Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
22|Memikirkan Dia


__ADS_3

Amarilis adalah gadis yang penakut. Dia tidak pernah berani menatap mata orang yang lebih baik darinya, entah itu lebih kaya, cantik, atau pintar. Namun perempuan itu tidak lagi menunjukkan tatapan itu setelah Katelia meninggal. Dia memang tidak menjawab tantangan ketiga temannya, tetapi matanya tidak takut melihat mereka.


Dia juga bicara dengan percaya diri dan sering sarkas, walau dia berusaha untuk menahan diri untuk menunjukkan hal itu. Pilihan setiap katanya juga cerdas, tidak teledor seperti halnya Amarilis yang aku kenal. Padahal gadis itu selalu gugup ketika bicara denganku.


Amarilis yang ini sangat berbeda. Yang sama hanya selera makannya. Katelia juga suka makan besar. Bedanya, badannya tidak menjadi gemuk. Hal yang selalu Amarilis keluhkan mengenai tubuhnya. Dia minum air saja pun, kata mamanya, beratnya bertambah satu kilo. Entah itu benar atau sarkas.


Ingin membuktikan kebenaran itu, aku mengajaknya untuk makan siang selama kami liburan. Namun dia menolak. Aku, Altheo Gunawan Husada, ditolak oleh seorang gadis yang berada jauh di bawah levelku? Kalau Matt tahu ini, dia akan semakin menertawai aku.


“Pa, masa gue ikut juga selama dua minggu? Gue masih kuliah. Baru selesai semester tiga. Satu kali saja, gue mau liburan, Pa,” ucapku, berusaha untuk membujuknya agar aku bisa di rumah selama liburan akhir semester.


“Nak, akan ada masanya kamu berlibur selama yang kamu mau. Ini pertemuan yang sangat penting. Aku mau kamu ikut dan mempelajari banyak hal selama dua minggu ini,” kata Papa.


Untunglah Amarilis menolak ajakanku atau aku akan malu harus membatalkan rencana kami untuk sesekali makan siang bersama. Hal inilah yang membuat aku ingin sekali menjadi Matt, satu hari saja. Asal jangan seperti Katelia yang menjadi gadis di bawah standarnya dan tidak bisa kembali lagi ke tubuh aslinya.


Dua minggu yang membosankan itu aku lewati di kamar hotel setiap kali tidak ada pertemuan atau janji makan dengan kolega Papa. Aku langsung memahami arti ajakannya itu ketika melihat satu per satu rekan bisnisnya datang sambil membawa putri mereka.


Katelia, putri Om Wibowo, adalah calon istriku kelak. Kami sudah ditunangkan sejak masih kecil, tetapi hanya aku yang tahu mengenai dia. Gadis itu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang aku. Entah mengapa keluarganya memutuskan demikian.


Gadis itu sudah meninggal, sepertinya Papa mau aku bertemu dengan kadidat untuk menggantikan dia. Aku tidak akan bisa memilih gadis mana yang menjadi istriku. Keputusan ada di tangan Papa dan Mama yang menentukan pilihan yang tepat demi kelangsungan perusahaan keluarga kami.


“Theo, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu belum siap juga?” seru Mama yang memasuki kamar setelah aku persilakan. “Kamu tidak boleh sampai terlambat tiba di sana!”


“Iya, Ma. Gue naik sepeda motor, jadi hanya butuh waktu sebentar untuk sampai di hotel. Mama tenang saja.” Aku memasang dasi dan melilitkannya sendiri.


“Ya, sudah. Aku dan papamu pergi, ya. Matt baru saja berangkat. Beri tahu kami kalau kamu sudah sampai di tujuan,” kata Mama dengan serius. Aku mengangguk.


Papa dan Mama kadang-kadang mendapatkan lebih dari satu undangan penting pada akhir pekan. Mereka tidak mau mengecewakan kolega, saudara, atau teman mereka, jadi kami selalu berbagi tugas untuk menghadiri setiap undangan tersebut.


Aku dan Matt menghadiri acara dari pengundang yang hubungannya tidak terlalu dekat, sedangkan orang tuaku mendatangi acara dari keluarga dekat kami. Biasanya orang senang saja siapa pun yang hadir di antara kami, apalagi amplop dari Papa dan Mama tidak pernah tipis.

__ADS_1


Dugaanku benar. Aku tiba di hotel sebelum acara dimulai. Lagi pula, mengapa aku harus hadir tepat waktu? Orang yang mengundang juga belum ada di lokasi acara. Aku menghindari kamera wartawan dan memasuki lobi hotel dengan lancar.


“Hei, lihat! Itu Altheo Husada, ‘kan?” pekik seorang gadis tidak jauh dariku.


“Mana?” tanya temannya.


“Itu yang di meja penerima tamu,” jawab gadis pertama. “Kamu belum pernah melihat dia secara langsung? Itu benar dia.”


“Dia selalu sembunyi, bagaimana aku bisa tahu wajahnya?” ucap temannya, membela diri. “Kalau itu benar dia, gosipnya ternyata tidak bohong. Dia tampan sekali.”


“Bukan hanya tampan, tubuhnya juga tinggi, otaknya cemerlang, benar-benar paket lengkap.” Apa mereka tidak sadar bicara dengan suara keras atau sengaja supaya aku dengar?


“Kamu tidak akan menyebutnya paket lengkap kalau tidak kaya raya,” goda temannya.


Aku bergegas masuk ke aula mengikuti penerima tamu yang mengajak aku menuju tempat dudukku. Keluarga pengundang belum terlihat, jadi aku duduk dan menunda untuk menyapa mereka. Tepat pada waktu yang ditentukan, keluarga itu pun datang.


