
~Altheo~
Adegan yang aku lihat di kamar itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takutku ketika aku gagal menjaga istriku. Seharusnya aku tidak lebih mengkhawatirkan Edrick sampai melepaskan tangannya dari genggamanku. Kalau saja aku tetap memegang dia, maka hal itu tidak akan terjadi.
Syukurlah, dia berpikir lebih cepat dariku. Belajar bela diri dari Daisy selama dia ditinggal sendiri di Amerika sangat berguna. Dia bisa menjaga dirinya dari laki-laki hidung belang itu. Firasatku ternyata benar. Bastian punya maksud lain mendekati istriku.
Namun yang dia lakukan itu baru permulaan. Pukulan keras selanjutnya yang membuat aku nyaris kehilangan kewarasanku. Foto mereka bêrpèlukan, bérciúman, dan bertatapan mèsra menyebar di berbagai media daring. Bastian tidak melakukan itu sendiri, tetapi bekerja sama dengan seseorang.
Mengingat ancaman Mama terhadap Amarilis, aku segera tahu, dialah pelakunya. Jahat sekali. Apa yang ibuku pikirkan dengan melakukan ini? Dia bekerja sama dengan seorang laki-laki yang tertarik dengan wanitaku untuk merenggut kehormatannya sebagai seorang istri. Apa dia masih ibuku?
Pengawalku bertanya kepada Daisy dan dia meyakinkan aku bahwa Amarilis belum tahu sama sekali mengenai foto-foto tersebut. Aku tidak punya cukup uang untuk dibuang demi menghapus semua berita itu, jadi aku membiarkannya saja. Aku sudah punya rencana yang lebih baik.
“Lo enggak apa-apa?” tanya Matt ketika kami akan keluar dari ruang kerja. Aku mengangguk. “Gue akan bantu menurunkan semua foto itu.”
“Jangan,” larangku. “Simpan uang lo. Ini urusan gue dengan ortu kita.”
Kami menuju elevator dan menunggu sampai tiba di lantai tujuan. Ada banyak orang yang berjalan menuju tempat yang sama, aula kantor. Mereka yang melihat kami berhenti sejenak untuk menyapa dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan.
Aula itu sudah diubah menjadi tempat perayaan di mana panggung telah dihiasi dengan spanduk dan ada piano untuk pianis mengiringi acara. Pada bagian depan ada meja bundar besar yang salah satunya diisi oleh orang tuaku. Selebihnya oleh kenalan mereka.
Bagian tengah hingga belakang aula diisi dengan kursi yang berbaris rapi. Pada bagian kanan dan kiri ruangan tersedia meja panjang yang menyajikan makanan dan minuman untuk semua orang. Ada pelayan yang sudah siap untuk melayani ketika saatnya tiba.
Pembawa acara meminta aku untuk naik ke panggung ketika acara dimulai. Hanya perayaan singkat. Mereka bernyanyi, sedangkan aku meniup lilin, memotong, membagi, dan menyuapkan kue kepada keluargaku. Suapan pertama aku berikan kepada diriku sendiri sebagai perwakilan istriku. Mereka yang hadir tertawa geli, hanya mamaku yang cemberut.
“Anda sekalian pasti sudah lapar, tetapi ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh Pak Azarya Husada yang kemudian akan diakhiri dengan kata sambutan dari yang berulang tahun,” kata pembawa acara itu. Dia menyerahkan mikrofon kepada Papa.
__ADS_1
“Terima kasih. Selamat malam untuk semua undangan yang berkenan datang memenuhi undangan kami. Saya dan istri merasa terhormat atas dukungan semua orang atas bertambahnya usia putra kami dan kesembuhannya atas kecelakaan yang dia alami pada tahun lalu.” Papa tersenyum lega.
“Terima kasih juga masih mendukung kami walau ada masalah baru yang sedang menimpa kami. Seperti yang sudah kalian ketahui, menantu kami tidak hadir dan kalian kini sudah tahu alasannya. Kami tidak pernah mengumumkan pernikahan mereka, karena dia bukan wanita yang cocok untuk putra kami, Altheo.” Papa melirik aku.
“Jadi, pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengumumkan pembatalan pernikahannya dengan Amarilis dan pertunangannya kembali dengan Venecia Batari. Kami tidak akan mengadakan acara khusus lagi, tetapi Anda sekalian akan diundang pada hari pernikahan mereka.”
Seluruh tubuhku gemetar, bukan karena gemuruh tepuk tangan dan sorakan semua orang yang ada di aula, tetapi akibat menahan amarah yang memuncak. Foto yang belum dibuktikan kebenarannya dianggap sebagai alat sah untuk membatalkan pernikahan kami. Memangnya mereka siapa?
Wanita tidak tahu malu dan orang tuanya itu berani sekali naik ke panggung, berdiri di sisiku dan tersenyum kepada fotografer. Aku memberi jarak dan menarik tanganku ketika dia berusaha untuk memegang aku dan bersikap mesra. Aku pasti akan mewujudkan ancamanku itu malam ini juga.
Ketika suasana sudah tenang dan semua orang duduk di tempat mereka masing-masing, maka aku memulai rencanaku. Aku melirik ke arah pengawalku dan mengangguk pelan. Lampu ruangan itu dimatikan agar apa yang mereka tonton bisa dilihat dengan jelas.
“Tidak cukup memamerkan menantu pilihan putramu itu di depanku, kamu menoreh harga diriku dengan menyebut aku tidak pantas menggantikan ayahku. Baik. Aku sudah kehilangan segalanya, maka aku tidak mau jatuh sendiri.”
