
“Lo boleh meminta apa saja,” jawabnya.
Wow. Ini kesempatan yang langka. Biasanya dia yang menentukan segalanya dan memilih apa pun yang dia berikan kepadaku. Namun dia kali ini mempersilakan aku meminta apa saja yang aku mau. Apa yang sebaiknya aku minta? Yang ini atau yang itu?
“Aku benar boleh meminta apa pun, ‘kan?” tanyaku dengan antusias.
“Tentu saja,” tukasnya.
“Kalau begitu, aku mau—” tuturku dengan antusias.
“Kecuali hal-hal yang bertentangan dengan moral, melanggar hukum, di luar kemampuan dompet gue, maka lo boleh memintanya,” tambahnya, memotong kalimatku.
“Kamu niat memberi hadiah, tidak?” omelku kesal.
Dia merangkul bahuku, lalu mengajak aku keluar dari tempat makan itu. “Gue serius. Oke. Gue enggak akan goda lo lagi. Jadi, lo mau minta apa?”
“Kembali jadi Katelia,” jawabku dengan antusias.
Dia menghentikan langkahnya, memaksa aku melakukan hal yang sama. Dia menoleh ke arahku dengan kening berkerut. “Itu di luar kemampuan gue, sayang.”
Aku terharu mendengar dia menyebut aku sayang lagi. “Kamu salah paham. Aku hanya ingin kamu memanggil aku Katelia, untuk hari ini saja. A-aku—” isakku tiba-tiba.
“Hei, lo enggak apa-apa?” tanyanya panik.
Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Mungkin karena itu adalah permintaan terdalamku. Aku sudah lama tidak merayakan hari ulang tahunku, tetapi menjadi Katelia adalah hal yang lebih aku rindukan. Walau aku tidak keberatan dipanggil Amarilis, aku sadar itu bukanlah namaku.
Aku sangat rindu dipanggil Katelia lagi.
“Ini agak aneh, tetapi ….” Dia berdehem pelan. “Apa ada tempat yang mau lo datangi, Katelia?”
Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Ayo, kita ke taman kota!”
Dia mengendarai sepeda motornya ke tempat yang aku minta. Karena hari ini masih libur sekolah, ada banyak sekali orang yang sedang berada di sana. Aku mengajak Theo berjalan mengelilingi tempat itu. Sesekali berada di keramaian sangatlah menyenangkan. Aku biasanya ada di taman untuk bekerja, tetapi kali ini untuk menikmati suasananya yang hijau dan segar.
Lelah berjalan, aku mengajak dia minum es kelapa. Segarnya. Melihat dia hanya cemberut, aku tertawa kecil. Entah mengapa dia tidak suka ruangan terbuka. Pantas saja kulitnya pucat seperti mayat. Walau dia mengendarai sepeda motor, dia selalu menutupi semua kulitnya dengan sempurna.
“Lo yang aneh. Ada tempat yang sejuk seperti mal, malah pergi ke tempat yang sumpek dan gerah begini,” keluhnya. “Setelah ini, gue yang pilih tempat.”
“Aku yang berulang tahun, aku yang pilih tempat, dong,” sanggahku.
__ADS_1
“Kalau tempatnya ramai begini, mending gue antar lo pulang,” ancamnya.
Supaya dia tidak mengeluh tentang keramaian, aku memilih museum. Biar sekalian sepi seperti di kuburan. Namun aku salah duga, ada banyak juga orang yang membawa keluarga mereka ke tempat itu. Bahkan asyik berpose pada setiap karya seni yang dipamerkan.
Aku tidak mau kalah dan mengajak dia berfoto bersama di lokasi yang bagus. Dia sama sekali tidak bisa tersenyum di depan kamera sehingga hasilnya buruk. Aku seperti berfoto dengan orang yang merasa terpaksa berada di dekatku.
“Salah lo sendiri. Gue sudah bilang, gue enggak suka difoto,” balasnya ketika aku mengejeknya.
“Kamu tidak suka ini, tidak suka itu. Apa yang kamu suka?” ucapku kesal.