Setelah mereka menempati kursi masing-masing dan acara utama selesai, aku mendekat untuk mengucapkan selamat kepada pria dan wanita yang merayakan hari ulang tahun pernikahan emas mereka itu. Barulah aku kembali duduk dan bisa makan dengan tenang.


Gadis penakut, pemalu, rendah diri, dan tidak punya keahlian apa-apa itu bermain biola dengan sangat baik. Aku ikut hanyut dengan setiap gesekan yang menghasilkan nada yang enak didengar. Lagu riang, mendayu, merayu, sampai sedih pun bisa dibedakan dengan sempurna.


“Dia bermainnya bagus sekali, ya,” ucap wanita yang satu meja denganku.


“Lebih bagus dari putri kita?” goda pria di sampingnya.


“Harus aku akui, iya. Kamu harus tanya nomor teleponnya dari Norman. Biar putri kita diajari gadis itu saja. Guru biolanya tidak berbakat. Masa putri kita tidak ada perkembangan sama sekali.” Wanita itu mencibir.


“Iya, iya. Nanti aku tanya Norman.” Pria itu menepuk pelan tangan istrinya.


Tidak salah lagi. Dia bukan Amarilis. Aku mengenal cara Katelia bermain. Mau dia tutupi bagaimana pun, ciri khas permainannya bisa aku kenali. Bahkan lagu yang dia pilih pun lagu yang sudah dia kuasai di luar kepala. Mungkinkah Katelia dan Amarilis bertukar jiwa?

__ADS_1


Oh, Tuhan. Syukurlah, aku tidak gila. Dia memang bukan Amarilis yang sebenarnya. Bagaimana dia bisa bertahan, bahkan masuk ke kampusku? Setahuku orang tuanya miskin dan tidak mendukung dia untuk kuliah. Apa yang dia lakukan selama satu tahun menganggur?


Orang miskin masuk ke tubuh orang kaya raya tidak akan menemukan kesulitan yang berarti, karena segala kebutuhannya akan tercukupi. Berbeda dengan orang kaya yang hidup bergelimang harta berpindah ke tubuh orang miskin. Dia tidak akan tahan hidup dalam kemelaratan.


Apa ini caranya untuk mengumpulkan uang? Itukah sebabnya dia menunda kuliah selama satu tahun? Apa karena orang tuanya tidak mau membiayai pendidikannya, jadi dia bekerja untuk membayar uang kuliahnya? Mengapa dia mengajar dan bermain musik? Dia bisa saja bekerja di toko, warung, apa saja supaya identitasnya tidak ketahuan. Apa dia tidak sadar ini sangat berisiko?


“Hai, Theo. Bagaimana acara tadi?” tanya Mama yang berjalan keluar dari ruang keluarga.


Aku yang melangkah menuju tangga berhenti sejenak. “Lancar, Ma.”


“Ada apa denganmu?” Dia berjalan mendekati aku, lalu menyentuh dahiku. “Tidak panas. Mengapa muka kamu pucat begini? Kamu tidak melihat hantu, ‘kan?”


“Anggap saja begitu,” jawabku sekenanya.


Iya. Anggap saja begitu. Aku tahu beberapa film tentang dua orang yang bertukar jiwa, tetapi tidak pernah menduga akan terjadi nyata pada orang yang aku kenal. Katelia ada dalam tubuh Amarilis. Siapa saja yang mengetahui hal ini?


Oh, Tuhan. Aku beberapa kali melihat dia dimarahi oleh Tante Wibowo. Gadis yang malang. Sampai mamanya sendiri pun tidak tahu bahwa yang meninggal itu hanya jasad putrinya, sedangkan jiwanya masih ada di dunia ini. Dia pasti terluka karena tidak bisa lagi dekat dengan keluarganya.


Aneh. Ada apa denganku? Mengapa aku begitu peduli dengan Amarilis? Biasanya aku hanya kasihan kepadanya karena menjadi objek perundungan calon istriku. Aku menolong sebisa mungkin, tetapi aku tidak pernah tertarik dengan hidupnya sebelumnya.


Katelia juga bukan perempuan yang sudi aku pikirkan. Namun dia tidak berhenti mengisi kepalaku sejak kami bertemu lagi. Aku membenci dia karena dia sangat jahat, sama seperti Om Wibowo dan Nolan. Itu dahulu. Sekarang, dia Katelia yang baik, tidak suka mengganggu orang lagi.


“Ada apa, sih, dengan lo, Theo? Dari tadi bengong saja.” Matt menyikut lenganku.


“Mungkin dia sedang memikirkan salah satu gadis yang dia temui akhir-akhir ini,” goda Mama.


“Maksud Mama, Kak Amarilis?” ejek Matt. Aku tersedak air yang hendak aku telan. Adikku berbakat jadi dukun. “Wohoo …. Yes, tebakan gue benar! Theo naksir Kak Amarilis!”


“Bukan. Jangan-jangan kamu yang suka dengan gurumu itu.” Mama menggeleng pelan. “Papamu mengenalkan dia kepada banyak gadis yang akan menjadi calon istrinya. Dia pasti memikirkan salah satu dari mereka. Benar, Nak? Yang mana?” Mama menatap aku dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


“Gue harus pergi ke kampus. Sampai nanti,” pamitku, menghindari topik itu.


Seolah dunia tidak mau aku berhenti memikirkan gadis itu, aku melihat dia sedang diganggu Chika dan teman-temannya. Namun sebelum aku sempat menolong gadis yang kebingungan itu, Jericho datang dan merangkul bahunya. Darahku mendidih melihat tangannya ada di tubuh gadisku.


__ADS_2