannya.” Aku mengusap kepalanya. “Lain kali, cek dua kali alamat dan nomor telepon yang kamu isikan di formulir.”


“Apa kamu tidak bisa mengucapkan selamat saja tanpa embel-embel ledekan?” Dia cemberut.


“Lo mau es krim?” Aku mengambil buku menu dari sudut meja. “Gue belikan es kesukaan lo, ya.”


Dia menahan tanganku agar tidak bisa membuka buku tersebut. “Aku kenyang, Theo.”


“Lo terlalu kurus.” Aku kembali tidak suka melihat ukuran badannya sekarang.


Matt akhirnya menjalani ujian besar yang dia tunggu-tunggu. Kami mendukung dia dengan memberi lingkungan yang tenang di rumah. Persoalan ujian itu sama sekali tidak kami bahas, kecuali dia yang memulainya. Hari-hari itu adalah hari yang terbaik, karena keluarga Chika tidak diundang makan.


Dia memanfaatkan kesempatan itu dengan mengundang Amarilis belajar dengannya di rumah. Aku hanya tersenyum melihat Mama tidak melarang atau mengatakan apa pun. Dia menyuruh pelayan mengantarkan camilan, juga menyiapkan makan malam untuk mereka santap di ruang belajar.


Walau aku ingin sekali berada di ruang perpustakaan bersama mereka, aku menahan diri. Amarilis bukan calon istriku pada saat dia bersama adikku. Dia adalah guru privat Matt, maka waktunya sepenuhnya hanya untuk muridnya itu.


Bila adikku disibukkan dengan ujian nasional, maka aku fokus dengan proposal dan seminar yang sudah menanti di depan mata. Meski aku terlihat tenang dari luar, aku sangat gugup di dalam. Aku memang sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, juga dibimbing oleh dosen yang sangat berdedikasi, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku takut melakukan kesalahan.


“Gaya kamu gugup unik, ya,” goda Amarilis.


“Berhenti, Amarilis,” ucapku untuk kesekian kalinya.


“Kamu tidak berkeringat atau gemetar, tetapi napas kamu memburu.” Dia tertawa kecil.


“Apa lo enggak bisa diam sebentar?” kataku, setengah mengancam.


“Altheo Gunawan Husada,” panggil seorang wanita dari ambang pintu.

__ADS_1


Aku menghela napas panjang. Akhirnya, giliranku tiba. Amarilis tersenyum sambil menepuk bahuku memberi semangat. Aku mencuri satu ciuman darinya begitu dia lengah. Aku tidak peduli dengan banyak mata yang bisa saja melihat kami, karena aku membutuhkannya. Melihat matanya membulat dan pipinya bersemu merah, aku sedikit terhibur.


Yakin aku sudah siap untuk tampil, maka aku berdiri dan berjalan menuju ruangan. Semua mata yang semula tertunduk, terangkat dan memandang aku dengan serius. Jantungku berdebar dengan cepat. Aku bisa. Aku pasti bisa melewati ini dengan baik.


__ADS_2