“Lo, dong. Siapa lagi?” Dia merangkul bahuku.
Aku menyikut dadanya. “Gombal.”
Hari itu kami akhiri dengan membeli nasi goreng di pinggir jalan dan menikmatinya bersama. Aku memperhatikan wajahnya. Dia baik-baik saja, tidak mengeluh kesakitan. Itu berarti dia bisa makan makanan yang kurang higienis. Ternyata dia manusia biasa juga. Beda dengan Kak Jericho.
Kakak tidak bisa makan sembarangan, maka dia selalu memilih restoran yang sama yang pernah dia datangi dan tidak memberi efek buruk pada tubuhnya. Jika makanannya tidak bersih akan timbul ruam pada wajah, leher, dan tangannya. Padahal dia harus selalu tampil sempurna demi pekerjaan.
Aku dan Kak Nolan baik-baik saja. Hanya Kak Jericho yang memiliki alergi tersebut. Papa dan Mama tidak punya masalah kulit yang sama, jadi kemungkinan besar dia mewarisinya dari Kakek atau Nenek. Kami tidak pernah makan di restoran setiap ada mereka, selalu di rumah. Jadi, kami tidak tahu pasti siapa yang alergi makanan kurang higienis seperti Kakak. Ah, aku jadi rindu keluargaku.
“Apa lo puas dengan hari ini?” tanya Theo saat kami sudah ada di depan pagar indekosku.
Aku mengangguk cepat. “Terima kasih.”
Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Katelia adalah namaku. Walau hanya untuk satu hari ini bisa mendengar nama itu lagi, aku sudah senang. Aku merasa hidup karena bisa menjadi diriku sendiri. Walau untuk satu hari saja.
Theo meraih tanganku, lalu menarik aku mendekat. Dia tidak mengatakan apa pun, tetapi aku tahu apa yang akan dia lakukan. Saat bibir kami bersentuhan, aku memejamkan mataku dan membiarkan dia yang menuntun aku. Namun dia tidak melakukan lebih selain memberi kecupan singkat.
“Apa yang sudah lo lakukan kepada gue, Katelia?” bisiknya, nyaris tidak terdengar. Dia selalu mengucapkan kalimat itu setiap dia memberikan ciuman perpisahan.
“Apa maksudmu, Theo?” tanyaku bingung.
“Gue rasanya mau bawa lo ke kamar dan melakukan semua yang ada di pikiran gue. Pikiran ini gila. Gue enggak pernah merasakan ini kepada cewek mana pun. Kalau bukan karena kita masih kuliah, gue pasti sudah nikahi lo detik ini juga,” akunya.
“Jika itu mengganggu, kita bisa jaga jarak—”
“Tidak. Gue bisa gila terlalu lama tidak ada di dekat lo.” Dia mempererat pelukannya. “Jangan takut. Gue bisa mengendalikan diri. Gue enggak akan ingkar janji.”
Kalau bukan karena aku mendengarnya sendiri, aku tidak akan percaya seorang Altheo Husada jatuh cinta kepada seorang gadis biasa seperti Amarilis. Aku mengerti mengapa dia tidak bisa menyukai Katelia. Aku sangat jahat semasa sekolah. Pemuda baik-baik mana yang akan jatuh cinta kepadanya?
__ADS_1
Mungkinkah ini rahasia Ilahi atas kecelakaan yang terjadi kepadaku dan Amarilis? Katelia dan Theo bertunangan, tetapi tidak bisa bersama karena perbedaan prinsip. Kami bertemu lagi sebagai Theo dan Amarilis, jatuh cinta dalam suasana yang aneh, tetapi kami nyaman bersama.
Iya, kami nyaman bersama. Walau kami bertengkar, kami tidak pernah merasa ingin jauh dari satu sama lain. Dia sering membuat aku kesal, tetapi aku senang bisa melihat wajahnya. Karena ada juga saat kami satu kata dan menyukai hal yang sama.
“Apa yang akan terjadi kepada kita bila orang tuamu tidak juga memberi restu?” tanyaku pelan.
