
Aku senang mendengar Theo merekam kejadian hari itu. Jadi, itu alasan dia tidak menolong aku. Dia butuh bukti itu untuk menunjukkan kepada orang tuanya siapa Chika yang sebenarnya. Theo dan Matt tidak perlu khawatir. Aku juga tidak akan membiarkan perempuan itu yang menjadi istrinya.
Walau aku tidak menyukai Theo dan membenci sikapnya yang menjengkelkan, aku tidak akan diam melihat dia akan menikah dengan gadis jahat itu. Dia dan keluarganya terlalu berharga untuk gadis yang tidak tahu diri itu. Tante juga terlalu baik untuk mama Chika yang suka merendahkan orang itu.
“Tetapi Kakak keren, lo, di rekaman itu. Gue baru tahu Kakak bisa ciat, ciat, ciaatt …,” katanya sambil melayangkan tangannya seolah sedang berkelahi dengan seseorang.
“Hai!!” sapa seseorang dari arah belakangku. Matt mendesah keras, meyakinkan aku bahwa aku tidak salah dengar. “Kamu suka makan di sini juga?”
Matt hanya diam, tidak menjawab. Chika menggunakan kesempatan itu untuk duduk di sisinya, tetapi Matt tidak mau bergeser. Aku mengulum senyum melihatnya. Perempuan itu tidak terlihat tersinggung, melainkan duduk di sebelahku. Aku memilih mengalah daripada membuat keributan.
“Aku sedang berbelanja untuk keperluan jalan-jalan kita akhir pekan ini. Kamu mau apa? Apa kamu suka keripik, roti, atau biskuit?” Dia mengintip isi dalam kantong belanjaannya. “Aku beli beberapa, jadi kamu bisa memilihnya nanti.”
Matt hanya diam. Dia tidak berhenti mengunyah makanannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Apalagi Chika tidak mencoba untuk bicara denganku. Dia pasti kesal menyadari aku menyaksikan sikap dingin calon adik iparnya terhadapnya.
Chika mengangkat tangannya, memanggil pelayan. Dia malah memesan makanan yang sama dengan Matt. Spontan saja muridku itu mendesah keras. Perempuan di sisiku itu tidak memahami atau pura-pura tidak tahu bahwa pemuda itu tidak menyukai kehadirannya.
Karena aku sudah selesai makan, aku pamit ke kamar mandi. Matt cepat-cepat menghabiskan semua makanan di atas piringnya. Aku tidak ke kamar mandi, melainkan kasir. Karena aku membawa tas, maka aku bisa membayar tagihanku dan Matt, lalu kembali ke meja kami.
“Kamu sudah selesai?” tanyaku, melihat piring Matt sudah bersih.
Dia mengangguk, meminum habis isi gelasnya, lalu berdiri. “Ayo, Kak.”
“Lo, kalian mau ke mana?” tanya Chika bingung. Makanannya masih banyak, jadi dia tidak akan bisa mengikuti kami. Karena itu, aku sengaja membayar tagihan kami dan tidak memasukkan bagiannya.
“Ke mana saja asal lo enggak ada.” Matt menggandeng tanganku dan mengajak aku pergi.
“Aku sudah bayar,” kataku, ketika dia berjalan menuju kasir.
Dia mendesah lega, kemudian berjalan menuju pintu. Petugas membukakannya untuk kami sambil mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum puas membayangkan Chika sedang sangat kesal atas sikap Matt kepadanya. Entah apa yang dia lakukan pada Hari Natal dan Tahun Baru tersebut sampai pemuda ini begitu marah terhadapnya.
Aku menggunakan sisa liburan dengan mengamen untuk mengumpulkan uang kuliah. Walau Mama sudah memberikan banyak uang, usahaku tidak boleh kendor. Mungkin saja ada banyak kebutuhan tidak terduga kelak yang akan membutuhkan banyak uang.
Seandainya saja aku lulus beasiswa, aku tidak perlu bekerja lagi seperti ini. Sayang sekali, tidak satu pun dari beasiswa yang aku lamar memberi respons. Theo sudah sangat baik menolong aku, tetapi aku gagal membuat pemberi beasiswa itu terkesan dengan prestasiku.
Bisa jadi ada banyak pelamar lain yang lebih baik dariku. Mencari uang begini membuat aku tidak bisa aktif mengikuti organisasi kampus. Padahal itu adalah salah satu keuntungan yang aku yakin akan dibutuhkan kelak saat melamar kerja. Perusahaan mana pun mengharapkan pelamarnya punya pengalaman kerja atau setidaknya berorganisasi sebagai bukti sudah terbiasa dalam kerja sama tim.
