
“Aku selalu mencintai kamu. Ini balasanmu? Kamu lebih memilih yang lain daripada aku?” seru pria yang membawa senjata itu.
Badanku gemetar hebat ketika dia berjalan melewati meja kami. Aku tidak mendengar balasan orang yang dia ajak bicara. Hanya tangisan yang aku tidak bisa bedakan datang dari tamu lain atau wanita yang dia maksud. Oh, Tuhan. Apakah bunyi kaca pecah tadi, dia menembak pria itu dari luar?
Daisy dan rekannya pasti ada di sekitar sini. Semoga saja mereka tidak bertindak gegabah atau ikut campur dengan urusan asmara kedua orang itu. Semua ini akan berlalu. Pria itu tidak akan berbuat jahat kepada siapa pun kalau kami tidak mengganggu dia. Iya, ‘kan?
“Mengapa kamu hanya diam saja? Jawab!!” teriak pria itu yang datang dari arah belakangku. Dia pasti sudah berada di dekat perempuan itu.
“Aku tidak peduli dengan apa yang akan kamu lakukan. Bunuh saja aku. Untuk apa aku hidup lagi kalau orang yang aku cintai sudah mati?” Terdengar suara seorang perempuan yang menyayat hati.
Melihat gerakan dari sudut mata, aku menoleh. Beberapa orang merangkak ke arah pintu depan. Mereka bergerak begitu senyap sehingga tidak menarik perhatian pria tadi. Benar juga. Dia hanya datang untuk bicara dengan perempuan itu. Kami bisa menyelamatkan diri.
Aku menepuk pelan bahu Meghan, menarik perhatiannya. Dia menoleh ke arahku dengan wajah bersimbah air mata. Aku meletakkan telunjuk di depan bibirku agar dia tidak mengeluarkan suara. Melihat dia mengangguk mengerti, aku menunjuk ke sisi kananku.
Dia menggeleng pelan dan beringsut makin dalam di kursinya. Aku mengerti dia takut. Aku juga. Namun tetap berada di dalam restoran ini juga tidak aman untuk kami. Aku mencoba membujuk dia lagi, tetapi dia masih menolak.
Terdengar perkelahian sengit dari arah pria tadi berada. Orang-orang yang ada di dekat mejaku berhenti bergerak. Mereka meringkuk serendah mungkin di lantai. Oh, Tuhan. Apa yang terjadi di sana? Aku tidak berani mengangkat kepalaku untuk melihat keadaan di bagian dalam restoran.
Theo. Apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi? Kami sering sekali bertengkar dan aku belum sempat jujur mengenai perasaanku kepadanya. Bunda, Mama, dan semua keluargaku pasti akan sedih, terutama Bunda. Kami berjanji akan jalan-jalan sepulang aku dari negara ini. Kami mungkin tidak akan pernah bisa melakukan itu.
“Nona.” Suara yang sangat aku kenal berada di dekatku diikuti dengan pegangan kuat di lenganku. “Sudah aman. Ayo, kita pergi dari tempat ini.”
“Daisy?” Aku menatapnya dengan lega. “Meghan, ayo. Keadaan sudah aman.”
Aku tidak tahu keadaan aman apa yang dia maksudkan, tetapi semua orang berebut keluar melalui pintu depan dan samping restoran. Jantungku berdebar begitu cepat. Aku tidak tenang sebelum tiba di luar. Aku tidak mau melihat ke belakang dan terus berjalan menuju titik yang dituju semua orang. Ternyata polisi sudah mengepung lokasi itu.
Orang-orang berpakaian medis mendekati kami dan memeriksa keadaan kami. Aku baik-baik saja, jadi aku menolak untuk diperiksa. Aku tidak melihat apa pun yang akan membuat aku trauma selain wajah pria itu dan sênjata di tangannya. Untunglah, aku tidak mencari tahu apa yang terjadi dengan orang yang duduk bersama wanita tadi.
“Amarilis!” Terdengar suara Theo. Aku belum sempat menoleh, dia sudah memeluk aku dengan erat. “Oh, Tuhan. Syukurlah!” Dia menghujani aku dengan ciuman. “Syukurlah, kamu baik-baik saja.”