“Biar gue yang pikirkan jalannya.” Dia mengusap rambutku.
“Oke.” Aku mengangguk pelan dan tersenyum merasakan ciumannya pada kepalaku.
Hercules seumur dengan Matt, jadi aku menghubungi orang tuaku pada keesokan harinya untuk mengetahui kabar adikku itu. Ternyata dia juga lulus dan berhasil masuk ke kampus yang diincarnya di Medan. Mama terdengar sangat senang karena kedua anaknya berhasil melanjutkan studi.
Matt meminta ditemani mengurus pendaftaran ulang dan segalanya di kampus, maka aku dan Theo memenuhi permintaannya itu. Beberapa hari bersamanya, dia selalu menghadiahi kami dengan makan siang dan minum kopi atau teh bersama.
Hari yang ditunggu-tunggu lainnya pun tiba. Kak Jericho diwisuda. Sayangnya, aku hanya melihat dia dari jauh dengan toganya saat keluar dari auditorium. Ada Om dan Tante yang belum tahu siapa aku. Entah kapan aku punya cukup keberanian untuk mengakui keadaanku kepada mereka.
Namun Kak Jericho mengajak kami makan siang bersama pada keesokan harinya. Kak Nolan juga ikut, jadi kami bisa saling melepas rindu. Hanya Theo yang kehadirannya terasa janggal. Namun dia santai saja, tidak peduli dengan tatapan protes kedua kakakku.
“Mengapa dia harus ada di sini juga bersama kita?” protes Kak Nolan.
“Dia teman baik Amarilis. Setiap kali kamu mengundang dia, maka pemuda ini akan mengekorinya,” jawab Kak Jericho, setengah mengejek.
Aku mengulum senyum, tetapi orang yang bersangkutan tidak memberi reaksi setelah dijadikan bahan candaan. Dia menyantap makanannya sambil membaca buku yang dia bawa dengan serius. Kerutan di antara alis Kak Nolan semakin dalam melihat sikapnya itu.
“Sebaiknya kamu pulang, Theo. Ada hal yang perlu kami bertiga bicarakan tanpa kehadiran kamu,” kata Kak Nolan, dengan nada yang serius.
“Apa lo pikir gue ada di sini tanpa alasan?” ucap Theo tanpa mengangkat kepalanya dari bukunya.
“Apa maksud kamu?” tanya Kak Nolan tidak sabar.
“Gue dan Amarilis adalah selingkuhan di mata orang-orang. Selain itu, kami adalah teman satu kelas di sekolah dan satu jurusan di kampus.” Dia menoleh ke arah Kak Nolan, lalu melirik Kak Jericho. “Kalian berdua punya hubungan apa dengan dia sehingga bertemu bertiga di sini?”
Aku memandang kedua kakakku. Iya, kami tidak punya hubungan dekat kalau dilihat dari sisi itu. Aku dan Kak Jericho memang sering makan siang bersama, tetapi hanya orang kampus yang tahu. Orang lain tidak pernah melihat kami akrab. Kak Nolan juga aneh bisa dekat dengan Amarilis.
“Kami seniornya juga di kampus,” jawab Kak Nolan sekenanya.
“Lo sudah enggak rajin ke kampus saat dia baru masuk, Nolan. Richo sedang cuti. Kalau pun kalian satu SMU, kalian tidak berteman dengan Amarilis. Orang kaya raya seperti kalian mana mungkin mau dekat dengan gadis miskin kayak dia,” kata Theo, menjelaskan.
“Mengapa hal sesepele itu harus dipersoalkan?” protes Kak Nolan, tidak mengerti.
__ADS_1
Aku memicingkan mataku kepada Theo. Dia jelas-jelas cemburu melihat aku dan kedua kakakku makan bersama. Mengapa tidak jujur saja mengatakan itu alasannya? Mengapa dia malah memberi jawaban yang berbelit-belit begitu. Seperti bukan Theo saja.
“Karena salah satu dari kalian adalah selebriti.” Theo melirik Kak Jericho. “Apa kalian tidak melihat wartawan meliput pertemuan kalian ini?”