“Perempuan sialan!” Biola yang sedang aku mainkan tiba-tiba saja dipukul dengan keras sehingga lepas dari genggamanku.
Orang-orang yang ada di sekitarku menarik napas terkejut. Beberapa dari mereka berusaha untuk menolong dengan mengambil benda itu dan melihat keadaannya. Aku menoleh ke arah perempuan tidak tahu diri yang sudah berbuat kasar itu.
__ADS_1
“Apa yang kamu bilang kepada Matt sampai dia kasar begitu, heh!? Kamu meracuni pikirannya dengan memfitnah aku? Iya!?” hardiknya sambil mendorong tubuhku dengan telunjuknya.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” protes salah satu penonton. “Kami sedang mendengar dia bermain, mengapa kamu malah mengganggu dia?”
“Iya. Kalau mau ribut, nanti saja. Mengapa juga kamu sampai melempar biolanya!?” protes yang lain.
“Anak muda zaman sekarang memang tidak tahu etika. Cantik-cantik kasar begini, apa orang tua kamu tidak pernah mendidik kamu?” omel yang lainnya.
Chika berubah kecut melihat satu demi satu pria maupun wanita memarahi sikap kasarnya itu. Dia ciut dan mundur menyadari posisinya tidak menguntungkan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia segera ambil langkah seribu.
“Ini, Nak,” kata seorang ibu, mengembalikan biolaku kepadaku.
“Terima kasih.” Aku menerimanya dan segera memeriksa keadaannya. Hanya bodinya yang lecet, tetapi semua bagian lainnya baik-baik saja. Juga tidak ada yang patah.
Untung saja aku memakai biola lamaku. Kalau biola pemberian Matt yang rusak, aku tidak akan bisa memaafkan perbuatannya itu. Matt memberikan biola paling mahal dan terbaik yang pernah aku miliki. Jadi, aku tahu harganya tidak murah.
Acara jalan-jalan mereka pasti berakhir bencana sehingga dia harus mencari aku di tempat ini untuk melampiaskan amarahnya. Bagus. Biar dia dan orang tuanya tahu bahwa Matt tidak bodoh seperti papa dan mamanya. Dia bisa menilai orang yang baik dan jahat.
Aku bersiap untuk pergi mengamen lagi pada pagi itu. Merasakan ponsel di dalam tasku bergetar, aku mengeluarkannya. Dari nomor tak dikenal, tetapi aku menjawabnya. “Halo.”
“Selamat pagi. Apa benar ini Amarilis Josepha?” tanya wanita di seberang.
Wanita itu memperkenalkan diri sebagai wakil dari perusahaan yang menyediakan beasiswa. Hal yang aku sedihkan itu membuat aku kembali berharap. Jantungku berdebar-debar antara cemas dan bahagia. Ada kabar apa sehingga mereka menghubungi aku sekarang?
“Maaf. Bukankah waktunya sudah lewat enam bulan? Mengapa saya baru mendapat kabarnya sekarang?” tanyaku bingung.
“Mbak memberi nomor telepon yang salah. Karena itu, kami tidak bisa menghubungi Anda. Kami tidak memilih kandidat lain, sebab lamaran Anda lebih menarik. Prestasi Anda bagus pada semester pertama, jadi atasan kami berniat untuk menunggu pembukaan beasiswa gelombang berikutnya. Siapa tahu Anda mencoba lagi,” paparnya, menjelaskan.
“Saya memberi nomor yang salah?” ucapku tidak percaya. “Maafkan saya sudah membuat Anda susah.” Aku jadi merasa tidak enak.
“Kami tidak susah, justru Anda yang rugi,” ralatnya. Ah, benar juga.
“Lalu dari mana Anda dapat nomor saya?” tanyaku bingung.
“Dari Pak Altheo Husada. Kebetulan beliau dan pimpinan perusahaan mengobrol dan nama Anda disebut. Jadi, kami tunggu Anda besok di kantor pada pukul sembilan pagi?” katanya, mengingatkan aku mengenai janji temu kami tadi.
“Iya. Saya pasti akan datang. Terima kasih banyak, Mbak,” ucapku terharu.
Pantas saja aku tidak menerima jawaban apa pun dari setiap beasiswa yang aku lamar. Ternyata aku memberi nomor ponsel yang salah. Aku memeriksa pertinggal lamaran yang aku kirim dan benar. Ada satu nomor yang salah ketik. Oh, Tuhan. Bodohnya aku.