Aku membalas pelukannya dan menghirup wewangian maskulin khasnya. “Theo …,” ucapku lega.
Polisi meminta keterangan dariku dan Meghan selaku saksi dari kejadian itu. Mereka juga memaksa Daisy dan rekannya untuk menceritakan apa yang mereka saksikan tadi. Ternyata mereka yang telah membekuk pria itu. Benar dugaanku. Pengawalku ada di dalam restoran melindungi aku.
Setelah menjawab semua pertanyaan mereka, barulah kami diizinkan pergi. Namun kami harus memberi nomor telepon dan bersedia hadir kapan saja mereka membutuhkan keterangan lebih lanjut. Merepotkan sekali. Semoga saja kami tidak perlu berurusan dengan mereka lagi.
Sopir Meghan menjemput, maka dia pun pulang. Aku dan Theo memasuki mobilnya, sedangkan sepeda yang tadi aku pakai dibawa pengawalnya. Aku membalas pelukannya selama kami berada dalam perjalanan. Sebentar saja, kami tiba di apartemen.
__ADS_1
Dia keluar dahulu, lalu aku menyusul. Aku berdiri dan tiba-tiba saja kedua kakiku tidak kuat menahan bobot tubuhku. Theo memeluk aku dengan cepat sehingga aku tidak sampai jatuh ke trotoar. Aku merasa tidak enak dia harus membopong aku.
“Maaf,” kataku pelan.
Dia mencium pipiku. “Enggak apa-apa, sayang. Lo enggak berat.”
Dia menyuruh aku mandi dan berganti pakaian, maka aku menurutinya. Tidak mau sendirian di kamar, aku keluar dan melihat dia sudah duduk santai di sofa dekat jendela. Aku mendekat dan dia menepuk pahanya. Aku menggeleng pelan, tetapi dia menarik tanganku.
“Kenapa lo masih malu?” Dia melingkarkan tangannya di tubuhku sehingga aku tidak bisa kabur.
“Posisi ini terlalu întim,” akuku.
“Gue lebih suka melihat wajah lo memerah daripada pucat.” Dia mencium lenganku. “Gue enggak akan pulang bulan depan, jadi lo enggak akan sendirian.”
“Tidak, Theo. Matt wisuda, kamu tidak bisa membatalkan kepulanganmu,” protesku.
“Kalau hal buruk seperti tadi menimpa lo, gue akan menyesal selamanya.”
“Tolong, aku tidak mau bertengkar denganmu sekarang.”
Dia merapatkan bibirnya, lalu mendesah pelan. “Lo enggak takut gue enggak akan kembali lagi? Bagaimana kalau ortu gue memaksa gue menikah dan menetap di Indonesia? Lo akan sendirian di sini sampai tamat nanti.”
“Kalau Matt sampai tahu gue meninggalkan lo—”
Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. “Jangan beri tahu dia.”
“Peristiwa tadi diberitakan besar-besaran, Kat. Mama tidak suka menonton berita luar negeri, jadi kita aman. Beda dengan Matt. Dia pasti mencari tahu apa yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan kampus guru kesayangannya.”
Seolah-olah tahu dia sedang dibicarakan, ponselku yang ada di dalam tas bergetar. Aku berdiri dan mengambil tasku yang ada di atas sofa di tengah ruangan. Aku mengeluarkannya dan benar. Nama serta foto Matt yang memenuhi layar.
Aku kembali duduk di pangkuan Theo dan menjawab panggilan video itu. “Aku baik-baik saja.”
“Oh, ya, ampun, Kak Amarilis! Gue hampir menangis karena Kakak menjawab lama sekali!” Pria yang biasanya ceria itu tidak pernah terlihat sedih. Baru kali ini aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Wanita gue baru melewati peristiwa yang mengguncang jiwanya. Lo jangan marahi dia,” omel Theo.
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa siang bolong begitu ada orang bawa-bawa pistol?”
__ADS_1
“Ini Amerika, Matt. Semua orang bebas memiliki sênjata. Apa lo pikir film laga kesukaan lo itu hanya fiksi belaka? Pênèmbakan adalah hal yang biasa terjadi di sini.”