Clara terlihat jelas sedang mênôdongkan sènjàta ke arah Papa dan Mama, dengan aku dan Matt tidak jauh di belakang mereka. Meghan dan kedua orang tuanya juga bisa terlihat jelas pada video itu. Terima kasih terbesarku kepada pelayan di rumah Willis yang sudah merekamnya sehingga aku punya bukti yang tidak bisa dibantah keasliannya.
“Pada hari itu, seharusnya seluruh ahli waris sah Keluarga Husada meninggal dunia. Aku tidak akan ada di sini bersama orang tua dan adikku merayakan ulang tahun dan mensyukuri kesembuhanku. Namun kami bisa ada di sini, karena jasa seorang wanita muda yang luar biasa.” Aku tersenyum.
Kamu memang istriku yang malang, sayang. Kamu tidak ada di sini melihat aku membela hakmu, tetapi cintamu yang tulus cukup untuk memberi aku keberanian menghadapi mereka yang tidak berhenti menentang hubungan kita. Ini salah satu usahaku agar pernikahan kita mendapat restu.
“Amarilis memang bukan wanita dari kalangan yang terpandang dan berpengaruh di negeri ini. Dia hanya wanita biasa, tetapi tidak kalah terhormatnya dengan Anda sekalian. Apa status harus selalu menjadi dasar pernikahan bahagia bagi kaum kita? Apa cinta tidak cukup? Apa cinta besar yang dia tunjukkan lewat pengorbanannya di video itu dianggap tidak ada?
“Setelah apa yang dia lakukan untuk kita, inikah balasan kita, Pa, Ma? Tanpa keberaniannya pada hari itu, kita akan pulang dalam peti màti, tidak bernyawa lagi. Lihat baik-baik video itu. Aku akan membiarkan rekaman itu terus terulang dan terulang agar kita tidak pernah lupa.
“Aku, Papa, dan Matt hanya bisa membeku melihat bahaya mengancam nyawa kita. Padahal kami laki-laki. Justru Amarilis yang lebih sigap bergerak dan mencegah hal buruk terjadi kepada keluarga kita. Amarilis yang tidak berhenti kalian tolak dan hina itu.”
__ADS_1
Matt hanya menunduk, tidak sanggup mengangkat kepalanya sejak kalimat pertama yang aku ucapkan. Hanya Papa dan Mama yang masih mengangkat kepala mereka dan menatap aku dengan angkuh. Tentu saja meluluhkan hati mereka tidak semudah itu. Namun aku belum selesai.
Aku tertawa sedih. “Foto yang kalian sebarkan itu bagai kôtöran yang kalian lempar ke muka orang yang sudah menyelamatkan nyawa kita. Aku malu, Pa, Ma. Aku tidak pernah menyangka orang tuaku akan bertindak serendah ini. Apa artinya status jika kita berbuat lebih rendah dari binatang?”
“Amarilis tidak selingkuh, tetapi dilecehkan oleh pria yang ada pada foto itu. Aku ada di sana dan gagal melindungi istriku. Apa Papa dan Mama berniat membuat aku malu di depan semua orang? Amarilis berhasil menyelamatkan nyawaku, tetapi aku bahkan tidak becus menjaga kehormatannya. Itukah yang mau kalian sampaikan lewat foto-foto itu?
“Karena itu yang aku rasakan saat ini. Aku malu sekali, Pa, Ma. Aku sebagai laki-laki tidak sanggup melindungi istriku sendiri. Aku sampai berpikir, apa aku akan bisa memimpin perusahaan sebesar ini dengan karyawannya yang sangat banyak? Satu orang saja gagal aku selamatkan.”
Aku menoleh ke arah Keluarga Batari. “Lalu orang yang kalian pilih untukku. Apa kalian sudah lupa apa yang mereka lakukan terhadap kita? Apa yang tega mereka perbuat ketika aku sedang berbaring di rumah sakit? Kalian hanya membuka peristiwa kecelakaan itu ke publik, tetapi sengaja lupa memberi tahu kalau mereka memutuskan pertunangan kami karena aku càcat.”
Tanpa menoleh, aku tahu layar putih di belakangku menunjukkan rekaman CCTV yang ada di kamar rawatku. Kejadian wanita itu melepaskan cincin tunangan, memberikannya kepada Mama tetapi ditolak, sampai dia meletakkannya di dipan bisa terlihat jelas.
Walau tidak ada suara, orang-orang ini tidak bodoh. Mereka pasti tahu apa yang sedang terjadi dalam rekaman tersebut. Apalagi ekspresi kecewa Mama dan kejamnya mimik muka ibu serta anak itu bisa terlihat dengan jelas. Aku yang sedang berbaring juga ada pada video.
“Aku akan tetap menikah dengan Amarilis Josepha. Aku tidak akan menceraikan dia apa pun yang terjadi. Tidak ada persyaratan mengenai status istri dalam penunjukan aku kelak sebagai direktur utama menggantikan Azarya Husada.” Aku menatap papaku.
“Jadi, siapa pun yang mencoba merenggut hakku dariku akan aku lawan. Sekalipun orangnya adalah orang tuaku sendiri.” Aku menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan. “Para pemegang saham hadir di sini. Aku mau dengar, apa ada dari Anda yang keberatan dengan istri yang aku pilih?”
___
~Author's Note~
Agak takut sebenarnya mengatakan ini, khawatir zônk lagi. Hahahaha .... Teman-teman, ada kejutan dariku besok. Silakan pantau eFBi atau aIGi Meina H. untuk melihat pengumumannya, ya. Lumayan, bisa jadi pengisi liburan bagi yang tidak ke mana-mana.
Lanjutannya besok, ya. Terima kasih sudah membaca. Penulisnya bisa istirahat, deh.
__ADS_1