
Aku tidak pernah melihat cermin, jendela, spion, atau apa pun karena buruknya penampilan Amarilis yang membuat aku benci kepadanya. Bahkan tiba di negara ini dengan keadaan yang lebih baik, aku masih belum sanggup memandang bayanganku. Kalau bukan karena Theo, aku pasti masih begitu.
Jadi, berada di negara asing tanpa seorang pun yang mengenal kondisiku sebelumnya adalah sebuah anugerah. Orang-orang tidak melihat aku seperti mereka biasanya mengagumi Katelia. Sebaliknya, mereka juga tidak mengejek aku.
Namun dengan adanya foto lamaku dengan badan sangat gemuk, wajah penuh jerawat, rambut kusam, dan gigi berantakan adalah pengingat yang kejam. Pantas saja aku mendadak menjadi pusat perhatian hari ini. Ternyata foto ini alasannya.
“Menyedihkan sekali. Dia pasti operasi penyedotan lemak sampai berat badannya turun drastis,” kata orang yang berdiri di belakangku.
“Lihat perbedaan wajahnya,” ucap yang lain. “Dia pasti melakukan operasi plastik.”
“Orang Asia memang begitu. Mereka lebih suka operasi daripada melakukan perawatan sejak dini.”
Aku segera mengambil dan menyimpannya di tasku. Hanya ada satu orang yang melakukan ini. Dia sudah salah memilih lawan. Aku hanya diam selama ini, bukan karena aku takut kepadanya. Aku hanya mau kuliah dengan damai. Baiklah, dia yang salah sudah membangunkan iblis dalam diriku.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Meghan dengan wajah khawatir. Aku mengangguk. “Maaf, aku tidak tahu siapa pelakunya, jadi aku tidak langsung mengambilnya. Aku tidak mau dipukul.”
“Aku tahu.” Aku menepuk bahunya. “Ini masalahku. Kamu tidak perlu terlibat.” Kami memasuki ruang kuliah, lalu duduk di tempat biasa. Aku di dekat dinding, dia di sisiku.
“Kamu tidak sejelek yang mereka katakan. Lupakan saja ucapan jahat mereka.” Meghan memegang tanganku. “Kamu adalah inspirasi untukku.”
Aku tersenyum kepadanya. Mungkin dia berpikir aku akan sakit hati melihat foto itu atau omongan mereka tadi. “Jangan khawatir, Meghan. Aku baik-baik saja.”
“Pagi, Amarilis.” Robert berdiri di depan kami dengan senyum lebar. “Wah, wah, kamu jadi terkenal dalam waktu satu jam saja.” Dia tertawa kecil. “Bagaimana kamu bisa sekurus ini sekarang? Apa kamu punya sugar daddy? Itukah sumber beasiswamu?”
Bêrengsek. Apa mau laki-laki kurang ajar ini? Enak saja dia menuduh aku menjual diri untuk studi dan biaya menurunkan berat badan. Masa iya? Mungkinkah dia menyukai aku sehingga melakukan semua ini? Setelah mencari tahu tentang aku, lalu dia menyebarkannya. Ah, mustahil.
“Jaga mulutmu. Amarilis tidak serendah itu. Mengapa kamu mengganggu dia terus? Seharusnya kamu tunjukkan budaya kita yang ramah kepada orang asing. Bukan begini,” tegur Meghan.
“Heh, gendut. Kamu tahu apa tentang budaya kita? Apa kamu pikir menjilat adalah budaya kita?” balas Robert. Aku mengepalkan tanganku, mencegah diriku meninju mukanya sekarang juga.
“Menuduh tanpa bukti, jelas bukan budaya kita,” kata Meghan. “Jangan rundung Amarilis atau kamu harus menghadapi aku.”
“Oh. Hai, Mike!” sapa Robert kepada pria yang baru masuk ke ruangan. Dia menoleh ke arahku, lalu wajahnya memucat. “Hei, kamu mau ke mana? Apa kamu tidak akan duduk di sisi gadismu ini?”
__ADS_1
Berbeda dari hari sebelumnya, Mike duduk sejauh mungkin dariku. Huh. Dasar laki-laki. Dia pasti tidak tertarik kepadaku lagi karena tahu penampilan lamaku. Baguslah. Aku tidak perlu berhadapan dengan pria yang tidak berhenti mengejar aku. Berarti tinggal satu masalah lagi.
Kuliah usai, aku dan Meghan berjalan bersama menuju tempat parkir. Orang-orang masih menatap aku sambil tertawa cekikikan dengan teman di sampingnya. Namun kami tidak menggubrisnya. Baru membuka pintu, ada kerumunan di depan kami.
“Ada apa lagi ini?” Meghan menghentikan langkahnya.
Kerumunan itu terlalu padat sehingga kami tidak bisa lewat. Aku berniat mengajak dia melewati jalan belakang, tetapi suara Robert dan Mike menarik perhatian kami. Meghan mengajak aku untuk berdiri di tepi agar bisa melihat apa yang terjadi di depan sana.
Mike sedang menarik tangan Robert saat pria itu memasuki mobil mewahnya. Dia kalah kuat, maka Robert menutup pintu dan pergi dengan mobil itu. Orang-orang hanya saling berbisik sehingga aku tidak mendengar masalahnya apa.
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Meghan kepada pria di depan kami.
“Sepertinya mereka taruhan. Mike kalah, jadi mobilnya diambil Rob,” jawabnya. “Konyol.”
