
~Amarilis~
“Itu tidak benar,” kataku pelan, tidak percaya dengan informasi yang Bunda sampaikan.
“Kamu selalu mengeluhkan sakit saat datang bulan. Jadi, kami menggunakan jadwal pemeriksaan kesehatan keluarga kita untuk sekalian memeriksa kondisi rahimmu. Dokter menemukan masalah yang akan menyebabkan kamu sulit memiliki anak,” lanjut Bunda lirih.
“Hasil itu kami dengar setelah ayahmu setuju untuk menjodohkan kamu dengan Theo. Seharusnya kami langsung jujur kepada mereka, tetapi kami tidak mau kamu terluka. Jadi, kami merahasiakan hal itu sembari mencari cara untuk memulihkan kamu.
“Kami tidak mengumumkan pertunangan kalian, hanya dilakukan di atas kertas antara dua orang tua agar perpisahan kalian tidak menjadi skandal. Kamu tidak akan pernah menikah dengan pria dari kalangan kita jika reputasimu hancur. Kedua kakakmu juga akan sulit menemukan istri dari keluarga baik-baik karena skandalmu itu.
“Jadi, Nak, Amarilis adalah malaikat penolongmu. Aku tahu keadaanmu ini berat bagi kita semua, tetapi lihat, dua keluarga bersatu dan kamu punya harapan untuk menjadi seorang ibu. Kamu malah menikah dengan pria yang sama yang telah menjadi jodohmu.”
Aku punya masalah dalam rahimku sehingga tidak bisa memiliki anak. Informasi itu bagai pukulan keras di wajahku. Theo sangat mendambakan penerus agar bisa lepas dari tanggung jawab besarnya terhadap orang tuanya. Dengan begitu, dia bisa fokus menyiapkan diri jadi pengganti Om Azarya.
Namun aku sudah bukan di tubuh Katelia, aku ada dalam badan Amarilis. Walau dia juga bermasalah saat datang bulan, tetapi Theo bilang, hasil pemeriksaan kesehatan menyatakan aku baik-baik saja. Aku bisa memberinya seorang anak. Apa iya ini alasan peristiwa nahas itu terjadi?
“Ini juga alasan kami tidak melarang kamu berbuat onar di sekolah,” kata Bunda, mengejutkan aku. Dia menoleh ke arah Mama, lalu memegang tangannya. “Aku diam-diam mengutus Nolan untuk membantu biaya sekolah semua anak yang menjadi korbanmu, termasuk Amarilis.”
“Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Kami sudah memaafkan Katelia dan menerima Amarilis apa adanya dia sekarang. Kamu hanya akan membuka luka lama dengan membicarakan ini,” lerai Mama.
“Putriku perlu tahu. Kami tidak bangga dengan apa yang kami lakukan di belakangnya.”
“Bunda tahu aku merundung teman-teman di sekolah?” tanyaku tidak percaya.
Dia mengangguk. “Kami tidak melarang karena kami merasa bersalah sebagai orang tua. Kamu punya masalah kesehatan karena kami. Kami juga tidak tega memarahi kamu, jadi kami membantu mereka untuk mengurangi beban mereka akibat perbuatanmu.”
Dadaku serasa ditusuk dengan benda tajam. Ternyata keluargaku tahu semua perbuatan jahatku. Aku tidak suka dengan perasaan bersalah yang kini memenuhi hatiku. Kalau aku tahu hal ini, maka aku tidak akan pernah menyakiti siapa pun. Oh, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan?
“Maafkan aku. Aku sudah membuat semua orang susah.”
__ADS_1
Kedua kakakku bersikap sangat menjengkelkan ketika mereka datang dan bergabung bersama kami. Ayah dan Papa tidak marah lagi, tetapi mereka terus saja mengomeli Theo yang menikahi aku secara diam-diam. Padahal mereka sudah lama tahu kami saling sayang. Mereka tidak melarang berarti mereka tidak keberatan andai kami menikah tanpa pemberitahuan.
Pada keesokan harinya, Bunda mengajak aku dan Mama ke salon. Begitu mengetahui Chika juga mengundang aku untuk hadir di pernikahannya, Bunda mau kami semua hadir. Aku sangat terharu bisa merasakan perawatan seluruh badan di tempat mahal itu.
Mama yang malu-malu karena tidak terbiasa dipijat oleh orang tidak dikenal. Dia selalu membalur minyak angin jika badannya pegal-pegal. Kadang-kadang dibantu Papa, bukan orang asing. Padahal aku dan Bunda ada di ruangan yang sama dengannya.
Tertidur selama dipijat, kami bangun dengan wajah segar. Seluruh tubuh kami dari rambut hingga kaki mendapatkan perhatiannya masing-masing. Mama sampai tidak mau lepas dari cermin melihat wajahnya yang bersih dan berkilau.
“Kita makan dahulu, baru berburu barang yang akan kita butuhkan,” kata Bunda saat kami tiba di depan sebuah mal.
“Memangnya kita butuh barang apa, Bunda?” tanyaku heran.
“Nanti juga kamu tahu,” jawab Bunda dan Mama secara bersamaan. Mereka saling pandang, lalu tertawa bersama.
Ternyata barang yang mereka maksudkan adalah gaun, sepatu, tas, dan pernak-pernik yang akan kami pakai saat menghadiri undangan pernikahan. Aku sampai tidak bisa berkata-kata melihat warna gaun pilihan mereka. Apa tujuan mereka seperti yang aku pikirkan?