“Oh, Tuhan. Kalian sebaiknya cepat pulang. Situasi di sana tidak aman.” Matt terlihat panik.
“Memangnya di mana di bawah kolong langit ini yang aman untuk ditinggali?” tantang Theo. “Apa di Indonesia tidak ada manusia yang meninggal setiap harinya karena kriminalitas?”
“Kenapa lo yang dari tadi bicara, sih, Theo? Gue mau mengobrol dengan guru gue,” protes Matt, mengalihkan pembicaraan.
“Apa lo enggak menyimak tadi? Amarilis sedang terguncang.” Theo mempererat pelukannya. “Lo sudah lihat keadaannya. Sana, bangun. Kami juga perlu bersiap untuk makan malam.”
“Jangan diakhiri. Aku senang melihat kalian bertengkar.” Mereka berdua serentak ber-huu ria.
“Ngomong-ngomong, lo sebaiknya batalkan kepulangan lo, Theo,” kata Matt mendadak serius. “Gue enggak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada Kak Amarilis saat lo jauh dari dia.”
“Gue juga berpikir—”
“Tidak!” kataku, menolak dengan tegas. “Aku tidak mau orang tua kalian tahu aku ada di sini, bahkan tinggal dengan Theo. Apalagi pertunangannya sudah disiapkan secara besar-besaran.”
“Kalian kawin lari saja, Kak,” usul Matt dengan santai. “Kalau kalian sudah menikah, Papa dan Mama tidak akan bisa berbuat apa-apa. Soal persiapan pertunangan itu, uang bisa dicari, nyawa tidak, Kak. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kakak, bagaimana Theo bisa hidup?”
Percakapan itu berakhir dengan kekalahanku. Kedua saudara itu bertengkar di awal, tetapi satu kata pada akhir pembicaraan. Aku jelas kalah jumlah melawan dua orang sekaligus. Jadi, aku memilih diam dan membiarkan mereka yang mengambil keputusan.
Kami makan malam dalam diam. Masakan Theo sangat enak, spageti dengan bola daging yang besar. Dia sengaja memberi porsi yang lebih banyak untukku. Aku memang lapar sehingga sebentar saja mi itu ludes. Saat mencuci piring bersama, kami juga tidak bicara.
Aku mengulurkan tangan meminta handuk kecil, tetapi Theo yang melakukannya untukku. Dia mengelap kedua tanganku dengan kain tebal itu. Aku tersenyum merasakan kebaikannya. Jantungku yang semula tenang, berdebar lebih cepat karena sentuhannya.
“Gue tahu mengubah pola pikir itu tidak bisa instan. Tetapi, sayang, lo harus berhenti menganggap lo tidak penting. Karena lo sangat berarti buat gue. Yang lo lakukan hari ini terhadap teman lo sangat gue sayangkan. Dia enggak mau selamat, maka lo harus pikirkan diri lo sendiri.” Dia tahu hal itu?
“Itu alasan gue membatalkan kepulangan gue. Lo enggak sayang sama diri lo. Jadi, gue harus ada di sini untuk menjaga lo, termasuk dari diri lo sendiri.” Dia meletakkan handuk pada gantungannya usai mengeringkan tanganku.
“Theo.” Aku berusaha untuk menjelaskan.
“Enggak usah cari alasan, gue enggak mau dengar. Lo sudah membuat gue nyaris mati hari ini.” Dia membalikkan badan berniat pergi, maka aku memeluknya dari belakang. Syukurlah, dia tidak memberontak untuk lepas dari pelukanku.
“Aku mencintai kamu, Theo. Kamu segalanya bagiku,” kataku dengan serius. “Tetapi aku juga tidak mau kamu kehilangan segalanya karena aku. Apa kamu tidak lihat sakitnya aku kehilangan keluarga dan identitasku sebagai Katelia? Aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama.”
“Jika ortu gue membuang gue karena lo, gue enggak menyesal.”
__ADS_1
“Oke. Katakan, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku, mengalah. “Aku akan lakukan apa saja asal kamu tidak membatalkan kepulanganmu.”