__ADS_1
Namun mereka baik sekali mau tetap memberikan beasiswa itu untukku. Padahal masih ada tes lain yang harus aku jalani, tetapi mereka tidak memberikannya kepada kandidat lain. Apa yang istimewa pada lamaranku sehingga mereka tertarik kepadaku?
Aku memenuhi janji dengan datang pada pagi itu ke perusahaan mereka. Pegawai bagian resepsionis memberi sebuah kartu untuk aku pakai dan seorang sekuriti mengantar aku menuju lantai di mana ruang wawancara itu berada.
“Amarilis Josepha?” sambut seorang wanita yang menatap aku dengan kening berkerut.
“Iya, benar,” jawabku.
Dia menyapukan pandangan dari kepala hingga kaki, lalu kembali ke wajahku. “Anda berbeda sekali dengan di foto,” ucapnya bingung.
“Ah, maaf. Apakah ini karena berat badan saya berkurang?” tanyaku tidak enak.
“Luar biasa.” Dia berdecak kagum. “Ah, maafkan sikap tidak sopan saya. Mari, saya antar.”
Aku dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja berbentuk lonjong berada di tengah dengan beberapa kursi mengelilinginya. Lalu di depanku ada jendela besar yang tirainya dibuka sehingga ruangan itu sangat terang. Pada dinding sejajar pintu tersedia sebuah bufet dengan piring, cangkir, dan beberapa tempat berisi makanan dan minuman. Sepertinya ini ruang rapat.
“Silakan duduk. Atasan saya akan datang sebentar lagi,” katanya menunjuk kursi di depanku.
“Terima kasih.” Aku menuruti permintaannya.
Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Theo yang memberi tahu mereka tentang nomor ponselku yang benar. Sudah lama juga kami tidak bertemu atau mengobrol. Aku tidak akan ada di sini jika bukan karena bantuannya.
Ternyata dia tidak sepenuhnya melupakan aku. Setelah apa yang aku lakukan kepadanya, dia masih peduli pada pendidikanku. Dia pasti tahu betul aku sangat berharap bisa bebas dari pekerjaan dan fokus belajar. Apalagi aku akan segera menyusun skripsi.
Pintu dibuka dan tiga orang dewasa memasuki ruangan. Mereka semua sangat ramah dan aku pun mengerti, lamaranku menarik perhatian mereka. Semua rencanaku ke depan sangat detail dan mereka berharap aku akan bergabung dalam perusahaan mereka kelak, jika aku mau.
Mereka bahkan puas dengan hasil nilai akademikku pada semester dua dan tiga yang sengaja aku bawa. Meski begitu, mereka memberi keringanan andai nilaiku menurun pada semester berikutnya. Mereka hanya menoleransi satu nilai B dan tidak boleh ada nilai C agar beasiswa dari mereka tetap aku terima hingga wisuda nanti.
“Apa?” tanyaku tidak percaya. “Beasiswa ini juga akan menanggung biaya wisuda?” Mereka tertawa kecil mendengarnya. Aku jadi tersipu malu.
Langkahku sangat ringan padahal aku masih harus menunggu kabar selanjutnya dari mereka. Aku yakin mereka akan memberikan bantuan akademik itu kepadaku. Kalau tidak, untuk apa mereka masih menghubungi aku setelah enam bulan berlalu?
“Aku benar-benar tidak percaya ini.” Chika menghalangi aku ketika aku berbelok di jalan menuju tempat tinggalku. Bukan hanya dua, ada empat orang yang kini berdiri di belakangnya. “Kamu tidak bisa mendapatkan Theo, jadi kamu menggoda Matt.”
Aku seharusnya merasa gentar melihat empat orang bertubuh besar itu, tetapi mendengar dia menghina hubunganku dengan Matt, darahku mendidih. “Kamu boleh menghina aku, tetapi tidak dengan muridku. Dia pemuda yang baik.”
“Pemuda yang baik bisa menjadi jahat kalau otaknya terus saja diracuni perempuan bermulut tajam seperti kamu,” semprotnya. “Ini peringatan terakhir dariku.”
Dia mundur, maka keempat pria itu maju secara bersamaan. Sial. Aku melihat ke sekitarku dari sudut mataku, mencari pohon atau tiang untuk mengecoh mereka seperti sebelumnya. Empat, bagaimana aku bisa menghindar dari serangan empat orang ini?
__ADS_1