Aku dan Meghan saling bertukar pandang. Taruhan? Mereka taruhan apa? Mike gila. Dia menjadikan mobil mahalnya sebagai barang taruhan. Apa yang Robert pertaruhkan sampai dia nekat begitu? Setahuku pria aneh itu tidak sekaya dirinya.
“Libur musim semi ini kamu akan ke mana?” tanya Meghan.
“Aku dan keluargaku akan berlibur ke Hawaii. Mereka sudah bosan dengan udara dingin.” Dia mengangkat kedua bahunya, terlihat tidak antusias dengan rencana itu.
“Wah! Selamat bersenang-senang!” Aku mencoba untuk menghiburnya.
“Terima kasih.” Dia hanya diam di tempat, tidak berjalan menuju mobilnya.
“Ada apa?” tanyaku heran.
“Kamu tidak curiga kepadaku?” Dia menyeka rambutnya ke belakang telinga. “Aku adik dari orang yang menyukai pacarmu. Bisa saja aku punya niat jahat mendekati kamu.”
“Orang yang punya niat jahat tidak akan mengatakan niatnya.” Aku tersenyum. “Kalau kamu menyukai pacarku, barulah kita tidak bisa berteman. Tidak, Meghan. Aku tidak curiga kepadamu.”
Dia tiba-tiba memeluk aku. “Terima kasih, Amarilis! Kamu sahabat pertamaku!” Tidak tahu harus bagaimana, aku hanya mengusap-usap punggungnya. “Ah, maafkan aku.” Dia menjauhkan dirinya. “Kalau begitu, sampai nanti. Selamat berlibur.”
“Selamat berlibur, Meghan.” Aku terharu melihat matanya berkaca-kaca. Apa dia benar-benar tidak pernah punya sahabat sebelumnya?
__ADS_1
Aku mengayuh sepeda bersama beberapa mahasiswa lain menuju tempat tinggal mereka. Ada juga karyawan yang menggunakan sepeda sebagai transportasi. Udara masih dingin, tetapi tidak sedingin musim salju. Sepertinya musim semi memang akan datang.
Aku senang sudah melalui dua musim di negeri ini. Namun aku akui aku merindukan musim panas dan matahari karena jarang melihatnya. Pantas saja Meghan dan keluarganya berlibur ke daerah hangat. Aku yakin banyak teman lain yang melakukan hal yang sama.
Sebuah mobil tiba-tiba saja menepi, menghalangi jalanku. Aku terpaksa mengerem mendadak. Mobil itu segera aku kenali, tetapi pemiliknya sudah berganti. Dia keluar dari bagian pengemudi, lalu menoleh ke arahku. Senyum angkuhnya membuat aku ingin meninju wajahnya.
“Mau ikut berkeliling dengan mobil baruku?” Dia bersandar di sisi mobilnya.
“Aku tidak mau berurusan dengan laki-laki pengecut.” Aku menatapnya dengan tajam.
Dia tertawa geli. “Kat, Kat, kamu memang wanita yang menarik. Seharusnya kamu senang aku sudah memperkenalkan kamu lebih dalam kepada teman-teman. Foto itu ada di media sosialmu. Jadi, itu untuk konsumsi publik. Mengapa kamu marah?”
“Berhenti, Robert. Jangan teruskan ini. Kita sudah tidak satu grup, jadi jangan ganggu aku lagi.”
“Ah, iya. Grup itu sekarang membosankan tanpa kamu. Aku berniat bergabung dengan kalian.” Dia memamerkan gigi rapinya. “Kalian kelihatannya asyik sekali setiap berdiskusi.”
Melihat dia hanya membuang-buang waktuku, aku mengayuhkan sepedaku kembali. Namun saat aku berada di sisi mobilnya, dia memegang stang sehingga aku harus berhenti. Tangannya yang lain dengan sengaja dia letakkan di atas tanganku.
“Aku belum selesai bicara, Kat.” Dia berbisik begitu dekat.
“Ada apa denganmu dan Mike? Apa kalian tidak bisa mengerti aku sudah punya pacar? Aku tidak tertarik dengan satu pun dari kalian.”
Dia tertawa keras. “Apa katamu? Kamu pikir Mike tertarik kepada wanita sepertimu? Kat, Kat. Dia hanya mau menikmati badanmu, lalu membuang kamu begitu saja. Lagi pula, dia semakin agresif bukan karena dia menginginkan kamu. Kami taruhan.”
Tentu saja mereka taruhan. Mengapa aku lupa ada alasan lain dua orang pria mendadak ingin dekat denganku? Yang satu kaya raya, tampan, dan bertubuh bagus, untuk apa dia mendekati wanita biasa? Yang satu lagi menarik sekaligus misterius, yang semula membenci aku berubah suka mengganggu. Jadi, itu sebabnya mereka selalu duduk di sampingku.
“Kalau dia berhasil mendapatkan satu ciuman saja darimu, maka dia menang.” Dia tertawa geli. “Kamu pikir dia berniat mencium kamu karena dia menyukai kamu?”
“Itu juga alasanmu melakukan ini? Kamu taruhan apa? Mencium aku? Tidur denganku? Apa tidak ada hal cerdas lain yang bisa kalian lakukan selain merendahkan perempuan?” kataku sengit.
“Tidak, Kat. Aku bukan pengemis seperti Mike. Kamu yang akan datang sendiri kepadaku, meminta aku menyenangkan kamu di tempat tidur,” bisiknya. Matanya turun melirik bibirku.
“Biar aku saja yang menyenangkan kamu di sini, bàjingän!” Tiba-tiba kerah baju Robert ditarik dan sebuah tinju menghantam wajahnya. Aku memekik terkejut saking kerasnya bunyi benturan itu.
__ADS_1