“Ah, iya. Dia pakai itu saat menikah di gereja saja,” usul Mama. “Desain kebaya zaman sekarang luar biasa bagusnya. Putri kita pasti akan terlihat cantik sekali. Theo akan jatuh cinta lagi kepadanya.”
“Huh, aku tidak percaya dinding es itu tidak punya perasaan apa-apa kepada putri kita. Dia pasti bohong. Mana ada orang tidak cinta bisa tidur bareng? Aku yakin mereka tidak hanya melakukannya satu kali.” Bunda menatap aku dengan saksama.
“Bunda!” tegurku dengan suara tertahan. Aku melihat ke sekeliling kami. “Aku sudah bilang, aku tidak mau membahas hal itu dengan Bunda dan Mama.”
“Hm. Kamu sudah dewasa. Mengapa masih malu?” Bunda memicingkan matanya. “Apa dia tidak memuaskan kamu? Apa aku perlu bicara dengan ayahmu mengenai ini? Biar dia yang memberi tip dan trik supaya anak pertama kalian laki-laki.”
“Sudah, Bunda!” protesku lagi, merasakan wajahku semakin memanas. “Cukup!” Mereka berdua malah cekikikan.
Pada harinya, Bunda dan Mama benar-benar serius dengan niat mereka. Bukan hanya penata rias, mereka juga memanggil fotografer untuk mengabadikan foto keluarga kami. Satu sudut di dekat kolam renang sudah dihiasi dengan balon dan bunga, layaknya tempat foto di resepsi pernikahan.
Walau rencana mereka itu aneh, aku bahagia melihat senyum dan tawa di wajah keluargaku. Apa yang aku takutkan tidak terjadi. Mereka semua senang dengan laki-laki yang aku pilih. Seandainya Theo miskin, mungkinkah respons mereka akan sama?
__ADS_1
Mendapat perhatian dari banyak orang memang membuat hariku semakin berwarna. Orang tua berjalan dahulu memasuki gereja, aku dan Theo mengekori mereka. Meski aku tidak memakai gaun dengan rok yang menutupi hingga mata kaki, warnanya sangat mencolok.
Undangan yang sudah hadir menatap aku dan Theo dengan kagum, bahkan ada yang memotret kami atau merekam saat kami berjalan menuju tempat duduk. Tante Winara dan Wiryawan menyapa Bunda, sedangkan Theo mengajak aku untuk duduk.
Aku tersenyum puas ketika Chika membulatkan matanya melihat penampilanku dan Theo. Dia hampir tersandung kakinya sendiri saat berjalan bersama papanya menuju altar. Dia bahkan gagap waktu mengucapkan sumpah setianya. Ternyata membalas perbuatan dia bisa juga dengan cara ini.
Ketika berada di aula hotel pun, dia adalah pengantin wanita pertama yang pernah aku saksikan tidak bahagia duduk di pelaminan. Padahal dia begitu senang mengejek aku di bandara. Dia juga tidak segan bergelayut manja di lengan Pak Norman. Aneh.
“Makan dengan benar.” Aku terkejut merasakan sudut bibirku diseka. “Bumbu rendang sampai menempel dari tadi, lo enggak sadar.”
“Ah, terima kasih.” Aku mengambil serbet yang ada di pangkuanku lalu menyeka bibirku.
“Andai kita ada di kamar, gue lebih memilih menjilatnya,” katanya acuh tak acuh.
Wajahku memanas, apalagi Kak Jericho yang duduk di sisinya sampai terbatuk-batuk. “Kamu ini bicara apa? Ada orang di dekat kita,” tegurku dengan suara tertahan.
“Richo, maksud lo? Dia kakak lo, bukan orang asing.” Dia memotong daging di piringnya dengan santai, lalu memasukkan ke mulut. Sinyal dia tidak mau membahas hal ini lagi.
Usai makan, Bunda yang duduk di sisiku mengajak kami untuk pamit kepada mempelai. Ayah dan Papa meminta waktu untuk ke kamar mandi, maka aku melakukan hal yang sama. Aku tidak yakin bisa menahannya sampai di rumah. Theo menolak ketika aku mengajaknya.
Untung saja antrian tidak panjang, jadi aku hanya menunggu satu orang di depanku, lalu giliranku pun tiba. Aku mengenal beberapa dari mereka sebagai teman sekolah dan seniorku di kampus, tetapi mereka tidak mengenali aku dengan penampilan baruku. Apa aku secantik itu sampai mereka tidak tahu aku adalah Amarilis?
“Jangan buat aku malu!” Teriakan itu menarik perhatianku saat berjalan keluar dari toilet. “Aku tidak percaya kamu akan memasang wajah sedih pada hari pernikahanmu sendiri!”
Aku menoleh dan melihat Tante Winara sedang menarik lengan Chika memasuki sebuah ruangan. Aku memperhatikan ke sekitarku. Tidak ada orang yang melihat, maka aku mendekati ruangan itu. Untung saja pintunya tidak tertutup sepenuhnya, jadi aku bisa mendengar suara dari dalam.
“Tidak ada tapi-tapi,” omel Tante Winara. “Nancy sampai tersinggung melihat kamu terus cemberut sambil melihat Theo. Apa kamu sudah gila? Kamu bilang kamu mencintai Norman, lalu mengapa kamu jadi begini sejak melihat Theo?”
“Mama pikir aku begini karena Theo?” Chika tertawa sendu. “Mama salah paham. Iya, aku akui aku masih sayang kepadanya, tetapi bukan dia yang membuat aku sedih.”
__ADS_1